Seperti Orang Asing

1413 Kata
Faizin terlelap. Risma sedikit lebih tenang. Entah kenapa ia selalu merasa gelisah setiap kali berada dekat lelaki setengah baya itu. Padahal sejauh ini ia belum menemukan alasan untuk mencurigai Faizin. Isu bahwa lelaki itu psikopat juga telah dibantah, namun sulit baginya untuk mempercayainya begitu saja. Risma membuka laci dasbor. Ia mengambil sisir lantas merapikan rambutnya yang lepek melalui kaca spion dalam. Meskipun petang tadi ia mandi, tetapi ia tidak membasahi rambut karena buru-buru. Ia bahkan tidak sabunan secara menyeluruh, apalagi untuk keramas. Tiba-tiba mata Risma terbelalak ketika dari kaca spion dalam ia menangkap dua sosok sedang mendekat. Satu orang sedang menggendong yang lainnya. Dari gestur yang tertangkap memalui keremangan, Risma yakin itu adalah Pak Jenggot. Lalu siapa yang digendongnya? Risma sungguh penasaran. Risma keluar mobil demi menuruti rasa penasaran. Ia menyongsong Pak Jenggot yang sedang menggendong seseorang. "Pak Jenggot gendong siapa?" "Nando, Mbak!" jawab Pak Jenggot. "Dia sangat lemah. Tolong buka pintu mobil." "Nando?" Risma memperhatikan orang yang digendong Pak Jenggot. Dari baju dan posturnya ia akhirnya bisa mengenali Nando. Itu membuatnya heran karena menurut Faizin, Nando pergi menggunakan sepeda motor. Demi melihat Pak Jenggot yang kepayahan menahan beban tubuh Nando, Risma mengabaikan rasa penasarannya. Ia segera membuka pintu mobil jok tengah. Risma masuk mobil agar leluasa membantu Pak Jenggot meletakkan tubuh Nando pada jok tengah. Risma membantu menata posisinya. Nando membuka mata, berusaha tersenyum kepada Pak Jenggot. "Terima kasih, Pak," ucapnya lirih. Risma menahan diri untuk tidak menghujani Nando dengan berbagai pertanyaan yang mengendap di benaknya. Ia akan menginterogasi nanti saat kondisi lelaki itu mulai membaik. Baju Nando sangat kotor, penuh debu. Begitupun dengan wajah dan tangannya yang terdapat banyak goresan. Risma semakin penasaran sebenarnya apa yang telah menimpa anak itu, lalu di mana sepeda motornya? Risma menyalakan lampu plafon. Ia mencari kotak PPPK dalam dasbor. Diambilnya betadin. Hati-hati Risma meneteskan betadin ke luka pada wajah Nando. "Auww!" Nando memekik. "Jadi lelaki jangan cemen!" Risma tidak mempedulikan rintihan Nando setiap kali ia mengolesi luka pada wajah Nando. Faizin terbangun karen mendengar kegaduhan. Ia menengok ke belakang. "Nando? Kamu kenapa?" "Auww!" Nando memekik tertahan. Risma sedang mengoleskan betadin ke goresan luka pada tangan. "Pelan-pelan, Ris," rintih Nando. Risma tidak acuh. Ia terus saja mengoleskan betadin ke seluruh goresan pada tangan Nando sampai semuanya selesai. Pak Jenggot masih berdiri di samping mobil. Sambil mengatur napas ia menghitung jumlah orang dalam mobil. Melihat kedekatan ketiga orang itu ia merasa lega. Paling tidak ia merasa keputusannya tepat untuk membantu mereka. Pak Jenggot mengelilingi mobil, memeriksa kondisi ban. Semua ban itu kempes, sekarang ia membuktikan kebenaran pengakuan Nando. "Pak Jenggot!" panggil Risma. Pak Jenggot melongok ke dalam. "Iya, Mbak, ada apa?" "Tolong masuk ke mobil!" suruh Risma. Ia pindah posisi memberi ruang pada Pak Jenggot. Pak Jenggot masuk mobil. Di dalam jok tengah, posisi Nando diapit Pak Jenggot dan Risma. Sedangkan Faizin berada di jok depan. "Apa yang sebenarnya telah terjadi, Pak?" tanya Risma tidak sabar menahan rasa penasaran. "Saya menemukan Nando tergeletak di pinggir jalan," jawab Pak Jenggot. "Ia duduk menyandar pada pohon. Kondisinya lemah, lalu saya bawa ke sini." "Motor bapak di mana, Pak?" tanya Faizin. "Tadi ia membawanya." "Saya menemukan motor itu tergeletak, rusak parah. Posisinya sekitar lima puluh meter dari posisi Nando. Sepertinya ia mengalami kecelakaan." Pak Jenggot menjawab pertanyaan Faizin. "Hutt!" Risma menatap Nando kesal. Jika tidak kasihan melihat keadaan lelaki itu yang memprihatinkan, ia pasti sudah memarahinya. Nando menggeliat. Badannya serasa remuk. Namun ada hal lain yang lebih membuatnya gelisah, yaitu bakalan diinterogasi Risma dan Faizin. Faizin memeriksa keadaan Nando. "Kepala kamu terbentur tidak?" Nando mengeleng. "Syukurlah," desah Faizin. "Berarti kemungkinan kamu masih bisa tahan sampai kita bisa meminta pertolongan." "Bapak punya kontak polisi?" tanya Risma kepada Pak Jenggot. "Ada, Mbak, tetapi ponsel saya mati!" Wajah Pak Jenggot muram. Semua yang ada di mobil mendesah kecewa, kecuali Nando yang masih merintih perih. "Kok bisa?" Risma sangat menyayangkannya. Ponsel Pak Jenggot satu-satunya harapannya agar bisa menelepon polisi. Pak Jenggot mendengus. "Boleh saya cerita?" Ia menandang satu per satu orang di dekatnya. "Ceritalah!" sahut Faizin. Risma mengangguk, mengamini Faizin. Pak Jenggot menarik napas panjang. "Jadi, waktu saya memeriksa vila, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul tengkuk saya. Saya jatuh tidak sadarkan diri." Risma terperanjat. "Bapak melihat wajah orang itu?" Pak Jenggot menggeleng. "Saya hanya melihat sosoknya. Wajahnya tidak jelas karena sekilas saja sebelum kesadaran saya hilang." "Kira-kira laki-laki apa perempuan, Pak?" tanya Faizin. Mendengar kata 'perempuan' membuat Risma reflek menoleh kepada Faizin. "Saya nggak bisa memastikan!" jawab Pak Jenggot sambil mencoba mengingat peristiwa itu. "Lanjutkan, Pak!" suruh Risma. Pak Jenggot mengangguk. "Pas sadar, tahu-tahu saya ada di kamar depan dalam keadaan terikat tangan, kaki, dan mulut." "Lalu bagaimana bapak bisa meloloskan diri?" tanya Faizin. "Dengan berbagai cara saya akhirnya berhasil membuka ikatan. Cuman masalahnya adalah pintu kamar terkunci." Pak Jenggot melanjutkan ceritanya. "Saya mencari sesuatu yang sekiranya bisa digunakan buat mencongkel daun pintu. Eh, malah menemukan segepok kunci di lantai dekat lemari." "Coba mana kuncinya, Pak?" Risma penasaran, jangan-jangan kunci-kunci itu adalah yang ia bawa saat menyerang Faizin. Pak Jenggot merogoh saku celana. Ia menyerahkan segepok kunci kepada Risma. Risma mengamati kunci-kunci tersebut. Ia melirik Faizin. "Ini kunci saya. Mungkin terjatuh saat menyerang bapak tadi petang." Faizin mendengus. "Kamu bukan hanya gegabah karena menyerang lelaki tua, tetapi juga ceroboh!" Risma tersipu malu sekaligus merasa bersalah. "Maaf, Pak!" Faizin mengerjap. Ia melirik Pak Jenggot. "Lalu Pak Jenggot keluar vila lewat mana? Saya sama Risma sejak tadi di dalam mobil tapi tidak melihat bapak." Pak Jenggot cengar-cengir, merasa tidak enak hati karena sempat mencurigai mereka. "Saya keluar melalui kamar mandi belakang, terus ke pos jaga tapi tidak menemukan sepeda motor. Lalu saya putuskan untuk jalan kaki menuju permukiman. Di tengah jalan, saya menemukan Nando dan sepeda motor itu. Kemudian saya ke sini." "Hmhh...." Faizin berpikir. "Apa bapak yang tadi saya kejar?" Pak Jenggot tersenyum malu. "Iya, saya merasa ada yang ngejar tadi. Makanya saya sembunyi." "Owalah!" Risma menepuk jidat. "Kenapa bapak lari?" Pak Jenggot diam. "Bapak takut sama kami?" tebak Faizin. Pak Jenggot mengangguk. "Setelah tahu ada dua orang mati di dalam vila. Saya juga dipukul dan disekap dalam kamar. Saya menjadi waspada terhadap siapa pun. Lagi pula di sini saya hanya mengenal Mbak Risma saja. Kalau beliau yang muncul mungkin saya tidak akan lari." Faizin mengangguk-angguk. "Sikap bapak sudah tepat." Pak Jenggot merasa senang dipuji Faizin. "Bapak yakin akan ke permukiman jalan kaki malam-malam?" Risma merasa heran. "Hanya itu yang terlintas di pikiran saya," ujar Pak Jenggot. "Saya harus meminta bantuan warga untuk menelepon polisi dan mengevakuasi jenazah." "Sebentar!" Faizin menyela. "Lalu bagaimana ceritanya ponsel bapak bisa mati total?" Pak Jenggot mendengus kesal jika mengingat usahanya keluar vila melalui kamar mandi belakang. "Waktu menaiki bak mandi, kaki saya terpeleset lalu masuk bak mandi. Celana saya basah. Ponsel dalam saku celana juga terendam dan mati." Risma dan Faizin saling pandang. Pak Jenggot terkekeh kesal pada diri sendiri. "Padahal ponsel itu satu-satunya harapan kami buat keluar dari situasi buruk ini." Risma menyandarkan punggung ke jok. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ini saatnya Pak Jenggot menawarkan bantuan. "Bukankah ada mobil ini?" "Semua bannya kempes." Risma berujar malas. "Yang ngempesin sudah almarhum." "Tadi saya cek, semua pentilnya masih berada di tempatnya. Sepertinya digembesi dengan menekan pentilnya ke dalam. Jika benar begitu, kita masih bisa memompanya." "Nando itu montir mobil senior. Semua ban ini sudah dicek sama 'beliau' dan kesimpulannya cuma butuh memompanya saja." Risma memberi penekanan pada kata 'beliau' sambil melirik Nando yang sedang sibuk dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mata Pak Jenggot berbinar. "Kalau begitu mari kita pompa!" Hening. Semua mata memandang ke arah Pak Jenggot. Yang dipandang bingung. "Kalau di pos jaga ada pompa ban, sudah dari tadi kami pergi, Pak!" gerutu Risma. "Ada pompa di gudang vila!" beritahu Pak Jenggot. Risma semringah. "Bapak yakin?" Pak Jenggot mengangguk. "Saya yang meletakan pompa itu di gudang vila." "Kenapa nggak bilang sama Nando tadi?" Risma senang sekaligus kesal. Pak Jenggot terpojok. "Situasinya tidak memungkinkan karena saya keburu ingin membekuknya tadi." "Karena Nando memecahkan kaca jendela pos jaga?" tebak Faizin. Pak Jenggot mengangguk. "Iya. Nando sangat mencurigakan tadi." "Sekarang pun masih!" sambar Risma. Ia mengelus rambut Nando. "Iya kan, Do?" Nando nyengir. "Ya sudah, mari kita pompa mobil ini!" ajak Faizin. Ia keluar mobil, diikuti Pak Jenggot. Mereka menuju vila. Selagi hanya berdua di dalam mobil, Risma menatap Nando tajam. "Dulu aku merasa pernah mengenalmu dengan baik, tetapi rupanya aku salah. Sekarang kamu seperti orang asing!" Ia keluar mobil sambil tetap menghunus tatapan tajam, kemudian membanting pintu mobil kuat-kuat. Nando menelan ludah. Ia memahami kemarahan Risma. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN