Pertanyaan Pertama

1706 Kata
Risma memeluk erat papinya. Air matanya terus mengalir sejak kedatangan dua polwan untuk menjemputnya. "Aku nggak mau ditahan, Pi! Aku nggak mau!" Satria mengelus rambut Risma. "Papi janji akan membelamu dan membuktikan kalau kamu nggak bersalah. Kamu harus kuat menghadapi ini. Kamu pasti bisa." Risma menarik sepasang lengan dari bahu papinya. "Aku takut, Pi!" Satria mengangguk. "Kamu nggak pernah takut sama apa pun. Kamu pasti bisa melalui ujian ini, Nak!" Ia menyeka air mata pada sepasang pipi Risma. Alih-alih berhenti, air mata Risma semakin deras mengalir. "Papi harus tetap sehat demi aku. Janji ya, Pi?" Satria merespon permintaan Risma dengan kembali mendekap erat gadis bungsunya itu. Cukup lama sepasang ayah dan anak saling berdekapan, seolah mereka tidak akan bertemu lagi. Yanuar mendekati Risma dan Satria. Ia ikut larut dalam dekapan itu. Tidak lama berselang, Garin menyusul. Sehingga keempat orang sedarah itu tenggelam dalam satu dekapan yang mengharukan. Suasana kamar mencekam, sunyi, hanya terdengar isak dari semua yang berada di ruangan itu. Zulkifli menyaksikan momen tersebut dari ambang pintu sambil sesekali menyeka air mata. Kedua polwan yang bertugas menjemput Risma saling pandang. Mereka bercakap melalui mimik dan gestur. Mereka sepakat untuk memberi sedikit waktu pada keluarga Risma. Ersa sengaja pulang ke rumah lebih awal. Itu ia lakukan karena tidak ingin melihat kesedihan di wajah Rania pada saat harus melepaskan Risma dijemput polisi. Ia pasti akan kewalahan menjawab pertanyaan anaknya yang selalu penasaran terhadap sesuatu. Setelah merasa cukup memberi waktu, kedua polwan saling bertatap. Mereka sepakat untuk masuk kamar bersamaan. Melihat kedatangan kedua polwan, Satria melepas pelukan. Ia mengusap sepasang pipi Risma. "Papi sayang kamu!" Risma mengangguk. "Aku juga sayang papi!" Yanuar melirik kedua polwan. Ingin sekali ia meminta kepada mereka agar diberi waktu satu atau dua jam lagi, tetapi ia mengurungkannya. Ia pikir lambat atau cepat, Risma akan tetap dibawa ke kantor polisi. "Maaf, kami harus segera membawa saudari Risma," ujar salah satu polwan. "Kiranya sudah cukup kami memberi banyak waktu. Bapak-bapak bisa menjenguk atau menelepon saudari Risma setelah ini." Risma mencengkeram lengan Yanuar kuat-kuat. Sungguh ia merasa takut. Bayangan akan mendekam di sel tahanan, tanpa adanya kebebasan, membuat hatinya pedih. Namun, ia berusaha untuk kuat menghadapi ujian ini. Meskipun stres tapi ia harus berpura-pura tegar demi papinya. Ia tidak mau papinya ikut stres karena sudah pernah mengalami stroke. "Doakan aku, Papi, Bang Yan, Bang Garin." Risma menatap mereka satu per satu sambil susah payah memasang senyum. "Kami semua selalu mendoakanmu, Nak!" Satria meremas jemari Risma. "Kami pasti akan segera mengeluarkanmu, Ris!" Yanuar mengecup kening Risma. Garin mengacak rambut Risma. "Semangat!" Risma mengangguk. Ia meraih tas lalu turun dari kasur. Badannya terasa berat untuk digerakkan. Kedua polwan mengapit Risma, mereka berjalan keluar kamar. Satria dan kedua anak lelakinya mengantar kepergian Risma. Sampai di depan pintu. Risma berhenti. "Beri aku waktu bicara pada pengacaraku, Bu!" pinta Risma kepada kedua polwan yang mengapitnya. "Dua menit saja, ya?" ujar salah satu polwan. "Terima kasih," ucap Risma. Zulkifli mendekat kepada Risma. "Aku dan tim akan mati-matian membela kamu, Ris!" Risma menatap Zulkifli dengan mimik datar. "Aku percaya padamu, jadi tolong jangan salah gunakan kepercayaan itu." "Pasti, Ris!" ujar Zulkifli mantap. Risma memasang senyum, meski ia harus bersusah payah melakukannya. "Terima kasih!" Zulkifli mengangguk. "Semangat, Ris!" Risma menoleh ke arah keluarganya. Air matanya kembali mengalir. Tatapannya terus terarah kepada mereka, sampai kedua polwan membimbingnya untuk berjalan menuju mobil tahanan. Risma dan kedua polwan yang menjemputnya berjalan menyusuri koridor. Beruntung Risma diperlakukan layaknya bukan tahanan. Ia tidak diborgol dan sikap kedua polwan juga tidak terlalu berlebihan mengawalnya. Sehingga perjalanan mereka tidak mengundang perhatian orang lain. Risma tidak menyadari, di sebuah tikungan, Math tengah memperhatikannya dari kejauhan. Kakak sulung Nando itu memandangnya dengan perasaan campur aduk. Setiap langkah yang dijejakkan Risma terasa berat. Apalagi ketika ia masuk ke dalam mobil tahanan, rasanya seperti akan menjalani hukuman gantung. Sungguh tidak pernah terlintas dalam benaknya ia akan mengalami musibah sepahit ini. Para polisi memang memperlakukannya dengan baik. Ia layaknya penumpang biasa. Tangannya tidak diborgol seperti kemarin di vila. Namun, ia tetap saja merasa tertekan karena akan menjalani hari-hari di sel tahanan. Ia tidak tahu akan sampai kapan, hanya saja ia berharap semua ini cepat selesai dan ia bisa bebas seperti sedia kala. Rumah sakit tempatnya dirawat berada di kota, sedangkan kantor polisi tempatnya harus menjalani proses hukum berjarak sekitar lima belas kilometer. Seharusnya itu memakan waktu yang cukup lama. Namun Risma merasa perjalanan itu sangat cepat. Selama di dalam mobil, bayangan Risma tidak lepas kepada wajah Nando dan Faizln. Ia sangat mencemaskan keadaan Nando. Ia tidak mau terjadi sesuatu terhadap lelaki itu. Betapa ia akan menyesal seumur hidup jika nyawa Nando tidak terselamatkan karena ia sempat tidak mempercayai lelaki itu. Ketidakpercayaannya itu membuatnya teledor, meninggalkan Nando dalam mobil hanya berdua saja dengan Faizin. Mengingat Faizin membuat darah Risma seolah mendidih. Ia sangat geram kepada lelaki tua itu yang pandai berpura-pura baik dan bersikap bijak, padahal ternyata sangat keji membunuh dua orang temannya dan seorang penjaga kebunnya. Risma tidak habis pikir ada orang sekeji Faizin. Setelah membunuh satu per satu korbannya, lelaki itu masih bersikap tenang. Bahkan sebelum mati, lelaki itu dengan liciknya merencanakan dan mengondisikan agar dirinya berada pada posisi sebagai pelaku. "Silakan turun!" ujar salah satu polwan. Risma terkesiap. Rupanya ia telah sampai di depan kantor polisi. Ia pun keluar dari mobil dengan hati berat. Mata Risma seketika nanar, melihat gedung markas polisi. Lututnya terasa lemas untuk digerakkan. Seolah ia tidak sanggup untuk melangkah. "Mari!" Salah satu polwan menggandeng Risma agar berjalan bersamanya. Tidak ada pilihan lain, Risma harus kooperatif. Andai punya kekuatan untuk berontak pun, ia akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Ia merasa harus mengikuti semua prosedur ini. Ia akan membuktikan dirnya tidak bersalah. Karena melamun, tanpa sadar tahu-tahu Risma sudah berada di sebuah ruangan. "Silakan duduk!' Seorang polisi di balik meja mempersilakan Risma. Risma merapatkan jaketnya. Ia meletakkan p****t pada kursi dengan menanggung perasaan tidak keruan. "Saya Faisal Basri!" Polisi berusia tiga puluh tiga tahun memperkenalkan diri. "Apakah saudari yang bernama Risma Devita, usia dua puluh enam tahun?" Risma mengangguk. Lidahnya terasa kelu. Ini kali pertama ia berurusan dengan polisi. "Saya belum mendengar jawaban Anda!" Faisal mengingatkan. Senyum tegas ia ulas. "Iya, Pak!" jawab Risma parau. "Saya Risma Devita." Faisal menatap Risma. "Anda dalam keadaan sehat?" "Iya." "Baik, saya adalah petugas yang menangani kasus Anda." Faisal melirik layar komputer. Selepasnya ia menatap Risma. "Anda sehat, berarti siap untuk kami mintai keterangan." Risma menunduk. Jantungnya berdetak lebih cepat, membuat dadanya berdebar-debar. Siap, tidak siap, ia harus tetap mengikuti proses ini. "Saudari Risma, petugas kami menjemput Anda dengan membawa surat penangkapan. Kami juga telah memberi kesempatan kepada Anda untuk memulihkan kondisi kesehatan. Perlu saya tegaskan, kami telah mengikuti standar operasional prosedur yang berlaku. Kami tidak semena-mena menangkap orang. Sampai di sini Anda bisa memahaminya?" "Iya." Risma menelan ludah. Wajahnya tertunduk lesu. "Jadi Anda sudah tahu, kenapa kami melakukan penahanan terhadap Anda?" Faisal menatap Risma yang selalu menunduk. Risma mengangguk. Zulkifli telah memberitahu kepadanya bahwa polisi harus menahannya karena tertangkap basah sedang menindih salah satu korban tewas. "Saya tidak bersalah, Pak!" Ia beranikan diri mengangkat dagu. Faisal tersenyum. "Kami juga tetap mengedepankan asas praduga tidak bersalah." Risma mengangguk. Kecemasannya sedikit demi sedikit mulai berkurang karena sikap petugas tidak seperti yang ia bayangkan akan galak. Ternyata ia diperlakukan dengan cukup baik. Itu membuatnya memiliki kekuatan untuk berbicara. "Saya juga korban dalan peristiwa itu, Pak!" ucapnya hati-hati. "Itu hak Anda untuk memberikan keterangan," timpal Faisal. "Itulah kenapa Anda kami ajak ke sini. Keterangan Anda sangat penting bagi kami untuk menggali informasi. Ini juga kesempatan Anda untuk membuktikan bahwa Anda tidak bersalah." Risma mulai merasa sedikit tenang. Ia berharap suasana seperti ini akan terus ia dapatkan sampai semua tahapan hukum selesai ia jalani. "Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan," ujar Faisal. "Keterangan Anda akan mempengaruhi hasil penyelidikan ini, jadi kami harap Anda memberikan keterangan yang sebenar-benarnya." Risma membetulkan posisi duduk. Ia bersiap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Faisal, penyidik yang menangani kasusnya. "Pertanyaan pertama, ada kegiatan apa di tempat kejadian perkara di mana Anda berada di sana?" tanya Faisal. Risma menarik napas berat. "Kami berlima sedang reuni, Pak." "Reuni apa?" "Reuni itu digagas temen saya yang bernama Hendi. Saya yang menyediakan tempatnya." "Hendi itu salah satu korban?" Risma mengangguk. "Iya, Pak!" "Silakan jelaskan lebih lanjut dengan menyebutkan waktunya!" Risma menelam ludah. Pedih hatinya harus mengingat kembali kejadian itu. "Tanggal 3 Juni pagi kami mengadakan reuni. Sebelum jam sepuluh pagi, kami sudah berkumpul. Pak Faizin, memberi usul agar ponsel kami dikumpulkan. Setelah terkumpul, ponsel-ponsel itu saya letakan di dalam lemari yang berada di ruang tengah. Alasannya agar kami bisa saling temu kangen tanpa terganggu gadget." "Faizin itu yang mana?" tanya Faisal. "Ia paling tua di antara kami. Usianya sekitar 50 tahunan," jawab Risma. "Oke, sebelum Anda lanjutkan, coba jelaskan itu reuni apa dan kenapa diadakan?" Kepala Risma tiba-tiba pusing. Ia sebenarnya enggan menceritakan petualangannya pada bengkel Reyncar yang berakhir dengan kekacauan, di mana dirinya sempat tersudut atas hilangnya mobil pelanggan. Namun sayangnya ia harus menceritakannya karena berasal dari itulah reuni diadakan. "Dua tahun lalu, terjadi kasus hilangnya mobil pelanggan di bengkel Reyncar. Kasus itu sempat dilaporkan ke kepolisian sebelum akhirnya dicabut. Mobil itu sebenarnya tidak hilang. Desi yang membuat skenario seolah-olah mobil itu hilang. Ia melakukannya karena dendam kepada saya. Skenarionya gagal setelah kami berhasil membongkar kedoknya. Akibat kasus itu, Faizin dipecat. Nando dibuang keluarganya. Saya juga sempat dicurigai. Sementara Hendi secara tidak langsung mendapatkan keuntungan karena jabatannya naik." "Siapa Desi dan Nando?" "Desi adalah salah satu korban tewas. Sementara Nando adalah korban yang masih selamat." Faisal menegakkan badan. "Kenapa Desi dendam pada Anda?" Risma menelan ludah. Ekspresi wajah Faisal tampak sekali mulai bersemangat menggali konfliknya dengan Desi. Celakanya, Desi adalah salah satu korban tewas dalam kasus di vila. Jika ia salah ucap, bisa membuatnya berada dalam posisi sulit. "Sejak awal Desi tampak tidak menyukai saya," jawab Risma hati-hati. "Dari mana Anda tahu kalau Desi tidak menyukai Anda?" selidik Faisal. "Dari sikapnya yang tidak menyenangkan kepada saya." Faisal menatap Risma lekat-lekat. Ia mencari kejujuran pada sepasang mata tersangka di depannya. "Setiap orang bisa bersikap tidak menyenangkan kepada Anda, bukan? Sampai di sini saya belum menemukan alasan yang logis dari sudut pandang Anda bahwa Desi dendam kepada Anda." Reflek jari-jari dari kedua tangan Risma saling meremas. Ia merasa tersudut. "Coba jelaskan alasan logis kenapa Anda sampai yakin kalau Desi dendam kepada Anda!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN