Permohonan Penangguhan Penahanan

1633 Kata
Selepas mengajak makan Rania di kantin, Ersa menitipkan Rania kepada asisten pribadi Satria. Ia langsung ke ICU untuk memenuhi permintaan Risma. Di koridor ICU, Ersa melihat ada seorang polisi yang berjaket hitam sedang berjaga. Tidak jauh dari polisi itu ia melihat seorang kakek sedang duduk di atas kursi roda didampingi seorang lelaki muda yang ia taksir berusia sebaya dengannya. Ersa mendekati sang kakek. "Permisi, maaf mengganggu." Sang Kakek hanya menoleh sekilas, lantas tidak acuh. Sorot matanya layu. Tidak tampak gairah kehidupan di wajahnya. Lelaki muda yang berada di dekat sang kakek menyahut kepada Ersa. "Ada apa ya, Mbak?" Wajahnya menyiratkan kecemasan sekaligus kecurigaan. Ersa mengulas senyum jengah. Ia mengulurkan tangan "Saya Ersa." Lelaki muda menjabat tangan Ersa bingung. "Lothar Matheus. Panggil saja saya Math! Mbak Ersa ada keperluan apa?" Ersa bingung harus menjawab apa. Jika ia memperkenalkan diri sebagai kakak ipar Risma belum tentu lelaki muda itu paham. "Saya ke sini karena ingin tahu bagaimana keadaan Nando." Math mengernyit. Pandangannya menyisir penampilan Ersa dengan sorot curiga. Merasa risih, Ersa merasa perlu untuk langsung bertanya. "Kalau boleh tanya, apa Mas Math masih keluarga pasien di ICU ini? Atau barangkali keluarga Nando?" Sang kakek yang tadi kurang bersemangat, seketika menoleh kepada Ersa. "Saya Arya, opanya Nando!" Ersa merasa lega. "Senang berjumpa dengan Anda, Pak Arya. Sayang sekali kita dipertemukan dalam situasi seperti ini. Saya turut prihatin dengan apa yang dialami cucu Anda." "Terima kasih," jawab Arya lirih, suaranya nyaris tidak terdengar. "Mbak Ersa kenal sama Nando?" Math penasaran. Ersa bingung harus menjawab apa. Namun ia merasa harus menjelaskan apa adanya. "Saya pemilik vila di mana musibah ini terjadi." Math mematung, menatap Ersa nanar. Sejenak kemudian wajahnya mendadak sedih. "Saya tidak pernah menyangka akan terjadi musibah ini." Ersa menunduk penuh penyesalan. "Mbak apanya Risma?" tanya Math. Tatapannya penuh selidik. "Saya kakak iparnya Risma," jawab Ersa. Math membuang muka. Hatinya masih pedih. Jiwanya masih shock. Adik bungsunya masih koma di ICU karena mengalami penusukan dan kekurangan banyak darah. Yang paling membuatnya miris adalah badan Nando babak belur dan penuh luka. Math mendapatkan keterangan dari kepolisian bahwa Nando adalah satu-satunya korban penusukan yang masih hidup. Empat lainnya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Kelima korban itu mengalami penusukan dengan ciri yang sama, yaitu tertusuk kunci T. Dari kepolisian Math juga mendapatkan informasi, ada satu orang yang tertangkap basah menindih salah satu korban. Korban masih dalam keadaan hidup ketika petugas kepolisian datang kemudian menangkap orang yang menindih korban tersebut. Beberapa jam lalu, pihak kepolisian sudah menetapkan orang tersebut sebagai tersangka, tetapi belum ditahan karena masih menjalani perawatan. Math mencoba menggali keterangan dari salah satu petugas kepolisian. Ia mendapatkan informasi bahwa tersangka adalah bagian keluarga dari pemilik vila, tempat kejadian perkara. Kini pemilik vila sudah ada di depan Math. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hatinya sangat sedih dengan nasib Nando, sekaligus marah. Namun saat ini ia lebih memilih diam. Jika bereaksi, takut tidak bisa menahan emosi. "Sekali lagi saya minta maaf karena musibah ini terjadi di vila saya." Ersa mencoba menetralisir suasana yang menjadi tegang setelah ia mengaku sebagai pemilik vila. Arya menoleh kepada Ersa. "Jadi adik Anda bernama Risma?" "Iya, Pak." Arya tersenyum tipis. "Saya juga mau mengucapkan rasa prihatin karena adik Anda ditetapkan sebagai tersangka." Ersa memaksakan diri untuk tersenyum, padahal dalam hati ia merasakan kepedihan mendalam. "Saya tidak percaya kalau adik Anda pelakunya!" Arya berkata tegas meski suaranya terdengar lemah. "Saya yakin kalau pelakunya adalah Faizin!" "Tapi Pak Faizin adalah korban. Beliau juga sudah meninggal, Opa." Math tidak sependapat. Arya terkekeh sinis kepada Math. "Kamu sama saja dengan papimu. Kalian semua tidak mau ada yang percaya pada Opa. Lihatlah sekarang Nando, akibat percaya kepada Faizin akhirnya bernasib nahas!" Math menelan ludah. Ia tidak berani untuk menyanggah lebih jauh kepada opanya. Ia memilih bungkam. Ersa menjadi serba salah, melihat ketegangan antara kakek dengan cucu di hadapannya. Dalam hati ia merasa lega karena Arya percaya kalau Risma bukan pelakunya. "Boleh saya meminta nomor telepon Anda?" tanya Math. "Boleh." Ersa meyodorkan ponselnya kepada Math. "Atau begini saja. Anda ketik nomor Anda, biat nanti saya simpan." Math menerima ponsel Ersa sambil melirik kesal. Perempuan itu memang tidak bersalah, tetapi karena masih kakaknya Risma, sehingga ia sulit untuk berpura-pura nyaman di dekatnya. Dengan menanggung perasaan marah, Math mengetikkan dua belas digit angka pada ponsel Ersa. Selepasnya ia melakukan missed called ke ponselnya sendiri. "Sepertinya kita perlu bicara!" Math mengembalikan ponsel kepada Ersa. Ersa mengangguk. "Sepertinya begitu. Saya juga ingin meluruskan semuanya agar tidak ada kesalahapahaman mengenai kejadian di vila kami." Math tersenyum sinis. "Itu ranah kepolisian. Sudah selayaknya kita mempercayai mereka." Ersa memahami sikap Math yang tidak menyenangkan. Ia pun merasa mungkin akan bersikap sama jika berada di posisi itu. "Lalu apa sebenarnya tujuan Anda kemari?" selidik Math. "Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaan Nando," jawab Ersa. "Apa peduli Anda?" Math mulai terpancing emosi. Ersa berusaha sabar. Ia tidak mau terbawa suasana. "Semua masih dalam proses hukum. Saya pikir akan lebih bijak kalau kita saling mendoakan yang terbaik bagi adik-adik kita." Math melengos. Sulit baginya untuk mendengar ucapan Ersa. Hatinya masih dikuasai amarah yang tertahan dalam hati. Arya mencoba menengahi. "Nando masih koma, belum bisa dijenguk. Terima kasih atas perhatian Anda." Ersa mengangguk respek pada Arya. "Terima kasih juga atas waktunya. Saya permisi." Arya mengerjap. Seulas senyum tersungging dari bibirnya. "Jangan gentar. Kebenaran akan menang!" "Terima kasih!" Ersa merasa terharu. Ucapan Arya sedikit membuat perasaannya menjadi lebih baik. *** "Kamu dari mana?" tanya Yanuar ketika Ersa baru saja masuk kamar perawatan Risma. Ersa bingung harus menjawab apa. Di kamar ada papi mertuanya. Kalau ia menjawab apa adanya, papi mertuanya akan tahu, padahal ia sudah janji pada Risma hanya akan memberitahu apa yang telah ia lakukan pada Yanuar saja. Melihat Ersa tampak serba salah, Risma bantu menjawab. "Tadi aku minta tolong sama Kak Ersa buat itu, mmhh, anu, arrgghh." Risma memegang kepalanya, pura-pura sakit. "Kamu kenapa?" Satria cemas. Ia mendekati Risma, memegang kepala anak bungsunya itu. "Nggak papa kok, Pi, cuman nyeri sedikit. Sekarang udah nggak." Risma berujar, bermaksud agar papinya berhenti mencemaskannya. Selagi Satria sedang fokus sama Risma, Ersa mencolek lengan Yanuar. Ia berbisik ke telinga suaminya itu. "Nanti aku ceritain. Kalau sekarang nggak bisa, soalnya ada papi. Aku udah janji sama Risma cuman mau cerita sama kamu aja." Yanuar mengangguk paham. Ersa baru sadar kalau Rania tidak berada di kamar. "Anak kita mana, Bang?" Ia celingak-celinguk. "Rania sama asistennya papi. Mungkin lagi main perosotan di taman," jawab Yanuar. "Oh ya sudah kalau begitu." Ersa merasa lega. Sekarang ia justru mengkhawatirkan suaminya. "Bang Yan belum makan siang kan?" Yanuar menggeleng lemah. "Aku belum laper." "Abang harus makan. Aku beliin nasi padang ya?" "Nggak usah, nanti saja!" Yanuar mendesah pelan. "Aku baru akan sedikit tenang kalau Zul sudah mengabari soal penangguhan penahanan Risma." Ersa terdiam. Ia menduga barangkali tadi Zul sudah mendapatkan kuasa dari Risma untuk menangani kasus ini saat dirinya ke ICU tadi. "Zul cekatan sekali," puji Yanuar. "Tadi beberapa menit setelah kamu keluar, Zul dan timnya ke sini. Begitu Risma memberi kuasa, mereka langsung bergerak cepat mengajukan permohonan penangguhan penahanan buat Risma." "Syukurlah!" ucap Ersa merasa lega. Akhirnya Risma bisa kooperatif, mau memberi kuasa hukum pada Zulkifli. Tadinya ia mengira itu akan sulit terjadi. "Zul dan timnya bahkan belum sempat istirahat sejak sampai rumah sakit ini," tambah Yanuar. "Mereka profesional banget ya, Bang?" puji Ersa. "Tapi bagaimana ceritanya sampai Risma setuju menggunakan pengacara Zul?" "Nanti aku ceritain!" goda Yanuar, membalas istrinya yang tadi menggunakan kalimat tersebut padanya. Ersa pura-pura merajuk. "Ih, Abang, kan ini bukan rahasia!" Yanuar terkekeh. Ia melirik Satria dan Risma yang sedang asyik ngobrol. "Tadi papi berhasil membujuk Risma agar mau kasusnya ditangani Zul. Papi juga meyakinkan Risma bahwa Zul akan profesional dan tidak akan mencampuradukan soal perjodohan pada masalah ini." Ersa mengangguk-angguk. "Padahal tanpa dibujuk pun sebenarnya Risma nggak berani membantah papi." "Memang!" timpal Yanuar. "Tapi biasanya Risma akan menerimanya dengan terpaksa." "Kalau tadi gimana?" Ersa penasaran. "Kalau tadi tampaknya Risma bisa menerima dengan lapang." Ersa merasa senang mendengarnya. Ia melingkarkan lengan ke pinggul suaminya. Zul membalas dengan membenamkan sebelah pipi istrinya ke dadanya. Ceklek! Terdengar daun pintu terbuka. Semua menoleh. Zulkifli berdiri di ambang pintu. Yanuar mengerti, Zulkifli ingin bicara di luar. Maka ia menemuinya. "Kita bicara di luar saja!" Wajah pengacara itu tampak tegang. Itu membuat Yanuar merasa cemas. Mereka duduk di kursi depan kamar. Zulkifli menatap Yanuar. Mimiknya antara tegang dan penyesalan. "Kami sudah ajukan permohonan penangguhan penahanan buat Risma." "Lalu apa hasilnya?" Yanuar berharap-harap cemas. "Mereka sedang meninjaunya." Zulkifli menelan ludah sambil berusaha tersenyum. "Keputusan diterima atau tidaknya baru bisa kita ketahui paling cepat besok siang." Lutut Yanuar terasa lemas. "Apa nggak bisa sebelum itu?" "Itu hak kepolisian. Kita tidak bisa mendesak mereka untuk mempercepatnya." Zulkifli menjelaskan. Yanuar bengong. Pikirannya seolah kosong. Ia tidak tahu harus bagaimana cara menyampaikan pada Risma bahwa sore ini adiknya itu harus mau dibawa polisi ke sel tahanan. "Kalau Bang Yan mau, biar aku aja yang nyampein ini ke Risma." Zul menawarkan diri. Ia memahami situasi sulit yang sedang dihadapi Yanuar. Yanuar menggeleng. "Biar aku saja!" "Sebentar lagi polisi datang," beritahu Zulkifli. Ia pun tidak kalah gelisah. Betapa gadis yang ia idamkan sekarang harus berhadapan dengan masalah hukum dan mau tidak mau harus mendekam di tahanan. "Kamu di sini saja dulu," pinta Yanuar. "Aku harus sampein ini sekarang." Zulkifli mengangguk, memberi dukungan kepada Yanuar. Yanuar masuk kamar. Satria dan Risma serempak memusatkan pandangan padanya. Wajah keduanya tampak tegang, berharap-harap cemas. Yanuar duduk di sebelah Satria. Ia terdiam selama beberapa detik. Melihat mendung di wajah Yanuar, membuat Risma cemas kalau Zulkifli membawa kabar buruk. "Ada kabar apa?" tanya Satria kepada Yanuar. Yanuar menarik napas panjang. "Zul nyampein kabar kalau polisi baru akan memberi keputusan besok, diterima atau ditolaknya permohonan penangguhan tahanan Risma." Meski sudah menata hati atas semua keputusan, Risma tetap saja merasa kecewa. "Apa aku akan ditahan?" Yanuar mengangguk, tidak tega. Satria menghela napas berat. Dipeluknya Risma erat-erat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN