Kedekatan

719 Kata
Apakah Bonding itu penting dilakukan? Mungkin pertanyaan itu kerap ditanyakan beberapa pakar psikologi anak. Termasuk Zeya yang pernah mempertanyakan hal yang sama. Walaupun sudah cukup sibuk dengan kegiatan sebagai kuli perusahaan, Zeya selalu menyempatkan waktu untuk sekadar mengobrol sebelum Anze terlelap tidur. Seperti malam ini yang Zeya lakukan. Dia sudah selesai membersihkan wajah, kaki, dan juga tangan. Menggosok gigi serta memakai pelembap wajah. Zeya melangkah turun ke lantai dasar, di mana kamar Anze berada. Bukan tanpa sebab, Zeya menaruh Anze di lantai bawah supaya anak itu tidak cedera saat naik turun tangga. Kebiasaan buruk Anze yang suka berlari di anak tangga. Membuat Zeya selalu was was bila dia tidak berada di sisi anak lelakinya. Ceklek... Saat Zeya membuka pintu kamar, dia melihat Anze sedang duduk dengan punggung bersandar pada dipan ranjang. Anak lelaki berusia sembilan tahun itu, sedang menunduk dengan tatapan mata tertuju pada buku cerita yang berada di pangkuannya. "Mama..." Panggil Anze saat melihat sosok Zeya yang membuka pintu kamar. Zeya tersenyum melihat binar ceria di wajah putranya. Sudah cukup lama dia tidak melihat rona bahagia di pantulan mata Anze. "Apa sebaiknya mama keluar saja? Sepertinya Anze sudah tidak butuh bantuan mama untuk membacakan buku cerita," Canda Zeya menggoda putranya. Semburat rona merah menghiasi pipi Anze. Membuat Zeya semakin gemas ingin memeluk putranya. "Sini Ma. Anze masih butuh bantuan Mama untuk membantu Anze membacakan buku-buku koleksi Anze," Anze melambaikan tangan. Zeya melangkah mendekati ranjang tempat tidur putranya. Dia berbaring di sisi Anze. Mengikuti posisi tubuh Anze yang bersandar pada dipan ranjang. "How's about your day today?" Tanya Zeya mengusap pelan kepala Anze. "Anze happy. Anze punya teman baru di taman kompleks," Ucap Anze dengan nada antusias. Zeya mengernyitkan dahi karena bingung dengan ucapan Anze yang menyebut taman kompleks. "Kamu bermain di taman kompleks bersama teman baru?" Selidik Zeya. Anze mengangguk-angguk dengan senyuman terpatri di wajahnya. "Bersama Aunty Lenna?" Tanya Zeya lagi. "Yeah. Bersama Aunty Lenna. Anze bermain bola dengan Om Andrew Park. Om-nya jago bermain bola loh, Mama." Dengan suara bersemangat Anze menceritakan pengalamannya hari ini bersama teman barunya. Anze tidak melihat perubahan wajah di wajah Zeya saat Anze menyebut nama Andrew. Zeya tidak mengkhawatirkan mengenai keberadaan Anze sebagai putra kandungnya. Dia mengkhawatirkan bila Andrew menaruh curiga bahwa Anze adalah putra pria itu. "Aunty Lenna ke mana saat Anze bermain bersama Om?" Tanya Zeya menelisik lebih jauh lagi. Namanya juga anak-anak, saat ditanya seperti itu, hanya berbicara apa adanya. Anze pun menceritakan bahwa Aunty Lenna ada di sana juga. #Rupanya Lenna juga membiarkan Anze bermain bersama Andrew# wajah Zeya berubah menjadi masam. Mendengar Anze memuji bakat Andrew membuat Zeya menjadi jengah. Dia tidak suka anaknya akrab dengan Andrew. Untuk mengalihkan perhatian Anze, Zeya pun memutuskan untuk membacakan buku cerita seperti kebiasaan rutin mereka setiap malam sebelum tidur. "Anze sayang, kita baca cerita dulu yuk. Cerita tentang Om Andrew, bisa Anze lanjutkan besok pagi. Bagaimana?" Tanya Zeya dengan sedikit senyum di bibir. Anze menatap heran dengan sikap Zeya yang terlihat abai mendengar ceritanya. Namun melihat Mama Zeya yang masih mau membacakan dongeng untuknya, membuat Anze mengurungkan niat untuk bertanya. "Ini Ma. Satu cerita saja ya. Kalau Mama bacakan dua cerita, nanti buku Anze sudah habis sebelum minggu ini berakhir, " Rengek Anze menyodorkan buku yang ada dipangkuannya. Zeya mengambil buku yang disodorkan oleh Anze, menaruhnya di atas pangkuannya. Memosisikan tubuhnya agar nyaman. Zeya merangkul pundak anaknya, menaruh kepala anaknya agar menyandar di bahunya. Diliriknya Anze sekilas, melihat pula pada pakaian tidur bergambar beruang yang dipakai Anze malam ini. Putranya yang mandiri Putranya yang penurut Putranya yang penyayang Putranya yang baik hati Putranya yang sopan Zeya merasa bangga pada dirinya sendiri karena sudah berhasil mendidik Anze hingga menjadi anak yang seperti saat ini. "Anze tidak perlu khawatir Nak. Mama akan belikan kamu banyak buku. Kalau lusa kita jalan jalan gimana ?" Tanya Zeya menawarkan liburan ke mall pada putranya. Anze menarik kepalanya menjauh dari tubuh Zeya. Menatap sang mama dengan kilau gembira. "Mau," Pekik Anze girang. Zeya mengacak rambut tebal putranya itu. Berharap bahwa dengan sedikit menghamburkan uang untuk membeli buku impor, dapat membuat Anze bahagia. #Yang hanya diinginkan oleh mama itu kebahagiaan kamu, Nak# Bisik hati kecil Zeya. "Kemari Nak. Mau Mama bacakan cerita kan?" Goda Zeya. Anze merapatkan tubuhnya kembali ke dalam rangkulan sang mama. Menaruh kepalanya di bahu Zeya. Mereka menghabiskan waktu *bonding* mereka dengan bermanfaat. &+&+&
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN