Memompa Ban

1357 Kata
 Pak Jenggot menjajari langkah Faizin, manaiki undak-undakan teras.  "Bapak selalu membawa tas itu?" tanya Pak Jenggot kepada Faizin. Ia merasa itu satu hal yang aneh. Faizin meraba tas kecilnya. "Setiap orang punya cara berbeda dalam menyimpan barang pribadi bukan?" ujarnya diplomatis. Pak Jenggot mengangguk, tidak mau terlalu jauh ingin tahu urusan orang lain. Begitu masuk vila, mereka serempak menutup hidung. Aroma busuk yang menguar dari dua jasad di dalam vila semakin menyengat. Pak Jenggot mempercepat langkah menuju ruang belakang, dekat dapur yang dijadikan gudang. Ia bersyukur pintunya tidak terkunci. Pak Jenggot menyalakan saklar. Ruangan menjadi terang. Kali terakhir ia memasukinya adalah sebulan lalu. Kondisinya sangat berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Sekarang ruangan ini menjadi bersih dan penataan barang-barangnya rapi. Ia tidak tahu siapa yang telah membersihkannya. Yang pasti ia yakin bukan Risma orangnya, karena jika benar seharusnya majikannya itu ingat di mana keberadaan pompa ban. Tidak sulit bagi Pak Jenggot untuk menemukan pompa ban karena ia masih ingat di mana meletakannya. Ia memeriksanya dan bersyukur karena masih berfungsi dengan baik. Tanpa membuang waktu ia segera membawa pompa ban tersebut keluar kamar. Setelah menutup pintu ia mengajak Faizin untuk segera ke mobil. "Mohon maaf, nama bapak siapa?" tanya Faizin. "Kita belum sempat berkenalan sejak tadi." "Panggil saja Pak Jenggot," jawab Pak Jenggot. "Padahal saya tidak pernah memelihara jenggot." "Saya juga heran dan ingin menanyakannya pada bapak," ujar Faizin. "Lalu kenapa bapak tidak menanyakannya?" "Tidak semua pertanyaan harus diungkapkan, terutama untuk hal yang sebenarnya tidak ada manfaatnya buat kita," ujar Faizin diplomatis, menyindir Pak Jenggot. Pak Jenggot merasa tersindir karena tadi ia menanyakan perihal tas Faizin. Untuk menutupinya ia bertanya. "Kalau bapak namanya siapa?" "Faizin!" jawab Faizin. "Saya bersama tiga anak muda lainnya adalah tamu Risma." Pak Jenggot mengangguk. Sebenarnya ia penasaran kenapa kedua tamu Risma meninggal secara mengenaskan, tetapi ia menahan diri untuk menanyakannya. Ada hal mendesak yang harus ia kerjakan yaitu memastikan semua ban mobil bisa terisi angin. "Kami berlima sedang mengadakan reuni, tapi tiba-tiba anak bernama Desi ditemukan terkapar dan meninggal di kamar," cerita Faizin. "Malamnya giliran Hendi yang meninggal dengan kejadian serupa." "Tidak ada yang mengetahui penyebabnya?" Pak Jenggot akhirnya berani bertanya. "Tidak ada!" jawab Faizin lugas. "Kami tidak mau berspekulasi. Kami akan menyerahkan masalah ini kepada kepolisian." Pak Jenggot mengangguk sepakat. Mereka mempercepat langkah. Bau busuk membuat mereka mual. Sampai di teras mereka baru memperlambat langkah, menyimpan tenaga karena sebentar lagi harus memompa semua ban mobil menggunakan pompa sepeda motor. Risma menyambut kedatangan Faizin dan Pak Jenggot dengan cuka cita. Akhirnya ada pompa ban. Mobil Desi bisa segera diisi angin dan mereka bisa langsung melapor polisi. Begitu sampai mobil, Pak Jenggot langsung bersiap memompa ban mobil depan kiri. "Kita bergiliran!" usul Faizin. "Satu ban saja sudah akan menguras banyak tenaga." "Saya duluan ya?" Pak Jenggot menawarkan diri. Ia memompa ban dengan cepat. Tenaganya paling bugar di antara yang lain. "Jika diforsir, tenaga Pak Jenggot akan terkuras di awal," kritik Risma. Pak Jenggot membenarkan ucapan Risma. Ban belum tampak mengembang, napasnya sudah mulai terengah-engah. Maka ia pun memompa secara pelan tapi pasti. "Kebiasaan memompa ban sepeda motor sih!" ledek Risma. Pak Jenggot cengar-cengir mendapat ledekan Risma. Meski bisa membalas, tetapi ia tidak berani karena gadis itu adalah majikannya. Ban depan kiri sudah tampak mengembang. Pak Jenggot berhenti memompa. Ia menancapkan indikator tekanan ban ke p****l. "Baru dua puluh satu," ujarnya tidak jelas ditujukan kepada siapa. "Untuk ban ukuran besar, tekananan idealnya 28 psi saja, Pak," saran Faizin. Pak Jenggot kembali memompa. Ban depan kiri sudah tampak berisi. "Kalau sudah lelah biar gantian, Pak!" saran Risma. "Belum berkeringat!" ujar Pak Jenggot sambil terus memompa. "Tentu saja belum berkeringat. Suhu udara sangat dingin di sini!" ujar Risma. "Coba kalau di kota, Pak Jenggot pasti sudah mandi keringat." Pak Jenggot berhenti, mengatur napas yang sudah tersengal-sengal. Ia kembali mengecek tekanan ban. "Berapa, Pak?" tanya Faizin. Ia sangat memperhatikan tekanan angin ban mobil. "Dua puluh enam, Pak!" jawab Pak Jenggot. "Itu mendekati ideal, Pak," ujar Faizin. "Saran saya kita pompa ban lain dulu sampai mendekati ideal, baru kita pompa lagi sampai masing-masing tekanannya 28 psi." Pak Jenggot sepakat. Ia sudah cukup lelah. Risma pun sepakat karena tahu Faizin sangat berpengalaman dalam dunia perbengkelan. "Giliran saya, Pak!" Faizin mengambil alih. Pak Jenggot mundur. Ia mengatur napas sambil duduk di tanah. Faizin memindahkan pompa ke ban depan kanan. Di sana lebih gelap karena cahaya dari lampu teras terhalang rimbunnya daun pohon. Faizin mulai memompa dengan kecepatan sedang. Ia melakukannya dengan ketukan tetap. Ia sama sekali tidak memforsir tenaga, menyimpannya untuk ban-ban belakang. Pengalaman bicara, tanpa banyak menguras banyak tenaga Faizin berhasil memompa ban depan kanan lebih cepat dari Pak Jenggot. Pak Jenggot yang merasa baru beristirahat sebentar tahu-tahu Faizin sudah ada di depannya membawa pompa. "Cepat sekali, Pak!" ujarnya heran. Pak Jenggot berdiri, bermaksud mengambil alih pompa, namun sebelum ia melakukannya tahu-tahu sudah keduluan Risma. "Saya juga harus mendapat giliran!" Risma membawa pompa ke ban belakang kiri. Melihat majikannya akan memompa, Pak Jenggot merasa tidak enak hati. Ia mendekati Risma. "Biar saya saja, Mbak." Risma mengabaikan tawaran Pak Jenggot. Dengan tenaga tersisa ia memompa ban belakang kiri. Karena tidak terbiasa, ia melakukannya dengan susah payah. Ban belum tampak mengembang, napasnya sudah terengah-engah. Namun Risma tidak mau dianggap lemah. Ia memang seorang perempuan dan sudah terkuras banyak tenaganya, tetapi dengan semangat tinggi ia berhasil membuat ban tampak sedikit mengembang. Risma berhenti, mengatur napas. Ia memeriksa tekanan angin ban, baru 19 psi. Ia pun mendesah panjang. Melihat Risma kelelahan, Pak Jenggot mendekat. "Biar saya teruskan, Mbak." Risma menyerahkan pompa kepada Pak Jenggot. Sekuat apa pun ia berusaha, tetap saja ia terkendala kondisi badan yang melemah. Apalagi ia memang baru kali ini mengisi angin ban menggunakan pompa sepeda motor. Risma terkulai di dalam jok depan mobil. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengatur napas dan berusaha memulihkan tenaga. Dari tempatnya, ia bisa mendengar desah napas Pak Jenggot yang sedang meneruskan pekerjaannya. "Ris!" panggil Nando pelan. Risma menoleh ketus. "Maafkan aku," ucap Nando. Suaranya parau. Risma bungkam. "Aku tahu kamu marah." Risma masih bungkam. "Aku nggak kabur tadi. Aku hanya takut berboncengan dengan Pak Faizin." Nando berdalih. Risma menoleh, menatap Nando tajam. "Kamu lebih layak dicurigai!" "Ris, kamu harus hati-hati sama...." "Sama kamu!" potong Risma sambil keluar mobil. Risma lebih baik kedinginan di luar ketimbang harus menahan kesal di dekat Nando. Risma melihat Pak Jenggot sudah duduk di tanah. Napasnya terlihat tersengal-sengal. "Tinggal ban belakang kiri," beritahu Pak Jenggot. Risma hanya mengangguk. Suasana hatinya sedang tidak enak gara-gara ucapan Nando tadi. Risma ikut duduk di sebelah Pak Jenggot. Hatinya diliputi perasaan sumpek. Ia sebenarnya ingin memahami posisi Nando tetapi ia terlanjur kecewa. Baginya, apa pun alasan Nando, lelaki itu tidak pantas pergi dari vilanya begitu saja. Itu yang membuatnya kehilangan respek. Kehilangan respek itulah yang membuat Risma marah, pada Nando, juga pada dirinya sendiri. Ia berpikir, jika ia tidak memiliki perasaan suka terhadap Nando, mungkin hatinya tidak sekecewa ini. Meski baru wacana, ia ingin mewujudkan impian bisa memperbaiki kesalahannya pada Reyncar dan keluarga besarnya. Ia ingin menjadikan dua perusahaan itu satu kesatuan. Atau paling tidak ia ingin mendirikan bengkel baru bersama Nando dan menjalani sisa hidup bersama lelaki itu. "Ban belakang sudah ideal tekanan anginnya!" seru Pak Faizin sambil membawa pompa. "Sekarang tinggal ban depan, kita pompa lagi sampai ideal." Pak Jenggot berdiri. Ia mengambil alih pompa dari Faizin. Dengan semangat ia memompa ban depan agar tekanan anginnya ideal. Faizin duduk di sebelah Risma. Risma terkesiap menyadari di sebelahnya telah ada Faizin. "Kotor, Pak. Lebih baik bapak istirahat di dalam mobil." "Bapak istirahatnya nanti sambil jalan saja," ujar Faizin. "Kamu masih sanggup nyetir kan?" Risma mengangguk. "Pak Jenggot juga bisa nyetir kok." "Oh iya? Beliau bisa menggantikanmu nyetir." Risma tersenyum malas. "Saya akan kunci pintu vila dulu!" Faizin setuju. "Iya, kuncilah sebelum kita meninggalkannya." "Mungkin bapak mau mengambil sesuatu di dalam?" tanya Risma. Faizin menggeleng. "Cuma baju. Biarlah nanti saja kalau kita balik ke sini lagi." Risma mengernyit. "Selepas melapor polisi, bapak istirahat saja. Biar saya dan Pak Jenggot nanti yang mengurusnya." "Kalau begitu bapak titip baju-baju itu. Kelak kalau ada umur, bapak nggak perlu membawa baju ganti saat berkunjung lagi ke vila ini," ujar Faizin. Risma mengangguk. "Baiklah, jika itu keinginan bapak." Ia melangkah ke vila. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN