Risma menatap Faizin, tidak habis pikir kenapa lelaki itu terkesan mencurigainya.
"Saya harap Anda memahami situasi ini," pinta Faizin. "Ini prosedur umum dalam pemecahan sebuah kasus. Saya harus memastikan informasi valid dan membuka segala kemungkinan."
Risma mengangguk paham. "Keterangan saya tidak berubah. Saya tidak melakukan sesuatu di sana, selain duduk menunggu, selama bapak meninggalkan saya." Risma menegaskan.
"Saya akan mempercayainya jika alibi Anda kuat. Anda di sana sendirian, tidak ada yang membenarkan pengakuan Anda."
Risma mengakkan tubuh. Ia tidak terima disudutkan. "Bapak pun hanya bisa sebatas curiga, tidak bisa lebih dari itu!"
"Oke!" Faizin mendengus. "Sepertinya saya harus mengemukakan ini pada Anda. Waktu itu saya ditelepon orang yang mengaku sebagai asisten rumah tangga Pak Reynaldi. Ia mengabarkan bahwa ada seorang utusan Walikota yang sedang menunggu di lobi. Katanya Pak Reynaldi meminta saya untuk menemuinya segera. Karena pertemuan itu hanya sebentar, maka saya meninggalkan Anda karena urusan kita belum selesai waktu itu."
Risma mencoba mengingat kejadian itu.
Faizin melanjutkan ceritanya. "Ketika sampai lobi, saya tidak menemukan utusan Walikota yang dimaksud. Saya pun kembali ke ruangan dan kembali menyelesaikan urusan kita."
"Maaf, apa bapak tidak merasakan keanehan?"
"Saya merasakan beberapa kejanggalan," jawab Faizin. "Pertama, orang yang mengaku bernama Diko, asisten Pak Reynaldi itu suaranya terdengar lebih berat ketimbang sebelumnya. Kedua, urusan dengan Walikota pastilah penting. Mereka punya protokoler, tetapi saya tidak mendapati itu. Faktanya, utusan Walikota itu tidak berada di lobi. Bahkan sampai sekarang tidak ada satu pun pihak yang mengonfirmasinya. Ketiga dan ini yang paling membuat saya merasa janggal, adalah biasanya Pak Reynaldi hanya akan menyuruh asisten pribadi ketika mengabarkan perihal mendesak yang menyangkut orang-orang penting."
"Anda sadar telah melakukan keteledoran?" Risma balik menyudutkan.
Faizin mengangguk. "Saya akui itu sebuah keteledoran besar!" Ia menunduk, menyesalinya.
Risma memaklumi betapa beratnya beban Faizin. "Saya memahami posisi Anda. Saya juga harap Anda memahami posisi saya yang berada pada waktu dan tempat yang tidak menguntungkan."
Faizin mendesah tertahan, sekadar melepaskan beban berat dalam hati. Hilangnya mobil customer dan mendengar kabar Reynaldi masuk IGD sangat menguras energi dan pikirannya. Yang membuatnya menyalahkan diri sendiri adalah fakta bahwa ia telah melakukan keteledoran yang bisa jadi menjadi penyebab utama semua masalah itu.
Ponsel Faizin berdering. Ia melirik layar. Nando sedang memanggilnya. Segera saja ia menjawabnya. "Hallo, ada kabar apa, Do?"
"Alhamdulillah keadaan Papi membaik. Beliau sudah sadar, meskipun saat ini belum bisa diajak berkomunikasi." Nando mengabarkan.
"Alhamdulillah!" ucap Faizin. Kabar baik itu sedikit mengurangi beban pikirannya.
"Pak, menurut Pak Armin, sebelum Papi mengeluh sesak napas, beliau mendapat kabar tentang kasus hilangnya mobil customer!" beritahu Nando.
Faizin kaget bagaimana bisa Pak Reynaldi mendapatkan kabar secepat itu?
"Setelah dicek, nomor pemanggilnya tidak dikenal!" lanjut Nando.
Faizin geram. "Sepertinya ada yang sedang mengajak kita main-main!"
"Saya juga berpikir demikian," timpal Nando.
"Kamu sudah coba hubungi nomor tersebut?" tanya Faizin.
"Sudah, Pak, tapi nomornya tidak aktif. Jelas sekali si penelepon punya itikad tidak baik!"
Faizin menggenggam kuat-kuat ponsel yang menempel telinganya. Ia sangat geram.
"Itu dulu yang bisa saya informasikan ke bapak. Doakan papi ya, Pak!"
"Iya, Do!"
Panggilan telepon berakhir. Faizin melempar ponselnya ke atas meja, membuat Risma kaget.
Meski tidak bisa mendengar suara Nando, tetapi Risma bisa menduga apa yang sedang terjadi.
"Ini aneh!" Faizin mengatupkan sepasang telapak tangannya. "Ada orang tidak bertanggung jawab mengabarkan kasus hilangnya mobil customer kepada Pak Reynaldi pada saat kita masih disibukan dengan investigasi."
"Maaf, kalau boleh berasusmsi, sepertinya ini semua terencana dengan baik," duga Risma.
"Iya, saya sependapat dengan Anda," timpal Faizin. "Tetapi siapa?"
Risma langsung teringat dengan kejanggalan yang ia rasakan saat Desi menerima kunci mobil customer dari Hendi.
"Saya teringat sesuatu, Pak!" beritahu Risma. "Ini hanya cerita saja, barangkali bisa menjadi petunjuk."
Faizin mengerjap. "Apa itu?"
Risma mendekatkan wajah ke Faizin. "Tadi siang, Hendi menyerahkan tiga kunci mobil pada Hendi yang berarti tiga pekerjaan telah selesai. Kalau tidak salah orderan servis dari mobil Avanza, Pajero, dan Civic. Selanjutnya Desi menelepon pemilik Avanza dan Pajero, lengkap dengan mengirimkan invoice-nya. Tetapi untuk mobil Civic, Desi cuman mengabarkan kalau mobilnya sudah selesai. Itu saja, tanpa mengirimkan invoice-nya," cerita Risma. "Dari cara berkomunikasi, saya menangkap kesan, Desi mengenal dengan baik pemilik mobil tersebut. Ini hanya kesan saya saja. Saya tidak bermaksud mencurigainya."
Faizin mencerna kalimat Risma. Jika benar cerita tersebut, maka ia merasa layak mencurigai Desi terlibat dalam kasus hilangnya mobil Civic. Paling tidak ia bisa menjadikannya petunjuk penyelidikan.
"Maaf, Pak, jika diperkenankan, saya siap membantu menyelidiki pemilik Civic dan kaitannya dengan Desi," ucap Risma.
"Saya tidak mau menimbulkan masalah baru, jika melakukannya dengan gegabah," ujar Faizin.
Risma meyakinkan Faizin. "Ini pekerjaan ahli IT, Pak. Saya punya kenalan yang biasa dijadikan saksi ahli pihak kepolisian dalam mendalami sebuah kasus."
Faizin tercenung.
"Saya jamin itu tidak melanggar hukum!" Risma mengerjap.
Faizin mempertimbangkan.
"Kalau bapak setuju, saya akan perkenalkan dengan mereka!" ujar Risma terus meyakinkan Faizin. "Niat saya baik, Pak, apalagi saya juga tidak ingin terjebak dalam kasus rumit ini."
Faizin mengenyit. "Mereka?"
"Iya, ada dua orang, Pak. Satu ahli IT proesional dan satunya mantan detektif swasta yang reputasinya sekelas intelijen."
Faizin tertarik. "Bolehlah mereka diperkenalkan dengan saya."
Risma tersenyum gembira. "Baik, Pak."
***
Risma telah resmi dipecat dari Reyncar, tetapi karena ponselnya belum dikembalikan Desi dan karena ia ingin membantu Faizin dalam menyelidiki kasus hilangnya mobil customer, maka ia tetap tinggal di Tegal.
Risma mengenalkan Jack, ahli IT profesional dan Faisal, mantan detektif swasta kepada Faizin. Mereka meeting secara rahasia di rumah Faizin.
Pertemuan itu berlangsung singkat, dimulai selepas maghrib sampai azan isya berkumandang. Hasil pertemuan itu adalah Faizin menyetujui Risma membayar kedua orang profesional tersebut untuk melakukan penyelidikan tentang keterkaitan Desi dengan kasus besar yang menimpa Reyncar.
Kedua orang profesional tersebut langsung bekerja malam itu juga. Faizin sangat berharap dapat menemukan titik terang atas kasus tersebut. Ia harus segera menemukan mobil tersebut. Jika tidak, ia akan terseret kasus hukum, sebab pemilik mobil mengancam akan melaporkannya ke kepolisian.
Sepulang meeting di rumah Faizin, Risma segera menengok Reynaldi yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP 1.
Reynaldi sudah bisa diajak berkomunikasi ketika Risma datang, meskipun suaranya terdengar lemah.
Risma mengulas senyum manis kepada Reynaldi. "Boleh saya menyentuh tangan bapak?"
Reynaldi memberi isyarat mata sebagai tanda mengizinkan. Ia membalas senyum Risma.
Dengan lembut Risma menyentuh telapak tangan Reynaldi. "Bagaimana keadaan bapak? Semoga segera pulih ya, pak. Aamiin."
"Makasih, Ris." Reynaldi berkata lirih, nyaris tidak terdengar. Jika tidak membaca gerak bibir, Risma tidak bisa menangkap kalimat tersebut.
"Saya selalu merasa bersalah setiap mengingat nama bapak." Mata Risma berkaca-kaca. "Saya sudah menganggap bapak seperti papi saya sendiri."
Reynaldi mengangguk lemah. Senyumnya tetap terkembang dari wajahnya yang pucat.
"Papi saya sudah hampir setahun terbaring lemah. Saya sedih karena tidak bisa mengembalikannya seperti sebelumnya yang gagah dan enerjik." Air mata Risma mengalir. "Sekarang saya mengenal dan menganggap bapak layaknya orang tua sendiri. Saya selalu berdoa agar bapak pulih seperti sedia kala. Saya rindu berbincang sambil makan malam bersama bapak."
Air mata Reynaldi mengalir. Ia menangis sambil tetap mempertahankan senyum.
"Boleh saya mengecup tangan bapak?" Risma mengerjap penuh harap.
Reynaldi mengangguk lemah.
Risma membungkuk agar bibirnya bisa menyentuh punggung telapak tangan kiri Reynaldi yang terpasang selang infus. "Saya sayang sama bapak!"
Meskipun lemah, Reynaldi berusaha membelai rambut Risma menggunakan tangan kananya.
Nando yang berada di belakang Risma tidak kuasa menahan haru. Ia kagum dengan perlakuan Risma kepada papinya.
Adegan mengharukan tersebut berlangsung selama beberapa detik dan terputus saat seorang perawat datang untuk memeriksa Reynaldi.
Risma menggeser badan, memberi kesempatan perawat untuk melakukan tugasnya.
Nando memberi isyarat kepada Risma untuk keluar ruangan. Risma mengangguk. Mereka duduk di kursi yang menghadap taman. Selama beberapa detik mereka saling membisu, sampai tidak diduga keduanya saling melirik secara bersamaan. Keduanya pun mengalihkan pandangan secara bersamaan pula.
"Ris!" panggil Nando. Suaranya sedikit bergetar.
Risma menoleh. "Iya, ada apa?" tanyanya kaku.
"Terima kasih ya sudah menjenguk papi?"
Risma mengangguk saja. Ia masih kesal kepada Nando. Jika tidak berada di rumah sakit, ingin sekali ia memberondong lelaki itu dengan banyak pertanyaan mengenai ponselnya yang hilang.
"Aku tahu kamu pasti mengira aku terlibat atas ponselmu yang hilang itu," ucap Nando.
Risma menoleh jutek. "Aku nggak peduli kamu terlibat atau enggak dan ponselku enggak hilang tapi dicopet!"
"Aku tidak sedang membela diri. Aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya."
Risma menjadi sebal. "Kamu tahu ponselku diambil Desi, tetapi bukannya memberitahuku malah berkomplot sama Desi!"
"Itu karena aku marah sama kamu setelah tahu kamu menjadi penyusup!" dalih Nando dengan nada pelan namun penuh tekanan.
Risma membuang muka. "Papimu saja memaafkanku!"
"Aku juga memaafkanmu."
Risma menoleh. Matanya mendelik. "Aku belum meminta maaf!"
"Kalau begitu meminta maaflah!" ucap Nando yang meskipun niatnya bercanda tapi ucapannya terdengar angkuh.
"Nanti aja kalau ponselku sudah balik!"
"Kalau begitu pemberian maafku juga ditunda sampai kamu minta maaf!"
Risma merasa geli, ingin tertawa, bukan karena ucapan Nando lucu, tapi karena candaan lelaki itu justru terkesan angkuh.
"Ya sudah!"
"Oke!"
Mereka diam.
Tujuh detik kemudian Nando menoleh.
Dua detik kemudian Risma menoleh, tapi secepat kilat Nando membuang muka.
Tanpa dikomando mereka tertawa secara bersamaan.