Saling Percaya

1172 Kata
Risma siaga saat melihat sosok orang tiba-tiba ada di dekat mobil. Setelah menyadari sosok itu adalah Faizin, ia merasa lega. Faizin memberi gestur agar Risma membuka pintu mobil. Tadinya Risma ragu untuk membukanya, tetapi karena merasa tidak enak hati akhirnya ia menuruti pinta Faizin. Pintu mobil dari sisi sebalah Risma terbuka. Faizin masih saja berdiri. Risma mengira lelaki itu akan memberi informasi saja, bukan ingin masuk mobil. "Bagaimana, apa bapak sudah bertemu Pak Jenggot?" tanya Risma. Faizin mengeluh. Ia tampak kedinginan. "Boleh bapak masuk?' Risma tidak tega melihat kondisi Faizin. "Silakan, Pak." "Terima kasih!" Faizin segera masuk mobil dan menutup pintunya. Risma menunggu jawaban Faizin. Faizin menggosok-gosokan telapak tangan. Ia menoleh kepada Risma. "Kamu tampak sangat lelah!" Risma tersenyum malas. "Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga pikiran." "Bapak tahu!" "Bapak belum jawab pertanyaan saya," tegur Risma. Faizin mendengus. "Melihat bapak datang seorang diri, seharusnya kamu bisa menebaknya dengan tepat." Risma tergelak. "Saya sudah sangat lelah, sehingga malas berpikir dan melakukan sesuatu." "Iya, itu manusiawi," ujar Faizin. "Seharusnya bapak tidak mengajakmu tebak-tebakan." Risma terkekeh, sedikit terhibur dengan satire Faizin. "Bapak cuma tahu jalan ke pos dan vila, sehingga belum ke mana-mana untuk menemukan Pak Jenggot. Tadi sempat tiduran di pos, berharap si penjaga itu datang." "Dan ternyata Pak Jenggot memang nggak datang ke pos?" tebak Risma. "Tebakanmu tepat, tanpa harus banyak berpikir." Risma kembali terkekeh selama lima detik. Selepasnya ia menjadi murung. "Bapak bisa setenang itu menghadapi tragedi di vila ini. Bapak juga lebih bugar dari yang seharusnya." Melalui jendela kaca mobil, Faizin menerawang langit. "Kamu hanya melihat dari luar saja." "Apa bapak juga stres seperti saya?" tanya Risma. Faizin menoleh. "Kalau bapak menunjukkan semua kegelisahan dalam hati, lalu siapa yang berperan untuk menenangkan kalian?" Risma mengerjap. "Tapi bapak juga manusia yang tidak selalu berhasil memberi kesan 'saya baik-baik saja' kepada orang lain. Kita hampir seharian penuh di sini." Faizin mengerjap. "Segala sesuatu ada batasnya, kecuali Tuhan. Begitupun usaha bapak untuk tampak baik-baik saja, pasti akan melewati batas kekuatan. Jika sekarang belum mencapai batas tersebut, barangkali karena bapak masih bisa memperlambat laju menuju batas tersebut." Risma mengangguk saja. Ia sudah susah menangkap maksud kalimat Faizin. "Sepertinya itu topik membosankan!" Faizin sadar Risma kurang antusias. "Teruskan istirahatmu, biar bapak kembali ke pos saja." "Di sana dingin, Pak!" cegah Risma. "Bapak tahu kamu risih kalau bapak temani kamu di sini." Risma menoleh. "Nggak papa. Bapak sudah saya anggap orang tua sendiri." Faizin tidak yakin. "Begitu?" Risma mengangguk. "Jadi kamu tidak keberatan kalau bapak di sini?" Faizin memastikan. "Iya." Risma terpaksa berbohong. Sebenarnya bukan risih yang ia rasakan, tetapi ia mencemaskan dirinya sejak mendengar cerita Nando. Cerita itu seolah melegitimasi cerita Hendi dan Desi bahwa Faizin seorang psikopat. Jika benar Faizin psikopat, maka Risma akan merasa tidak aman. Apalagi ditambah fakta Desi dan Hendi ditemukan tidak bernyawa dengan bersimbah darah. Namun Risma tidak punya alasan kuat untuk membiarkan Faizin kedinginan di luar sana. Isu Faizin psikopat belum tentu benar. Gerak-gerik Faizin sejak tadi pagi hingga dini hari ini pun terlihat wajar. Risma melihat Faizin memejamkan mata. Itu sedikit mengurangi kegelisahannya. Ia berharap lelaki itu tertidur. Dua belas menit lagi menuju jam satu dini hari. Hembusan angin semakin kencang di area perkebunan. Sementara hawa di dalam mobil cukup hangat. Risma dan Faizin sama-sama memejamkan mata. "Uhhukk!" Faizin terbatuk. Membuat Risma membuka mata. Faizin membetulkan posisi duduk. Ia menyelonjorkan kedua kaki. "Kalau kedinginan, bapak bisa pakai hoodie ini." Risma melepaskan hoodie dari tubuhnya, lantas menawarkannya kepada Faizin. "Terima kasih." Faizin menerima hoodie dari Risma lantas mengenakannya. Ia harus bersusah payah dulu agar hoodie itu muat di tubuhnya. Risma tertawa geli melihat hoodie tampak ketat pada tubuh Faizin. Faizin meraba tubuhnya, sadar kalau penampilannya sedang menjadi bahan tertawaan Risma. "Maaf, bapak terlihat sepuluh tahun lebih muda. Hehehe!" ledek Risma. Faizin tersenyum. "Andai terlihat dua puluh lima tahun lebih muda pun, bapak tetap tua aslinya." Tawa Risma berhenti. Ia merasa tidak enak meledek Faizin. "Padahal di usia bapak yang sudah setengah abad ini, masih ada perempuan yang mau dinikahi bapak," ujar Faizin. Risma mengerjap. "Bapak masih pantas menikah lagi kok." Faizin menggeleng. "Hati bapak sudah mati untuk perempuan lain. Hati itu ikut mati bersama kematian istri bapak." Risma mengangguk percaya. "Luar biasa kesetiaan bapak." Faizin terdiam. Seraut wajah Nia kembali hadir dalam ingatannya. Momen manis bersama istrinya itu silih berganti melintasi benaknya. Ia tersenyum haru. Namun tiba-tiba senyumnya redup mengingat momen kematian istrinya. "Beruntung sekali istri bapak," puji Risma. Faizin terkesiap. "Saya yang beruntung mendapatkannya!" Risma mengerjap, sejurus kemudian mengangguk. "Bapak dan istri sama-sama beruntung." "Sekarang jam berapa?" Faizin mengalihkan topik. Hatinya akan semakin pedih jika terus membahas perihal istrinya. Risma melirik arloji di pergelangan tangannya. "Jam satu, Pak." "Jam satu tepat?" Faizin memastikan. "Jam satu lebih tiga menit!" Risma tahu Faizin sedang mengalihkan topik. Faizin kembali menggosok-gosokan telapak tangan. Hoodie yang dikenakan belum cukup menghangatkannya. Namun udara hangat dalam mobil mulai membuat badannya sedikit lebih enakan ketimbang sebelumnya. Faizin menoleh. "Kita tersisa tiga orang. Nando entah beneran mau lapor polis atau tidak. Kamu tampak sangat shock. Sementara bapak tidak bisa berbuat banyak." "Kuncinya pada Pak Jenggot," timpal Risma. "Kalau beliau muncul, kita bisa minta tolong padanya buat menelepon polisi. Sayangnya orang itu hilang entah ke mana." "Kalau Pak Jenggot tidak muncul-muncul, harapan kita cuma Nando." Risma tersenyum masam. "Bapak percaya Nando beneran akan lapor polisi?" Faizin membetulkan penutup kepala. Ia menatap Risma. "Ada baiknya kita saling percaya." Risma menjadi heran. "Setelah Nando memperlakukan bapak dengan atitud yang kurang baik, apakah bapak masih percaya?" "Hanya karena seseorang bersikap tidak seperti yang kita harapkan, bukan berarti kita tidak bisa mempercayainya." Risma melengos. Ia tidak mengerti jalan pikiran Faizin. Jelas-jelas lelaki itu sudah mengalami dan melihat sendiri bagaimana sikap Nando yang mencurigakan tapi tetap saja menaruh kepercayaan padanya. "Bapak sudah lama tidak pernah beribadah." Faizin berujar. Risma tidak paham arah pembicaraan Faizin. "Tapi bapak masih percaya pada Tuhan dan mempraktekkan petuah-petuah guru agama. Bapak bahkan masih ingat nasehat seorang ustaz waktu bapak kecil dulu, bahwa tidak ada ruginya berprasangka baik." "Meskipun bisa saja kita dikecewakan?" tanya Risma. Faizin memiringkan badan agar bisa leluasa menatap Risma. "Prasangka buruk tidak akan mengubah apa pun, bahkan hanya akan membuat hati kita gelisah." Risma tercenung. Dalam hati ia membenarkan kalimat Faizin. "Dalam situasi seperti sekarang ini, kita harus saling percaya." Faizin menegaskan. "Kecurigaan hanya akan memperburuk keadaan." "Tapi waspada itu perlu, Pak!" Risma berargumen "Prasangka baik itu satu hal dan waspada itu hal lain. Keduanya tetap harus kita lakukan. Melakukan salah satunya tidak menghambat yang lain. Paham maksud bapak?" Risma mengangguk. "Bapak mau meminta satu hal padamu," ucap Faizin. "Apa itu?" "Kita harus saling percaya, bisa?" Risma terdiam. Ia menangkap kesan Faizin sudah tahu kalau dirinya tidak mempercayai siapa pun, termasuk Faizin. Faizin menatap Risma lekat-lekat. "Bapak percaya sama kamu dan Nando, bahkan setelah kalian mengecewakan bapak!" Sepasang alis Risma terangkat bersamaan. "Bapak tahu siapa yang menyerang bapak di kamar petang itu!" Tatapan Faizin menusuk tajam ke mata Risma. Seketika wajah Risma memerah. Ia panik karena Faizin sepertinya mencurigainya yang telah meyerang lelaki itu tadi petang. Faizin mendekatkan wajah ke arah Risma. "Kenapa kamu menyerang bapak?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN