Tak Ada Lusy, Susy pun Jadi

1672 Kata
Begitu mendapatkan uang muka pembayaran jasa penyelidikan dari Yanuar sebesar lima juta rupiah, Faisal Abdau langsung menyusun rencana. Zulkifli, target penyelidikan Faisal, masih berada di kota Tegal, padahal diduga para korbannya kebanyakan berada di wilayah Jakarta, sehingga untuk langkah awal Faisal akan menyelidiki Lusy, sebagaimana yang pernah diceritakan Risma sebagai salah satu korban Zulkifli. Faisal sudah mendapatkan nomor telepon, alamat, dan foto Lusy dari Risma. Berbekal itu, Faisal segera ke Jakarta untuk menyelidiki apakah benar perempuan itu adalah korban Zulkifli. Sebagai detektif, tidak sulit bagi Faisal untuk menemukan alamat Lusy seperti yang diberikan Risma. Ia tidak langsung menemui Lusy, tetapi melakukan pemantauan pada rumah tersebut yang ternyata sebuah kos-kosan. Faisal berpura-pura sebagai marketing pemasaran rusunawa dp nol persen. Jam enam pagi, ia sudah nongkrong di warteg yang lokasinya hanya berjarak belasan meter dari rumah kos yang diduga menjadi tempat tinggal Lusy. Sambil sarapan nasi rames dan segelas es teh, ia terus memantau kosan tersebut. Dua puluh menit sudah Faisal berada di warteg, tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Lusy. Sepiring nasi rames sudah ia habiskan sejak tadi. Es teh juga sudah nambah satu gelas. Jika berlama-lama di sini, ia merasa tidak enak kepada pemilik warung. "Mas orang baru ya?" tanya pemilik warteg kepada Faisal, dengan logat ngapak. Perempuan yang usianya berkepala empat itu sesekali melirik ke arah Faisal yang gerak-geriknya seperti orang kebingungan. "Iya, Bu. Saya sales rumah susun." Faisal berlagak seperti orang kampung. "Aseli Jakarta?" Pemilik warteg kembali bertanya sambil membereskan beberapa piring dan gelas kosong. "Asli Depok, Bu." Faisal memungut tusuk gigi. Ia pura-pura membersihkan sisa-sisa makanan yang menyelip di antara gigi-giginya yang putih. Pemilik warteg mengelap meja. "Pantesan, logatnya bukan seperti orang daerah." "Logat saya campur-campur, Bu," ujar Faisal. Matanya sesekali melirik ke arah kosan yang sedang ia awasi. "Kalau sama orang Jawa Barat, saya ikut logat Sunda. Kalau sama orang Jawa saya bisa medok juga." "Bisa logat Jawa juga ternyata?" Pemilik warteg melipat kain lap. Ia lalu duduk di sebelah Faisal. Ada yang menarik hatinya dengan pernyataan Faisal sebelumnya. "Beneran Mas sales rumah susun?" "Iya, Bu." Faisal mengambil selembar kertas selebaran dari dalam tas. Ia menyerahkannya kepada pemilik warteg. "Kali aja ibu minat." Pemilik warteg menerimanya dengan senang hati. Matanya berbinar membaca isi selebaran. Ia menoleh kepada Faisal. "Ini beneran DP-nya nol persen, Mas?" Faisal mengangguk. "Benar, Bu. Silakan pelajari. Nggak rugi ibu ngambil satu atau dua unit di sana. Lokasinya strategis, harganya juga sangat murah." "Kalau begitu saya simpan kertas ini ya?" "Silakan!" Faisal mengambil lima lembar selebaran lagi dari dalam tas. Ia memberikannya kepada pemilik warteg. "Kali aja ada saudara atau tetangga yang berminat. Hubungi aja nomor telepon yang tertera di situ." Pemilik warteg membaca nama dan nomor telepon yang tertera di bagian paling bawah. "Supriyatna itu nama sampeyan?" Faisal mengangguk bohong. Supriyatna adalah nama sales marketing yang sesungguhnya. Ia tidak mengenalnya. Ia mendapatkan lembaran-lembaran selebaran itu dari seseorang di lampu merah. "Terima kasih ya, Mas Supriyatna?" ucap pemilik warteg senang. "Kalau begitu saya kasih bonus kopi." "Beneran, Bu?" Faisal tersenyum senang. Secangkir kopi hitam di warteg memang harganya tidak seberapa, tapi itu bisa membuatnya punya alasan untuk berlama-lama di dalam warteg. "Beneran dong, Mas." Pemilik warteg berdiri. "Saya bikinin dulu. Pakai gula nggak?" "Pakai dikit aja." "Siap!" Pemilik warteg melenggang menuju balik etalase. Faisal kembali mengawasi rumah kosan target. Sejak tadi ia baru mendapati tiga orang keluar dari kosan tersebut dan tidak ada satu pun di antaranya yang mirip dengan foto Lusy. Faisal melirik beberapa pelanggan warung. Ada lima orang dewasa dan satu anak remaja. Ia bisa saja menanyakan kepada mereka apakah mengenal Lusy atau tidak, namun setelah dipikir-pikir, itu cukup mencolok perhatian. Dalam pertimbangannya lebih efektif untuk bertanya langsung ke penghuni kosan tersebut. Namun itu juga bukan bagian dari rencananya. Ia akan bersabar dan tetap fokus dengan strategi awal. Strategi Faisal adalah, pertama memastikan Lusy masih tinggal di kosan tersebut, atau paling tidak masih berada di sekitar sini. Jika masih, rencana kedua adalah membuat situasi perkenalan dengan perempuan itu tanpa sengaja. Ia telah menyusun beberapa opsi terkait rencana tersebut. Namun itu semua tidak akan terealiasi jika rencana pertama tidak sesuai target. "Kopinya, Mas!" Pemilik warteg menyediakan segelas kopi hitam ke atas meja di depan Faisal. Faisal mengangguk senang. "Terima kasih, Bu." "Sama-sama." Pemilik warung meninggalkan Faisal. Dua orang pelanggan, baru saja masuk. Ia harus melayaninya. Faisal menyeduh kopi pelan sambil matanya terus mengawasi rumah kosan. Ia sudah terbiasa masuk warung-warung kecil dan menikmati menunya. Sehingga tidak masalah baginya menyeruput kopi hitam yang rasanya sebenarnya tidak sesuai seleranya. Faisal terus mengawasi rumah kosan sambil meneguk sedikit demi sedikit kopinya. Secangkir kopi panas bonusan tersebut baru habis ketika waktu menunjukkan pukul 07:11. Itu artinya ia membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk menikmati segelas kopi bonusan tersebut. Faisal tidak mungkin berlama-lama lagi di dalam warteg. Akan tampak aneh jika ia yang mengaku sebagai sales tetapi hanya bersantai-santai di waktu jam kerja. Maka ia segera membayar tagihan, lantas keluar warteg. Faisal pindah ke mini market yang lokasinya persis di seberang jalan kosan. Dari sana ia terus mengawasi lokasi target. Ia mengelilingi semua rak dengan tetap mata memandang keluar. Setelah berada hampir satu jam di sana, ia mengisi keranjang belanjaannya dengan satu paket permen karet, satu botol air mineral, dan satu bungkus roti tawar. Antrian panjang di depan kasir membuat Faisal senang. Itu membuatnya punya banyak waktu untuk terus berada di dalam mini market sambil mengawasi lokasi target. Ia tidak peduli meskipun beberapa emak-emak melirik isi keranjang dan menyisir penampilannya. Pengantri yang berada di depan Faisal, belanjaannya dua keranjang penuh. Menunggu satu orang itu saja sudah membuatnya memiliki waktu hampir sepuluh menit untuk terus berada di dalam mini market tersebut. Ketika tiba gilirannya, ia hanya butuh kurang dari dua menit untuk membayar belanjaannya. Hingga hampir jam delapan, Faisal belum melihat Lusy keluar atau masuk rumah kos. Itu membuatnya merasa aneh. Jika benar Lusy masih tinggal di sana seharusnya aktivitasnya bisa terlihat seperti penghuni kost lain. Dalam pemikiran Faisal, seharusnya Lusy keluar rumah untuk membeli sesuatu. Jika belum perlu pun, perempuan itu harus kerja. Masalahnya adalah, Faisal tidak mendapatkan informasi soal aktivitas keseharian Lusy dari Risma. Faisal juga seperti sedang melakukan perjudian. Risma bertemu Lusy di rumah kos itu tiga tahun lalu. Banyak kemungkinan yang terjadi selama itu, seperti pindah kosan misalnya. Foto Lusy yang Faisal dapat dari Risma pun didapat ketika gadis itu berkunjung ke rumah kos itu. Cara pertama Faisal belum membuahkan hasil. Ia harus mencoba cara kedua. Faisal masuk ke mobil yang telah ia parkir di depan mini market sejak jam enam tadi. Di dalam, ia segera mengganti kostum dari penampilan sales marketing rusunawa menjadi seorang kurir paket. Sepatu pantofel ia ganti menjadi sepatu kets. Celana tetap sama, hanya saja ia melepas kemeja dan menggantinya dengan hem yang lebih kasual. Agar lebih meyakinkan, ia mengenakan jaket tanpa menutup resletingnya dan sebuah topi. Tidak lupa ia membawa sebuah paket berbentuk kubus yang terbungkus plastik, mirip paket betulan. Faisal memeriksa kembali kelengkapan pengiriman paket seperti resi, pulpen, dan tentu saja label penerima dan alamatnya. Sebelum keluar mobil, Faisal memeriksa penampilannya melalui spion dalam. Setelah merasa oke, ia keluar mobil. Dengan penuh percaya diri, Faisal bergerak menuju pintu utama kosan. "Permisi! Paket!" teriak Faisal. Ia tahu ada bel di dekat pintu, tapi ia sengaja berteriak untuk menarik perhatian para penghuni kos. Usaha Faisal langsung membuahkan hasil. Dua orang gadis remaja keluar. Satu berjalan sambil asyik mainan ponsel, satunya bersiul-siul sambil memain-mainkan handuk yang tersampir di pundaknya. "Permisi, ada paket!" ucap Faisal kepada kedua penghuni kos yang sedang berjalan ke arahnya. Gadis yang bersiul-siul hanya melirik Faisal. Ia berbelok menuju tempat jemuran. Sementara gadis yang sejak tadi mainan ponsel menatap Faisal dengan mata berbinar. "Cogan!" pekiknya tertahan. Ia segera menghampiri Faisal. "Paket buat siapa, Mas?" Faisal berlagak membaca nama penerima yang tertera pada label. "Mmhh, buat Lusy!" "Lusy?" Si gadis melirik paket sekilas, kemudian menatap Faisal, kagum ada kurir seganteng itu. "Iya, Lusynya ada?" tanya Faisal. "Mmhh, di sini nggak ada yang bernama Lusy. Bisa lihat alamatnya?" Si gadis memberi gestur agar ia diperbolehkan memegang paket. Faisal memberikan paket. Si gadis menerima paket sambil mencari kesempatan menyentuh jari-jari tangan Faisal. Sebelum membaca alamat penerima pada label, ia sempat melirik Faisal genit. Faisal berlagak salah tingkah, padahal dalam hati ia merasa geli melihat sikap gadis di depannya. "Alamatnya bener kok!" ujar si gadis. Ia menatap Faisal sambil senyum-senyum tidak jelas. "Tapi sejak aku ngekos di sini belum pernah ada tuh di sini yang bernama Lusy." "Beneran, Mbak?" Faisal kecewa. "Maaf kalau boleh tahu, mbak ini sudah berapa lama ngekos di sini?" Dengan kemayu si gadis mengerling. "Sejak menjadi maba." "Maba itu apa ya, Mbak?" Faisal pura-pura tidak tahu. "Mahasiswa baperan!" Si gadis terkekeh sendiri. "Enggak ding, maba itu mahasiswa baru." Faisal mengangguk-angguk. "Memangnya sekarang sudah semester berapa?" Si gadis mengerjap genit sambil mengembalikan paket kepada Faisal. "Lima, Mas!" "Berarti sudah dua tahun lebih dong?" "Ya gitu deh!" jawab si gadis kemayu. "Mas boleh kok nanya-nanya hal lain, misalnya hobi aku, nomor ponsel aku, atau apa aja tentang aku, pasti aku jawab." Faisal garuk-garuk kepala. "Boleh deh, nomor telepon juga nggak papa." Ia berpikir suatu saat nomor itu akan berguna. Si gadis melompat girang. "Sini ponselnya aku ketikin nomorku." Faisal mengambil ponsel dari saku baju. Ia menyerahkannya kepada gadis di depannya. Si gadis menyimpan kontaknya ke ponsel Faisal. "Namanya Susy!" "Hah, Susy?" "Iya Susy, bukan Lusy." "Atau jangan-jangan paket ini buat mbak?" Faisal pura-pura menebak. "Ih, bukan, namanya kan beda!" "Iya juga sih!" Faisal berpikir jika benar gadis bernama Susy itu sudah menghuni kos ini selama lima semester, berarti paling tidak Lusy sudah tidak menghuni kosan ini selama dua tahun lebih. "Kenapa mas nggak telepon aja orangnya?" Susy memberi saran. "Sudah, Mbak," timpal Faisal. "Nomornya nggak aktif." Ia memang sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Lusy sebelumnya, tetapi tidak aktif. Susy cemberut, bergaya seolah ikut merasa sedih. "Yang sabar ya, Mas?" Faisal tersenyum masam, pura-pura sedih. Ia memang kecewa, tapi tidak lantas merasa sedih. Dalam dunia penyelidikan, hal-hal seperti ini sudah biasa baginya. Paling tidak hari ini ia mendapatkan nomor telepon Susy yang ia yakin akan berguna nanti. Tak ada Lusy, Susy pun jadi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN