Plak! Reflek Risma menampar pipi Nando.
Nando mengusap pipi yang baru saja terkena tamparan Risma. "Sudah kuduga kamu akan membela Faizin dan tidak mempercayaiku!"
"Ini bukan soal percaya atau tidak, bukan pula soal membela siapa. Ini soal tuduhanmu yang tidak berdasar!" dalih Risma.
Nando menarik telapak tangan Risma. "Tamparlah aku sepuasmu, Ris! Aku lebih baik mati sekarang dari pada menyaksikanmu menyesal karena tidak mempercayaiku!"
"Sudah, sudah!" Faizin melerai. "Saya memahami situasi ini. Seharusnya saya marah karena merasa difitnah, tetapi emosi tidak akan membuat ini akan lebih baik."
Nando membuang muka.
"Nando pasti sangat lelah. Sepertinya ia mengalami shock," ujar Faizin tenang.
Nando menoleh, menyeringai kepada Faizin. "Hanya seorang psikopat yang bisa setenang itu setelah menghabisi tiga nyawa."
Faizin mengelus d**a. Ia menelan ludah berkali-kali.
Risma menatap Nando dengan ekspresi tidak percaya. "Tuduhanmu kepada Pak Faizin itu pelanggaran serius, Do! Kamu harus membuktikannya, jika tidak, aku akan kehilangan respek terhadapmu. Aku nggak akan pernah mempercayaimu selamanya."
Nando balas menatap Risma. "Seandainya kamu todongkan pisau di leherku dan memintaku meralat ucapanku, pasti aku lebih memilih untuk membiarkan pisaumu menusuk leherku!"
Risma terdiam. Tiba-tiba ia teringat kejadian petang tadi saat mencekik Nando sambil mengancam lelaki itu agar mau mengakui telah menghilangkan semua ponsel. Saat itu, meski nyawanya terancam, tetapi Nando bersikeras tidak mau mengakuinya.
Nando orang yang teguh pendirian, itu kesan yang Risma tangkap selama mengenal lelaki itu. Kejadian petang tadi telah membuatnya semakin yakin bahwa Nando akan mempertahankan sesuatu yang menurutnya benar bahkan meski nyawanya terancam. Namun Risma sadar, bagaimanapun juga tuduhan Nando tidak berdasar sama sekali.
"Kamu mau tahu kenapa aku menolak mengajak serta Pak Faizin tadi saat akan melapor polisi pakai sepeda motor Pak Jenggot?" tanya Nando kepada Risma. "Itu karena aku mulai mempercayai kalau Pak Faizin psikopat!"
Faizin melotot, marah kepada Nando. Risma khawatir Faizin akan menghajar Nando, namun kekkawatirannya tidak terjadi karena Faizin akhirnya membuang muka ke arah vila.
Risma menjadi serba salah. Ia ingin mempercayai pengakuan Nando tetapi ia belum memiliki alasan untuk itu. Tuduhan Nando bahwa Faizin psikopat dan membunuh Pak Jenggot belum ada buktinya.
Faizin kembali menoleh. "Do, bapak bisa saja menghajar mulut lancangmu. Mudah saja bagi bapak buat meremukan tulangmu. Tapi bapak tidak mau melakukannya karena tahu kamu sedang shock. Kamu sedang terguncang atas semua kejadian di vila ini. Jadi jangan menuduh orang lain tanpa bukti kuat."
"Pak Jenggot menyebut nama bapak!" ujar Nando sedikit menaikan nada bicara.
"Apa Pak Jenggot mengatakan kalau bapak yang membunuhnya?" gugat Faizin. "Lagi pula kamu juga tidak punya bukti kalau Pak Jenggot memang menyebut nama bapak. Andai benar, ucapan sepotong itu tidak bisa kamu tafsirkan semau kamu."
Risma diam. Ia ingin melihat sejauh mana kedua lelaki beda zaman itu saling adu argumen.
"Bapak benar, saya belum bisa membuktikannya, tapi saya pastikan bukti itu ada saat di kantor polisi nanti!" Nando tersenyum masam. "Tapi itu tidak akan terjadi jika saya menjadi korban bapak berikutnya."
"Nando!" hardik Faizin. "Kamu semakin melantur. Lebih baik kamu istirahat saja."
Risma menantang Nando. "Jika kamu merasa bisa membuktikannya nanti di kantor polisi, kenapa tidak kamu buktikan sekarang saja agar semua jelas!"
Nando menggeleng. "Bukti itu sangat penting. Aku nggak mau itu hilang jika menunjukkannya sekarang."
Risma menganggap alasan Nando tidak masuk akal. "Sebenarnya kamu punya buktinya atau enggak?"
Nando diam.
"Sudah jelas Nando sedang shock," ujar Faizin. "Omongannya bukan hanya tidak logis tapi juga ngawur."
Nando terkekeh sumbang. "Terserah bapak mau menganggap saya apa."
Faizin mendengus. "Kamu yang berada di dekat Pak Jenggot saat ia bersimbah darah dan dengan entengnya kamu malah menuduh orang lain. Kami bisa saja menuduhmu tapi kami tidak melakukannya karena kami belum punya bukti kuat. Sampai di sini kamu paham?"
Nando diam.
"Bapak punya alibi, Do!" ujar Faizin. "Sejak Pak Jenggot mulai memompa ban sampai ditemukan tidak bernyawa, posisi bapak jauh dari mobil ini. Bapak ke vila buat buang hajat."
Nando masih diam.
"Apa kamu bisa membantah kalau alibi bapak cacat?" tanya Faizin.
Nando membuang muka.
"Bapak merasakan ini bukan kamu yang biasanya." Faizin menunjuk d**a Nando. "Yah, wajar saja karena kamu sedang shock. Kamu depresi, Do!"
Sikap Nando semakin tak acuh, seolah semua ucapan Faizin tidak pernah masuk telinganya.
Risma merasakan Nando sudah tidak menghargai Faizin. Terlepas dari benar tidaknya tuduhan Nando, ia menyayangkan atitud lelaki itu yang menurutnya kurang pantas. Risma pun tidak seratus persen mempercayai Faizin, tetapi ia merasa harus tetap bersikap hormat kepada orang yang lebih tua. Toh selama ini Faizin juga selalu bersikap baik dan mengayomi.
"Tidurlah, Do!" suruh Risma agar suasana tidak semakin panas.
Nando melirik Risma sekilas, lantas mendesah. "Mobil sudah siap sejak tadi, kenapa kita nggak segera saja ke kantor polisi?"
Risma membenarkan ucapan Nando. Sejak tadi mereka ribut sampai lupa tujuan yang sebenarnya.
"Kita harus menutupi jasad Pak Jenggot." Faizin melepas hoodie.
"Banyak kain yang lebih layak sebenarnya di dalam vila," ujar Risma. "Tetapi saya nggak tahan bau di dalam sana."
"Pakai ini saja!" Faizin memberikan hoodie pada Risma.
Risma segera keluar dari mobil. Sampai di dekat jasad Pak Jenggot, ia tidak kuasa menahan air mata. Lelaki berusia empat puluh tahunan itu telah bekerja pada perkebunan ayahnya sejak delapan belas tahun lalu. Saat itu dirinya masih kelas lima SD.
Kenangan demi kenangan bersama Pak Jenggot sejak kecil melintas di benak Risma. Ia terduduk sambil tersedu-sedu. Badannya berguncang. Sungguh ia tidak kuat memandang wajah lelaki penjaga kebun itu.
Perlahan Risma menutup bagian atas sampai ke perut Pak Jenggot menggunakan hoodie. Ia janji akan memberi penghormatan yang lebih layak nanti, saat tragedi ini berlalu.
Tiba-tiba, Risma ingat kalau Pak Jenggot punya ponsel yang sudah mati. Maka ia segera merogoh saku celana penjaga kebun itu, lalu mengambil ponselnya.
Risma berdiri, diam sejenak memberi hormat, kemudian kembali ke mobil sambil menyeka air mata.
Faizin menepuk bahu Risma saat gadis itu kembali ke mobil.
"Apa itu?" tanya Nando.
Risma diam, tidak mempedulikan Nando. Hatinya sedang sedih.
Masih dengan air mata yang terus berlinang, Risma mengambil ponsel Desi dari saku celana. Ia akan mengambil SIM Card dari ponsel milik Pak Jenggot, kemudian memasangnya ke ponsel Desi.
Cahaya dalam kabin belum cukup untuk menerangi Risma dalam melepas SIM Card. Ia tidak mau benda kecil itu jatuh dan hilang. Maka ia harus mencari tempat yang lebih terang.
"Saya ke teras vila dulu." Risma berpamitan kepada Faizin.
"Iya, Ris!" sahut Faizin.
"Kamu nggak pamitan sama aku?" Nando protes. "Kamu akan menyesal kalau nanti balik ke sini aku sudah tidak bernyawa."
Risma tidak merespon ucapan Nando. Ia keluar dari mobil.
"Ris!"
Risma berhenti mendengar panggilan Nando. Ia ingin menoleh, tetapi malas melakukannya.
"Kamu ingat pernyataan cintaku padamu tadi, di mobil ini beberapa jam lalu?" tanya Nando. "Aku mengungkapkan perasaanku padamu karena jika aku nanti mati tidak membawa beban apa pun. Kamu masih ingat?"
Risma masih ingat kata-kata itu.
"Aku nggak mau kamu menyesal karena tidak mempercayaiku!"
Risma berlalu dari hadapan Nando. Ia curiga lelaki itu sedang depresi, sehingga ucapan dan sikapnya kacau.
Sampai di teras vila, Risma meletakkan dua ponsel ke atas undak-undakan. Ia menukar SIM Card kedua ponsel tersebut. Selepasnya ia menyalakan ponsel Desi.
Baterei pada ponsel Desi sudah lemah, tetapi Risma yakin itu masih cukup untuk menelepon polisi.
Risma menelepon polisi. Tidak butuh waktu lama, panggilannya terjawab.
"Selamat pagi dengan kantor polsek Bawang, ada yang bisa kami bantu?" sapa operator telepon kantor polisi. Dari suaranya yang dominan bas, menandakan ia seorang lelaki.
"Selamat pagi, Pak. Saya Risma mau minta bantuan kepolisian untuk mengevakuasi jasad di rumah saya dan menyelidiki kasusnya."
"Baik, rumah Ibu Risma beralamat di mana?"
"Rumah saya ada di perkebunan teh SAS, Bawang Selatan."
"Baik, ibu Risma, tolong beri nomor telepon yang bisa kami hubungi nanti."
"Pakai nomor ini. Saja. 085865XXXXXX."
"Baik, Ibu. Tim kami segera ke sana. Mohon ditunggu."
"Terima kasih, Pak!"
"Terima kasih kembali, Ibu atas laporannya. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak!"
Risma menarik napas lega. Akhirnya ia bisa menghubungi polisi. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak kepikiran untuk mengambil SIM Card pada ponsel mati Pak Jenggot lalu memasangkannya pada ponsel Desi yang SIM Cardnya tidak memiliki pulsa.
Dengan langkah lebih ringan dari biasanya ia kembali ke mobil.
"Tolooong!"
Sayup-sayup Risma mendengar suara minta tolong. Itu seperti suara Nando. Ia segera mempercepat langkah.
Dari kejauhan Risma melihat mobil bergoyang-goyang. Semakin dekat ia bisa melihat tangan Faizin teracung tinggi sambil memegangi benda tajam. Tangan itu tertahan oleh tangan Nando yang sekuat tenaga mencegah benda tajam itu mengenai perutnya.
"HENTIKAN!" Risma lari sekuat tenaga mencegah agar Faizin menjauh dari Nando.
Terlambat? Sebelum Risma sempat mencapai mobil, pertahanan Nando goyah. Tangan Faizin berhasil mengarahkan benda tajam berupa kunci T ke tubuh Nando.
"AARRGGHH...." Nando mengerang panjang.