Risma menarik kerah baju Nando, penuh amarah. "Kamu membunuh Pak Jenggot?"
Nando diam, susah bernapas karena lehernya tercekik kerah baju. Ia tidak melawan, pasrah saja.
"Jawab!" Risma melepaskan cengkeraman kerah baju Nando, membuat lelaki itu terjatuh.
"Bu-bukan aku yang bunuh, Ris!" elak Nando terbata. Ia masih tersungkur di tanah.
"Tapi cuma kamu yang ada di sini saat Pak Jenggot terkapar!" Risma menyudutkan Nando.
Nando berusaha bangkit. Belum sempurna ia berdiri, Risma lebih dulu menendang lututnya. Nando terjungkal ke tanah.
"Ada apa ini?" Faizin mendekati Risma. Ia melirik Pak Jenggot, kemudian memeriksa kondisi penjaga kebun tersebut. Ia terbelalak mendapati kunci T tertancap pada perut Pak Jenggot.
"Tanyakan saja pada Nando!" Risma menunjuk muka Nando.
Nando beringsut menjauh, tidak mau ditendang Risma lagi.
Faizin menoleh kepada Nando. "Ada apa, Do?"
Wajah Nando pucat. Ia terus beringsut menjauh dari Faizin dan Risma.
Risma semakin kesal kepada Nando. Ia menarik kerah baju lelaki itu lantas memberdirikannya. "Ceritakan dengan jujur apa yang terjadi!"
Nando berusaha melepaskan cengkeraman tangan Risma, tapi tidak berhasil karena tenaganya kalah jauh.
"Ayo ngomong!" Risma semakin kuat menarik kerah baju Nando, membuat lelaki itu tercekik.
Menyaksikan itu membuat Faizin menenangkan Risma. "Lebih baik kita bicarakan di dalam mobil."
Risma menatap tajam Nando. Yang ditatap hanya melengos.
Faizin menepuk bahu Risma. "Lepaskan! Biarkan ia menjelaskan dalam keadaan lapang."
Dengan perasaan kesal yang luar biasa, Risma menarik Nando lalu mendorong lelaki itu masuk mobil.
Nando tersungkur di dalam jok. Tangannya yang terkena darah menempel pada jok, meninggalkan cap di sana.
Masih dikuasai emosi yang meluap-luap, Risma masuk ke mobil, duduk di sebelah Nando.
Faizin masuk ke mobil, lantas memastikan pintunya terkunci.
Risma menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengulanginya sampai berkali-kali, sebuah cara meredam gejolak hati. Sungguh ia tidak habis pikir, Pak Jenggot bernasib sama dengan Desi dan Hendi.
Risma sangat yakin, Pak Jenggot ditusuk seseorang. Ia menduga pelakunya adalah orang yang tidak menghendaki dirinya melapor polisi atas semua kejadian di vila ini.
Tadinya Risma bisa bernapas dengan lega saat semua ban mobil berhasil dipompa. Namun saat baru berjalan beberapa meter, ban depan kanan bocor.
Risma yakin bocornya ban tersebut direncanakan. Buktinya pada ban tersebut diketemukan paku yang masih baru. Sepertinya paku itu dipasang saat semua orang sedang terlena.
Yang janggal adalah, paku itu menancap pada ban depan kanan. Hanya ban itulah satu-satunya yang bukan tubeless, sehingga anginnya langsung habis saat tertusuk paku. Risma heran, kenapa bukan pada ketiga yang lainnya? Baginya itu sebuah indikasi kalau pelakunya sudah mempelajari dengan baik kondisi setiap ban.
Risma menduga pelakunya sudah memperkirakan semua dengan baik. Roda serep kekurangan angin, sehingga harus dipompa dulu. Pada saat Pak Jenggot memompa, ia dan Faizin ke kamar mandi pada lokasi berbeda. Sementara Nando berada di dalam mobil. Kemudian saat ia kembali, ia melihat Pak Jenggot terkapar, bersimbah darah dengan situasi Nando berada di dekatnya.
Risma pun spontan curiga pada Nando. Maka itu ia langsung bereaksi dengan mencengkeram lelaki itu agar mau mengakui. Memang terlalu dini untuk menyimpulkan Nando terlibat atas kematian Pak Jenggot, tetapi lelaki itu tertangkap basah ada di dekat Pak Jenggot.
Risma pusing. Kepalanya seperti mau pecah. Ia sudah lelah, sangat lelah, otaknya, hatinya, dan badannya.
"Baiklah, Nando!" Faizin menoleh kepada Nando. "Karena Risma melihatmu berada di dekat Pak Jenggot, maka bapak ingin mendengar apa sebenarnya yang sedang terjadi?"
Alih-alih menjawab, Nando memandang Faizin dengan ekspresi ngeri.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Faizin pelan.
Nando terus saja memandang Faizin dengan ekspresi kengerian.
Melihat sikap bungkam Nando, Risma yang sejatinya sudah tenang akhirnya terpancing emosi. "Mulut kamu masih bisa berfungsi kan?"
"Tenang, Ris!" Faizin menenangkan Risma. "Sepertinya Nando sedang shock!"
Nando membuang muka. Ia memang sangat shock.
Risma melampiaskan kekesalan dengan memukul-mukul jok sampai badannya lemas, kemudian menangis.
Faizin mengelus rambut Risma. "Tenangkan dirimu. Jangan buang tenaga percuma. Kami semua membutuhkanmu."
Risma sesenggukan. Ia sudah sangat lelah. Lebih dari itu, ia sangat kecewa kepada Nando.
Faizin menatap Nando. "Do, kamu baik-baik saja?"
Nando bungkam, masih membuang muka.
"Kamu bisa bicara kan?" Faizin menahan diri agar suaranya tetap terdengar pelan.
Risma menoleh kepada Nando. "Kalau mengajak bicara Nando baik-baik masih bungkam, mungkin ia minta kita mengajak bicaranya dengan kasar!"
Nando menoleh kepada Risma. Ia menatap gadis di sebelahnya dengan sorot kosong.
Risma menampar Nando dengan keras. "Plak!"
Kepala Nando terhuyung. Ia mengusap bekas tamparan Risma.
Faizin menepuk bahu Risma. "Sabar!"
Nando memasang sisi pipi yang belum kena tamparan. "Tamparlah lagi!"
Sikap itu semakin memancing emosi Risma. Ia kembali menampar Nando. "Plak!"
Nando kembali terhuyung akibat pipinya terkena tamparan Risma.
Faizin menghardik Risma. "Risma, Hentikan!"
Risma kembali menangis. Ia menunduk dalam-dalam sampai wajahnya menyentuh sepasang lutut.
Alih-alih kapok, karena sudah dua kali merasakan tamparan Risma, Nando malah terkekeh. "Jadi benar aku nggak mimpi. Hahaha!"
Spontan Risma menegakkan badan. Ia mengangkat kerah baju Nando sekuat tenaga yang masih tersisa.
"Aku nggak mimpi. Hahaha!" Nando meracau sendiri.
Faizin menepuk bahu Risma. "Sudah, sudah. Itu tidak menyelesaikan masalah."
Risma melepaskan tangannya dari kerah baju Nando. "Kamu bisa bicara tapi nggak mau menjawab pertanyaanku, hah?"
Nando membetulkan posisi kerah baju. "Jadi aku sedang dihakimi?"
"Nando!" hardik Faizin. "Kooperatiflah! Tidak ada yang menghakimimu. Kami hanya minta kamu menjelaskan apa yang kamu ketahui."
Nando menyeringai kepada Faizin. "Saya sudah tahu semuanya, Pak! Saya sudah tahu siapa dalang dibalik kekacauan di vila ini."
Faizin mengangguk-angguk. "Kalau begitu ceritakanlah semua yang sudah kamu ketahui!"
Nando mengeleng.
Faizin mendengus. "Kamu masih mau bungkam?"
Nando terkekeh. "Kalaupun saya bicara, pasti tidak akan ada yang percaya!"
"Bagaimana bisa kami percaya kalau kamu tidak mau menjelaskannya?" timpal Risma. Ia semakin muak melihat wajah Nando.
"Aku hanya mau bicara di kantor polisi!" tegas Nando. "Itu pun jika aku bisa selamat dalam pembantaian ini!"
"Kamu bicara apa sih, Do?" Faizin menghardik.
Nando bungkam.
Risma berada dalam puncak kekesalan. Ia sudah tidak bisa lagi meredam emosi. Dipukulinya Nando secara membabi buta. Nando tidak melawan, hanya menangkis semua serangan gadis di sebelahnya menggunakan kedua tangan.
"SUDAH, SUDAH!" hardik Faizin dengan nada tinggi. "Ada baiknya kita semua diam. Tarik napas dalam-dalam. Lepaskan perlahan, kemudian diamlah."
Risma membuang muka ke samping. Nando pun membuang muka ke samping. Sementara Faizin memandang kedua anak muda di dekatnya dengan ekspresi kesal.
Semua diam. Semua larut dalam pikirannya masing-masing. Suasana di dalam kabin mobil menjadi sunyi, hanya terdengar desah napas masing-masing.
Pagi semakin menjelang, pukul 02:39 wib. Faizin, Risma, dan Nando sibuk dengan pikirannya masing-masing. Suasana sunyi itu berlangsung selama lima menit, sampai Nando terbatuk-batuk.
Faizin menoleh kepada Nando. Risma acuh tak acuh.
"Uhhuk, uhhuk!" Nando terus terbatuk-batuk.
"Sandarkan kepalamu dan istirahatlah!" saran Faizin kepada Nando.
"Nando sudah istirahat sejak tadi, Pak!" timpal Risma.
"Ia butuh banyak istirahat karena habis mengalami kecelakaan," ujar Faizin.
"Yah, herannya kenapa ia tidak mati saja!" Risma bersedekap sambil melirik Nando tajam.
Nando menelan ludah. Ia berdeham beberapa kali, berusaha melonggarkan tenggorokan. "Baik, aku akan ceritakan apa yang kuketahui tadi."
Faizin menoleh. Risma membuang muka.
"Aku masih terjaga ketika badan mobil terangkat sebelah. Aku mencoba mengintip melalui jendela, ternyata Pak Jenggot sedang memasang roda serep." Nando mulai bercerita. "Aku hanya melihat Pak Jenggot seorang. Bapak dan Risma entah ke mana, aku tidak tahu. Lalu aku rebahan lagi karena badanku sakit jika didudukkan."
"Lalu?" tanya Faizin.
"Aku tidak bisa tidur, tapi kepalaku sangat berat sekali." Nando melanjutkan. "Namun aku bisa merasakan Pak Jenggot beristirahat beberapa kali."
Risma menoleh. "Nggak usah berbelit-belit! Ceritakan saja bagian pada saat Pak Jenggot diserang!"
Nando terkekeh sumbang. "Dari mana kamu bisa tahu Pak Jenggot diserang?"
Risma mendelik. "Jelas-jelas perut Pak Jenggot tertusuk!"
"Desi dan Hendi juga tertusuk oleh barang yang mirip satu sama lain, yaitu kunci T! Tapi sejak awal kamu tidak pernah menganggap Desi dan Hendi diserang!" Nando semakin terkekeh sumbang.
"Lanjutkan saja ceritamu!" Risma mengalah agar Nando tidak terus meracau.
"Oke!" Nando menelan ludah. "Aku hampir saja memejamkan mata ketika merasakan badan mobil bergoyang. Penasaran, aku bangun. Aku duduk dan tidak melihat apa pun. Akhirnya aku keluar mobil."
Faizin dan Risma memusatkan pandangan kepada Nando, menunggu kelanjutan cerita.
"Pas keluar, aku melihat badan Pak Jenggot terkulai di dekat ban. Kulihat bajunya penuh dengan darah." Nando menelan ludah.
Risma semakin tidak sabar, tetapi ia berusaha menahan rasa penasarannya. Maka itu ia memilih diam, menunggu kelanjutan cerita Nando.
Nando menarik napas dalam-dalam. "Kalau bisa berteriak, aku sudah melakukannya. Buat batuk saja seluruh badan terasa sakit. Sehingga meskipun kaget melihat kondisi Pak Jenggot, aku berusaha tenang. Lalu, aku memeriksa denyut nadinya. Ia masih hidup. Kulihat bibirnya bergerak-gerak, sehingga aku menempelkan telinga ke dekat bibirnya."
"Lalu?" tanya Faizin.
Nando menatap Faizin tajam. Ekspresinya mengerikan.
"Lalu apa?" tanya Risma penasaran.
Nando terus menghunud tatapan tajam kepada Faizin. "Telinga kupasang baik-baik, jadi meskipun ucapannya terbata-bata aku bisa merangkainya dan menyimpulkan satu kata dari ucapan Pak Jenggot."
Risma menatap Nando lekat-lekat. Ia harus memastikan, apakah lelaki itu berbohong atau tidak.
"Tampaknya kamu sangat lelah, Do!" ujar Faizin.
Nando terkekeh. "Jangan mengalihkan topik, Pak!"
"Sudah teruskan saja ceritamu!" hardik Risma.
Nando semakin terkekeh. Badannya berguncang, kemudian ia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Ia menangis sesenggukan.
"Nando sangat terguncang sepertinya," ujar Faizin.
Risma mendengus.
Selama beberapa detik, Nando menangis sesenggukan sampai akhirnya ia menatap Faizin tajam. "Sebelum meninggal, Pak Jenggot menyebut nama bapak!"
Faizin mengernyitkan dahi. "Maksud kamu apa?"
Tatapan Nando kepada Faizin menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya. Tangannya menunjuk muka Faizin. "Bapak kan yang membunuh Pak Jenggot?"