Keras Kepala

1656 Kata
Semewah-mewahnya ruang perawatan rumah sakit, tetap saja Risma merasa tidak nyaman. Ia hanya ingin pulang ke rumah kakaknya. Ia merasa kondisi badannya semakin membaik, hanya kepala saja yang kadang masih terasa sakit. "Besok kamu bisa keluar dari rumah sakit," beritahu Yanuar. "Garin juga sudah mengonfirmasi, sekitar setengah jam lagi akan sampai Tegal." "Papi?" Risma rindu papinya. "Papi baru bisa datang besok," jawab Yanuar. Risma mengangguk senang. Ia memaklumi jika papinya paling belakangan datang karena menyadari kondisi kesehatannya yang kurang baik. Yanuar mengelus rambut Risma. "Kami semua bersamamu, Ris. Apa pun yang tengah kamu hadapi saat ini, yakinlah kamu tidak sendiri." Risma mengangguk. "Bang Garin sudah sampai mana katanya?" "Tadi ia menelepon pas keluar gerbang tol," jawab Yanuar. "Seharusnya ia sudah sampai jika langsung ke sini, tetapi abang minta ia menjemput Rania dan Ersa." Senyum Risma terkembang. "Mbak Ersa sama Dek Rania mau datang?" "Iya!" Baru dua hari lalu, Risma tidak bertemu dengan Rania, tetapi rasanya lama sekali. Rania adalah anak Yanuar dan Ersa, keponakan satu-satunya. "Aku pernah janji sama Rania mau ngajarin rumus rubik." Risma mengerjap. "Pasti ia ke sini membawa rubik." Yanuar senang karena Risma sudah mulai bersemangat. Adiknya itu sangat dekat dengan Rania. "Kamu harus sabar menghadapi rasa penasaran Rania," ujar Yanuar. "Semalam saja ia ngambek gara-gara aku nggak bisa jelasin algoritma rubik yang kamu catetin itu. Abang mana tahu permainan begituan? Hahaha!" "Abang tahunya soal teh doang sih!" keluh Risma. Yanuar tersenyum, pura-pura malu. "Abang tahunya nyari duit yang banyak." "Sampai Mbak Ersa kesal karena sering ditinggal luar kota kan?" sergah Risma. Yanuar mengerjap. "Emang Ersa bilang begitu?" Risma memukul lengan Yanuar manja. "Abang nggak peka jadi suami!" Yanuar terkekeh. Risma pun ikut terlekeh meski itu membuat kepalanya sedikit terasa sakit. Tawa mereka berhenti seketika saat Zulkifli masuk. Zulkifli hanya berdiri di ambang pintu, tetapi itu cukup membuat Risma gelisah. Ia malas bertemu pengacara muda tersebut. Yanuar paham, Zulkifli ingin mengajaknya bicara. Maka ia bermaksud menemui pengacara itu. "Abang keluar sebentar ya?" pamit Yanuar kepada Risma. Risma mengangguk, sambil mengawasi Zulkifli. Yanuar mengajak Zulkifli keluar kamar. Mereka duduk di kursi depan kamar perawatan. "Aku sudah bicara dengan salah satu penyidik," beritahu Zulkfili. "Intinya kita punya peluang buat menangguhkan penahanan Risma." Yanuar merasa gembira mendengar kabar itu. "Syukurlah!" Zulkifli menatap Yanuar dengan mimik memohon. "Aku membutuhkan keterangan Risma." Yanuar menelan ludah. Ia paham pekerjaan seorang pengacara, hanya saja masalahnya adalah saat ini ia mencemaskan kondisi psikis Risma. "Kita harus bergerak cepat, Bang!" ujar Zulkifli. Yanuar mengangguk paham. "Tolong pelankan suaramu." Zulkifli mengangguk. "Aku mengerti Risma malas bertemu denganku. Tetapi tanpa keterangan Risma, kita sulit menyusun pembelaan," ucapnya lirih. Yanuar menggigit bibirnya sendiri. Ia merasa dilema. Papinya sudah menunjuk Zulkifli sebagai pengacara Risma, sementara ia tahu benar kalau adiknya malas bertemu dengan pengacara itu. "Aku memahami posisi abang," ujar Zulkifli. "Aku juga tahu abang bisa memberi pemahaman kepada Risma mengenai kasus ini. Jadi, aku akan ikut saja bagaimana baiknya." Yanuar menatap Zulkifli. "Aku akan usahakan buat meyakinkan Risma, tetapi kamu harus ingat, ini soal pembelaan hukum. Lupakan dulu soal perjodohan?" Zulkifli mengangguk paham. "Siap, Bang!" Yanuar tersenyum tipis. Hatinya masih gelisah. Jika diberi kuasa untuk menangani kasus yang sedang dihadapi Risma, tentu ia akan mencari pengacara lain, bukan Zulkifli. Yanuar tidak pernah mempersalahkan papinya menjodohkan Risma dengan Zulkifli. Ia hanya tidak mau adik bungsunya tertekan karena menolak perjodohan tersebut. Kadang Yanuar tidak memahami jalan pikiran Risma. Dari segi apa pun, Zulkifli adalah tipe suami idaman. Di usianya yang baru tiga puluh satu tahun, pengacara muda itu sudah memiliki reputasi gemilang. Sudah pasti kondisi perekonomiannya mapan. Wajahnya juga ganteng. Sayangnya semua itu belum mampu membuat Risma terkesan, bahkan bersikeras menolak perjodohan itu. Zulkifli seusia dengan Garin, kakak kedua Risma. Mereka pernah satu kelas di SMA. Komunikasi mereka sempat terputus karena keduanya sibuk dengan karier masing-masing dan baru berlanjut kembali ketika tanpa sengaja mereka bertemu dalam sebuah seminar. Garin yang akhirnya tahu kalau Zulkifli belum menikah, akhirnya memperkenalkan pengacara muda itu kepada Risma. Zulkifli menyukai Risma, tetapi tidak sebaliknya. Meskipun tahu sikap Risma biasa-biasa saja, Zulkifli tetap intens mendekati Risma. Ia juga pandai mengambil hati Satria, papinya Risma. Belakangan akhirnya Satria tahu kalau papinya Zulkifli adalah salah satu relasi bisnisnya. Suatu ketika papinya Zulkifli mengajak Satria untuk berbesanan. Kedua keluarga itu sepakat. Sayangnya Risma tidak mau menerimanya. "Aku tunggu kabar dari Bang Yan secepatnya." Zulkifli bangkit dari tempat duduk. Yanuar tersentak dari lamunan. Ia berdiri. "Aku juga ingin kasus ini segera selesai dengan baik." Zulkifli menyodorkan tangan kepada Yanuar. "Aku pamit dulu." Yanuar menjabat tangan Zulkifli. "Papi sudah siapin tempat tinggal buatmu kan?" "Iya, sebuah rumah mewah yang sebentar lagi akan disulap menjadi kantor." Yanuar merasa sedikit lega. Papinya memang memiliki sebuah rumah mewah di jantung kota Tegal. Itu akan menghemat biaya ketimbang menyediakan hotel untuk tim pengacara. *** Pada saat Yanuar masih berpikir bagaimana memberi pemahaman bahwa adiknya itu sedang tersangkut kasus dan akan ditangani tim pengacara yang dipimpin Zulkifli, tiba-tiba Garin mengacaukannya. "Kamu sudah ketemu Zul?" tanya Garin. Risma yang perasaannya sedang membaik tiba-tiba kesal. "Buat apa Zul ke sini?" "Gar, kita bahas itu nanti saja!" tegur Yanuar kesal. "Biarkan Risma kangen-kangenan sama Rania. "Kita harus bergerak cepat, Bang!" dalih Garin. "Polisi terus menyelidiki kasus ini. Kita harus lebih cepat dari mereka." Risma mengernyit bingung. Perasaannya menjadi tidak enak. "Polisi? Kasus? Ada apa ini?" Ersa peka terhadap situasi. Ia menggandeng Rania. "Kita ke kantin dulu yuk? Mama laper!" Rania menolak. "Aku masih mau main sama Tante Risma." "Iya, nanti setelah kita makan ya?" bujuk Ersa kepada anak semata wayangnya. Rania sebenarnya tidak mau, tetapi karena tangannya ditarik mamanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Jangan lama-lama tapi ya?" "Iya!" jawab Ersa sambil terus menggandeng Rania keluar kamar. Suasana menjadi hening dan tegang sepeninggal Ersa dan Rania. Yanuar ingin mengajak keluar dan meminta Garin agar tidak membahas soal kasus, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Risma di kamar sendirian. Lagi pula adik bungsunya sudah terlanjur penasaran. Risma menatap kedua kakaknya bergantian. "Kasus di vila?" tebaknya penasaran. Garin mengangguk. Yanuar melengos, tidak tega menjelaskannya kepada Risma pada saat kondisi adiknya itu belum benar-benar pulih. Risma tahu di antara kedua kakaknya tidak kompak. Maka ia mengejar Garin yang tampaknya lebih mudah untuk dimintai penjelasan. "Terus apa statusku pada kasus itu?" Alih-alih menjawab, Garin melirik Yanuar. Yanuar membuang muka, tampak kesal. Maka mau tidak mau, ia harus menjelaskannya sendiri. "Jawab, Bang!" Risma tidak kuasa menahan rasa penasaran. Hatinya sangat cemas, mengingat ia pernah diborgol polisi. Yanuar akhirnya membuka mulut. "Kita bahas saja di rumah." Risma terlanjur penasaran. Ia menatap Garin, meminta penjelasan. "Jawab saja, Bang Garin!" Garin mendesah tertahan. Dipeganginya telapak tangan Risma dengan lembut. "Sepertinya Bang Yan benar, Ris. Kita bahas ini besok di rumah." "Kenapa nggak sekarang aja?" gugat Risma, mengguncang-guncang tangan Garin. Tahu kalau Risma penasaran, Yanuar akhirnya menyerah. Ia mengambil kursi lantas duduk di dekat tempat tidur Risma. "Baiklah, Abang jelasin sekarang!" ujar Yanuar sambil melirik kesal kepada Garin. Yanuar mengelus rambut Risma. "Tapi kamu harus kuat menghadapinya!" Risma mengangguk. "Aku siap dengan apa pun yang akan kuhadapi." Yanuar menelan ludah. Ditatapnya Risma dengan teduh. "Pagi tadi polisi menelepon abang dan menjelaskan apa yang terjadi di vila. Mereka juga mengabarkan kalau kamu dirawat di rumah sakit." Risma mengerjap, bersabar karena tahu Yanuar akan bercerita dulu, alih-alih menjawab langsung pertanyaannya. "Abang langsung ke sini dan mendapati kamu tidak sadarkan diri," lanjut Yanuar. "Kabar baiknya kamu hanya kelelahan dan sedikit luka." "Terus?" Risma semakin tidak sabar. Yanuar membelai rambut Risma dengan tangan gemetar. Ia berdoa semoga adiknya siap mendengar kabar darinya. "Polisi menjelaskan bahwa mereka sudah mengidentifikasi para korban dan melakukan olah TKP. Mereka menemukan empat korban tewas tertusuk benda semacam kunci T dan satu korban dalam kondisi kritis." "Lalu apa statusku?" Risma tidak kuasa menahan rasa penasarannya. Ia berharap-harap cemas. Yanuar mendesah. "Tim penyidik menemukan kesamaan ciri di antara kelima korban, yaitu tertusuk kunci T. Satu-satunya yang hidup adalah kamu. Sehingga mereka menduga kamu terkait atas penusukan yang dialami kelima korban." "APA?" Sepasang mata Risma terbelalak. Ia sukar mempercayai ucapan Yanuar. "Mereka menduga aku pelakunya?" "Baru dugaan!" timpal Garin. "Tadi pagi, statusmu masih saksi." Risma berusaha bangkit. Ia tidak terima atas kenyataan dirinya diduga terkait dengan apa yang dialami korban. "Pelakunya Faizin, Bang! Setelah mengacaukan vila dan menusuk empat orang, ia bunuh diri dengan menusukkan kunci T ke dadanya sendiri." Yanuar mengangguk. "Abang percaya dengan kesaksianmu. Kamu enggak mungkin melakukannya. Tapi polisi bertugas sesuai prosedur. Mereka membutuhkan keteranganmu." Risma terdiam. Hatinya tidak keruan. Pikirannya kacau. Namun ia berusaha tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. "Kamu butuh pendampingan pengacara." Garin menimpali. "Papi sudah menyiapkan tim advokat. Abang harap kamu bisa bekerja sama dengan mereka." Pikiran Risma langsung tertuju pada Zulkifli. Tadi ia sempat melihat pengacara itu. Seketika lemaslah tubuhnya. "Zul yang akan memimpin pembelaan kamu," beritahu Garin. Risma membuang muka. "Apa nggak ada pengacara lain yang lebih hebat?" Garin meremas lembut jemari tangan Risma. "Papi sudah menentukannya." "Zul masuk ke dalam kehidupan keluarga kita gara-gara Bang Garin!" sergah Risma kesal. "Tapi Garin salah satu pengacara handal, Ris!" dalih Garin. "Masih banyak yang lebih hebat!" Risma menaikkan intonasinya. "Iya, Abang tahu, tapi kita nggak bisa menentang papi." "Bisa!" sahut Risma. "Biar nanti aku yang bicara!" Garin menggeleng lemah. "Jangan lakukan itu, Ris! Kondisi kesehatan papi baru saja membaik." Risma mendengus. Garin membujuk Risma. "Percayalah, urusan Zul di sini murni sebagai pengacaramu. Ia profesional, Ris!" Risma melotot. "Aku nggak yakin!" "Cobalah memahami situasi ini, Ris!" pinta Garin. "Lupakan sejenak masalah perjodohan itu. Abang tahu kamu nggak mau sama Zul, tetapi abang harap kamu mau kooperatif sama Zul dan timnya." Risma menggeleng. "Selama ada Zul dalam tim advokat, aku sulit buat bekerja sama dengan mereka." "Ris!" Garin menjadi kesal. Risma menghunus tatapan pada Garin. "Aku akan semakin merasa nggak nyaman jika berada di dekat Zul!" "Tolong jangan keras kepala, Ris!" Garin kehilangan akal untuk membujuk Risma. "Pokoknya aku mau nyari pengacara sendiri!" Risma membuang muka. Yanuar segera menengahi. "Kita tidak punya waktu untuk berdebat!" Garin menunduk. Risma mendengus. "Lebih baik kita lanjutkan pembahasan ini besok di rumahku!" Yanuar bersikap tegas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN