Siapa yang Paling Layak Dicurigai?

2102 Kata
"Bagaimana bapak bisa tahu kalau aku yang menyerang?" Risma menjadi gugup. Ia sudah tidak mungkin lagi mengelak. Ia tahu ketika Faizin langsung menuduh berarti telah memiliki bukti cukup. Jika belum, pasti bertanya dulu. Dulu waktu Risma masih bekerja di Reyncar--lebih tepatnya menyusup-- ia sering mendengar, tidak ada satu pun anak yang berani berbohong kepada Faizin, kecuali Desi. Itu pun akhirnya Desi mengakuinya. Konon Faizin ahli dalam bidang filsafat. Risma pernah mendengat hal itu. Sehingga katanya Faizin bisa merasakan seseorang telah berbohong padanya. "Pertanyaanmu secara tidak langsung mengakuinya!" desak Faizin. Risma gugup, sangat gugup. Ia tidak bisa berkutik. Mau tidak mau ia harus mengakuinya. Masalahnya adalah ia harus memberi alasan apa? "Kamu belum jawab pertanyaan bapak!" Faizin terus mendesak. "Tidak sepatutnya pertanyaan dibalas dengan pertanyaan!" Risma menunduk. Ditariknya napas dalam-dalam. "Iya, saya yang menyerang bapak petang itu." Faizin membuang muka. Ia mendengus kesal. "Maafkan saya, Pak!" ucap Risma merasa bersalah. Faizin menoleh. "Bapak sudah memaafkanmu sejak petang itu juga. Hanya saja bapak tidak habis pikir apa motivasimu melakukan itu?" Risma harus menjawab apa adanya. Sudah terlanjur ketahuan, ia harus mengemukakan alasannya. Toh, ia perlu membela diri. "Kamu mencurigai bapak?" Nada Faizin lebih lirih ketimbang sebelumnya. Ini saatnya Risma menjelaskan. "Ini bukan soal curiga atau bukan, Pak." "Lalu?" potong Faizin. Risma beranikan diri menatap Faizin. "Desi ditemukan tak bernyawa, ponsel hilang, mobil disabotase, semua kejadian itu terjadi di vila saya." Faizin terus menatap Risma. "Saya stres, kita terkurung di vila yang jauh dari permukiman. Alat komunikasi juga sudah tidak ada. Penjaga kebun masih lama datangnya. Itu semua membuat saya kehilangan akal." Risma menjelaskan. "Tapi kenapa harus bapak yang kamu curigai?" Nada Faizin lirih, tetapi menyiratkan kekesalan dan kekecewaan yang mendalam. "Saya tidak mencurgai bapak," ujar Risma tidak yakin. "Lalu?" Risma menelan ludah. "Saya ingin melampiaskan emosi kepada siapa saja. Kebetulan bapak yang paling memungkinkan karena posisinya sedang berbaring." Faizin mengerjap kesal. "Kamu menyerang lawan yang sedang tidak siap? Buat apa kamu belajar ilmu bela diri?" Risma bungkam. Ia tidak mungkin terus terang kalau dirinya waktu itu mencurigai Faizin. "Kamu bahkan menggunakan penutup wajah!" Faizin menyayangkan. "Bukankah kamu bisa berterus-terang untuk menantang duel? Kamu bisa melakukannya secara ksatria jika benar motivasimu hanya sekadar melampiaskan emosi." Risma menunduk. Ia terpojok. "Oke, semua sudah terjadi. Kamu juga sudah mengakui dan meminta maaf." Faizin menepuk bahu Risma. "Sekarang giliran bapak yang akan menjawab pertanyaanmu tadi." Risma menoleh sebentar, kemudian kembali menunduk. "Meskipun kamu menutupi seluruh tubuhmu, gestur kamu sudah bapak kenali dengan baik," ujar Faizin. "Mudah saja bagi bapak membedakan mana postur lelaki dan mana postur perempuan. Di vila hanya kamu perempuan yang masih hidup. Lagi pula di antara kita berlima hanya kamu yang bisa bela diri, selain bapak tentunya." Risma menggigit bibir. Analisa Faizin sangat logis. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak mempertimbangkan itu semua sebelum bertindak. "Ya sudah!" Faizin membuang muka, masih kecewa. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak!" Faizin mengangguk tanpa menatap Risma. Suasana kabin mobil menjadi sunyi, hanya deru napas dari Faizin dan Risma yang terdengar. Terlepas dari belum bisanya ia mempercayai siapa pun, Risma masih merasa tidak enak hati pada Faizin. Bagaimanapun juga lelaki itu adalah mantan atasannya. Dulu ia sangat menghormati dan menghargainya. Ia bahkan mengagumi Faizin atas kebijaksanaan dan kemampuannya menjadi pemimpin. Perasaan tidak enak hati pada Faizin membuat Risma tidak lagi mengantuk. Ia menjadi serba salah sekarang. "Bicara soal curiga, kita semua patut dicurigai," ujar Faizin memecahkan kesunyian. "Sepertinya kita harus membahasnya sekarang, siapa yang paling layak dicurigai." Risma menoleh. Ia sepakat dengan Faizin, meski tidak yakin itu akan memberikan solusi. Paling tidak ia bisa merasa lega jika nanti sudah mengungkapkannya. "Kamu sepakat?" tanya Faizin. Risma mengangguk. "Oke!" Faizin membetulkan posisi duduk. "Kita asumsikan salah satu di antara kita terlibat atas kematian Hendi dan Desi. Bagaimana?" Risma mengangguk. "Iya, meskipun tidak menutup kemungkinan lain, seperti misalnya ada pelaku lain di luar kita atau barangkali ada sebab lain." Faizin mengernyit. "Sebab lain?" "Semua kan masih kemungkinan!" timpal Risma. "Bapak paham." "Silakan bapak mulai dulu!" ujar Risma. Faizin berpikir sejenak. Risma juga berpikir, mengingat kembali kronologi kejadian yang ia alami. "Nando sangat misterius," ujar Faizin memulai bahasan. "Ia tidak antusias mengikuti reuni. Ia menghilang saat kita semua sedang mencari ponsel-ponsel yang hilang. Terakhir adalah ia membawa motor Pak Jenggot dengan dalih akan melapor polisi. Jika benar tujuannya seperti itu, kenapa ia tidak memberitahu yang lain atau paling tidak pamitan? Kenapa ia menolak saat bapak memintanya turut serta?" "Nando juga mendesak Desi agar hadir di reuni, meskipun Desi menolaknya. Sementara Nando justru tidak antusias mengikutinya. Itu kontradiktif dan mencurigakan!" timpal Risma memberi argumen. "Nando beralibi sedang ke kamar mandi belakang saat Desi meregang nyawa," tambah Faizin. Risma mengangguk. "Nando juga memecahkan kaca jendela pos jaga dengan alasan untuk mencari pompa ban." "Soal itu, alasannya logis," timpal Faizin. "Meskipun tidak bisa dibenarkan." Risma mengangguk sepakat. "Tapi itu semua belum cukup untuk dijadikan bukti keteibatan Nando atas kematian Desi dan Hendi." Faizin mengerjap sepakat. "Selanjutnya siapa?" tanya Risma. Faizin diam, memikirkan sesuatu. Risma menunggu analisa Faizin berikutnya. Ia hanya ingin menimpali saja, tidak mau memulai. "Hendi!" jawab Faizin. Risma kaget. "Hendi sudah mati. Ia korban!" Faizin mendesah tertahan. "Ia masih hidup ketika Desi terkapar di kamar. Bukankah selalu ada kemungkinan? Bukankah bisa jadi pelakukanya lebih dari satu?" Risma tercenung. "Hendi sudah beralasan, motivasinya mengempesi semua ban mobil Desi adalah karena ia tidak mau Nando dan Desi pulang sebelum reuni berakhir." Faizin menganalisa. "Tetapi kita tidak pernah tahu apa motivasi sebenarnya." "Iya, saya seoendapat!" timpal Risma. "Ponsel-ponsel yang hilang itu juga ada di kamarnya." Faizin mendengus. "Tapi lagi-lagi, itu semua belum cukup bukti untuk mengaitkannya dengan kematian Desi." Risma mengangguk sepakat. "Desi sudah jelas tidak mungkin menjadi pelakunya, kecuali ia sengaja bunuh diri," ujar Faizin. Risma mengerjap. "Apa mungkin ia bunuh diri? Lalu apa motifnya?" Faizin mengedikkan bahu. Risma menjadi ingat sesuatu. "Hendi dan Desi pernah mendapatkan teror, masing-masing tiga kali." Mata Faizin terbelalak. "Teror?" Risma ingat cerita Desi bahwa tulisan pada paket teror itu identik dengan tulisan Faizin. Sekarang ia menyesal telah mengatakan itu karena sekarang ia berdebar-debar, takut dengan reaksi Faizin jika nanti menanyakannya. "Teror apa?" Risma menelan ludah. Ia sudah terlanjur keceplosan sehingga harus menjelaskannya. "Hendi dan Desi mendapatkan paket yang berisi kunci T yang berlumuran darah," cerita Risma. Dahi Faizin berkerut. "Mereka menceritakannya padamu?" Risma mengangguk, sambil memperhatikan mimik Faizin. "Mereka juga tertusuk kunci T," ujar Faizin. "Apa menurutmu kematian mereka sudah ada yang merencanakan?" Risma menggeleng cemas. "Saya tidak mau berspekulasi." "Ayolah, kita sepakat membahas ini." Faizin mendesak. "Jawab saja!" Tiba-tiba Risma ngeri membayangkan seandainya paket itu dikirimkan Faizin. "Kamu sepertinya ketakutan!" "Saya masih shock, Pak. Jadi harap maklum kalau saya masih takut." Risma menutupi ketakutannya. "Kunci T itu apa identik dengan paket yang mereka dapatkan?" tanya Faizin. Risma mengeleng. "Jelas Desi tidak bisa membandingkannya karena ia keburu mati. Sementara Hendi tidak pernah menjelaskan apakah bentuk kunci T-nya identik dengan yang menancap di d**a Desi." Faizin diam. Matanya menembus kaca depan mobil, mendarat di vila dengan pandangan nanar. "Saya ngeri mengingat cerita itu, Pak!" aku Risma. "Seandainya kematian Hendi dan Desi ada yang merencanakan dan berhubungan dengan paket teror tersebut, pelakunya kemungkinan seorang yang berdarah dingin karena masih bisa santai menghadapi situasi ini." Faizin mengangguk-angguk. "Analisamu masuk akal." Risma membuang muka, semakin shock. "Kamu sanggup meneruskan bahasan ini?" tanya Faizin. Risma menoleh. "Sudah terlanjur, kita teruskan saja agar plong!" "Baik!" Faizin membuka penutup kepala. Ia sudah merasa hangat. "Saya mau tanya, apa kamu mendapat teror serupa?" Risma menggeleng. "Kalau Nando?" "Nando nggak pernah cerita," jawab Risma. Ia melirik Faizin hati-hati. "Kalau bapak?" Faizin menggeleng. "Bapak nggak pernah diteror siapa pun." "Syukurlah!" ucap Risma. Suasana kabin kembali sunyi selama lebih dari satu menit. Mereka tidak menyadari, kalau berjarak beberapa meter, ada yang mengawasi mereka dari balik rerimbunan. "Kita sudah membahasa perilaku aneh Nando dan Hendi. Sekarang tinggal kita berdua yang belum." Risma berdebar. Ia ragu apakah akan mengemukakan kecurigaannya pada Faizin. "Kalau kamu tidak keberatan, bapak mau mengungkapkan kecurigaan padamu!" ujar Faizin. Risma mengangguk. "Silakan, Pak." Faizin menarik napas panjang. Pandangannya beredar ke sekeliling vila. "Perkebunan seluas ini hanya memiliki dua penjaga dan vila semewah itu tidak memiliki CCTV. Menurut bapak itu aneh." Risma terperanjat, tidak menduga Faizin akan seteliti itu. "Soal penjaga kebun sudah saya jelaskan tadi sore. Mereka ada tiga tadinya. Sekarang tinggal dua. Saya rasa itu cukup, toh saya memang sedang mencari satu penjaga lagi." Faizin menatap Risma lekat-lekat. "Vila ini dulu pernah dipasangi CCTV," jelas Risma. "Suatu saat karena ada perbaikan total, CCTV itu belum sempat dipasang lagi sampai sekarang." Faizin mengernyit. "Apa menurutmu CCTV kurang penting?" "Penting!" jawab Risma. "Lalu kenapa tidak langsung memasangnya lagi?" selidik Faizin. Risma mengedikkan bahu. "Kakak saya yang mengurus vila ini. Saya juga kurang tahu apa penyebab sampai CCTV belum terpasang lagi." Faizin mengerjap, sengaja menampakkan kesan tidak puas atas jawaban Risma. "Saya tahu kenapa bapak menanyakan CCTV," ujar Risma. "Jika vila ini ada kamera pengawas pasti kita bisa menemukan petunjuk atas semua tragedi di sini." "Dan barangkali Desi dan Hendi akan terhindar dari peristiwa tragis itu," timpal Faizin. Risma menggeleng. "Mereka mati di kamar. Kamera pengawas biasanya tidak ada di kamar." Faizin tersenyum masam. "Tapi paling tidak pelakunya akan pusing memikirkan cara karena gerak-geriknya terbatas." "Iya juga sih," desah Risma. "Kita lanjut?" tanya Faizin. Risma mengangguk. "Menurut Hendi, Desi pernah cerita kalau kamu pernah memeriksakan diri ke psikiater karena takut mengidap skizofrenia paranoid." Risma terbelak. Sejurus kemudian tertawa. "Kenapa tertawa?" Faizin merasa heran. Risma menatap Faizin. "Saya memang pernah memeriksakan diri ke psikiater. Saya takut menderita skizofrenia paranoid. Itu akibat saya banyak membaca buku dan akhirnya was-was." Faizin terdiam. "Tapi saya normal, Pak. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan konsultasi, hasil diagnosa menyatakan saya tidak mengidap gangguan kejiwaan apa pun." Faizin mengangguk. "Bapak percaya." Risma menarik napas lega. "Masih ada lagi, Pak?" "Ada, tapi sudah kamu jawab tadi," jawab Faizin. "Soal penyerangan itu?" tebak Risma. "Iya." jawab Faizin. "Sekarang giliran kamu mencurigai bapak." Deg! Risma menjadi gugup. "Ungkapkan saja semua agar lega!" Risma terdiam. "Mungkin sulit buatmu mengatakannya. Kalau begitu bapak akan memberimu sedikit waktu," ujar Faizin. Risma bimbang harus mulai dari mana, apakah membahas soal paket teror yang dialami Hendi dan Risma, ataukah soal isu Faizin psikopat dulu. Faizin menyandarkan punggung ke sofa. Ia tampak lebih tenang dari sebelumnya. Kondisi itu membuat Risma semakin bimbang. Namun setelah berpikir lama, Risma merasa semua harus ia ungkapkan agar hatinya sedikit lega. Juga agar ia bisa membaca mimik Faizin. "Bapak pikir sudah cukup bapak memberimu waktu." Risma menarik napas panjang. "Boleh saya bertanya pada bapak?" "Tanyakan saja!" jawab Faizin santai. "Apa bapak tahu kenapa Pak Arya sangat membenci bapak dan berusaha keras ingin menjauhkan bapak dari keluarga besarnya?" Faizin tampak kaget, tidak menyangka Risma akan menanyakan itu. "Bapak pikir pertanyaan itu tidak berkaitan dengan topik yang sedang kita bahas." "Ada, Pak!" sanggah Rism hati-hati. Faizin menegakkan badan, menoleh kepada Risma. "Coba hubungkan!' Risma menjadi gugup. Ia menarik napas dalam-dalam. "Tadi bapak menegur saya, tidak baik pertanyaan dibalas pertanyaan." Faizin mengernyit. "Oke, maafkan bapak." Risma menangkap kegugupan Faizin. Padahal beberapa menit sebelumnya lelaki itu tampak santai. "Bapak tidak pernah tahu apa alasan Pak Arya melakukan itu," jawab Faizin. "Maka itu bapak heran kenapa kamu menanyakannya." "Jadi begini, Pak." Risma memperbaiki posisi duduk. "Nando sudah cerita semua kenapa opanya berusaha menjauhkan bapak dengan keluarga besar Pak Arya." Faizin tampak tegang. "Menurut pengakuan Pak Arya kepada Nando, alasan beliau menjauhkan bapak dari keluarganya adalah karena bapak...." Risma menelan ludah. Ia menatap Faizin hati-hati. "Karena bapak seorang ... psikopat!" Faizin terbelalak. Badannya mematung dengan tatapan terhunus ke sepasang mata Risma. Beberapa detik kemudian ia mendengus. Risma merasa lega bisa mengatakannya. Sekarang ia tinggal menunggu klarifikasi Faizin. "Bapak tidak tahu dari mana Pak Arya bisa menghakimi bapak seorang psikopat. Yang jelas tuduhan itu tidak berdasar." Faizin berkata secara emosional. "Kamu mempercayainya?" Risma menggeleng. "Saya belum menemukan alasan untuk mempercayainya. Tapi sejak Desi mengatakan bahwa diduga bapak seorang psikopat, itu membuat saya mewaspadai bapak. Bahkan salah satu alasan kenapa saya menyerang bapak petang tadi adalah karena sempat terpengaruh dengan itu." Faizin mendengus kesal. "Kenapa tadi kamu tidak mengatakannya?" Risma menunduk. "Saya takut bapak tersinggung." Faizin membuang muka. Risma ikut diam. Faizin menoleh kepada Risma. "Lanjutkan!" Risma menelan ludah. "Soal teror, Desi juga cerita pernah mengonsultasikan teror yang dialaminya kepada temannya yang seorang polisi. Mereka membuat investigasi sendiri dan menemukan fakta bahwa tulisan pada paket dan tulisan pada buku milik bapak identik. Faizin kaget. "Dari mana mereka bisa menemukan buku bapak?" "Kata Desi, dulu bapak pernah tersangkut sebuah kasus, di mana buku harian bapak menjadi barang bukti." "Kurang ajar!" Faizin geram. "Bisa-bisanya barang bukti jatuh ke publik!' Risma merasa ngeri melihat kegeraman Faizin. Kilatan lelaki itu mengerikan. Faizin menghunus mata Risma tajam. "Bagaimana jika benar bapak yang mengirimkan paket teror itu?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN