Kisah Psikiater dan Pasiennya

1300 Kata
Faizin menarik-narik paksa pegangan kunci pintu. Tidak berhasil membukanya, ia mencari cara lain. Dicarinya balok kayu di sekitar mobil, tapi tidak menemukannya. Akhirnya ia menemukan sebuah batu yang bentuknya lonjong dengan ujung agak meruncing. Sekuat tenaga Faizin menghantamkan batu ke kaca jendela pintu. Brak! Brak! Brak. Kaca retak tetapi masih menyatu, hanya penyok sedikit. Risma panik. Otaknya langsung berpikir, apa yang harus ia lakukan jika nanti Faizin berhasil memecahkan kaca. Kaca jendela pintu dilapisi film abu-abu, sehingga meskipun retak kecil-kecil tetapi masih menyatu. Butuh berapa kali hantaman sampai Faizin berhasil menciptakan lubang pada kaca. Kaca telah berlubang. Faizin terus menghantamkan batu dan menarik dengan tangan serpihan kaca yang masih menempel pada film. Risma pindah ke jok depan ketika Faizin berhasil menciptakan lubang lebih besar pada kaca jendela tengah. Lubang itu cukup bagi Faizin untuk menelusupkan tangan. Dengan tangannya itu ia membuka pintu dari dalam. Bersamaan dengan Faizin berhasil membuka pintu tengah, Risma keluar mobil melalui pintu depan. Hanya ada dua pilihan baginya: pertama ia menjauh dari Faizin karena tenaganya sudah lemah, kedua ia harus menghadapinya karena jika menjauhi mobil, ia cemas Faizin akan melampiaskan emosi kepada Nando. Risma memilih yang kedua. Ia harus berduel dengan Faizin, bagaimanapun caranya. Ia harus bisa melumpuhkan psikopat itu. Maka ia segera menyerang Faizin dengan tendangan taekwondonya. Tendangan memutar Risma meleset karena Faizin berhasil menghindar. "Tenagamu sudah lemah, Ris!" seringai Faizin. "Saya nggak menyangka bapak sekeji itu, membantai orang-orang yang nggak berdosa. Dasar psikopat!" umpat Risma kesal. "Nggak berdosa? Hahaha! Tidak ada manusia yang tidak berdosa." Faizin tertawa mengerikan. Risma berdigik mendengar tawa Faizin yang baru kali ini didengarnya. Selama ini Faizin jangankan tertawa, tersenyum saja jarang. "Kemarahan adalah kelemahan!" ejek Faizin. "Kamu mudah emosi dan sedikit-sedikit melampiaskannya dengan kekerasan." "Sebentar lagi polisi datang. Bapak menyerahlah!" Faizin tertawa lebih menyeramkan dari sebelumnya. "Hahaha! Tidak ada kata 'menyerah' dalam kamus hidup bapak!" Ia maju selangkah. Risma mundur dua langkah. Ia memasang kuda-kuda, siaga terhadap pergerakan Faizin. "Kamu takut?" ejek Faizin. "Bapak bisa merasakannya." Ia maju dua langkah. Risma mundur dua langkah, menjaga jarak dengan Faizin. "Kamu adalah penyebab dari semua masalah ini, Ris!" tuduh Faizin. "Kamu yang telah membuat hidup bapak hancur tidak bersisa. Seharusnya kamu yang pertama kali bapak habisi. Tetapi itu terlalu mudah. Bapak ingin kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan satu per satu teman-teman kamu. Bapak ingin kamu merasakan bagaimana rasanya mendapatkan teror. Maka itu kamu harus mati paling terakhir." Nyali Risma mendadak menciut mendengar kata 'mati', namun ia tidak akan menunjukkannya kepada Faizin. Itu hanya akan membuat psikopat itu menikmati kekejamannya. "Saya akan mati. Bapak juga akan mati. Semua akan mati. Jadi bertaubatlah di mulai dari sekarang sampai menghabiskan usia di penjara!" "Penjara? Hahaha!" Faizin maju selangkah. "Kamu pikir bapak bodoh, menghabisi beberapa orang lalu membiarkan polisi menangkap bapak? Tidak! Kamulah yang akan masuk penjara!" Risma mundur. Namun karena tidak hati-hati, kakinya tersandung batu. Ia jatuh dalam posisi duduk. Melihat Risma jatuh, Faizin bergerak cepat. Ia menendang kedua paha Risma bergantian, berkali-kali, menggunakan kombinasi kedua kaki. "Auww!" Risma merintih kesakitan sambil beringsut, menghindari tendangan Faizin. Faizin semakin kalap. Ia mengarahkan tendangan ke kepala. Risma menahannya menggunakan kedua tangan. Faizin tahu tenaga Risma semakin melemah. Ia hanya perlu melakukan serangan secara terus-menerus sampai gadis itu tidak berkutik. Taktik Faizin efektif. Meskipun variasi serangannya jarang yang tepat sasaran, tetapi mampu memaksa Risma untuk sibuk menangkis dan menghindar hingga tenanganya habis. Risma sudah tidak kuat lagi menahan serangan Faizin. Pertahanannya terbuka. Satu tendangan mendarat telak pada rahangnya. Seketika kepala Risma terasa berat dan sakit luar biasa. Perlahan pandangannya kabur. Ia terkulai di tanah. Faizin menyeringai puas. Ia mengambil tali dari dalam tas yang selalu ia bawa. Di dalam tas tersebut masih tersisa satu kunci T dan beberapa paku. Pelan tapi pasti, Faizin mengikat tangan dan kaki Risma. Ia melakukannya dengan mudah karena Risma sudah tidak berdaya. Gadis itu masih sadar, hanya saja tubuhnya sudah sangat lemas. Faizin membopong tubuh langsing Risma. Meskipun sudah berusia setengah abad, tetapi tenaga Faizin masih cukup untuk memindahkan gadis itu ke dalam mobil. Faizin mendudukkan Risma di jok depan kiri. Belum puas, ia mengikat tubuh gadis itu dengan jok. Sempurna sudah ketidakberdayaan Risma. Faizin masuk ke mobil dari depan kanan. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal setelah membopong tubuh Risma. "Bapak mau membunuh saya?" tanya Risma lirih, nyaris tidak terdengar. Ia sudah tidak berdaya dan takut akan benasib sama dengan yang lain. Ia masih belum ingin mati, namun sayangnya ia hanya bisa berdoa agar polisi segera datang sebelum Faizin membunuhnya. "Kamu takut?" Faizin menyeringai sadis. "Bapak bisa menghabisimu sekarang." Risma melirik Faizin takut. Lelaki psikopat di sebelahnya itu merogoh tas lalu mengeluarkan kunci T yang masih baru. Risma menelan ludah. Ia sungguh merasa takut. Faizin mengibas-kibaskan Kunci T di depan mata Risma dengan maksud meneror. "Kunci yang sama, beberapa kali sudah bapak paketkan ke Desi dan Hendi. Mereka layak mendapatkan 'hadiah' atas kekacauan yang telah mereka lakukan." "Apa salah mereka sama bapak?" gugat Risma lirih. Faizin mengerjap. Alih-alih menjawab ia menyandarkan kepala pada jok. "Nando juga nggak bersalah, apalagi Pak Jenggot, beliau bahkan nggak kenal sama bapak!" gugat Risma. Faizin menoleh sambil menatap Risma tajam. "Semua berawal dari kamu. Mereka semua mati gara-gara kamu. Kamulah pembunuh yang sebenarnya!" Jika punya tenaga cukup dan tidak terikat, Risma pasti sudah menampar mulut Faizin. Bisa-bisanya lelaki psikopat itu menuduhnya. Faizin menggeser badan agar bisa berhadapan dengan Risma. "Sebelum kamu mati, maukah mendengar kisah cinta paling romantis abad ini?" Risma membuang muka, sama sekali tidak tertarik. "Ada seorang pemuda bernama Faizin." Faizin memulai cerita menggunakan sudut padang orang ketika, padahal tokoh utamanya adalah dirinya. "Ia menyadari ada yang salah dengan kepribadiannya. Lalu, ia memeriksakan diri ke psikiater." Risma tidak tertarik dengan cerita Faizin. Meskipun begitu, ia merasa itu menguntungkannya karena akan mengulur waktu sampai polisi datang. "Faizin muda berkonsultasi dengan seorang psikiater muda dan cantik bernama Rumania." Faizin tersenyum mengenang awal perjumpaan dengan sang istri. "Bukan hanya sekali atau dua kali, Faizin selalu berkonsultasi ke psikiater itu." Risma menoleh. Ia harus memastikan Faizin terus mengoceh untuk mengulur waktu. "Namanya unik. Serius namanya Rumania?" Faizin mengerjap. "Nama yang cantik bukan? Yah, sesuai dengan kepribadiannya yang juga cantik." Risma tersenyum dipaksakan. "Bahkan ketika tahu Faizin seorang psikopat, Rumania tetap menyemangati sang pasien. Ia meyakinkan Faizin bahwa menjadi seorang psikopat juga bisa hidup normal dan bermanfaat bagi banyak orang. Tadinya Faizin kira itu hanya kalimat yang biasa diucapkan para psikiater, tapi Rumania benar-benar membuktikannya." Senyum Faizin terkembang. Risma mengerjap. Ia bisa menebak ke arah mana cerita itu selanjutnya. "Waktu Faizin pesimis dengan semua kalimat-kalimat pemyemangat Rumania, psikiater itu dengan lembut meyakinkan Faizin." Faizin mendekatkan bibir ke telinga Risma. "Kamu tahu apa yang dikatakan Rumania kepada Faizin?" Risma menggeleng. "Memangnya apa?" Faizin memperagakan saat Rumania mengucapkan kalimat padanya dua puluh lima tahun lalu. "Mas Faizin, saya siap mendampingi Anda dan membuktikan bahwa Anda bisa menjadi lebih baik dari yang Anda pikirkan." Lagi-lagi Risma tersenyum terpaksa. "Rumania menawarkan diri menjadi istri Faizin." Ada rona merah pada pipi Faizin. "Lalu mereka menikah dan hidup bahagia meskipun tidak pernah dikarunia anak." Risma mengerjap. Dalam hati ia mengangumi Rumania. Diam-diam, ia mulai penasaran kelanjutan kisah cinta tersebut. "Faizin menjadi lebih baik dan menatap masa depan dengan optimis, berkat Rumania." kenang Faizin. "Faizin tidak pernah berbuat jahat meskipun dorongan itu selalu muncul. Bahkan Faizin berhasil dalam kariernya. Semua berkat Rumania." Risma mengangguk lemah. Ia harus terus memberi respon agar Faizin terus bercerita. "Sampai akhirnya, ibundanya Rumania tahu bahwa menantunya seorang psikopat. Beliau meminta Faizin untuk menceraikan Rumania. Tentu saja itu membuat Faizin jengkel." Risma merasa ngeri melihat kilatan marah pada mata Faizin. "Faizin kehilangan kesabaran karena terus didesak untuk menceraikan istrinya. Ia khilaf dan gelap mata." Risma menarik napas dalam-dalam. Ia tidak sanggup menatap mata merah Faizin yang menyiratkan kemarahan mendalam. "Suatu hari, Faizin mencoba mencelakai ibu mertuanya dengan menyabotase sistem pengereman sepeda motor sang mertua, agar jika terjadi sesuatu akan tampak sebagai kecelakaan murni." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN