Suasana kafe cukup sepi karena baru buka sejam lalu. Nando dan Desi duduk di pojok dalam. Posisi itu cukup strategis, bisa melihat ke berbagai sudut, kecuali toilet.
Nando meneguk kopinya, membiarkan Risma hanyut dalam pikirannya. Ia memang tidak ingin mengganggu gadis itu, baru akan bercerita setelah momennya tepat.
Risma menatap gedung Reyncar. Mulai besok ia tidak akan lagi berada di sana. Kenyataan itu membuatnya sedih, entah kenapa, ia tidak tahu.
Yang Risma tahu hanya dirinya sekarang akan dikenang sebagai penyusup gagal. Itu sesuatu yang sangat memalukan untuk diketahui banyak orang.
"Aku mau pesan cake. Kamu mau pesan apa?' tanya Hendi.
Risma menggeleng. "Aku lagi nggak pengen apa-apa."
"Atau kamu mau pulang aja?"
Risma menggeleng. "Bukannya kamu mau nyampein sesuatu ya?'
Hendi garuk-garuk kepala, pura-pura lupa. "Oh, iya."
"Nggak usah basa-basi, langsung aja!"
"Mmhh, aku bingung harus mulai dari mana?" Hendi berpikir.
"Kamu udah memulainya, jadi teruskanlah!"
Ekspresi Hendi tiba-tiba serius. "Ini bukan ghibah, tapi yang jelas ini tentang Nando."
Risma terbelelak.
"Di tempat ini beberapa hari lalu, Nando bertanya dua hal padaku. Keduanya berkaitan dengan dirimu." Hendi memberitahu.
Ada debaran halus dalam d**a Risma. Hatinya membuncah antara b*******h dan marah.
"Nando orangnya lugas. Tanpa basa-basi ia tanya sama aku, 'apa kamu suka sama Risma?' Tentu saja aku kaget. Ia nggak pernah mengurusi orang lain, apalagi soal perasaan." Hendi menyesap kopinya. Ia mengelap ampas kopi yang menempel di bibir, kemudian meneruskan cerita. "Waktu itu aku jawab 'enggak' dan setelahnya menatap mataku lekat-lekat seolah memastikan apakah aku jujur atau enggak."
"Kamu jawab enggak?" tanya Risma. "Tapi kenapa waktu itu kamu bilang suka sama aku?"
Hendi tersenyum malu. "Soal ini, bisa nggak kita bahas nanti? Sekarang topiknya tentang kamu dan Nando."
Risma mengangkat sepasang bahu. "Enggak masalah."
Hendi menyesap kopi yang sudah hampir habis. "Setelah itu Nando cerita tentang makan malam kalian. Ia juga cerita tentang kamu yang katanya lahir di Tegal. Bapakmu petani, pokoknya semua tentang kamu."
Risma antusias mendengarnya.
Hendi tersenyum geli. "Itu aneh buat Nando. Selain karena kami nggak pernah bahas cewek sebelumnya, juga karena kupikir ia sedang mengejar Desi "
Risma pun merasa aneh. Jika benar Nando mengejar Desi, buat apa lelaki itu membicarakan dirinya kepada orang lain?
"Besoknya Nando mengajakku ke tempat ini lagi. Jika sebelumnya ia bertanya memastikan apakah aku menyukaimu, maka saat itu ia bertanya begini: 'Hen, menurutmu, Risma itu tipe gadis seperti apa?" Hendi menirukan gaya Nando.
Risma tertawa dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena ternyata Nando memperhatikannya. Namun ia kesal karena kini lelaki itu menjadi musuh.
"Aku bilang ke Nando kalau kamu gadis baik, cerdas, cantik, cocok dijadikan Nyonya Fenando Hierro." Hendi tersenyum-senyum sendiri mengingat itu.
Risma membungkuk, pura-pura mengambil sesuatu di bawah meja untuk menyembunyikan rona merah pada pipi.
"Kamu nyariin apa?" tanya Hendi.
Risma menegakkan badannya. "Ah, enggak papa. Terus gimana?"
"Setelah itu Nando curhat!" jawab Hendi.
Risma penasaran. "Curhat?"
Hendi mengangguk. "Ia cerita mulai dari keluarganya sampai tentang gadis yang membuatnya bersemangat."
Hati Risma kembali membuncah.
"Kopiku habis!" Hendi memanggil waitress dengan melambaikan tangan. "Kamu mau tambah lagi ?"
Risma menggeleng. Ia lebih tertarik mendengar kelanjutan cerita Hendi.
"Kopi latte satu!" pesan Hendi setelah waitress mendekatinya.
"Baik, Pak." Waitress berlalu.
"Sebelum aku ceritain curhatannya Nando, ada baiknya kamu mengenai dulu sepeti apa keluarga besar Nando," ujar Hendi. "Jadi, Pak Reynaldi, papinya Nando, dulunya karyawan biasa di perusahaan kakeknya Nando. Karena pekerjaannya bagus, akhirnya dijadikan menantu. Bahkan setelah itu, satu per satu perusahaan si kakek diserahkan pada Pak Reynaldi.'
Risma mendengar dengan antusias.
"Namanya rumah tangga pastilah jalannya tidak mulus. Suatu ketika Pak Reynaldi pisah ranjang dengan istrinya. Itu membuatnya terusir. Beliau sempat terlunta-lunta, bekerja serabutan." Hendi menarik napas panjang. "Bayangkan mantan CEO menjadi gelandangan! Tapi beliau tidak gengsi dan tidak menyerah. Pekerjaan apa pun beliau lakukan yang penting halal."
Risma menyesap tetes kopi terakhirnya, sambil tetap fokus mendengar cerita Hendi.
"Salah satu pekerjaan yang sering Pak Reynaldi lakukan adalah menjadi mekanik panggilan. Customer beliau semakin bertambah. Maka beliau mengajak Pak Faizin menjadi asisten."
Risma kini tahu kenapa Faizin menjadi orang kepercayaan Reynaldi di Reyncar.
"Suatu saat hubungan Pak Reynaldi dengan istrinya kembali membaik. Mereka rujuk. Sayang ketika Nando tumbuh remaja, ibunya meninggal." Hendi diam sejenak. "Kakek Nando sangat berduka atas meninggalnya putri semata wayangnya. Bahkan sampai beliau pernah sakit parah dan mengalami kelumpuhan yang membuatnya menyerahkan semua perusahaan kepada Pak Reynaldi. Waktu itu Pak Reynaldi sedang merintis Reyncar, akhirnya Reyncar dipercayakan kepada Pak Faizin."
Waitress datang membawa pesanan Hendi. "Silakan, Pak, satu kopi latte-nya!"
"Terima kasih," ucap Nando.
"Saya juga dong, Mbak, kopi latte satu!" pesan Risma.
"Baik, Mbak!" Waitress berlalu.
Hendi melanjutkan. "Meskipun lumpuh, kakeknya Nando berkuasa penuh atas semua perusahaannya. Pak Reynaldi hanya kepanjangan tangan saja. Bahkan jika beliau menikah lagi, beliau akan kehilangan semua jabatannya sebagai CEO. Jika itu terjadi, maka beliau hanya tinggal memiliki Reyncar saja."
Risma menangguk paham.
"Sebagian perusahaan Kakek Nando dipegang putra pertama dan kedua Pak Reynaldi. Sementara Nando diproyeksikan untuk membangun perusahaan Reyncar yang asli milik beliau."
"Dari mana kamu tahu itu semua?" tanya Risma.
"Dari berbagai sumber terpercaya," jawab Hendi setengah bercanda. "Pak Reynaldi pernah cerita perihal sejarah berdirinya Reyncar sama semua karyawannya. Tapi lebih lengkapnya, cerita itu berasal dari Nando."
Risma mengangguk percaya.
"Sekarang waktunya cerita tentang diri Nando!" Hendi tersenyum penuh arti.
Risma terkekeh, mengira cerita Hendi sudah selesai.
"Kakek Nando dengan papinya Desi sepakat menjodohkan Nando dengan Desi. Pak Reynaldi tidak bisa berbuat banyak, meskipun beliau tidak tega melihat anak bungsunya tertekan. Beliau tahu Nando tidak menyukai Desi."
Risma mengerjap kaget. "Tapi Nando tampak mengejar Desi!"
"Nando melakukan itu karena menuruti kakeknya," timpal Hendi.
Risma mengatupkan bibir. Serta merta ia iba kepada Nando. Pasti tidak mudah berada pada posisi itu.
"Nando enggak pernah pacaran. Bahkan ia kehilangan masa mudanya untuk sekolah dan bekerja. Sejatinya ia sangat penurut dan introvert. Barangkali satu-satunya orang yang ia jadikan tempat cerita hanyalah aku. Itu pun hanya garis besar saja karena ketika ia membuka diri itu hanya tampak di permukaan saja," ujar Hendi.
Risma mengerti kenapa Nando menjadi pribadi yang kaku dan tertutup.
"Sejak kamu datang, aku melihat pancaran wajah Nando tampak lebih hidup," ujar Hendi. "Ya itu mungkin hanya penilaianku saja. Tetapi aku sangat mengenal siapa Nando. Kami dulu pernah sekelas di SMK."
"Kalian sudah lama berteman?" Itu cukup mengejutkan Risma.
"Iya," jawab Hendi. "Waktu tahu aku masih menganggur, ia mengajakku bekerja di Reyncar. Ia sangat baik sebenarnya."
"Baik?" Risma tidak mengerti definisi 'baik' yang pantas disematkan pada Nando karena ia yakin lelaki itu terlibat atas hilangnya ponselnya.
"Iya, sangat baik." Hendi menjawab lugas. "Karirku melejit atas bimbingannya dan ia selalu memberiku banyak kesempatan untuk berkembang. Yang paling tidak bisa kulupakan adalah ketika Nando dipromosikan menjadi instruktur servis, ia menominasikanku untuk mengisi posisinya yang lama."
Risma menyela. "Kolusi dong!"
Hendi terkekeh. "Bisa jadi, karena di antara beberapa nominasi yang layak mengisi posisi itu, aku yang ia rekomendasikan kepada Pak Faizin. Tentu saja semua harus melalui seleksi ketat. Beruntung aku tidak mengecewakannya."
"Luar biasa!" puji Risma kepada solidaritas persahabatan Nando dan Hendi.
"Terakhir yang ingin aku sampaikan adalah Nando mengemukakan dua hal kepadaku." Hendi menyesap kopinya.
Risma ikut menyesap kopinya yang sudah hampir habis, menunggu kelanjutan cerita Hendi.
"Nando bilang padaku kalau ia ingin memperjuangkan seseorang kepada keluarganya dan akan menolak perjodohannya dengan Desi."
"Memperjuangkan?" Risma berharap itu dirinya, namun buru-buru ia menyangkal harapannya sendiri. Ia merasa tidak mungkin menyukai Nando karena mereka tidak dekat dan lelaki itu bukan tipenya.
"Dua puluh delapan tahun Nando selalu menjadi anak penurut. Ia merasa berhak sekali-kali menentukan nasibnya sendiri." Hendi menatap Risma serius. "Sepertinya orang yang akan ia perjuangkan adalah dirimu, entahlah, itu hanya dugaanku saja."
Risma tercenung. Bukannya ia merasa percaya diri, hanya saja dari cerita Hendi ia bisa menyimpulkan Nando nyaris tidak dekat dengan siapa pun kecuali Hendi. Maka itu ia menduga dirinyalah yang paling mungkin menjadi orang yang akan diperjuangkan Nando. Waktu acara makan malam beberapa hari lalu, ia beberapa kali mendapati lelaki itu mencuri pandang ke arahnya.
"Hal kedua yang ia kemukakan padaku adalah...." Hendi menggantung kalimatnya.
Waitress datang membawa pesanan Risma. Ia meletakkannya ke atas meja. "Silakan, kopi latte-nya."
"Terima kasih, Mbak!" ucap Risma.
"Sama-sama." Waitress berlalu.
Hendi menatap Risma lekat-lekat. "Dua hari lalu ia bilang kecewa denganmu!"
Deg! Seperti ada benda tumpul yang baru saja menghantam d**a Risma. Ia mengakui telah membuat kesalahan besar. Ia pun menyadari, wajar jika Nando kecewa padanya. "Nando kecewa kenapa?"
Hendi mendesah perlahan. "Nando cerita katanya kamu adalah CEO bengkel SAS yang menyusup dan berpura-pura bekerja pada Reyncar."
"Nando punya bukti?" pancing Risma.
"Nando menunjukkan kepadaku video dan gambar yang katanya berasal dari ponselmu," jawab Hendi.
Perasaan kesal Risma datang lagi. "Bagaimana Nando mendapatkan itu semua?"
"Dari Desi!"
"Wait!" Wajah Risma menunjukkan kemarahan. "Maksudnya dari Desi itu gimana? Nando cerita sesuatu enggak?"
Hendi mengangguk. "Nando bilang, Desi menyuruh orang buat mengambil ponselmu. Ia mengaku tidak tahu apa-apa soal itu. Ia ingin menemuimu untuk meminta klarifikasi tetapi entah bagaimana jadinya ia malah mengikuti permainan Desi."
Jemari tangan kanan Risma mengepal. "Lelaki pengecut!"
Hendi mendesah pelan. Ia memahami kemarahan Risma.
Risma menatap Hendi tajam. "Kenapa kamu tidak berkomplot sekalian bersama mereka? Kamu kan sudah tahu semua!"
Hendi menggeleng. "Aku tidak mau ikut campur kasus itu."
"Kenapa?"
"Itu bukan urusanku!" jawab Hendi tegas.
"Tapi kamu pasti marah setelah tahu siapa aku kan?"
Hendi diam.
"Iya kan?" desak Risma.
Hendi menatap Risma teduh. "Tadinya aku kecewa sama kamu, tetapi aku pikir kamu tidak bisa dihakimi tanpa dimintai keterangan dan itu bukan wewenangku."
Risma menggebah napas kasar. Perasaannya menjadi tidak karuan.
"Kamu akan pergi dari Reyncar?" tanya Hendi hati-hati.
Risma mendelik. "Aku sudah dipecat sama Pak Faizin!"
Hendi menunduk dalam-dalam. "Aku akan kehilanganmu."