"Anda melamar kerja pada Reyncar, mengikuti tahapan layaknya karyawan pada umumnya." Faizin menatap Risma dengan perasaan campur aduk. "Sehingga sebagai kepala bengkel, saya masih berhak memproses kasus Anda sebagai karyawan. Anda tetap akan menerima surat pemecatan. Anda juga berhak menerima gaji dan tunjangan sesuai jabatan."
Risma mengangguk paham. "Iya, Pak."
"Namun sebagai seorang CEO, Anda seharusnya layak mendapatkan kehormatan." Faizin terdiam sejenak. Ada sorot kekecewaan dari pandangan matanya. "Sayangnya, Anda sendiri yang telah mengurangi nilai kehormatan tersebut."
Risma menunduk sedih. Sebagai seorang CEO, ia telah kehilangan rasa hormat di hadapan pimpinan perusahaan lain.
"Kenapa menunduk?" Faizin menatap Risma teduh. "Seharusnya Anda menegakkan kepala, menghadapi kasus ini. Anda berhak melakukan itu."
Risma mengangkat dagu. "Saya sedih karena dua hari ini, bapak telah menjadikan saya orang lain. Biasanya bapak menyebut saya menggunakan kata ganti 'kamu', bukan 'Anda'. Tapi saya sadar, barangkali kesalahan saya telah membuat saya menjadi orang lain di mata bapak."
Faizin menggeleng. "Bukan karena kasus itu yang membuat saya memanggil dengan sebutan 'Anda', tetapi karena saya menghormati Anda sebagai seorang pimpinan perusahaan lain."
Risma malu telah salah paham. "Baiklah, sekarang saya mengerti. Terima kasih masih respek pada saya setelah saya mengecewakan bapak."
"Saya memang kecewa, tapi ada yang lebih merasa kecewa. Beliau sangat memperhatikan Anda. Setiap kali kami ngobrol pasti terselip nama Anda." Faizin menarik napas dalam-dalam.
Risma bisa menebak siapa yang dimaksud Faizin, yaitu Reynaldi.
"Tidak perlu saya sebut namanya. Saya yakin Anda bisa menebaknya."
Risma mengangguk. "Saya sudah bertemu beliau."
Faizin membuka laci. Sebuah amplop putih dengan kop Reyncar terlihat jelas di matanya. Itu surat pemecatan untuk Risma.
Telepon berdering. Bunyinya membuat Faizin tersentak.
Faizin mengangkatnya. "Selamat siang."
"Selamat siang," sahut penelepon. "Pak Faizin, saya Diko, asisten rumah tangga Pak Reynaldi. Saya diminta menelpon bapak."
"Diko?" Faizin memang nyaris tidak pernah ngobrol dengan Diko, tapi beberapa kali pernah mendengar suaranya. Seingatnya suara Diko lebih berat dari yang sekarang ia dengar.
"Benar, Pak," jawab orang yang mengaku bernama Diko. "Kebetulan Pak Armin,. asisten pribadi, sedang menemani pak Reynaldi periksa dokter."
"Gimana kabar Pak Reynaldi?"
"Baik, Pak, tidak perlu ada yang dikhawatirkan, hanya sedikit chek-up rutin"
"Syukurlah!"
"Iya, Pak. Saya disuruh Pak Reynaldi buat menyampaikan kalau sekarang seorang utusan Walikota sedang menunggu di lobi. Beliau mendapat amanat dari Walikota untuk menyampaikan sesuatu kepada bapak."
Faizin merasa heran. "Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya?"
"Kata Pak Reynaldi, utusan Walikota itu memang baru mengonfirmasi kedatangannya di Reyncar setelah sampai lobi. Ini sangat mendesak. Pak Reynaldi meminta bapak untuk menemui utusan itu sekarang."
Faizin masih merasakan kejanggalan. "Baik, terima kasih atas informasinya."
"Sama-sama, Pak."
Faizin meletakkan kembali gagang telepon sambil berpikir. Meskipun merasakan kejanggalan, tetapi ia harus tetap ke lobi untuk memastikan.
Faizin menoleh kepada Risma. Urusannya dengan gadis itu belum selesai dan terpaksa harus tertunda. Karena perintah dari Reynaldi untuk menemui utusan Walikota hanya membutuhkan waktu sebentar, maka Faizin memutuskan untuk ke lobi sekarang.
"Maaf saya tinggal sebentar," ucap Faizin.
"Kalau begitu nanti saya ke sini lagi," timpal Risma.
"Tidak usah," cegah Faizin. "Saya hanya sebentar."
"Baik, Pak!"
Faizin keluar ruangan. Ia menuju lobi, meninggalkan Risma sendirian di ruangannya.
Sampai di lobi, Faizin tidak menemukan utusan Walikota. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia pun kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal.
Risma sedang duduk selonjor ketika Faizin datang. Buru-buru ia menarik kakinya.
Faizin langsung menelepon asisten pribadi Walikota, namun nomor yang dipanggil sedang sibuk.
Faizin duduk, melupakan sejenak persoalan utusan Walikota. Sekarang ia kembali fokus pada Risma.
"Saya sangat berharap, kelak kita berjumpa lagi sebagai saudara. Saya sudah menganggap bapak layaknya orang tua sendiri," ucap Risma.
"Saya setuju!" timpal Faizin. "Jika berkunjung ke kota ini, jangan sungkan untuk singgah."
"Baik, Pak."
Faizin mengambil amplop dari laci. Ia menyerahkannya kepada Risma. "Jadikan ini sebagai hikmah."
Risma menerima amplop berisi surat pemecatan. "Terima kasih, Pak, atas kebijaksanaannya. Dengan kerendahan hati, jika diperkenankan, saya mau menginfakkan gaji saya untuk program kemanusiaan Reyncar. Anggap saja itu donasi dari saya pribadi."
Faizin mengangguk. "Silakan! Anda bisa membicarakannya dengan bendahara."
Risma mengangguk. "Sekali lagi saya minta maaf atas kekacauan ini. Terima kasih untuk segalanya. Saya tidak akan pernah melupakannya."
Faizin tersenyum. Jarang sekali ia melakukannya.
"Baik, saya permisi, Pak." Risma bersalaman dengan Faizin. Selepasnya ia meninggalkan ruangan Faizin.
Risma melangkah gontai menuju ruangannya. Ia tetap berusaha menebar senyum kepada setiap karyawan Reyncar yang ditemuinya.
Masih ada satu urusan yang belum Risma selesaikan, yaitu meminta Desi untuk mengembalikan ponsel dan menuntutnya untuk meminta maaf.
Berjarak sepuluh langkah dari ruangannya, Risma menangkap kehebohan di depan kasir. Seorang lelaki gondrong tampak sedang bicara dengan ngotot kepada Hendi yang tampak kewalahan menghadapinya.
Risma mencium gelagat tidak enak dari pemandangan tersebut. Ia mempercepat langkah.
Semua mata memusat perhatian ke Risma, membuat gadis itu merasa jengah. Ia mendekati Hendi.
"Ada apa, Hen?" tanya Risma penasaran.
Lelaki gondrong yang tadi bicara dengan Hendi menoleh. "Anda manager di sini?"
Risma bingung. "Saya kepala admin, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ketemu pimpinan di sini!" Lelaki gondrong bicara dengan nada tinggi. Wajahnya tampak tegang, menahan emosi.
Nando tergopoh mendekati lelaki gondrong. "Saya instruktur servis, mari kita bicarakan di ruangan itu!" ajak Nando.
"Saya cuman butuh mobil saya ada di sini!" bentak lelaki gondrong.
Nando tersenyum, berusaha tenang. "Iya, Pak. Silakan menunggu di sana, biar kami atasi ini."
Lelaki gondrong tampak kesal. Ia menelepon seseorang.
Nando menarik napas panjang. Ia menegur Hendi. "Kronologinya gimana, Hen?"
"Mobil civic punya bapak itu sudah selesai servis. Mobil aku parkir di Area A. Kuncinya kuserahkan pada Desi. Laporan sudah diterima. Kemudian aku kembali fokus ke pekerjaan lain. Tahu-tahu, Desi mengabarkan kalau mobil itu tidak ada di Area A.
"Sudah kamu periksa ke seluruh area?" tanya Nando panik.
"Sudah, tapi nggak ada juga," jawab Hendi.
Nando melirik Desi yang sedang menelepon seseorang. Ia tidak peduli apa yang sedang dibicarakan gadis itu. Ini kasus besar, harus ditangani segera. "Des, ke ruanganku sekarang." Ia menoleh kepada Hendi. "Kamu juga Hen, ajak sekalian pemilik mobil!"
Dengan wajah tegang Hendi berbicara kepada lelaki gondrong. "Mari, Pak, kita cari solusinya di ruangan sana."
Lelaki gondrong menolak. "Kalian selesaikanlah secepatnya. Saya tunggu di rumah. Kabari jika sudah ketemu mobilnya. Jika sampai jam lima sore belum ketemu, saya akan melaporkannya ke polisi!"
"Baik, Pak, beri kesempatan kami menangani ini. Nanti kami akan kabari bapak." Nando memberi solusi.
Risma menarik napas dalam-dalam. Berdasarkan keterangan Hendi, ada mobil pelanggan yang hilang. Kasus ini membuatnya merasa cemas akan menyeret dirinya.
"Ris, ada baiknya kamu ikut juga ke ruangan saya!" pinta Nando.
***
Faizin tidak kuasa menahan emosi. Ia menatap Nando, Hendi, dan Desi dengan sorot geram.
Risma diam saja, tidak mengerti kenapa dirinya masih dilibatkan dalam investigasi ini.
"Nando, jelaskan pada bapak kronologinya!"
Wajah Nando tegang. Sebelum bicara, ia menarik napas panjang. "Mobil civic hitam datang diantar pemiliknya kemudian ditinggal. Desi yang menerimanya. Kemudian mobil dalam penanganan sampai selesai. Hendi menyerahkan kunci kepada Desi. Desi meletakkannya pada gantungan kunci di belakang kasir. Saat pemiliknya datang, Desi tidak mendapati kunci itu pada tempatnya. Ia melapor kepada Hendi agar segera mengeceknya. Ternyata mobil itu sudah tidak berada di tempat di mana ia memarkirkannya. Hendi melaporkannya kepada saya. Saya menyuruh sekuriti, Desi, dan Hendi untuk mencarinya ke seluruh area bengkel, tetapi belum ketemu juga," ucap Nando, menjelaskan kronologi. "Ada beberapa mekanik yang melihat mobil itu keluar, tetapi tidak begitu jelas siapa yang mengemudikannya. Sekuriti yang berjaga di pos pun bersaksi kalau mobil dengan ciri-ciri yang identik keluar meninggalkan bengkel."
Wajah Faizin merah padam. "Keluar? Itu berarti ada yang mengemudikannya. Pertanyaannya adalah siapa dan bagaimana caranya orang tersebut bisa mendapatkan kuncinya?"
"Kasir juga memberi keterangan bahwa ia tidak pernah meninggalkan tempat. Selama itu ia tidak pernah memberikan kunci tersebut kepada siapa pun." Nando menjelaskan.
Faizin menoleh kepada Desi. "Kamu yakin telah menggantungkan kunci pada tempatnya?"
Desi mengangguk. "Saya yakin, Pak."
Faizin mengusap wajah paniknya. "Do, coba kamu putar rekaman CCTV!"
Nando menggerakan mouse, mencari file rekaman CCTV hari ini. Seketika wajahnya panik ketika mendapati folder dalam keadaan kosong tanpa satu pun file. "Kok nggak ada ya?"
Semua yang berada di ruangan itu terkejut, terutama Faizin.
Faizin bangkit dari kursinya. Ia memeriksa dengan mata kepalanya sendiri folder rekaman CCTV. Badannya menjadi lemas ketika yakin folder dalam keadaan kosong. "Kenapa kosong? Adakah yang mengakses CCTV seharian ini?"
Tubuh Nando pun lemas. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian sejak pagi hingga sore ini. "Kemarin sore saya memeriksanya dan file-nya masih ada."
"Selain kamu adakah yang kemungkinan bisa mengakses komputer kamu?" tanya Faizin.
Nando menggeleng. "Seharusnya tidak ada karena saya selalu mengunci pintu ruangan ini setiap kali keluar."
"Coba ingat-ingat lagi!" Kepanikan Faizin memuncak.
Nando mencoba mengingat-ingat kejadian sejak pagi. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Ia melirik Desi. "Des, tadi kamu sempat masuk ruanganku kan?"
Wajah Desi pucat. "Aku di ruangan ini kan bareng kamu!"
"Tapi pas aku keluar, kamu masih ada di dalam!" dalih Nando.
"Tunggu!" potong Faizin. Ia menatap Nando dengan sorot marah. "Kamu meninggalkan ruangan padahal masih ada orang di dalamnya?"
Wajah Nando memerah. Ia mengakui itu sebuah kesalahan. "Maaf, Pak, waktu itu saya sibuk. Saya pikir dengan keluar lebih dahulu maka Desi akan keluar juga."
"Selepas kamu keluar, aku langsung ikut keluar kok!" ujar Risma bohong.
"Jangan menyalahkan Desi! Kamulah yang seharusnya memastikan ruanganmu aman!" bentak Faizin.
Nando menunduk. "Iya, Pak, maaf, saya mengaku salah."
Desi merasa puas dibela Faizin. Namun perasaan itu tidak bertahan lama ketika menyadari Faizin sedang menghunus tatapan tajam padanya.
"Desi, benar kamu langsung keluar ketika Nando keluar?" tanya Faizin curiga.
"Iya, Pak, saya juga nggak enak berada di ruangan Nando sendirian." Desi kembali berbohong.
Faizin menjadi ingat ia juga meninggalkan ruangannya sendirian. Hanya ada dua komputer yang bisa mengakses file rekaman CCTV, selain dari komputer Nando, juga komputernya.
Ponsel Nando berdering. Ia memandang Faizin, meminta izin untuk menjawab panggilan telepon.
"Dari siapa?" tanya Faizin.
"Dari Pak Armin, asisten pribadi papi," jawab Nando.
"Jawablah!" ujar Fazin mengizinkan.
Nando menjawab panggilan. "Hallo, ada apa, Pak?"
"Mas Nando, papi masuk IGD!" jawab Armin cemas.
"Astaghfirulah! Papi kenapa?" Nando panik.
Semua yang berada di ruangan menoleh kepada Nando. Dalam hati mereka menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
"Tadi sepulang periksa, papinya Mas Nando menerima panggilan telepon. Setelah itu mengeluh sesak napas. Terus saya langsung bawa kembali ke rumah sakit." Armin memberi tahu.
"Ya Allah! Di rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit dr. Waloejo Jati!"
"Baik, saya ke sana sekarang!" Nando mengakhiri panggilan. Wajahnya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. Ia takut papinya terkena stroke, karena sebulan lalu pernah mengalaminya.
Faizin bertanya cemas. "Ada berita apa, Do?"
"Pa-pi, Pak, ma-masuk IGD!" Nando berkemas. "Saya izin keluar, menengok papi!"
"Iya, Do. Jangan ngebut-ngebut. Doakan saja yang terbaik." Faizin mengelus d**a. "Ya Allah, ujian apa lagi ini?"
Terburu-buru, tanpa sempat pamit, Nando bergegas keluar ruangan.
Ruangan menjadi hening selama beberapa detik. Masing-masing sibuk dengan pikiranya.
Faizin menghempas punggungnya ke sandaran kursi. "Hendi, kamu tutuplah bengkel secepatnya!"
"Baik, Pak!"
"Desi, kamu boleh keluar!" suruh Faizin.
Desi mengangguk lega. "Baik, Pak!"
Nando dan Desi keluar ruangan. Risma tidak habis pikir kenapa dirinya tidak dipersilakan pergi.
Faizin menetap Risma lekat-lekat. "Tadi saya meninggalkan Anda sendirian di ruangan saya!"
Risma kaget. Otaknya langsung bekerja, mengartikan maksud ucapan Faizin. "Benar, saya berada di ruangan itu dan hanya diam di kursi tanpa melakukan apa-apa sampai bapak kembali."
"Masalahnya adalah saya tidak melihat sendiri apa yang Anda lakukan di sana selama saya tinggalkan."
"Bapak mencurigai saya?"
"Masalahnya adalah selain komputer Nando, komputer saya juga bisa mengakses file rekaman CCTV!"
Risma terbelalak.