Menguntit

987 Kata
Sabtu pagi... Zeya tengah memanaskan mobil di halaman rumah ketika melihat Anze keluar dari pintu bersama Lenna. "Kiki kapan pulang, Len?" Tanya Zeya yang baru sempat bercengkrama dengan Lenna. "Sudah balik tuh," Dengan dagu lancipnya, Lenna menunjuk ke sudut taman. Zeya menoleh searah dengan arah dagu Lenna. Dilihatnya Kiki sedang menyirami tanaman di taman rumah Zeya. "Astaga, kamu ini bukannya bersuara. Sejak tadi hanya diam. Aku kira kamu belum balik dari luar kota," Ucap Zeya dengan mengerucutkan bibir. Tangan Kiki yang sedang memegang selang air dalam posisi di bawah, diangkat ke atas lalu mengarahkan selang ke belakang mobil sedan milik Zeya. Mata Zeya terbelalak lebar karena terkejut. Menatap nanar ke arah Kiki. Anze tertawa terbahak-bahak melihat Om Kiki mengerjai Mama Zeya. "Luar biasa," Lenna bertepuk tangan dengan senyum lebar di wajah tembamnya. Kiki tersenyum kecil melihat perubahan raut wajah Zeya yang berubah merajuk. Sangat kontras sekali pemandangan di rumah Zeya dengan keadaan rumah Andrew saat ini. Andrew masih berada di ruang gym rumahnya saat Alin menghampiri sang kakak. "Ini," Alin menjulurkan ponselnya agar Andrew bisa melihat video yang barusan Alin rekam. Andrew yang tengah mengangkat barbel lima kilo, menaruh pelan barbel itu ke lantai kayu ruangan. Mengambil ponsel Alin, lalu menatap serius melihat video yang ingin Alin perlihatkan padanya. Rahang Andrew terlihat kaku saat melihat akhir video. Saat seorang pria tengah bercanda akrab dengan Zeya. Andrew mengangkat kepalanya dan memandang ke arah sang adik dengan tatapan melotot. "Siapa pria ini?" &+&+& Andrew mematut diri melihat pantulan wajahnya dari kaca spion tengah mobil. Dia ingin memastikan bahwa Zeya masih miliknya. Hati Andrew belum bisa tenang saat melihat rekaman video yang direkam oleh adik perempuannya, Arleen. Oleh sebab itu, Andrew saat ini berada di balik kemudi mobil hanya untuk menguntit kediaman Zeya. &+&+& Sabtu siang di kediaman Zefanya .... "Ma, kapan kita berangkat ke toko buku," Tanya Anze menopang kepalanya dengan dua tangan bertumpu pada meja makan. Zeya sedang menghabiskan menu makan siang yang dia masak. Berhubung Lenna dan Kiki masih tinggal di rumah Zeya, Zeya bisa memasak dalam porsi banyak. "Sabar ya Anze. Lihat nih, mama belum selesai makan," Ucap Zeya dengan mulut penuh makanan. Lenna dan Kiki masih asyik menikmati makan siang mereka. "Masakan Mama Zeya enak gak Anze?" Tanya Lenna sengaja mengalihkan rasa bosan Anze dengan bercakap. Anze mengangguk dengan gerakan malas. Kiki mencoba taktik lain untuk membantu Zeya mengalihkan rasa bosan Anze. "Anze mau beli apa saja nanti di toko buku?" Tanya Kiki dengan mulut yang mengunyah makanan. Anak lelaki usia sembilan tahun itu diam sesaat nampak seperti sedang berpikir. Kiki menaikkan alis matanya, saling melirik ke arah Lenna dan Zeya. Mereka seolah sedang membuat sandi morse. Setelah terdiam beberapa menit, Anze akhirnya angkat suara. "Anze hanya mau beli beberapa buku cerita." Zeya yang mendengar keinginan anaknya, diam-diam menghela napas penuh rasa syukur. Sedangkan Kiki dan Lenna hanya mengangguk saja. Anze merasa bosan di dalam ruang makan. Makanan dia sedari tadi sudah habis. Anze hanya makan jatah separuh porsi biasanya dalam sekali santap karena Zeya menjanjikan Anze untuk membelikan Anze makanan ringan di food court mall. "Ma, Anze bosan. Anze main di taman dulu ya. Anze tunggu di sana saja," Anze bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari ruang makan. Ketiga orang dewasa di dalam rumah tidak menyadari bahwa Anze akan bertemu kembali dengan Andrew. Sang ayah. &+&+& Merasa bosan mengawasi Zeya di dalam mobil, Andrew memutuskan untuk keluar dari dalam mobil untuk sejenak. Melihat situasi di kediaman Zeya yang nampak sepi, membuat Andrew dapat mengistirahatkan tubuh dengan bersantai di luar mobil. Namun mana Andrew duga bila dia akan bertemu Anze di siang ini. Niat awal Andrew hanya menguntit aktivitas akhir pekan Zeya. Anze yang masih mengenali sosok Andrew walaupun Andrew memakai topi dan kacamata hitam, berlari ke arah gerbang rumah yang tidak digembok oleh Zeya. "Om Andrew..." Pekik Anze diikuti dengan berlari. Andrew langsung menoleh ke arah Anze. #Ini anak hebat juga masih bisa mengenali aku# Ucap Andrew dalam pikiran. Anze menyelinap di celah sempit gerbang pagar berwarna hitam yang menjulang cukup tinggi. "Om...." Setelah berhasil lolos dari gerbang pagar, Anze memeluk tubuh Andrew. Tubuh Anze hanya setinggi d**a Andrew. Membuat Andrew hanya bisa mengusap pelan rambut Andrew. "Anze masih mengenali Om?" Anze mengangguk lalu perlahan melepas pelukannya di pinggang Andrew. "Om lagi apa di sini? Om cari Anze ya?" Tanya Anze dengan pemikiran lugu. #Persis seperti Zeya# pikir Andrew. Andrew merasa kikuk menjawab pertanyaan Anze. Namun Andrew sangat tidak suka dengan kebohongan, jadi Andrew terpaksa berkata jujur pada anak lelaki seusia Anze. "Om lagi mengawasi rumah ini." Anze mendongakkan kepala menatap penuh kebingungan atas ucapan Andrew. "Untuk apa Om mengawasi rumah ini? Om ini satpam kompleks?" Duga Anze. Hampir saja Andrew menyemburkan tawa saat mendengar ucapan Anze. #Anak ini begitu jenius# puji Andrew tanpa mengungkapkan pujiannya. "Bukan. Om Andrew hanya sedang mengamati Mama Zeya," ucap Andrew. Kening Anze mengerut, menandakan anak itu sedang bingung. "Om kenal Mama Zeya?" Seru Anze tiba-tiba. Melihat raut penuh takjub Anze, Andrew pun menduga bahwa Anze senang mengetahui dirinya mengenal Zeya. "Om Andrew mengenal Mama Zeya luar dalam. Kami dulu berteman baik." Anze menundukkan wajah saat mendengar kata "teman baik". Anze tidak punya teman dan dia tiba-tiba merasa sedih. "Apa Om Andrew punya banyak teman?" Ucap Anze dengan suara pelan. Andrew tidak tahu mengapa Anze berubah menjadi kelihatan sedih. Untuk menyenangkan hati Anze, Andrew terpaksa berucap dusta. #Aku populer semasa kuliah. Baik di kalangan pria maupun wanita. Namun mereka bukan teman baikku# pikir Andrew. "Om juga tidak mempunyai banyak teman. Teman baik Om hanya Mama Zeya dan Anze," ujar Andrew. Mendengar Andrew menganggapnya teman, Anze mengangkat pandangan matanya untuk menatap wajah Andrew. Melihat kesungguhan ucapan Andrew di wajah serius Om Andrew, Anze memutuskan untuk mengaku juga. "Om juga teman baik Anze. Anze tidak punya banyak teman." Andrew akhirnya mengetahui penyebab perubahan sesaat wajah sendu Anze. Rupanya persoalan bersosialisasi. Andrew menyadari bahwa Anze dan Zeya sangatlah mirip. Baik rupa maupun tabiat. Dan Andrew merasa beruntung karena "menguntit" hari ini. &+&+&
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN