Risma terkulai pada sandaran kursi. Ia mengamati gerak-gerik Desi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Risma sudah tidak sabar untuk segera menegur Desi perihal ponselnya. Sayangnya sejak tadi Desi sangat sibuk. Tidak ada kesempatan baginya untuk segera menyelesaikan urusannya dengan anak itu.
Jika nanti Desi meminta maaf dan mengembalikan ponselnya, ia tidak akan memperpanjang masalahnya. Namun jika sebaliknya, ia tidak segan-segan untuk melaporkannya ke polisi.
Semakin lama Risma mengamati gerak-gerik Desi, ia semakin muak melihat sosok anak itu. Sungguh ia tidak menyangka pada misinya ini akan menemui orang licik macam Desi.
Misi? Huft! Risma menyalahkan dirinya sendiri yang begitu teledor, membiarkan identitasnya terbongkar. Padahal ia merasa telah menyiapkan misi ini dengan detail dan rapi. Kesalahan sepele yang tidak pernah terpikir sebelumnya adalah ia tidak membersihkan isi ponselnya lebih dahulu.
Semua sudah terjadi. Misinya pun sudah sudah gagal. Meskipun targetnya untuk mengetahui strategi dan rahasia Reyncar tercapai, tetapi semua berakhir dengan memalukan.
Lebih dari itu, Risma kini sadar, misi yang ia lakukan telah menjerumuskannya pada kehinaan. Ia sangat menyesal, terutama setelah tahu Reynaldi sangat baik kepadanya. Ia merasa berdosa telah menyakiti hati papinya Nando tersebut.
"Desi mana, Ris?" tanya Hendi mengejutkan Risma karena tahu-tahu ada di hadapannya.
Risma terkesiap. Ia baru sadar sejak tadi kehilangan jejak Desi.
"Tadi ada kok!" ujar Risma malas.
Hendi celingak-celinguk, mencari keberadaan Desi. Tidak berselang lama, yang dicari muncul.
"Itu orangnya!" Risma memberi isyarat mata kepada Hendi ketika Desi datang.
"Ada apa?" tanya Desi jutek kepada Hendi.
Hendi balas memasang sikap jutek. Ia meletakkan tiga buah kunci mobil ke atas meja kerja Desi. "Tiga mobil sudah selesai. Silakan cek di komputer."
Desi memeriksa database yang terhubung jaringan lokal. "Avanza, Pajero, sama Civic? Oke, sudah fix."
Setelah memastikan laporannya masuk, Hendi berlalu dari hadapan Desi.
Desi memencet angka pada pesawat telepon. Ia sedang menghubungi customer. "Selamat siang, Bapak. Kami dari Reyncar. Sekadar menginformasikan, Avanza dan Pajero sudah selesai servis. Kapan mau diambil ya, Pak?" Desi mendengar sang customer sedang berbicara. "Baik, bapak, kami akan informasikan biaya via w******p. Terima kasih."
Desi mencetak billing. Selepasnya ia memfotonya untuk ia kirimkan kepada customer.
Gambar invoice baru saja Desi kirimkan via w******p kepada customer. Selanjutnya, ia menelepon customer lain.
"Selamat siang, Ibu," sapa Desi kepada customer sambil melirik ke arah Risma. "Civic sudah selesai servis."
Risma mengernyit, melihat kejanggalan cara berkomunikasi kepada customer yang baru saja ditelepon Desi. Desi tidak menanyakan kapan mobil akan diambil dan tidak menginformasikan biaya sesuai prosedur yang seharusnya.
Risma tidak peduli! Itu bukan tanggung jawabnya lagi untuk menegur. Yang sedang ia pikirkan adalah bagaimana caranya menanyakan ponselnya kepada Desi saat anak itu sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Sekarang, Desi bahkan kembali keluar dari ruangannya. Pekerjaan Desi memang menuntut mobilitas dan konsentrasi tinggi. Ia pun harus tetap bersabar sampai menunggu Desi memiliki waktu luang.
Lama-lama Risma jenuh sendiri. Jika kondisi bengkel masih seramai ini, Desi tidak akan berada dalam posisi luang sampai masuk waktu sholat asar nanti.
Risma bangkit, ia akan menunggu di mushola saja. Meskipun urusannya dengan Desi harus segera diselesaikan, tetapi ia harus profesional, menyelesaikannya dengan baik pada waktu yang tepat.
Risma meninggalkan meja kerjanya menuju mushola. Langkahnya gontai, mengingat ini hari yang sangat emosional baginya.
Baru melangkah sejauh kurang dari seratus meter, Risma baru sadar tasnya tertinggal. Terpaksa ia kembali lagi.
Risma melangkah, setengah berlari. Bunyi tapak sepatunya menggema sepanjang lorong. Sampai di ruangannya, ia terkejut melihat Desi sedang mengendap menuju mejanya.
"Ngapain, Des?" tegur Risma.
Desi terkejut, tidak mengira Risma akan kembali lagi. Wajanya pucat, mirip anak kecil yang sedang tertangkap basah mencuri uang ibunya.
"Mmhh, a-aku nyari flashdisk!" jawab Desi terbata. Ia membungkuk, pura-pura mencari sesuatu di lantai.
Risma bersedekap, mendekati Desi. "Tadi sudah aku sapu dan nggak ada sampah di sana!"
"Oh!" Desi bangkit. Ia berlalu dari hadapan Risma.
Risma sigap. Ia mencekal lengan Desi sebelum anak itu kabur. "Kita harus bicara soal ponselku yang hilang."
Desi berontak, berusaha melepaskan cekalan tangan Risma yang kuat. "Aku sibuk!"
Risma menarik tangan Desi sangat kuat, membuat badan Desi terjerembab dan terduduk di hadapannya.
"Lepasin!" Desi mencoba menggigit pergelangan tangan Risma agar cekalannya terlepas.
Risma lebih sigap, mencengkeram dagu Desi sebelum sempat menggigitnya. "Balikin ponselku sekarang dan memintalah maaf!"
Desi meronta dengan segenap kekuatan. Alih-alih berhasil, ia kehabisan tenaga karena Risma sangat kuat.
Risma melepaskan cengkeraman dagu dan cekalan tangan pada Desi. Desi pun terduduk lemas, menahan marah.
"Aku sudah melapor ke polisi soal ponselku yang hilang itu. Aku juga memiliki saksi dan bukti atas keterlibatanmu." Risma berbohong. Itu hanya gertakan saja. "Jika kamu mau meminta maaf dengan mengakuinya di hadapan semua karyawan Reyncar dan mengembalikan ponsel itu, aku akan mencabut laporan itu. Jadi kooperatiflah!"
Desi bangkit. Wajahnya pucat, menahan emosi dan ketakutan. Ia yakin Risma tidak main-main. Namun ia berada pada dua pilihan sulit. Jika menuruti Risma, ia aman tetapi ia tidak sanggup mengakui di depan banyak orang bahwa dirinya telah mengambil ponsel Risma. Sedangkan jika menolak, ia akan berurusan dengan polisi. Namun, ia sedang menjalankan sebuah rencana agar bisa terlepas dari itu semua.
"Aku juga akan meminta maaf telah membantingmu tadi pagi jika kamu mau melakukan seperti yang kumau!" ujar Risma.
Desi menyeringai. "Kamu pikir kamu hebat, hah?"
Risma tersulut emosi. Pada saat diancam saja, Desi masih membuatnya muak. "Kita lihat saja nanti!"
Desi tertawa ngakak dengan maksud mengejek. "Oke, kita lihat saja nanti!" Ia berlalu dari hadapan Risma.
"Dasar ular betina!" umpat Risma kesal.
Desi sudah berlari menjauh dari Risma. Ia menuju ke ruangan Nando untuk menjalankan rencananya.
Nando baru saja masuk ke ruangannya ketika Desi datang.
"Do, aku minta waktumu sebentar!" Desi mengatur napas.
"Ada apa?" Nando memandang Desi curiga. Ia malas terlibat dengan masalah yang ditimbulkan gadis itu.
Desi menoleh, cemas jika Risma mengejarnya. Setelah memastikan aman, ia memasang wajah memohon. "Bisa kita bicara di ruanganmu?"
Nando mengernyit curiga. "Aku sibuk!" Ia masuk ke dalam ruangan, mengabaikan Desi.
Desi mendengus kesal, menatap pintu ruangan Nando yang sudah tertutup.
Ponsel Desi berdering. Ia menerima sebuah panggilan telepon. "Hallo, gimana, sudah siap?" Desi mengawasi sekitar, memastikan tidak ada orang di sekitarnya. "Bagus, sekarang waktunya!" Selepasnya ia mengakhir panggilan sambil menyeringai.
Desi mengetuk pintu Nando. Lama tidak ada sahutan. Ia mengulanginya sampai tiga kali, baru berhasil membuat Nando keluar.
"Sudah kubilang aku sibuk!" hardik Nando. "Memangnya kamu nggak ada kerjaan?"
Desi memasang wajah memelas. "Plis, Do! Cuman tiga menit!"
Nando mendengus. Jika tidak dituruti, Desi akan terus mengejarnya. Maka itu agar segera terlepas dari Desi, terpaksa ia membuka pintu lebar-lebar. "Baiklah, ingat tiga menit ya?"
Desi tersenyum puas. Ia segera masuk ruangan Nando.
"Ada apa?" Nando bertanya kasar.
"Do, aku mau minta tolong!" pinta Desi. Wajahnya dibuat semanis mungkin.
"Minta tolong apa?"
"Tolong balikin ponsel Risma." Desi berharap.
Nando menggeleng. "Kamu yang ngambil. Kamu juga yang harus meminta maaf dan mengembalikannya sendiri."
Desi mengeluh. "Tapi Risma memintaku buat meminta maaf dan mengembalikan ponselnya di depan semua Reyncar. Kebangetan nggak itu?"
Nando menatap Desi tajam. "Makanya jangan ngambil ponsel orang! Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab!"
"Risma cuman pengen mempermalukanku, Do!"
"Masih untung ia nggak melaporkannya ke polisi!" tukas Nando.
Desi kesal. "Kok kamu jadi belain Risma sih?"
Nando diam, malas berdebat dengan Desi.
Desi menunjuk muka Nando. "Kamu sudah lupa kalau Risma sudah jahat sama Reyncar?"
"Risma sudah mendapatkan hukuman setimpal!"
Desi terkekeh sumbang. "Risma menyusup, mencuri rahasia perusahaan dan cuman dipecat? Hahaha, sikap macam apa itu?"
Nando menjadi kesal. "Kamu proteslah sama Pak Faizin!"
"Kamu yang punya perusahaan ini, Do!" Intonasi Desi melengking.
"Jangan berteriak di ruanganku!" balas Nando tegas. Ia segera meninggalkan Desi karena jika tetap berada di situ, Desi akan terus mengoceh.
Desi tersenyum puas. Ia mengintip Nando melalui jendela kaca, memastikan lelaki itu telah jauh pergi. Dengan tergesa, ia mengakses komputer di atas meja Nando. Jari kirinya cekatan menekan tombol keyboard dan jari kanannya lincah menggerakan mouse. Ia baru saja selesai menyelesaikan rencananya. Sekarang ia tinggal menunggu hasilnya.