Darah Terakhir

1246 Kata
Dari Desi, Risma sudah pernah mendengar kisah Faizin mencelakakan mertuanya. Sekarang ia baru yakin cerita itu benar setelah Faizin mengakuinya sendiri. "Lalu apa yang terjadi dengan mertua bapak?" Risma pura-pura penasaran. Hanya itu yang terlintas dalam pikirannya untuk memastikan Faizin terus bercerita. "Faizin hanya ingin memberi pelajaran pada sang mertua. Dan faktanya mertuanya hanya mengalami luka ringan," jawab Faizin. "Apakah Rumania tahu kalau itu...." Risma urung meneruskan kalimatnya. "Karena sabotase?" tebak Faizin. Ia mengangguk. "Ajaibnya, Rumania memaafkan suaminya. Bahkan ia lebih keras lagi membimbing dan mendukung Faizin. Sejak itu Faizin meminta maaf pada sang mertua dan berjanji tidak akan mengulanginya. Ia terus berbuat baik kepada mertuanya meskipun diremehkan." "Lalu?" pancing Risma. Faizin menelan ludah. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menggebahnya dengan kasar. "Lalu istri Pak Reynaldi yang sudah tahu bahwa Faizin psikopat, memberitahukan itu kepada Pak Arya." Cerita itu sudah pernah Risma dengar dari Nando. "Sejak itu Pak Arya berusaha memisahkan Faizin dengan keluarganya dengan cara apa pun." Faizin menunduk dalam-dalam, menahan geram. "Pak Reynaldi sama sekali tidak terpengaruh. Beliau bahkan sampai harus pisah ranjang dengan istrinya hanya karena yakin bahwa Faizin bisa tetap menjadi orang baik dan bermanfaat bagi banyak orang." "Luar biasa Pak Reynaldi," puji Risma. "Tapi Pak Arya selalu mencari kesempatan buat menyingkirkan Faizin!" Tangan Faizin terkepal di udara. Matanya memerah, menahan marah. Ia melirik sadis kepada Risma. "Kasus hilangnya mobil cutomer menjadi alasan bagi Pak Arya untuk menyingkirkan Faizin!" Risma menunduk, tidak berani menatap mata Faizin. "Semua gara-gara Desi!" Faizin menarik dagu Risma kasar. "Desi melakukan itu karena dendam padamu, Risma!" Risma menggoyangkan kepala agar tangan Faizin lepas dari dagunya. "Gara-gara kasus itu, Rumania mati terkena serangan jantung!" Mata Faizin semakin merah. "Jadi itu alasan bapak membunuh Desi?" tanya Risma hati-hati. Ia takut Faizin tiba-tiba kalap. "Iya!" jawab Faizin dengan suara menggelegar. "Kalian semua harus mati. Bapak tidak merencanakannya, tetapi saat tahu akan ada reuni, bapak menyiapkan semuanya." Risma mendengus. "Jadi bapak yang membuang ponsel-ponsel itu dan meletakannya di bawah kasur yang ditempati Nando dan Hendi?" Faizin terkekeh puas. "Tebakanmu tepat! Bahkan saat kalian terlena, bapak sudah memasang paku di bawah ban depan kanan, agar ketika mobil itu jalan, bannya kempes. Tetapi sebelum itu terjadi, Hendi lebih dulu mengempeskannya." "Bapak melihat Hendi melakukannya?" Faizin mengangguk sambil menyeringai. "Pantesan kemarin bapak memaksa Hendi untuk mengaku." Faizin melirik arloji pada pergelangan tangan. Ia tahu polisi sebentar lagi datang. Wajahnya mendadak muram. "Sampai beberapa jam lalu, saya masih mengagumi bapak," ujar Risma. "Saya juga berusaha memahami motif bapak menghabisi anak-anak dan Pak Jenggot di vila ini." Faizin menoleh. Wajahnya masih muram. "Hanya saja...." Risma melirik Faizin hati-hati. "Apakah bapak tidak berpikir apa yang telah bapak lakukan ini telah membuat usaha dan pengorbanan istri bapak sia-sia?" Wajah muram Faizin berubah marah. Matanya melotot. "Puluhan tahun istri bapak mengabdikan diri, menyayangi dengan tulus, dan mendedikasikan ilmunya karena percaya suaminya bisa lebih baik." Risma menelan ludah. Melihat ekspresi marah Faizin membuatnya takut untuk meneruskan kalimatnya. "Dua puluh lima tahun bapak hidup normal!" sergah Faizin. "Sehari berbuat jahat tidaklah mengapa." Risma menggeleng. "Justru itu sebuah kemunduran besar." Faizin terkekeh seram. "Kamu masih bisa menasehati bapak di saat ajalmu sebentar lagi datang?" Risma menelan ludah. Ia sangat takut mendengar kalimat Faizin. "Tapi kematian terlalu sederhana untuk membuatmu menderita!" Faizin membuka telapak tangan Risma. Ia mengambil kunci T dari dalam tasnya. Keringat dingin keluar melalui pori-pori pada tengkuk dan dahi Risma. Detak jantungnya berdetak kencang. Lidahnya terasa kelu. Tenggorokan tercekat. Sungguh ia takut kunci T di tangan Faizin akan menusuk tubuhnya. Faizin melepas tali yang terikat pada jok. Ia mendorong tubuh Risma ke depan lalu menggenggamkan pangkal kunci T pada jari-jari tangan Risma. Irama detak jantung Risma semakin tidak beraturan. Ia memejamkan mata, mengira Faizin akan menusuknya dari belakang. Maka dengan perasaan takut luar biasa, ia memanjatkan doa. Jika sekarang adalah saat kematiannya, ia ingin segala dosanya diampuni Tuhan. "Badanmu sudah tidak terikat pada jok, tapi tangan dan kakimu masih terikat." Faizin mengerjap. "Jika harus melepaskan salah satu ikatan, kamu minta yang sebelah mana?" Risma membuka mata, melirik Faizin masih dengan perasaan takut luar biasa. "Lepaskan semua, pak, kumohon!" Faizin terkekeh seram selama beberapa detik, kemudian secara tiba-tiba mendelik. "Kamu serakah, Risma!" Risma membuang muka. Percuma saja ia memohon pada Faizin. Ia hanya akan memohon kepada Tuhan agar segera mengirimkan pertolongan. Jarak antara kantor polisi terdekat dengan vila sejauh belasan kilometer dengan jarak tempuh paling cepat setengah jam. Itu karena kondisi jalan menuju perkebunan terjal dan naik-turun. Risma mengeluhkan fakta tersebut. "Sepertinya pergelangan kaki kamu lecet. Kasihan sekali!" Faizin melepas ikatan tali pada pergelangan kaki Risma. Meskipun merasa aneh, Risma merasa bersyukur kakinya terlepas dari ikatan. Namun ia tetap waspada karena yakin Faizin sedang merencanakan sesuatu. "Sekarang kalau mau, kamu bisa melawan dengan kedua kakimu!" Faizin terkekeh seram. Risma diam. Ia tidak mau terpancing. Ia berpikir, satu gerakan saja yang ia lakukan bisa menjadi bumerang. "Kamu pikir, setelah melalukan ini semua, hati bapak puas?" Faizin muram. "Jika begitu, kenapa bapak melakukannya?" gugat Risma, sambil tangannya berusaha melepas ikatan. "Sebenarnya bapak sudah ingin mengakhiri hidup dua tahun lalu." Faizin menunduk masih dengan wajah muram. Namun tiba-tiba ia menyeringai sadis. "Tapi akhirnya bapak berpikir untuk membagi kepedihan ini kepada kalian." Risma mengernyit takut. "Itu cara berbagi yang konyol!" Seringai Faizin semakin menjadi. "Kamu menikmatinya bukan?" Risma melengos, ngeri melihat seringai Faizin. "Desi dan Hendi telah mendapatkan jatahnya." Faizin menoleh kepada Nando yang masih tidak sadarkan diri di jok belakang. "Nando juga telah mendapatkan jatah yang layak. Sedangkan Pak Jenggot adalah bonus." Risma geram. Sayang ia hanya bisa menyimpannya dalam hati. Faizin mengacak rambut Risma kasar. "Jatahmu lebih besar dari mereka semua. Hahahaha!" Kegeraman Risma semakin tidak terbendung. Ia berontak dengan mencoba melepaskan ikatan pada pergelangan tangan kuat-kuat. Alih-alih berhasil, pergelangan tangannya menjadi lecet-lecet. "Kamu pasti mengira bapak akan membunuhmu, benar?" Faizin menatap Risma tajam. Risma bungkam. "Kamu akan bapak biarkan hidup!" Faizin mengerjap. Sejurus kemudian terkekeh dengan mimik menyeramkan. Sepasang alis Risma terangkat bersamaan. Perasaannya campur aduk, mendengar pengakuan Faizin bahwa dirinya akan dibiarkan hidup. Satu sisi ia senang mendengarnya karena Faizin selalu menepati kata-katanya. Sisi lain ia merasa takut lelaki itu merencanakan sesuatu yang lain. "Tapi hidup dalam kepedihan. Hahaha!" Faizin tertawa ngakak. Kedengarannya sangat menyeramkan. "Apa yang bapak mau?" Faizin mengerjap. Kepalanya dicondongkan ke dekat wajah Risma. "Nanti kamu juga tahu!" Risma belum tahu apa rencana Faizin, namun ia merasa lega karena akan dibiarkan hidup. Jika benar Faizin akan memberinya kepedihan, ia akan menghadapinya. Baginya yang penting ia tidak mati sekarang. Sayup-sayup terdengar sirine. Hati Risma terlonjak gembira. Ia bersyukur, akhirnya pertolongan datang. Polisi mengirimkan empat unit mobil. Dua unit berisi beberapa anggota polisi dan dua lainnya adalah ambulans. Mereka berkonvoi. Jaraknya masih satu kilometer dari vila tetapi sirirne-nya meraung-raung, terdengar sampai ke telinga Risma dan Faizin. Sambil menggenggam kunci T, Faizin membuka pintu mobil. Ia mendorong Risma sampai terjerembab ke tanah. Risma berupaya bangkit, berusaha melepaskan diri. Ia takut Faizin kalap, menusuknya, karena panik atas kedatangan polisi. Ketakutan Risma tidak terjadi. Alih-alih menyerang, Faizin malah melepaskan ikatan tangan Risma. Selepas ikatannya lepas, Risma berupaya lari, namun Faizin buru-buru menariknya dengan kasar. Keduanya terjatuh, bergulingan, saling bertindihan di atas tanah dengan posisi Faizin berada di bawah. Faizin menghujam kunci T ke dadanya sendiri. Seketika matanya mendelik, menahan sakit luar biasa. Darah mengucur, membasahi bajunya dan baju Risma. Risma kaget, tidak menyangka Faizin akan bunuh diri. Ia sangat shock, apalagi posisi separuh badan hingga ke bawahnya menindih Faizin. Ia takut dirinya akan dituduh yang membunuh psikopat tersebut. . "Polisi! Angkat tangan!" Seorang polisi menodong senjata api kepada Risma. Beberapa personel lainnya bersiaga. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN