Status Naik

1497 Kata
"Beneran nanti di rumah ajarin rubik ya, Tante Ris?" Rania duduk manja di sebelah Risma. Wajahnya cemberut karena sejak semalam hingga menjelang siang ini, ia belum punya kesempatan untuk meminta diajarin cara menyelesaikan rubik kubus 4x4. Gadis kelas satu SD itu memang tidak bisa dijanjikan sesuatu. Ia akan mengejar sampai janjinya terpenuhi. Risma mengelus rambut keponakannya. "Iya, kalau di rumah kan kita punya waktu banyak." Ersa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli melihat bibir anaknya yang menggunung. "Nanti di rumah juga Tante Ris biar istirahat dulu." "Yah!" Rania melirik ibunya kecewa. "Lama lagi dah!" Risma terkekeh. Kehadiran Rania banyak membantu dirinya memperbaiki suasana hati. Stres akibat kasus yang menimpanya sedikit teralihkan dengan tingkah keponakannya yang menggemaskan itu. "Kelar sudah packingnya!" Ersa mendorong kopor ke sudut ruangan. Ia kemudian duduk di tepi tempat tidur Risma. Risma melirik jam di dinding. Sudah lebih dari setengah jam Yanuar mengurus administrasi. Ia khawatir kepulangannya akan terganjal statusnya dalam kasus tragedi vila. Cemberutnya Rania membuat suasana kamar sepi. Itu membuat Risma kembali teringat kepada Nando. Serta merta hatinya gelisah, memikirkan nasib lelaki itu. Tiba-tiba Risma punya ide. Ia mencolek tangan Ersa. "Kak Ersa, boleh aku minta tolong?" Ersa yang sedang menggerai rambutnya, spontan mengerjap. "Minta tolong apa?" Risma beringsut, mendekati Ersa. "Tapi maaf ini akan sangat merepotkan kakak." "Nggak papa. Asal jangan minta gendong aja!" canda Ersa. Risma tersenyum tipis. Selera humornya sedang jatuh. "Jadi begini, Kak. Ada satu korban yang masih hidup. Sepertinya masih berada di ICU." Risma menghentikan ucapannya, mencoba mencari kalimat yang pas. "Yang bernama Nando itu?" tebak Ersa memastikan. Risma mengangguk heran. "Iya. Mbak kok tahu namanya? "Bang Yan yang ngasih tahu. Ia juga dikasih tahu polisi." Ersa menjelaskan. "Kenapa memangnya?" Risma menarik napas panjang. "Bilang aja, Ris, kali aja kakak bisa bantu." "Saya nggak enak merepotkan Kak Ersa." Risma menunduk. Ersa menggenggam telapak tangan Risma sambil tersenyum meledek. "Kayak nggak pernah merepotkan kakak saja. Hehehe!" candanya bermaksud memancing senyum Risma. Risma tersenyum ala kadarnya. "Tapi aku mohon, Kak Ersa jangan bilang siapa-siapa." Ersa mengerjap. "Kakak nggak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari Bang Yan." "Kalau Bang Yan nggak papa," ujar Risma. "Asal papi sama Bang Garin jangan sampai tahu." Ersa menjadi penasaran. "Oke, kakak janji nggak akan ngasih tahu lainnya kecuali Bang Yan. Sekarang katakan, apa yang bisa kakak bantu?" Risma mengawasi pintu, memastikan tidak ada orang lain di sana. Kemudian ia lebih mendekat kepada Ersa. "Tolong cari tahu kondisi Nando." Ersa terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum mengerti. "Cuman itu aja?" Risma mengangguk. "Kirain apa?" Ersa terkekeh. Risma merasa jengah atas kekehan Ersa yang sepertinya bisa menebak isi hatinya. "Oke, kakak akan lakuin ini demi adik ipar tercantik sedunia!" Risma tersenyum antara senang dan malu. "Pasti Nando cukup spesial ya?" goda Ersa. Wajah Risma merah padam. "Oke, oke, nggak usah dijawab. Kakak sudah tahu jawabannya." Ersa terkekeh lebih kencang dari sebelumnya. "Terima kasih sebelumnya, Kak!" ucap Risma. Ersa mengerjap, kemudian ia mengacak-acak rambut Rania yang wajahnya masih cemberut. "Rania mau ikut mama jalan-jalan nggak?" Rania melirik ibunya dengan ekspresi datar. "Kalau nggak mau ya sudah. Rania temenin Tante Risma aja di sini!" Ersa bangkit dari tempat duduk. "Ikuutt!" Rania beringsut ke tepi tempat tidur. Gesturnya minta tolong agar dibantu turun. Ersa membantu Rania turun dari tempat tidur. Selepasnya ia menatap Risma. "Kamu sendirian nggak papa kan?" Risma mengangguk. "Nggak papa, Kak." "Nanti kalau Bang Yan datang, kamu bilangin aja apa adanya ya?" pinta Ersa. Risma kembali mengangguk. Ersa menggandeng Rania keluar kamar. Mereka berjalan menuju ruang informasi. *** Ersa mendapatkan informasi jika Nando masih berada di ruangan ICU. Ia tidak bisa ke sana dengan membawa anak kecil. Maka ia memutuskan untuk kembali ke ruangan Risma. Di sebuah koridor, dari jarak yang cukup jauh, Ersa melihat suaminya sedang mengobrol serius dengan seorang berjaket hitam yang ia duga seoramg polisi. "Kenapa berhenti, Mam?" Rania menggoyang-goyangkan tangan ibunya. Ersa melirik Rania. "Sebentar ya, Sayang?" Ia kembali memperhatikan suaminya yang sedang ngobrol dengan lelaki di depannya. Dari tempatnya berdiri jaraknya sekitar dua puluh meter, sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. "Mama liatin apaan sih?" Rania penasaran. Ia mengedarkan pandangan sampai akhirnya menangkap sosok ayahnya. "Itu papa, Mam!" Ersa mengangguk. "Iya, Sayang. Itu papa lagi ngobrol sama temennya." "Aku mau sama papa ah!" Rania hendak berlari. Beruntung Ersa sigap, segera meraih pergelangan tangan anaknya. Ersa menunduk agar pandangannya sejajar dengan pandangan Rania. "Kita balik ke kamar Tante Risma yuk?" Rania cemberut, kecewa karena ia ingin bersama papanya. "Sayang, kasihan Tante Risma sendirian di kamar. Nanti kalau tante butuh sesuatu gimana?" bujuk Ersa. Rania mengangguk meskipun bibirnya menggunung. "Anak pintar!" puji Ersa. Ia menggandeng Rania, berlalu dari tempat itu menuju kamar Risma. Sampai di kamar Risma, Rania masih cemberut. Ia lebih memilih duduk di matras ketimbang mendekati Risma. Ia masih kecewa kepada tantenya yang belum memenuhi janji untuk mengajarinya main rubik. Ersa membiarkan Rania duduk sendirian di matras. Ia mendekati Risma yang menyambut kedatangannya dengan perasaan harap-harap cemas. "Gimana, Kak?" tanya Risma penasaran ingin segera mendapatkan kabar kondisi Nando. "Tadi kakak ke bagian informasi dan petugasnya bilang kalau Nando masih berada di ruangan ICU," jawab Ersa. Ia melirik Rania sejenak, kemudian kembali menatap Risma. "Seharusnya kakak enggak ngajakin Rania." Risma paham, anak kecil tidak diperkenankan berada di sekitar ICU. "Jadi kakak belum ke ICU?" Ersa mengangguk dengan mimik penyesalan. "Kalau Bang Yan sudah kembali ke sini, biar nanti kakak ke ICU." Risma mengangguk paham. Meskipun kecewa tapi ia memahami kendala yang dihadapi Ersa. "Nggak usah juga nggak papa, Kak. Aku cuman khawatir aja sama...." Ersa menepuk bahu Risma pelan. Ia sebenarnya ingin cerita bahwa dirinya tadi sempat melihat Yanuar, tetapi ia mengurungkannya. Biarlah suaminya nanti yang cerita. Lagi pula ia tidak tahu persis apa yang suaminya bicarakan sampai dengan lelaki berjaket hitam itu, sampai begitu lama meninggalkan kamar. "Bang Yan kok lama ya?" gerutu Risma. Ia sudah tidak sabar untuk segera pergi dari rumah sakit. "Mungkin masih ngantri atau ada sesuatu yang harus ia urus!" Ersa sebenarnya tidak tega menyembunyikan sesuatu dari adik iparnya itu. Untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang berpotensi menggelisahkan hati, Risma mendaratkan pandangan kepada Rania. Rania membuang muka waktu Risma memandangnya. "Duh, keponakan tante manis dah kalau cemberut begitu!" goda Risma. Rania melirik sekilas Risma lalu kembali membuang muka. "Ya sudah, sambil menunggu papa, biar Tante ajarin kamu main rubik," ujar Risma. Wajah Rania seketika cerah. Ia menoleh kepada Risma. "Beneran?" Risma mengangguk mantap. Ia menjulurkan sepasang lengan kepada Rania. "Sini dong!" Spontan Rania menghambur kepada Risma. Begitu semangatnya sampai ia naik ke tempat tidur tanpa minta dibantu mamanya. "Hati-hati!" Ersa panik saat badan Rania melorot dari kasur. Ia membantu anaknya agar bisa naik. Rania langsung mengambil tempat duduk di sebelah Risma. "Mam, tolong ambilin rubik dong!" Ersa mengerjap pura-pura sebal. "Kenapa tadi nggak sekalian di bawa?" Ia mengambil rubik di matras kemudian memberikannya kepada anaknya. "Makasih, Mam!" Wajah Rania cerah ceria. Ia bersemangat untuk belajar cara memainkan rubik. Ceklek! Pintu terbuka. Yanuar baru saja masuk kamar dengan wajah tegang. Ersa tanggap. Ia menyongsong suaminya. "Kenapa wajahmu pucat begitu?" Yanuar memberi isyarat mata, mengajak Ersa keluar kamar. Ersa mengangguk. Ia melirik adik ipar dan anaknya yang sedang asyik main rubik. Ersa keluar kamar. Yanuar mendekati Risma. "Abang di luar dulu sebentar ya, Ris, Ran?" "Oke, Pap!" sahut Rania. Risma menatap Yanuar penasaran. Perasaannya tidak enak. "Ada apa, Bang?" "Nggak papa, cuman mau bahas mau beli oleh-oleh apa." Yanuar berbohong demi menjaga kondisi psikis Risma. Ia baru akan memberitahukan nanti pada adik bungsunya itu kabar dari kepolisian. "Jangan lama-lama!" pinta Risma cemas. Yanuar mengangguk. Ia segera menyusul istrinya di depan kamar. Yanuar mengajak Ersa agar menjauh dari kamar Risma. Mereka duduk di taman. "Ada apa, Bang?" tanya Ersa cemas. "Tadi aku lihat Bang Yan lagi ngobrol sama orang berjaket hitam." Yanuar melirik istrinya dengan perasaan gelisah. Kemudian pandangannya tertambat ke pohon palm di depannya. Ersa menggenggam telapak tangan Yanuar. "Sepertinya ada sesuatu yang penting?" Yanuar menatap istrinya. Wajahnya pucat. "Risma enggak bisa pulang ke rumah hari ini!" Ersa mengernyit. "Kenapa?" Yanuar menunduk. Hatinya semakin gelisah. "Polisi akan membawa Risma ke kantor." "Apa?" Ersa kaget. "Risma harus ditahan karena statusnya sudah naik dari saksi menjadi tersangka." "Astaghfirullah!" Ersa mengelus d**a. Ia ikut gelisah. "Polisi menjelaskan kalau mereka memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menahan Risma," jelas Yanuar. "Apa enggak bisa ditangguhkan?" "Zul dan timnya sedang menyusun pengajuan penangguhan penahanan." Yanuar menelan ludah. "Risma harus setuju untuk memberikan kuasa pembelaan kepada Zul dan timnya." "Apa pasti dikabulkan?" Ersa cemas. Yanuar mendesah. "Itu tergantung penilaian kepolisian. Jika dianggap memenuhi persyaratan kemungkinan dikabulkan masih terbuka. Hanya saja...." Ersa semakin cemas melihat kesedihan di raut suaminya. "Hanya saja kenapa?" Yanuar menoleh. "Biasanya penangguhan penahanan akan ditolak jika tuntutan hukumannya lima tahun atau lebih." "Astaghfirullah!" Tubuh Ersa melorot. Lututnya terasa lemas. "Memangnya berapa tuntutan hukuman buat Risma?" Alih-alih menjawab, Yanuar mengusap wajahnya. Ersa memeluk Yanuar erat, memberi kekuatan kepada suaminya, padahal ia sendiri sedang dikuasai kecemasan. "Kasus Risma sangat berat. Ada empat korban tewas dan satu dalam kondisi kritis." "Ya Allah!" Tubuh Ersa lemas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Risma ketika mendengar kabar ini
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN