"Sudah siap?" tanya Risma kepada Faizin.
Faizin mengangguk. Wajahnya tampak kusut.
"Saya ikut apa tidak?" tanya Pak Jenggot kepada Risma.
"Sebaiknya Pak Jenggot ikut sekalian, biar bisa ikut menjelaskan situasinya," saran Risma. Ia menoleh kepada Faizin, meminta persetujuan.
"Iya, sebaiknya begitu," ujar Faizin.
"Kalau begitu ayo kita berangkat!" ajak Risma. "Biar saya yang nyetir."
Faizin melenggang, masuk ke mobil dari pintu depan kiri. Risma menyusul, masuk melalui pintu depan kanan.
Pak Jenggot membetulkan posisi spy camera pada kancing bajunya. Ia tetap akan merahasiakan alat itu sampai nanti, setelah sampai kantor polisi. Bagaimanapun juga ia belum percaya kepada semua tamu Risma.
"Ayo, Pak!" teriak Faizin kepada Pak Jenggot.
Pak Jenggot segera masuk mobil. Ia duduk di sebelah Nando. "Kondisi kamu bagaimana?" tanyanya kepada Nando.
"Ya beginilah, Pak!" jawab Nando parau.
"Kita bawa dulu Nando ke rumah sakit!" saran Faizin.
Risma mengangguk sepakat, meskipun mulutnya malas untuk mengatakannya. Ia masih kesal kepada anak itu.
"Jangan lupa sabuk pengaman!" Risma mengingatkan.
Pak Jenggot memakaikan sabuk pengaman untuk Nando. "Sudah!"
Risma melirik kaca spion dalam, melihat arah belakang. Setelahnya ia menyalakan mesin mobil.
Mesin mobil menyala. Risma menunggu beberapa saat untuk memastikan mesin sudah cukup panas.
Setelah merasa mesin mobil cukup panas, Risma menggeser transmisi otomatis dari posisi P ke R. Perlahan ia melepas pedal gas. Mobil atret. Ia memutar stir ke kanan, kemudian memindahkan transmisi ke posisi D1 dan memutar balik stir ke kiri.
Roda mobil baru berbelok sedikit ke kiri tetapi Risma merasakan badan mobil bergoyang.
"Mobil kok rasanya berat ya?" Risma merasa heran.
"Padahal tekanan angin depan sudah ideal!" ujar Faizin.
Risma menghentikan laju mobil, memindah transmisi ke posisi P, kemudian menarik tuas rem tangan. "Biar saya periksa dulu!" Ia keluar dari mobil dalam keadaan mesin masih menyala.
Alangkah kagetnya Risma ketika melihat ban depan kanan kehabisan angin. "Bannya kempes!" teriaknya kesal.
Faizin dan Pak Jenggot segera keluar dari mobil. Mereka memeriksa semua ban. Ban belakang dan depan kiri kondisinya normal, sedangkan depan kanan kempes.
Risma menendang ban kesal. "Sial!"
Faizin memeriksa p****l ban. "Roda ini menggunakan ban dalam, jadi kalau tertusuk paku anginnya langsung habis."
"Bocor, Pak?" Pak Jenggot bertanya kepada Faizin cemas.
Faizin mendesah. "Sepertinya begitu." Ia membuka bagasi belakang.
Faizin mengambil dongkrak.
"Biar saya saja, Pak!" Pak Jenggot menawarkan diri. Ia mengambil alih dongkrak dari Faizin.
Pak Jenggot mendongkrak roda depan kanan sampai rodanya menggantung. Ia memutar ban, memeriksa kondisinya.
"Astaga!" Telapak tangan Pak Jenggot menemukan paku menancap pada ban.
Faizin mendekat. "Kenapa, Pak?"
"Ban tertusuk paku!" jawabnya lemas.
"Sial!" gerutu Risma.
"Sepertinya paku itu menancap pas mobil bergerak," analisa Faizin. "Sebab kalau sejak sebelumnya, pasti tidak bisa dipompa."
Risma membenarkan analisa Faizin. "Ada-ada saja halangannya!" keluhnya.
Pak Jenggot melepas baut roda satu per satu sampai roda bisa dilepas. Kemudian ia menggantinya dengan roda serep.
Setelah roda serep terpasang, Pak Jenggot menurunkan dongkrak. Rupanya ban tersebut kekurangan angin.
"Yah, kempes!" keluh Pak Jenggot.
Faizin memberikan pompa ban kepada Pak Jenggot. "Tolong pompa ya, Pak?" Saya mau ke kamar mandi dulu, kebelet pipis."
"Baik, Pak." Pak Jenggot menerima pompa ban dari Faizin. Ia memompa ban dengan tempo sedang. Tenaganya sudah banyak terkuras.
"Bapak mau masuk vila?" tanya Risma.
"Iya," jawab Faizin.
Risma merogoh saku baju, kemudian mengambil kunci. "Ini kuncinya, Pak."
"Terima kasih, Ris!" Faizin menerima kunci, lantas menuju vila.
Melihat Faizin ke vila untuk pipis, Risma baru merasakan kalau dirinya juga ingin pipis. Jika ke kamat mandi di vila, ia malas aroma busuknya.
"Pak Jenggot, toilet di pos jaga dikunci nggak?" tanya Risma.
"Enggak, Mbak!" jawab Pak Jenggot sambil tetap memompa.
"Pak Jenggot nggak papa kan, mompa ban sendirian?"
"Nggak papa, Mbak!"
"Kalau begitu saya tinggal sebentar ya, Pak?" Risma pamit.
"Iya, Mbak."
Risma pergi ke pos jaga. Pak Jenggot sendirian memompa ban mobil. Sementara Nando berada di dalam mobil.
Pak Jenggot memeriksa tekanan angin ban yang dipompanya. Ukurannya masih jauh dari ideal, maka ia harus memompanya lagi. Karena napasnya sudah tersengal-sengal, ia berhenti sejenak.
Pak Jenggot duduk di atas tanah sambil menyandarkan punggung pada badan mobil. Tiba-tiba ia ingat pada spy camera yang terpasang di kancing bajunya. Sebuah dorongan dari dalam hati menyuruhnya untuk mengaktifkan rekamannya.
Rekaman spy camera telah aktif. Pak Jenggot terkekeh sendiri karena merasa alat itu belum berguna sekarang. Namun jauh dalam lubuk hati, ia merasa yakin perekam tersembunyi itu akan berguna nanti.
Napas Pak Jenggot sudah cukup teratur. Ia kembali meneruskan pekerjaannya memompa ban. Karena tenaganya sudah melemah, ia harus beristirahat selama tiga kali sampai ukuran tekanan angin ban ideal.
Napas Pak Jenggot ngos-ngosan. Ia duduk di tanah sambil menyandarkan punggung pada roda. Ia harus mengatur napasnya dulu.
Tiba-tiba mulut Pak Jenggot dibekap dari samping. Sebuah benda tajam menekan sedikit perutnya. Saat menoleh ia mendapati sebuah seringai tertuju padanya.
"Kalau berani berteriak, perut bapak akan tertusuk!"
Mendapat ancaman, Pak Jenggot pasrah.
"Bapak pasti tidak percaya bukan saya bisa melakukan ini?"
Pak Jenggot panik. Ia takut orang itu nekat.
"Jangan coba melawan!" ancam orang itu dengan nada lirih agar suaranya tidak terdengar yang lain.
Keringat dingin membasahi tengkuk dan dahi Pak Jenggot pada dini hari yang dingin ini. Ia ingin melawan tapi takut perutnya tertusuk.
"Bapak telah mengacaukan rencana saya untuk menghabisi semua orang di sini!" hardik orang itu.
Pak Jenggot semakin ketakutan. Dalam hati ia berdoa semoga orang itu hanya mengancamnya saja. Ia memohon pada Tuhan agar nyawanya terselamatkan.
Doa dan harapan terus Pak Jenggot panjatkan, tetapi Tuhan berkehendak lain. Orang itu membekap mulut dan hidungnya kuat-kuat. Pada saat ia mengejang karena kesulitan bernapas, perutnya tertusuk kunci T dalam-dalam.
"Arrrgghh!" Mata Pak Jenggot mendelik, menahan sakit pada perutnya. Ia mengejan sampai badannya kaku. Tidak lama kemudian badannya terkukai ke samping. Darah mengucur deras melaui perutnya.
Setelah memastikan Pak Jenggot tidak sadarkan diri, orang itu segera menjauh dari korbannya.
Jam dua lebih sebelas menit dini hari, angin terus bertiup kencang memainkan dedaunan dan menampar-nampar semua benda yang dilaluinya. Pak Jenggot terkapar bersimbah darah di dekat roda depan kanan.
Sejatinya Pak Jenggot bukanlah target, tetapi karena kehadirannya membuat rencana si pembunuh berantakan, maka ia tidak urung menjadi korban juga.
Selama beberapa menit suasana di sekitar mobil hening, sampai terdengar bekas tapak sepatu Nando yang menginjak reranting kering. Ia menghampiri tubuh Pak Jenggot yang meskipun masih bernyawa tetapi tidak berdaya. Ia semakin kehabisan darah. Kesadarannya berangsur hilang.
Nando menghampiri Pak Jenggot yang tangannya bergerak untuk mencabut spy camera dari kancing bajunya.
Nando memeriksa denyut nadi Pak Jenggot. Meskipun lemah, tetapi ia masih merasakan tanda-tanda kehidupan. Ia melihat bibir Pak Jenggot bergerak-gerak. Maka ia mendekatkan daun telinga ke bibir penjaga kebun tersebut.
Meski lirih dan terbata-bata, Pak Jenggot masih sempat membisikkan beberapa kata pada Nando. Seketika mata Nando terbelalak setelah menyimpulkan apa maksud kata yang dibisikkan Pak jenggot.
Pandangan Nando tertambat pada tangan Pak Jenggot yang sedang meremas kancing baju. Nando penasaran. Ia memeriksa kancing baju tersebut dan menemukan spy camera. Hati-hati, ia melepaskannya dari kancing baju. Bersamaan dengan itu nyawa Pak Jenggot lepas dari jasadnya.
Nando mendesah tertahan. Ia kemudian menutupkan mata Pak Jenggot yang masih terbuka. Selepasnya ia mengantongi spy camera. Saat ia baru saja akan berdiri, tahu-tahu Risma berada di belakangnya
"NANDO!" Risma sempat melihat Nando menyentuh wajah Pak Jenggot. Ia baru saja sampai dari pos penjaga dan kaget mendapati Pak Jenggot terkapar, bersimbah darah. Yang membuatnya kaget adalah Nando berada di dekatnya.
Risma merangsek, menyingkirkan Nando sampai lelaki itu terjatuh. Ia memeriksa denyut nadi Pak Jenggot. Setelah memastikan penjaga kebun itu tidak bernyawa, ia terduduk lemas.
Sejenak kemudian Risma bangkit dan menghunus tatapan kepada Nando. "Kamu membunuhnya?"