Menyalahkan Diri Sendiri

1183 Kata
"HENTIKAAANNN!" Risma berlari sekuat tenaga, berusaha mencegah Faizin agar tidak menusuk Nando. Erangan Nando membuatnya panik luar biasa. Ia tidak mau ada korban lagi. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Nando. Ia tidak mau kehilangan lelaki itu. Begitu sampai mobil, Risma menarik baju Faizin sekuat tenaga, membuat lelaki setengah baya itu tertarik keluar, lantas terjerembab ke tanah dalam posisi telungkup. Risma melihat tangan kanan Faizin berlumuran darah. Ia yakin itu darah Nando. Sungguh ia menyesal telah meninggalkan Nando bersama Faizin. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Nando mati. Selagi Faizin belum bisa bangkit, Risma menginjak paha kaki kiri lelaki psikopat itu. "AUWW!" Faizin mengerang kesakitan. Tangannya memegangi paha bekas terinjak Risma. Risma menginjak paha kaki kanan Faizin. "AUWW!" Faizin memekik, menahan rasa sakit yang luar biasa. Badannya serasa lumpuh. Tidak mau menyiakan kesempatan, secara kalap Risma menginjak-injak punggung Faizin. Tiga kali ia menghujamkan kaki ke punggung lelaki tua itu, namun pada usahanya yang keempat, Faizin berguling ke samping. Injakan Risma pun luput. Faizin mencoba berdiri. Belum sepenuhnya ia menguasai keseimbangan, terlebih dahulu selangkangannya terkena dengkulan Risma. Mata Faizin mendelik. Napasnya tertahan, merasakan sakit luar biasa akibat burungnya terkena dengkulan Risma secara telak. Ia membungkuk sambil tangannya meraba s**********n. Dengan gerakan memutar ala taekwondo, Risma berhasil mendaratkan tendangan ke rahang Faizin. Lelaki itu ambruk ke tanah, menggelepar, lantas pingsan. Belum puas, Risma menendang tubuh Faizin berkali-kali sampai tenaganya hampir habis. Ia terkulai di tanah dalam posisi berjongkok. Setelah memastikan Faizin tidak sadarkan diri, Risma ke mobil. Ia melihat darah membasahi pinggang sebelah kiri Nando. Panik, Risma memeriksa nadi pada pergelangan tangan Nando. Ia bernapas lega, setelah merasakan denyut nadi. Meskipun merasa lega, Nando masih hidup, tetapi ia dikuasai panik. Nando pingsan dengan darah terus keluar. Dalam hati ia berdoa agar polisi segera datang dan nyawa Nando terselamatkan. Seperti orang linglung, Risma mencari kotak PPPK pada laci dasbor mobil. Ia menemukan perban dan plester. Masalahnya sekarang adalah ia tidak tahu harus bagaimana. Risma melihat kunci T masih menancap. Ia ragu apakah akan mencabutnya atau tidak. Jika melakukannya, ia takut Nando semakin kehilangan banyak darah. Maka sambil menangis, ia membuka kancing baju Nando satu per satu agar bisa memeriksa lukanya. Kunci T menancap pinggang Nando sebelah luar. Risma menyumpalnya dengan perban secara tidak beraturan. Ia tidak tahu bagaimana melakukan pertolongan pertama. Maka ia memplester perban tersebut secara asal-asalan. Risma menutup pintu dan menguncinya. Ia memandangi wajah kumal Nando yang tidak sadarkan diri. Air matanya mengalir. Ia menangis sesenggukan, mengutuk dirinya sendiri atas semua kebodohannya. Tangisan Risma berubah menjadi ratapan. Ia menyesal tidak mengantisipasi segala kemungkinan. Ia menyalahkan diri sendiri yang telah meninggalkan Nando bersama Faizin. "Nando, bangun!" Risma menampar-nampar pipi Nando pelan, agar lelaki itu siuman. Nando tidak bergerak, masih pingsan. "Do, bangun, Do!" ratap Risma. Telapak tangannya terus menampar-nampar pipi Nando. Nando masih tidak bergeming. "Do, maafin aku, Do!" Risma memeluk tubuh Nando. Badannya terguncang, menangis sesenggukan. Air matanya menetes, membasahi d**a Nando. Pukul 03:07 wib. Risma terus menangis sampai airmatanya seolah akan mengering. Nando belum siuman. Itu membuat Risma cemas, lelaki itu tidak akan bangun selamanya. Kenangan demi kenangan bersama Nando melintas di benak Risma. Ia masih ingat betapa dinginnya tatapan lelaki itu pada hari pertamanya di Reyncar. Saat itu ia sedang memperkenalkan diri di hadapan semua karyawan Reyncar. Semua mata memusat kepadanya. Semua orang antusias menerima kehadirannya, hanya Nando yang ekspresinya biasa-biasa saja dan sulit ditebak. Dulu Risma punya target untuk menaklukkan hati anak bungsu pemilik Reyncar tersebut. Tujuannya agar misinya mencari tahu rahasia dan strategi Reyncar lebih mudah. Namun kenyataannya, Nando sangat sulit ditaklukkan. Lelaki itu bahkan tampak sedang mengejar Desi. Tadinya Risma mengira Nando menyukai Desi, sampai akhirnya Hendi memberitahu kepadanya bahwa Nando terpaksa mendekati Desi karena menuruti Pak Arya. Nando adalah lelaki dengan sikap kaku dan terkesan cuek. Risma sulit menaklukkannya. Alih-alih berhasil, justru tanpa ia sadari dirinya menjadi penasaran. Berawal dari rasa penasaran tersebut, ia mulai menyukai karakter unik lelaki itu. Pada saat diundang makan malam bersama Reynaldi, Risma sempat beberapa kali menangkap Nando sedang mencuri pandang padanya. Bahkan lelaki itu tampak salah tingkah ketika Reynaldi menciptakan kesan seolah Risma dan Nando memiliki banyak kecocokan. Dari kejadian-kejadian itu Risma sempat menduga kalau Nando menyukainya. Namun, ia tidak mau memikirkannya lebih lanjut karena ingin fokus pada misinya. Selepas keluar dari Reyncar, Risma sering merasa gelisah. Tiba-tiba saja ia teringat Nando. Di sela kesibukannya, tahu-tahu ia merindukan lelaki itu. Sayangnya ia kerap kali mengabaikan perasaan sendiri. Ia pikir percuma memelihara benih-benih rasa suka dalam hati karena ia tidak yakin Nando juga akan merasakan hal yang sama. Sampai suatu saat Hendi mengajaknya untuk mengadakan reuni. Ia sangat bersemangat ketika tahu Nando diundang. Maka itu ia menyediakan vila berharap suasananya akan indah. Bahkan Risma telah mempersiapkan sebuah misi lanjutan. Ia akan memperbaiki kesalahannya pada misi sebelumnya. Bisa dibilang misi kedua adalah wujud penebusan atas kesalahannya pada misi pertama. Pada misi kedua, plan A, Risma akan mengajak Nando untuk mempersatukan dua bengkel keluarga masing-masing. Jika plan A gagal, ia akan menjalankan plan B yaitu mengajak Nando untuk mendirikan perusahaan baru. Lebih dari itu, jika ternyata Nando memiliki perasaan yang sama, ia ingin mengajak Nando menikah. Semua tampak indah dalam tataran sebuah rencana. Siapa sangka semua berantakan dalam hitungan jam. Pada pertemuan ini, sikap Nando sangat menyebalkan dan misterius. Itu mengecewakan Risma. Kekecewaan Risma teralihkan oleh kematian Desi yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Kemudian peristiwa demi peristiwa mengerikan terjadi. Ponsel-ponsel yang mereka kumpulkan hilang. Mobil Desi disabotase. Suasana semakin mencekam setelah Hendi ditemukan meninggal bersimbah darah. Kematian Desi dan Hendi membuat Risma shock. Kedua temannya itu mati mengenaskan di vilanya. Ia semakin shock ketika Pak Jenggot akhirnya mati dengan kondisi yang sama dengan kematian Desi dan Hendi. Sampai di situ, sebenarnya Risma mulai mewaspadai Faizin. Namun, ia tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik ketika Nando melarikan sepeda motor Pak Jenggot. Nando ceroboh. Itu membuat Risma kesal dan berkali-kali menghajar lelaki itu. Kekesalannya pada Nando telah menggerogoti kewaspadaannya terhadap Faizin. Kini Risma menyesal karena tidak mempercayai Nando yang mengatakan bahwa Faizin adalah pembunuh Pak Jenggot. Ia menyalahkan diri sendiri, karena jika ia mempercayai Nando, pasti ia tidak akan membiarkan Nando berduaan saja dengan Faizin di dalam mobil. Semua sudah terjadi. Desi, Hendi, Pak Jenggot, telah mati. Bahkan Nando kini berada di antara hidup dan mati. Risma hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Risma mengecup pipi Nando. "Bertahanlah, Do. Polisi sebentar lagi datang," rintihnya sambil sesenggukan. Risma melepaskan pelukannya. Ia harus menelepon polisi kembali, memastikan mereka dalam perjalanan kemari. Ia mengambil ponsel dari saku, lantas menghubungi polisi. "Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya operator telepon kantor polisi. "Pak, saya Risma yang tadi menghubungi kantor bapak," ucap Risma parau. "Saya mau tanya, sudah sampai mana tim polisinya?" "Baik, Ibu Risma yang beberapa menit lalu menghubungi kami?" "Benar, Pak." "Baik, tim kami sudah bergerak menuju lokasi. Harap menunggu ya, Bu?" "Iya, Pak." "Baik, Bu Risma. Apa ada lagi yang bisa kami bantu?" "Tidak ada." "Kalau begitu, terima masih telah menghubungi kami. Selamat pagi." Panggilan telepon berakhir. Risma memasukkan kembali ponsel ke saku baju. Bug! Bug! Risma menoleh demi mendengar bunyi kaca mobil digedor. Matanya terbelalak, melihat wajah Faizin di kaca jendela dengan sorot mata mengerikan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN