Tanpa Pikir Panjang

1411 Kata
Ersa mendekap Yanuar erat. Ia terus memberi kekuatan pada suaminya itu. Hatinya juga cemas, tetapi ia yakin hati suaminya berlipat-lipat lebih cemas. Ersa paham, tidak mudah pada posisi Yanuar. Selama ini, suaminya itu sangat dekat dan paling bisa memahami Risma. Yanuar tahu adik bungsunya tidak mau ada Zulkifli dalam kehidupannya. Namun Yanuar tidak bisa membantah papinya yang sudah menunjuk Zulkifli sebagai pengacara Risma. Ersa paham benar, Yanuar mencemaskan kondisi psikis Risma yang bukan hanya harus menghadapi kasus berat, juga pasti akan semakin tertekan perasaannya ketika nanti harus sering bertemu Zulkifli. Ersa merasakan getaran tubuh Yanuar. Ia melirik wajah suaminya. Kedua pipi suaminya itu telah basah oleh air mata. Ia pun semakin memperat dekapannya. "Abang mau aku beliin teh hangat?" Ersa menawarkan diri, meski tahu itu akan ditolak. Yang ia tahu hanyalah harus meredakan gejolak perasaan suaminya. "Dekap saja aku sampai kamu lelah, Ersa." Yanuar menyeka air matanya. "Aku nggak pernah merasa lelah setiap kali mendekapmu. Aku bahkan tidak tahu apa itu lelah. Aku melakukannya lillah, Bang." Yanuar tersenyum mendengar kata-kata romantis istrinya. Ersa senang akhirnya Yanuar bisa tersenyum. "Aku minta maaf ya, Bang?" "Minta maaf untuk apa?" Yanuar terisak. "Karena ucapanku tadi mengutip status pesbuk temenku!" Yanuar tertawa sambil mengusap sisa-sisa air mata pada pipinya. "Tuh kan malah diketawain!" Ersa pura-pura merajuk. Ia melakukannya agar Yanuar terhibur. "Sejak kapan kamu bisa ngambek?" Yanuar terkekeh. "Diajarin sama Rania!" jawab Ersa asal. Yanuar kembali tertawa. Ia mengusap kedua pipi istrinya. "Terima kasih ya?" "Terima kasih buat apa?" Ersa bingung. "Selalu bisa memancing senyum dan tawaku. Kamu juga selalu berhasil meredakan tangisku," ucap Yanuar tulus. "Meskipun kadang suka ngambek setiap kali abang pulang larut malam?" Yanuar mengangguk. "Rumah kita nggak seru kalau nggak ada yang ngambek!" "Tapi sekarang ada Rania yang juga suka ngambek, hehehe!" Yanuar mengacak rambut Ersa. "Rania memang banyak meniru kamu. Selain ngambeknya juga selalu pandai memancing tawa." Ersa tersipu, merasa tersanjung. "Tapi Rania pandai seperti papanya." Yanuar tersenyum. Perasaan sesak dalam dadanya sedikit berkurang. Tanpa dikomando, Yanuar dan Ersa menoleh bersama ketika mendengar dehaman khas Satria, papinya Yanuar. Ersa melepas lingkaran tangan dari bahu suaminya. Mereka beranjak dari taman dan menyongsong Satria. Satria berjalan mendekati kamar perawatan Risma, menggunakan kursi roda yang didorong asistennya. "Papi sehat?" Yanuar mencium telapak tangan Satria bolak-balik. Hal yang sama juga dilakukan Ersa. "Sedikit lebih baik," jawab Satria. "Gimana keadaan Risma?" "Sudah membaik, Pap," jawab Yanuar. Ia membukakan pintu untuk Satria. "Silakan masuk saja. Risma lagi mainan rubik sama Rania." "Papi kangen Risma!" ujar Satria. Matanya berkaca-kaca. Ersa mengambil alih tugas asisten Satria. Ia mendorong kursi roda papi mertuanya ke dalam kamar. "Opaaa!" Rania teriak kegirangan melihat kakeknya datang. Risma tersenyum bahagia. Akhirnya papinya datang. Ia beringsut dari atas tempat tidur, bermaksud menyongsong papinya. Satria memberi isyarat tangan agar Risma tetap berada di atas tempat tidur. Tetapi rasa rindu Risma sudah tidak terbendung. Ia tetap turun dari kasur dan berjalan menyongsong papinya. "Papi, aku kangen!" Risma memeluk erat Satria. Momen itu membuat Ersa berkaca-kaca karena terharu. Rania merentangkan kedua tangan meminta tolong agar ada yang membantunya turun dari atas kasur. "Aku juga pengen memeluk opa!" Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat wajah memelas Rania. Ersa buru-buru membantu anaknya turun. Begitu menginjak lantai, Rania langsung memeluk Satria. Risma melepas pelukan pada papinya, memberi ruang pada Rania. "Aku juga kangen opa!" Rania memeluk Satria. Satria melingkarkan kedua lengan pada bahu cucu satu-satunya itu. Rania melepas pelukan. "Opa bawa oleh-oleh apa?" "Rania!" tegur Ersa, merasa tidak enak kepada papi mertuanya. "Opa kan baru datang!" "Tapi opa janji mau bawain boneka buaya!" ujar Rania pada mamanya. Satria terkekeh. Ia memberi isyarat kepasa asistennya agar menyerahkan kresek besar padanya. Kresek besar itu berisi boneka buaya. Satria memberikannya kepada Rania. "Ini buayanya. Jangan lupa dikasih makan ya?" "Horee!" Rania langsung membuka kresek dan mengambil isinya. Wajahnya sangat senang. Ditimangnya boneka itu seolah itu anaknya. Keluarga Satria saling melepas kangen selama belasan menit. Tibalah waktunya mereka membahas sesuatu yang serius. Waktu mereka tidak banyak karena pihak kepolisian memberi waktu kepada Yanuar sampai pukul 15:00 sebelum nantinya akan membawa Risma ke kantor polisi. Ersa mengajak Rania ke kantin, sedangkan asisten Satria menunggu di depan kamar. Suasana menjadi menegangkan ketika Satria menyuruh Yanuar agar merapat ke tempat tidur Risma. "Kita harus bergeraak cepat!" cetus Satria. Ia menatap Risma teduh. "Satu hal yang harus kamu tahu, papi percaya kepadamu. Kamu, jangankan menghilangkan nyawa orang, memitas semut saja nggak tega." Risma mengangguk terharu. Kepercayaan papinya sangat penting. Itu memompa semangatnya berlipat-lipat. "Terima kasih papi dan abang-abangku semua percaya sama aku." Mata Risma sembab. "Aku sunguh menyesal telah membuat vila kacau dan menyebabkan Pak Jenggot mati. Kalau tahu kejadiannya akan begini, pasti aku nggak akan menggunakan vila sebagai tempat reuni." Satria menggenggam telapak tangan Risma. Dengan lembut, ia menyeka air mata anak bungsunya itu menggunakan ibu jari. "Semua sudah terjadi. Jangan sesali. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menghadapi kasus ini." Risma mengangguk. Ia menarik telapak tangan Satria, kemudian mengecup punggung telapak tangan papinya. "Kita butuh tim pengacara." Satria mengatakan itu dengan suara selembut mungkin. Ia sudah mendengar laporan dari Garin bahwa Risma enggan jika Zulkifli menjadi pengacarnya. "Langkah pertama kita adalah mengajukan surat penangguhan penahanan," beritahu Satria. "Tim pengacara sedang menyusunnya. Kamu hanya perlu bekerja sama dengan mereka." Bibir Risma bergerak-gerak. Ia ingin menanyakan perihal Zulkifli, tetapi lidahnya tercekat. Ia tidak mau pertanyaannya akan membuat kecewa papinya. "Papi tahu kamu enggan bertemu Zul." Satria menatap Risma, menunggu respon anak gadisnya itu. Risma balas menatap dengan sorot ingin protes. "Tapi papi pastikan Zul akan profesional." Risma menunduk. Ia percaya kepada papinya. Hanya saja ia tidak yakin Zulkifli akan seperti yang dikatakan papinya. "Jika Zul tidak profesional, mencampuradukan kerjasama dengan hal lain, papi akan menggantinya kapan saja!" Satria berkata pelan tetapi tegas. Risma menatap papinya sedikit lega. "Papi serius?" "Kapan pernah papi main-main?" Satria balik bertanya. "Nanti papi akan membuat perjanjian dengan Zul. Bisa dibilang ini ujian baginya. Jika melanggar, berarti ia akan kehilangangan respek dari papi." Yanuar tersenyum gembira. Pernyataan papinya sangat tegas dan lugas. Menurutnya itu solusi yang pas. "Kamu setuju?" Satria meremas jari-jemari tangan Risma. Risma menatap papinya lekat-lekat. Otaknya berpikir cepat. Ia harus segera memberi keputusan. "Jika kamu setuju. Saat ini juga papi akan membuat surat perjanjian dengan Zul!" Satria menegaskan. Penegasan dari papinya membuat keraguan dalam hati Risma luntur. "Kalau kamu menolak, papi akan cari pengacara lain." Satria menunduk. Ada guratan sedih pada wajahnya. Mendengar papinya mengalah, justru menbuat Risma menjadi tidak enak hati. "Baiklah, Pap," ujarnya tanpa pikir panjang. Sejak kecil Risma sudah terbiasa untuk mengiyakan semua keinginan papinya, meskipun hatinya menolak. Dan di antara semua keinginan papinya itu, baru kali ini papinya memberi opsi 'tidak' padanya. Itu membuatnya tidak berpikir lama untuk menurutinya. Apa lagi tadi ia sempat menangkap gurat kesedihan di hati papinya. "Kalau begitu deal ya kita kuasakan pembelaan kasus ini pada Zul dan timnya?" Satria menegaskan. Risma mengangguk. "Aku ingin semua segera selesai." Yanuar menepuk bahu Risma. "Papi sudah bijaksana. Abang harap kamu bisa bekerjasama dengan tim pengacara." "Iya, Bang." Risma tiba-tiba menangis. "Bagaimana dengan keluarga Pak Jenggot, Bang?" Yanuar mendesah tertahan. Dadanya serasa sesak. "Pak Jenggot akan dikebumikan sore ini setelah autopsinya selesai." Tangis Risma semakin menjadi. Ia menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya. "Ini bukan salahmu, Ris!" Yanuar membesarkan hati Risma. "Abang sudah urus semua, mulai dari persiapan penguburan sampai memberi santunan kepada ahli warisnya." "Jenggot sudah papi anggap sebagai bagian dari keluarga kita," timpal Satria. "Nanti papi akan bertakziyah ke sana." Risma menyeka air matanya. "Aku takut keluarganya menyalahkanku." Yanuar menggeleng. "Keluarganya menyerahkan kasus ini pada kepolisian. Mereka telah mengikhlaskan Pak Jenggot. Jadi, kamu jangan lagi memelihara ketakutan-ketakutan yang hanya akan membuatmu terpuruk." "Benar kata abangmu, Ris!" timpal Satria. Risma mengambil ponsel dari atas meja di dekatnya. Ia menyerahkannya kepada Yanuar. "Ponsel ini milik temenku, namanya Desi. Ia salah satu korban meninggal. Kartu SIM Card-nya punya Pak Jenggot. Semalem aku pake buat menelepon polisi. Tolong abang simpan, barangkali aja bisa menjadi bukti meringankan." Yanuar menerima ponsel itu dengan bingung. "Kok bisa ponsel dan SIM Card-nya berasal dari dua pemilik yang berbeda?" "Ponsel Pak Jenggot mati," jawab Risma. "Sementara ponsel Desi SIM Card-nya nggak ada pulsa." "Ponsel kamu di mana?" tanya Yanuar penasaran. Risma mendengus. "Ceritanya panjang. Intinya ponsel-ponsel kami diambil Faizin lalu dirusak." "Nanti bisa kamu ceritakan pada tim pengacara," saran Satria. "Sekarang kamu istirahatlah. Beberapa jam lagi, Zul datang." Meskipun sudah mendapatkan jaminan Zul tidak akan mencampuradukan penanganan kasusnya dengan perjodohan mereka, tetap saja Risma merasa eneg setiap kali mendengar nama Zulkifli disebut. "Ersa sama Rania ke mana?" tanya Satria kepada Yanuar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN