Risma mengangkat kedua tangan. Ia melirik ke salah satu polisi. "Saya korban, Pak!"
Salah satu polisi menekuk kedua tangan Risma ke belakang, lantas memborgolnya. "Berdiri dan perlahan jalan ke mobil!" Ia memberdirikan Risma.
Tubuh Risma terangkat. "Kenapa saya diborgol, Pak?" gugatnya.
Satu polisi mendorong tubuh Risma agar jalan menuju sebuah mobil. Dua orang lainnya mengawal mereka. Sementara sisanya menyisir area vila.
Beberapa petugas medis mengevakuasi Nando yang masih bernyawa ke ambulans. Dengan sigap mereka memberi pertolongan pertama sambil bergerak cepat menuju rumah sakit.
Bunyi sirine masih meraung-raung. Kawasan perkebunan terasa mencekam. Satu tim polisi menyisir ke setiap penjuru. Setelah memastikan area aman, petugas medis mengambil alih dengan mengevakuasi semua jenazah.
Sementara itu Risma dimasukkan ke dalam mobil dengan diapit dua polisi bersenjata laras panjang.
"Saya tidak bersalah, Pak!" jelas Risma. Wajahnya memohon. "Lepaskan saya."
Polisi yang berada di sebelah kanan Risma, menoleh. "Ibu jelaskan saja nanti di kantor polisi!"
Risma terus berusaha menjelaskan. "Saya yang menelepon polisi. Kenapa saya yang ditangkap?" Ia tengok kanan-kiri ke arah dua polisi yang mengapitnya.
"Bapak-bapak bisa tanyakan kepada penerima telepon tadi!" ucap Risma masih tidak percaya dirinya yang diborgol.
Para polisi yang berada dalam mobil itu bungkam.
"Tolong, Pak, percayalah sama saya!!" rintih Risma memohon. Air matanya mengalir.
Risma teringat ucapan Faizin yang katanya membiarkannya hidup tetapi akan memberinya hidup yang pedih. Ia bertanya dalam hati, apakah ini yang dimaksud Faizin?
Air mata Risma terus mengalir. Sungguh ia tidak habis pikir, dirinya menjadi korban tetapi dirinya pula yang harus ditangkap.
'Keji!' makinya dalam hati, ditujukan kepada Faizin.
Terbayang dalam benak Risma bagaimana nanti keluarga besarnya akan menjenguknya di kantor polisi. Mereka akan menyalahkan Risma karena telah membuat vila berdarah. Risma memang yakin kalau mereka akan mempercayainya, tetapi berita kasus ini pasti akan tersiar ke mana-mana.
Risma memejamkan mata. Hatinya sakit menjadi korban fitnah yang dirancang Faizin. Hatinya pedih membayangkan ia akan berhadapan dengan para penyidik nanti.
Hati Risma remuk redam. Pikirannya kacau balau. Badannya lemah. Itu semua membuatnya terpuruk. Sehingga ia menyesali nasibnya, kenapa tidak mati saja bersama lainnya?
Tiba-tiba kepala Risma pusing. Kesadarannya semakin hilang. Ia terkulai dengan kepala menyandar pada seorang polisi di sebelah kanannya.
***
Putih polos, warna itu yang pertama kali tertangkap pandangan Risma ketika ia membuka mata. Kepalanya terasa berat, hanya bola matanya saja yang bisa ia gerakan ke kanan dan ke kiri.
Perlahan Risma mencoba menerka di mana gerangan dirinya berada. Ia dikelilingi kain gorden biru muda. Di sebelahnya tampak seorang gadis berbaju putih mengulas senyum padanya.
"Aku di mana?" Risma bertanya kepada perawat jaga.
Perawat mendekatinya. "Mbak ada di IGD."
"Aku sakit apa?"
Perawat tersenyum hangat. "Mbak hanya kelelahan dan sekarang membutuhkan istirahat."
Risma melirik tiang infus yang ujung selangnya menancap pada punggung telapak tangan kirinya. Kini, tahulah dirinya sedang berada di sebuah rumah sakit.
Risma berusaha mengangkat kepala tetapi usahanya itu membuatnya sakit.
"Di mana keluargaku?" tanya Risma. Kesadaranya berangsur membaik.
"Tadi kakaknya mbak barusan keluar untuk ke toilet," beritahu perawat.
Ingatan Risma kembali pulih. Sebuah vila, kejadian-kejadian mengerikan, dan diborgol polisi semua menjadi semakin jelas. Itu membuat kepalanya semakin sakit.
Risma mengangkat pergelangan tangan. Tidak ada borgol di sana. Ia merasa lega.
"Nando!" ucapnya spontan. Ia mengkhawatirkan lelaki itu.
Sreett! Terdengar kain gorden ditarik. Risma tersenyum senang melihat Yanuar, kakak sulungnya datang.
Yanuar tersenyum. Ia menggenggam jari-jari tangan Risma lembut. "Kamu sudah siuman."
Perasaan senang Risma hanya bertahan sebentar. Tiba-tiba ia sedih, merasa bersalah kepada Yanuar karena telah membuat vila menjadi kacau. Ia pun menangis.
Tangan kanan Yanuar mengelus rambut Risma, dengan tangan kiri masih menggenggam telapak tangan adiknya itu.
"Maafin aku, Bang!" Risma memejamkan mata kuat-kuat. Ingatannya kembali melayang ke peristiwa demi peristiwa di vila.
"Kamu tidak salah," ucap Yanuar berusaha menenangkan Risma.
"Abang sudah tahu apa yang terjadi di vila?" Risma cemas.
Yanuar mengangguk.
"Maafin aku, Bang!" Air mata Risma kembali mengalir. Ia merasa sangat bersalah kepada kakaknya itu.
Yanuar menyeka air mata Risma menggunakan ibu jari. "Jangan merasa bersalah. Kamu juga jangan berpikir macam-macam dulu. Fokus saja sama pemulihan kesehatanmu."
Risma menggenggam telapak tangannya kuat-kuat. "Bang Yan, aku takut!"
Yanuar memeluk Risma, memberi kekuatan. "Ada abang di sini. Semua akan baik-baik saja, Ris!"
Tangis Risma semakin pecah. Yanuar adalah kakak yang paling memahami dirinya dan selalu melindunginya.
"Apa semua orang mati?" tanya Risma sangat cemas. Ia penasaran dengan nasib Faizin, juga mengkhawatirkan nasib Nando.
Yanuar semakin erat memeluk Risma.
"Jawab, Bang!" Risma penasaran.
Yanuar melepaskan pelukan. Ditatapnya Risma dengan lembut. "Masih ada satu yang terselematkan."
Hati Risma berdebar-debar cemas. "Siapa?"
"Anak muda seumuranmu. Abang lupa siapa namanya, padahal tadi polisi sudah memberitahu."
Risma menarik napas lega. Ia yakin itu Nando. "Gimana keadaannya, Bang?"
Yanuar terdiam.
"Gimana?" desak Risma.
"Jawab, Bang!"
Yanuar mendesah perlahan. "Anak itu masih dalam penanganan medis."
"Apa ia sudah sadar?"
Yanuar mengeleng.
Risma memejamkan mata. Dalam hati ia berdoa agar Nando segera sadar. Sungguh ia takut kehilangan lelaki itu.
"Abang sudah mendapatkan kamar VIP buat kamu." Yanuar tersenyum. Ia ingin mengalihkan pikiran adiknya dari hal-hal buruk.
Risma mendengus. "Aku mau pulang saja!"
"Iya, nanti abang akan bawa kamu pulang," ujar Yanuar. "Tapi malam ini kamu harus mencoba dulu kamar VIP yang abang pesan."
Risma menggeleng. "Aku mau pulang saja!"
Yanuar menatap Risma sedih. Kondisi adiknya sudah membaik, kata dokter bisa keluar dari rumah sakit besok. Tetapi ia tidak bisa memulangkan Risma jika nanti polisi menahan adiknya itu karena diduga terlibat dalam tindakan kejahatan di vila.
Yanuar yakin Risma tidak bersalah, tetapi polisi memiliki bukti cukup untuk menahan adik bungsunya itu.
Penangguhan penahanan telah Yanuar ajukan kepada kepolisian untuk Risma, tetapi ditolak. Selanjutnya ia menghubungi pengacara terkenal di kota ini. Sayangnya papinya menolak karena telah menyiapkan pengacara sendiri yang saat ini sedang dalam perjalanan.
Bagi Yanuar tidak masalah siapa yang akan menjadi pengacara Risma. Hanya saja ia khawatir, pengacara pilihan papanya itu akan membuat Risma semakin terpuruk. Pengacara itu adalah Zulkifli, yang sedang dijodohkan dengan Risma.
Yanuar tahu benar, Risma menolak perjodohan itu. Bahkan gara-gara itu, Risma sampai kabur dari Jakarta dan lebih memilih tinggal di Tegal bersamanya.
"Kenapa diam, Bang?" gugat Risma. "Ayo kita pulang!"
Yanuar mengangguk untuk menenangkan Risma. "Nanti ya?"
Ponsel Yanuar bergetar. Ia melirik Risma. "Abang terima telepon dulu di luar ya?"
Risma mengangguk.
Yanuar keluar IGD, kemudian menjawab panggilan telepon dari Zulkifli.
"Bang Yan, aku sudah sampai parkiran?" beritahu Zulkifli.
"Kamu langsung ke IGD saja!"
"Oke, Bang!"
Yanuar mengantongi ponsel ke saku celana dengan menanggung perasaan gelisah.