Pak Jenggot berhenti ketika pandangannya tertambat pada sebuah pohon. Di bawahnya tampak sesuatu yang mencurigakan. Dalam kegelapan malam dan jarak yang cukup jauh, ia tidak bisa memastikan benda apa yang mirip orang terduduk bersandar pohon itu.
Pelan-pelan Pak Jenggot mendekati pohon tersebut.
"Astaga!" Kaki Pak Jenggot tersandung sebuah batu. Ia nyaris terjerembab. Untungnya ia bisa menjaga keseimbangan tubuh.
Pak Jenggot menggeser batu yang cukup besar tersebut ke tepi. Tiba-tiba pandangannya tertambat ke sebuah benda mirip sepeda motor yang tergeletak di ujung sana.
Pak Jenggot penasaran. Segera saja ia mendekatinya. Ia melangkah hati-hati saat posisi jalan menurun. Banyak kerikil yang berpotensi mencelakakannya.
Pak Jenggot semakin yakin benda tersebut sebuah sepeda motor. Semakin mendekat semakin yakin dirinya.
Mata Pak Jenggot terbelalak ketika memeriksa dengan saksama sepeda motor tersebut. Berdasarkan merk dan plat nomornya sudah pasti itu kepunyaannya. Namun ia merasa heran kenapa sepeda motornya bisa berada di sini. Ia curiga jangan-jangan ada yang mencuri dan terjadi kecelakaan.
Setelah memeriksa dengan teliti Pak Jenggot yakin sepeda motor ini baru mengalami kecelakaan. Kaca lampu depannya pecah. Stang stirnya miring.
Aroma bensin tercium hidung Pak Jenggot saat ia memeriksa bagian bawah depan. Di tanah ia melihat jejak tumpahan bahan bakar. Ia memeriksanya dan ternyata karburatornya pecah.
"Sial!" umpat Pak Jenggot. Ia mencoba memberdirikan sepeda motornya. Dipencetnya tombol starter, tapi mesin tidak mau menyala.
Pak Jenggot membuka jok. Ia memeriksa tanki bahan bakar. Digoyangkannya badan motor ke kanan dan kekiri. Ia tidak mendengar apa pun dari dalam tanki terebut, pertanda bahan bakar habis.
Tadi saat akan berangkat menuju perkebunan Pak Jenggot mengisi bahan bakar satu liter. Ia yakin semuanya telah tumpah dan menguap karena karburator pecah.
Pak Jenggot geram, siapakah gerangan orang yang telah membawa lari sepeda motornya. Namun buru-buru ia mengutuk dirinya sendiri yang meninggalkan motor di depan pos jaga dalam keadaan kunci motor masih menempel.
Sekarang sepeda motor itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Pak Jenggot terpaksa harus meninggalkannya di sini untuk sementara waktu. Nanti ia baru akan mengevakuasinya setelah semua kekacauan di vila bisa teratasi.
Pak Jenggot menepikan sepeda motornya. Ia menyandarkannya pada pohon di pinggir jalan. Sebelum meninggalkannya, ia mengambil beberapa barang yang tersimpan di dalam jok, seperti pisau lipat, air mineral, dan spy camera berbentuk kancing baju.
Spy camera kancing baju itu hadiah dari kakaknya Risma, beberapa bulan lalu. Tadinya ia merasa benda itu tidak dibutuhkan, namun sekarang ia merasa perlu untuk memfungsikannya.
Pak Jenggot memasang spy camera pada baju. Ia akan menggunakannya nanti saat dibutuhkan.
Pak Jenggot menutup kembali jok sepeda motornya. Ia mencabut kuncinya. Ia berlalu sambil memandangi kendaraan roda duanya yang rusak parah.
Pak Jenggot melangkah gontai sambil meratap. Seandainya motor itu tidak rusak pasti ia tidak perlu berjalan kaki. Tiba-tiba, ia teringat mobil yang terparkir di depan vila. Menurut pengakuan Nando, semua ban mobil itu kempes sampai anak muda itu mencari pompa di pos jaga. Pak Jenggot ingat di gudang vila ada pompa ban sepeda motor. Sekarang ia kembali berubah pikiran. Ia bisa memompa ban-ban mobil itu. Hanya saja masalahnya, siapa orang yang berada di dalam mobil itu? Apakah salah satu di antaranya adalah pemiliknya? Apakah mereka jahat?
Pak Jenggot bimbang, apakah akan membantu mereka memompa ban atau membiarakannya saja dan meneruskan niatnya untuk minta bantuan warga?
Jari-jari Pak Jenggot meraba spy camera pada kancing baju. Ia bisa mengawasi mereka menggunakan itu. Ia juga memiliki ilmu bela diri. Ia pikir itu cukup baginya untuk berdialog dengan mereka. Lagi pula ia juga harus mendapatkan informasi dari mereka atas semua kejadian di vila.
Pak Jenggot menarik napas dalam-dalam, menguatkan mental. Ia merasa ini ujiannya sebagai penjaga perkebunan. Ia harus bisa. Maka sambil mengucapkan doa-doa dalam hati, ia memutuskan untuk menghadapi masalah di wilayahnya sendiri.
Pak Jenggot melangkah tegap sambil terus memanjatkan doa untuk keselamatan dirinya dan orang-orang yang tidak bersalah. Sampai di pohon yang ia curigai tadi, ia berhenti, memandang benda yang mirip sosok manusia.
Sambil berjingkat Pak Jenggot mendekat. Semakin jauh melangkah, semakin jelas benda yang mencurigakan itu.
"Nando?" tanyanya lirih. Ia yakin sosok itu adalah Nando. Anak muda terduduk bersandar pohon dengan kepala terkulai ke samping.
Dengan hati-hati tangan Pak Jenggot memeriksa denyut nadi pada leher Nando: masih hidup! Ia menepuk-nepuk bahu Nando berkali-kali sampai anak itu membuka mata.
Nando menatap Pak Jenggot nanar. Kepalanya terasa berat. Ia sempat pingsan untuk waktu yang cukup lama karena kehabisan tenaga dan akibat terjatuh dari sepeda motor.
"Nando?" panggil Pak Jenggot.
Nando merintih, seperti ingin mengatakan sesuatu. Pak Jenggot segera mengangkatnya. Ia tidak peduli apakah Nando jahat atau tidak. Yang pasti ia yakin anak muda itu sudah tidak berbahaya karena kondiai badannya sangat lemah. Lagi pula, ia merasa harus menolongnya.
Setelah berhasil membantu Nando berdiri, Pak Jenggot menggendong Nando, kemudian membawanya menuju vila.
Badan Nando cukup berat, Pak Jenggot kepayahan menggendongnya. Ia harus berhenti beberapa kali.
Nando yang sudah sadar merasa tidak enak hati pada Pak Jenggot yang telah menolongnya.
"Biar saya jalan sendiri saja, Pak," ucap Nando lirih.
"Kamu yakin?" tanya Pak Jenggot.
"Iya."
Pak Jenggot merasa lega, meskipun ragu apakah Nando bisa berjalan sendiri atau tidak.
"Turunkan," pinta Nando.
Pak Jenggot menurunkan Nando dari gendongan.
"Uhhuk!" Nando terbatuk. Kepalanya menjadi lebih pusing setelah kakinya memijak tanah. Namun ia sudah bertekad untuk tidak merepotkan Pak Jenggot.
Nando mencoba melangkah. Pak Jenggot membimbingnya pelan-pelan.
"Maaf, Pak," ucap Nando lirih.
Pak Jenggot menoleh. "Kamu yakin bisa jalan?"
Nando mengangguk. "Maaf."
Pak Jenggot tidak paham kenapa Nando mengucap kata maaf dua kali.
"S-aya a-mbil m-motor." Nando susah payah mengucap kalimat itu.
Kini Pak Jenggot paham, Nando meminta maaf karena telah membawa sepeda motornya.
Sejatinya Pak Jenggot geram kepada Nando. Anak muda itu sudah mengacak-acak pos jaga, menendang selangkangannya, dan membawa kabur motornya. Namun ia sadar, percuma melampiaskan amarahnya kepada orang yang sudah tidak berdaya. Selain itu juga karena ia tidak mau main hakim sendiri.
"Kenapa kamu membawa motor nggak pamit?" tanya Pak Jenggot, meredam marah.
"T-takut, uhhukk, uhhukk!"
"Takut sama siapa?"
"Bapak," jawab Nando parau.
Pak Jenggot mengelus punggung Nando. Ia terus membimbing Nando berjalan.
"Uhhuk! Uhhuk!"
Pak Jenggot tidak tega menginterogasi Nando soal sepeda motor. Ia tahu laki-laki itu ketakutan. Maka itu ia bertanya hal lain. "Mobil di depan vila punya siapa?"
"Desi."
"Tamunya Mbak Risma?"
Nando mengangguk. "Mati."
Pak Jenggot terbelalak. "Yang sudah mati di kamar belakang maksudnya?"
Nando mengangguk. "Uhhuk! Uhhuk!"
Pak Jenggot melihat sebuah batu besar di pinggir jalan, tidak jauh darinya. "Kita istirahat saja dulu di sana." Ia membimbing Nando ke pinggir.
"Duduk di sini dulu!" Pak Jenggot mendudukkan Nando di atas batu besar. Ia lalu mengambil air mineral dalam saku celana, lantas menyodorkannya pada Nando. "Minumlah!"
Nando menerima air meniral kemasan botol lalu meneguknya. Itu lumayan menyegarkan badannya yang serasa remuk.
Nando mengembalikan botol air mineral kepada Pak Jenggot. Ia meratapi nasibnya yang dua kali dibekuk Risma, satu kali dihajar habis-habisan oleh Pak Jenggot, dan mengalami kecelakaan sepeda motor.
"Kenapa bapak menolong saya?" tanya Nando lirih. Suaranya sudah tidak separau sebelumnya.
"Kamu butuh pertolongan." Selepas menjawab, Pak Jenggot meneguk air mineral, kemudian mengantonginya kembali ke saku celana.
"Saya tidak jahat!" ratap Nando. Ia menangis tersedu-sedu.
Pak Jenggot menepuk bahu Nando. "Tenangkan dirimu."
Nando diam. Ia tidak bisa tenang karena jika nanti kembali ke vila, pasti Faizin akan marah. Risma akan lebih marah jika tahu dirinya pergi membawa sepeda motor tanpa izin pemiliknya dan tanpa pamitan kepada semua peserta reuni.
"Saya nggak mau ke vila!" ucap Nando sedikit lebih bertenaga dari sebelumnya.
Pak Jenggot menggeleng. "Luka kamu harus diobati. Kamu habis jatuh dari seped motor kan?"
Nando diam. Ia yakin Pak Jenggot sudah menemukan sepeda motornya yang rusak parah.
"Sudah cukup?" tanya Pak Jenggot meyakinkan.
Nando diam. Ia masih takut untuk kembali ke vila.
"Di sini dingin," bujuk Pak Jenggot. "Kita lanjutin ya?"
Nando mengangguk pasrah.
Pak Jenggot membantu Nando berdiri. Kali ini Nando mencoba jalan tanpa dibimbing. Mereka berjalan menuju vila.
"Jadi kalian semua tamunya Mbak Risma?" tanya Pak Jenggot. Selain menyelidiki juga ia bermaksud agar Nando tidak melamun.
"Iya."
"Bapak tadi melihat ada dua orang di mobil," beritahu Pak Jenggot. "Dua lainnya tewas di dalam vila."
Nando terbelakak. "Du-dua?"
"Memangnya kamu tidak tahu?"
Nando berhenti. "Laki apa perempuan?"
"Laki sama perempuan?"
Nando menarik napas dalam-dalam. "Bu-bukan Risma kan?"
Pak Jenggot menggeleng. "Bukan. Keduanya sepertinya seumuran denganmu."
Nando bergumam. "Hendi!" Selepas itu ia terjatuh dalam keadaan berlutut.
Pak Jenggot sigap. Ia menahan tubuh Nando agar tidak jatuh.