Misi Belum Selesai

1374 Kata
"Bagaimana jika benar bapak yang mengirimkan paket teror itu?" Risma tersentak. Seketika sosok Faizin tampak horor dalam pandangan matanya. Jika benar Faizin adalah pelaku teror, maka sekarang ia sedang berduaan dengan seorang teroris, monster mengerikan. "Bapak hanya bertanya 'bagaimana jika' dan kamu segitu takutnya seolah itu adalah sebuah pengakuan. Hehehe!" Faizin terkekeh. Risma masih shock, belum menyadari kalau Faizin tadi bercanda. "Kamu sangat ketakutan, Ris!" Faizin menepuk bahu Risma pelan. Risma terkesiap. Ia baru sadar Faizin tadi hanya bertanya dengan nada bercanda. "Bapak bercanda kan?" Ia memastikan. "Tentu saja," jawab Faizin. "Tadi itu sebuah pertanyaan, ingin tahu apa reaksimu. Kamu tidak perlu menjawabnya karena bapak sudah mengetahui jawabannya. Risma tersenyum masam, menyadari kebodohannya. "Sumpah saya takut, Pak!" Ia mencoba menenangkan diri. "Wajarlah!" ujar Faizin enteng, seolah menganggap biasa shock yang dialami Risma. Yang Risma tahu, Faizin nyaris tidak pernah bercanda. Tersenyum pun sangat jarang, kecuali kepada relasi dan customer. Maka baginya sangat mengherankan jika benar lelaki itu tadi bercanda. "Ternyata bercanda itu bisa mengerikan jika dilakukan tidak pada tempatnya dan dalam situasi yang tidak tepat," ujar Faizin. "Juga karena saya baru melihat bapak bercanda," aku Risma. Faizin mengangguk. "Maafkan bapak ya?" "Iya, Pak. Saya baik-baik saja kok." Faizin menyelonjorkan kaki. Pandangannya diedarkan ke sekeliling. Risma masih berdebar, hanya intensitasnya mulai berkurang. Faizin menoleh kepada Risma. "Sejak kamu keluar dari Reyncar, bapak kadang ingin menghubungimu, hanya ingin tahu apa kabarmu." Risma terdiam. Matanya berubah sayu. Ada nyeri dalam d**a jika mengingat masa-masa setelah pergi dari Reyncar. Faizin menangkap perubahan mimik Risma. "Kamu baik-baik saja?" Risma menggeleng. "Saya sedih jika ingat Jakarta." Faizin mengerjap. "Boleh tahu sedih kenapa?" Risma menggigit bibirnya. Ia menunduk sedih. Selama beberapa saat ia berusaha menguatkan hati, kemudian memasang senyum. "Papi tahu apa yang saya lakukan di Reyncar. Pak Arya menyurati beliau. Saya tidak tahu apa isinya. Hanya saja sejak itu, jabatan CEO saya dicopot." Faizin terbelalak. "Saya sadar telah mempermalukan keluarga dan perusahaan," ucap Risma pedih. "Saya pun ikhlas menerima hukuman itu." "Lalu apa kegiatanmu setelah itu?" tanya Faizin. Risma tersenyum. "Saya menulis, Pak." "Menulis?" Mata Faizin berbinar. Risma mengangguk. "Saya sering mengisi kolom surat kabar. Saya juga aktif menulis novel. Selama dua tahun ini saya sudah menerbitkan dua buku." "Jadi kamu seorang penulis ya?" "Sebelum terjun ke perusahaan, saya sudah menulis. Itu dunia yang sangat saya minati karena sejak bekerja, saya terpaksa vakum." "Seharusnya kamu senang bisa kembali menulis lagi," ujar Faizin. "Iya, saya memang senang karena saat ini saya sedang menyelesaikan novel pengalaman saya selama melakukan misi di Reyncar." Risma terkekeh, geli menyebut kata 'misi'. Faizin tidak paham. "Misi?" Risma tersipu. "Saya menyebut kegiatan di Reyncar sebagai misi, yaitu misi untuk mengetahui rahasia dan strategi bengkel kompetitor." Faizin tergelak. "Ada-ada saja. Padahal misi itu gagal kan?" Risma menggeleng. "Saya belum merasa gagal, karena misi itu masih berlangsung sampai kini." Faizin tidak paham. "Maksudnya?" Risma kembali tersipu. "Apa perlu saya berterus terang kepada bapak?" Faizin mengedikkan bahu. "Itu terserah kamu." Risma menatap Faizin. Matanya berbinar, antara malu dan bersemangat. "Sejujurnya saya sangat antusias dengan acara reuni ini karena saya ingin bertemu dengan Nando." Faizin memang belum tahu ke mana arah pembicaraan Risma tetapi ia bisa menduga ini ada kaitannya dengan soal hati. "Saya hanya berani cerita kepada bapak." Senyum Risma terus terkembang. "Itu pun kalau bapak tidak keberatan mendengarnya." "Tentu saja bapak siap mendengarnya." Faizin meyakinkan Risma. Risma semakin bersemangat. Ia menatap Faizin dengan senyum terus terkembang. "Saya belum tahu apakah saya menyukai Nando atau tidak. Hanya saja saya sering gelisah memikirkannya. Saya coba mengabaikan perasaan itu. Sejauh ini saya merasa berhasil. Tapi saya sadar, perasaan itu seperti bom waktu yang suatu saat akan meledak." Faizin antusias mendengar penuturan Risma. "Sampai suatu saat Hendi mengajakku untuk mengadakan reuni. Saat itu saya sangat bersemangat. Perasaan itu pun tumbuh lagi." Mimik Risma tiba-tiba berubah sedih. "Namun sayang Nando, orang yang ingin saya temui sepertinya berubah dari yang pernah saya kenal dulu." Faizin menepuk bahu Risma pelan. "Kecewa?" Risma mengerjap, lantas menggeleng. "Sejak awal saya tidak berharap terlalu banyak. Sehingga saya bisa mengendalikan perasaan kecewa." "Tapi tadi kamu tampak sedih." Faizin berujar. Risma terkekeh. "Bukan karena sikap Nando, bukan!" "Lalu?" "Itu karena hal lain," jawab Risma. "Boleh saya melanjutkan cerita soal Nando?" Faizin mengangguk. "Silakan!" Ada yang membuncah dalam hati Risma. "Beberapa saat lalu, di sini, Nando mengungkapkan perasan suka sama saya, Pak. Sayangnya situasinya sedang seperti ini, sehingga saya tidak memberi respon." Faizin tersenyum. Ia paham apa yang sedang dirasakan Risma. "Kemudian saya berpikir. Setelah tragedi di vila ini selesai, saya ingin mengajaknya untuk membangun perusahaan baru, atau mungkin bekerja sama antara dua perusahaan SAS dan Reyncar. Itu misi saya selanjutnya." Faizin mengangguk. "Misi yang sangat baik." Tiba-tiba wajah ceria Risma berubah mendung. "Namun itu nggak mudah karena kami sama-sama sudah tidak mendapatkan posisi di perusahaan masing-masing. Selain itu, saya juga sedang dijodohkan dengan seorang pengacara terkenal." Faizin menyentuh telapak tangan Risma sebagai bentuk simpati. "Setiap misi harus teruji jika ingin berhasil. Semangat ya!" Risma mengangguk. Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. "Jadi perjodohan itu yang membuat kamu sedih?' Risma mengangguk. "Selalu ada jalan jika mau berjuang." Faizin menyemangati. "Kamu harus meyakinkan Nando agar mau berjuang bersama." Risma tersenyum. "Iya, Pak. Terima kasih dukungannya." "Itu sudah seharusnya sebagai orang tua. Bapak ini orang tua kalian juga kan?" Risma mengangguk sambil menggenggam telapak tangan Faizin. "Iya, bapak sudah saya anggap seperti orang tua sendiri." Sementara itu tanpa Risma dan Faizin sadari, Pak Jenggot sejak dari tadi mengawasi mereka dari balik semak. Sejak keluar vila melalui kamar mandi belakang, Pak Jenggot bersembunyi di balik rerimbunan semak. Tadinya ia akan menuju permukiman, tetapi ia bingung harus lewat mana karena jalan satu-satunya adalah jalan depan vila. Padahal di sana ada mobil terparkir dan ia melihat ada sosok didalamnya. Pak Jenggot tidak tahu persis siapa yang berada di dalam mobil. Ia tidak mau mengambil resiko jika menampakkan diri. Apalagi ketika ia melihat sesosok lelaki mendekati mobil dan masuk ke dalamnya. Pak Jenggot telah bersembunyi cukup lama, menunggu sampai orang-orang di dalam mobil pergi. Namun ia berpikir jika menunggu mereka pergi, pasti sangat lama karena tidak ada tanda-tanda mereka akan pergi. Tidak mau membuang waktu di balik semak, akhirnya ia berjalan melipir melalui rerimbunan semak-semak. Ia berhasil melewati mobil tapi bayangannya berhasil tertangkap Faizin melalui spion. "Ris!" Faizin memberi isyarat agar Risma menengok ke arah belakang mobil. Risma memutar leher. Ia memperhatikan suasana di belakang mobil. "Tadi bapak melihat sekelebat bayangan menjauh dari mobil ini," beritahu Faizin. "Entah dari mana ia berasal. Bisa saja ia telah mengawasi kita atau mencuri dengar pembicaraan kita." "Saya nggak melihat sesuatu yang mencurigakan, Pak!" ujar Risma. "Coba bapak periksa ke luar!" Faizin membuka pintu. Risma ingin mencegah Faizin tetapi lelaki itu keburu keluar. Setengah berlari Faizin mengejar Pak Jenggot. Namun tiba-tiba ia kehilangan jejak. Pak Jenggot bersembunyi di balik semak belukar. Ia tahu sedang dikejar seseorang. Maka itu ia segera mencari tempat persembunyian. Faizin berhenti. Dengan waspada ia mengawasi keadaan sekitar. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, ia pun kembali ke mobil. Pak Jenggot terus mengawasi Faizin yang bergerak menjauh. Tadi ia sempat cemas karena jarak dari Faizin berdiri dengan tempat persembunyiannya hanya berjarak tiga langkah kaki saja. Setelah memastikan aman, Pak Jenggot meneruskan perjalanan menuju permukiman. Sementara itu Faizin merasa kecewa karena gagal mengejar sosok bayangan yang sempat ia lihat dari spion. Sampai di mobil, Faizin disambut wajah cemas Risma. "Apa mungkin itu Pak Jenggot ya?" Risma berujar. Faizin duduk di jok. Ia menutup kembali pintu mobil. "Bapak kan belum tahu sosok Pak Jenggot jadi tidak bisa menebak-nebak." "Kalau Nando pasti nggak mungkin karena ia kan pergi naik sepeda motor," ujar Risma. "Kalau perjalanan Nando lancar, seharusnya ia sudah sampai kota kecamatan terdekat," analisa Faizin. Risma mengangguk, sepemikiran dengan Faizin. "Semoga saja perjalanannya lancar sampai ke kantor polisi terdekat." Faizin bersedekap. Berada sebentar di luar sudah membuatnya kedinginan. "Aamiin!" sahut Risma. Ia sebenarnya masih kesal atas sikap Nando yang pergi tanpa pamit, namun jika lelaki itu benar-benar melapor ke polisi, ia akan memaafkannya. "Jika benar Nando mencintaimu, pasti ia tidak akan mengecewakanmu." Faizin menghibur Risma. Risma mengangguk. Meskipun ia menyukai Nando tapi saat ini ia belum sepenuhnya mempercayai lelaki itu. Kadang Risma berpikir, seandainya ia dan Nando dipertemukan dalam suasana yang baik mungkin ia akan berani mengatakan bahwa ia pun menyukai Nando. Bahkan bisa jadi ia akan mengajak lelaki itu untuk mendukung misinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN