Faisal Abdau bersedekap, menatap Risma dengan senyum aneh.
Risma mengibas-kibaskan telapak tangan ke depan wajah Faisal. "Kamu kenapa?"
"Aku ganteng!" jawab Faisal sekenanya. "Kamu cantik!"
Bibir Risma mengerucut.
"Makin cantik kalau monyong begitu!"
"Astaga, Faisal Abdau!" Risma mendelik berlagak sebal. "Jangan menggoda istri sultan!"
"Sultan Zulkifli?" Faisal tertawa terbahak-bahak, membuat penjaga tahanan melirik sebal kepadanya.
"Enak aja!" Risma yang tadi pura-pura sebal jadi sebal betulan.
"Sorry, sorry, anggap aja aku lagi nggak bercanda. Hahaha."
Risma tidak menanggapi. Ia ingin menunjukkan bahwa ia serius tidak suka diledek soal Zulkifli.
Faisal peka. Ia kembali ke mode serius. "Jadi ada tugas apa nih buat aku?"
Risma melirik Faisal, memastikan detektif itu sudah tidak mengajaknya bercanda. "Aku mau kamu menyelidiki Zulkifli!"
Faisal mengerjap. "Zulkifli pengacara kamu?"
"Iya."
Faisal tercenung. Otaknya bekerja cepat, menduga-duga apa alasannya sehingga Risma mau menyelidiki Zulkifli.
"Aku pernah bertemu dengan seorang perempuan bernama Lusy. Ia mengaku pernah hamil oleh Zul. Saat ia meminta pertanggungjawaban, Zul menolak, malah memberi Lusy uang lima puluh juta untuk menggugurkan kandungannya."
Faisal terkejut. Ia tidak menyangka Zulkifli sebejat itu.
"Waktu itu Lusy menunjukkan bukti foto-foto kemesraannya dengan Zul dan aku sangat yakin semuanya asli."
Faisal mengangguk-angguk.
"Menurut pengakuan Lusy, Zulkifli itu playboy. Ia mau saja jadi pacar yang ke sekian karena baginya yang penting uang."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Faisal.
"Aku nggak peduli seberapa b***t Zul. Aku hanya ingin mendapatkan bukti dan saksi bahwa laki-laki itu sebejat itu." Risma menatap Faisal lekat-lekat. "Jangan terpaku sama Lusy. Kamu selidiki saja sepak terjang Zul. Cari tahu siapa saja korbannya."
"Oke, aku paham!"
"Bagus!"
Faisal garuk-garuk kepala. "Cuman maaf, ini agak aneh buatku. Ya memang ini bukan urusanku tapi ini penting bagiku buat menentukan langkah penyelidikan."
"Aneh bagaimana?"
Faisal mengedikkan bahu. "Pertama, Zulkifli itu pengacara kamu. Kedua, ia calon tunanganmu."
"Zulkifli menjadi pengacaraku karena papi sangat mempercayainya. Aku nggak bisa memilih, hanya bisa menerima." Risma menjelaskan. "Soal tunangan, itu baru keinginan keluarga Zul. Papiku belum bersikap apa-apa. Beliau baru sebatas memintaku agar mau dijodohkan dengan Zul."
"Tampaknya kamu nggak mau menerimanya," tebak Faisal. "Dan kalau boleh menduga, aku yakin kamu ingin mencari alasan kuat agar bisa menolak perjodohan itu."
"Dasar otak detektif!" Risma tertawa. "Mungkin akan beda ceritanya jika aku tidak bertemu Lusy. Aku nggak pernah bisa menolak keinginan papi. Lagi pula, sebelum tahu kebejatan Zul, aku menganggapnya sebagai calon tunangan yang sempurna."
Faisal mengerjap. "Jika ternyata Zulkifli tidak terbukti sebejat itu bagaimana?"
Risma tidak tahu harus menjawab apa. Jika dulu ia menolak Zulkifli karena yakin lelaki itu seorang playboy. Sekarang ada alasan lain: ia telah menjatuhkan hati kepada lelaki lain.
"Maksudku begini." Faisal membetulkan posisi duduk. "Segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa jadi Zul memang benar sebejat itu, tapi bisa jadi sebaliknya. Nah, sekarang kita berandai-andai. Seandainya Zul tidak terbukti sebagai seorang playboy atau katakanlah sebejat itu, maka pertanyaannya adalah akan sampai kapan aku harus menyelidikinya?"
"Selidiki saja dulu selama sebulan ke depan," tegas Risma. "Nanti kita evaluasi lagi setelahnya."
Faisal mengangguk paham. "Oke, deal! Kamu sudah tahu caraku bekerja, jadi aku harap kamu tidak terlalu banyak mendikteku."
Risma mendelik. "Apa aku pernah mendiktemu?"
"Enggak sih!" ujar Faisal buru-buru meluruskan. "Aku perlu mengatakannya karena itu bagian dari kesepakatan kerja."
"Oke, deal!"
Faisal mengacungkan jempol. "Apa perlu kita bersalaman?"
Risma menggeleng kuat-kuat. "Kamu nggak butuh salaman. Kamu hanya butuh kepastian kapan aku akan memberikan DP bukan?"
Sontak Faisal tertawa. "Tahu aja!"
"Abangku yang akan mengurus soal itu. Nanti ia akan menghubungimu secepatnya."
Faisal mengerjap. "Biar kutebak, kamu meneleponku kemarin pakai nomor abangmu kan?"
"Ho-oh!"
"Yanuar namanya?"
"Iya!" jawab Risma. "Nanti kamu laporannya sama abangku saja. Aku mau liburan di sini."
Faisal tersenyum saja, meskipun menganggap ucapan Risma lucu, tapi ia tidak sampai hati menganggapnya sebagai candaan.
"Semoga liburanmu menyenangkan!" Faisal mengatakannya dengan nada empati.
"Terima kasih."
***
Nando baru saja mencoba jalan-jalan, menyusuri koridor bersama Math. Ia sudah bisa berjalan normal tanpa pegangan dan sudah tidak merasa pusing.
Math sangat bahagia menyaksikan perkembangan Nando yang signifikan. Namun ia tidak menemukan raut bahagia pada wajah adiknya itu, padahal kemarin sangat cerah.
Math menduga Nando kecewa karena dokter baru boleh mengizinkannya pulang besok.
"Sabar ya, cuman nunggu sehari," hibur Math. "Kata perawat selang infusnya akan dilepas nanti siang. Itu artinya kamu sudah pulih."
Nando tersenyum dipaksakan. Ia memain-mainkan selang infus. Memang ia ingin sekali segera keluar dari rumah sakit, tetapi bukan itu yang sedang merisaukan hatinya.
"Kalau besok pulang, kamu mau minta apa?" Math berusaha agar Nando kembali ceria.
"Aku cuman ingin kembali ke bengkel lagi," jawab Nando bohong. Sebenarnya ia ingin sekali menjenguk Risma di tahanan. Ia merindukan gadis itu.
"Cuman itu?"
Nando mengangguk malas.
"Sekarang bengkel itu punya kamu. Kamu bisa kembali kapan saja."
"Bengkel itu warisan papi!" sergah Nando. "Jadi itu milik kita bertiga."
"Iya juga sih, tetapi kamu yang akan jadi kepala bengkelnya."
Nando mengerjap. Wajahnya masih kusut. Biasanya ia sangat bersemangat setiap kali membahas soal bengkel.
Math sadar Nando kurang bersemangat membahas bengkel. Maka ia berusaha mengalihkan ke topik lain yang disukai Nando.
"Semalam abang nonton live streaming pertandingan Inter Milan versus Fiorentina," beritahu Math berharap Nando akan tertarik. Adiknya itu sangat menggemari klub sepakbola Inter Milan.
"Siapa yang menang?" tanya Nando kurang antusias. Peryanyaannya hanya basa-basi saja. Saat ini topik yang menarik perhatiannya hanya soal Risma. Sayangnya Math tidak mengenal gadis itu.
"Kalau kamu nonton pasti dag dig dug melihat penampilan Inter semalem. Gregetan banget dah." Math berapi-api. "Yang ngeselin adalah possesion ball Inter itu sampai enam puluh persen pada babak pertama. Peluangnya juga banyak. Tapi bukannya bikin score malah kecolongan kosong satu."
Nando mengangguk saja. Matanya memang menatap Math tapi pikirannya tertuju pada Risma. Ia sedang memikirkan enaknya kapan bisa menjenguk gadis itu. Kalau besok diperbolehkan pulang, pasti opanya akan memintanya istirahat di rumah.
Math melanjutkan ceritanya. "Pada babak kedua, Inter langsung menggebrak pertahanan Fiorentina, tapi kipernya a***y keren banget. Dua shoot on goal di lima menit pertama sia- sia saja."
"Huft!" keluh Nando.
Math mengira Nando mengeluh karena Inter gagal memanfaatkan peluang. Sebenarnya Nando mengeluh karena ia yakin opanya tidak akan memberinya izin untuk menjenguk Risma di tahanan. Padahal ia sangat rindu pada gadis itu. Ia ingin memberi semangat dan dukungan moral agar Risma sabar menghadapi kasusnya.
"Aku nggak habis pikir sama Inter. Masa lawan Fiorentina di kandang sendiri saja susah bikin gol, padahal waktu lawan Juventus mereka menang telak." Math mengoceh sendiri, tidak tahu kalau Nando sama sekali tidak antusias mendengarnya.
"Pasti membosankan!" ucap Nando tanpa sadar. Ia membayangkan pasti akan sangat membosankan berdiam diri di dalam kamar sampai opanya mengizinkan dirinya keluar rumah.
Lagi-lagi Math salah paham, mengira Nando tadi sedang menimpali ceritanya. "Dibilang membosankan sebenarnya nggak juga sih. Keduanya gantian saling menyerang. Sayang semalam memang Inter kurang beruntung."
Nando melirik Math sebal. Ia sedang malas mendengar cerita apa pun. Namun ia tidak enak mau menghentikan ocehan kakaknya yang sudah berusaha membuatnya tidak sedih.
"Tapi bukan Inter namanya kalau menyerah begitu saja," lanjut Math. "Di menit-menit akhir, mereka berhasil menyamakan score menjadi satu-satu."
"Dramatis ya?" timpal Nando, sekadar cara menghargai cerita Math.
"Banget!" sahut Math. "Tapi tenang aja, Inter masih memuncaki klasemen, selisih dua poin dengan Juventus."
Nando tersenyum, bukan karena klub kesayangannya masih memuncaki klasemen, tetapi karena ia memiliki ide buat menelepon Risma sambil rebahan.
"Kamu mau tidur?" tanya Math melihat Nando rebahan.
Nando menggeleng sambil cengar-cengir. "Boleh pinjam ponselnya nggak?"
"Mau nelepon siapa?"
"Ada deh!"
Math mengerjap. "Siapa?"
Nando senyum-senyum.
Math curiga Nando mau menelepon Risma.
"Pinjemin ponselnya, Kak!" bujuk Nando.
"Iya, mau nelepon siapa?"
"Risma!" jawab Nando sambil cengar-cengir.
***
Zulkifli melempar senyum manis begitu Risma duduk di hadapannya. "Kamu sehat?"
"Iya," jawab Risma malas.
"Syukurlah!" Zulkifli meletakkan tas ke atas meja. Ia membukanya dan mengambil sebuah kotak terbungkus kado. Ia menyodorkannya ke arah Risma. "Adik aku baru pulang dari Belgia, ini oleh-oleh darinya khusus buat kamu."
Risma mengangguk. "Iya. Sampaikan terima kasih padanya."
"Adikku itu pengen kenal sama kamu, tapi sayangnya ia nggak bisa lama di tanah air."
Risma mulai dilanda kebosanan. Dulu ia beberapa kali jalan sama Zulkifli dan selalu merasa bosan setiap kali lelaki itu membahas soal keluarganya. Zulkifli selalu pamer kekayaan dan prestasi. Risma tidak menyukai itu.
"Aku heran sama adikku itu, kok tahu ya kalau kamu suka cokelat?"
"Aku nggak begitu suka sama cokelat!" tegas Risma bohong.
"Tapi kata Garin kamu menyukainya," dalih Zulkifli.
"Dulu, sekarang enggak."
"Oh!" Zulkifli sedikit kecewa. "Kenapa memangnya?"
"Nggak tahu, mungkin bosan!" ketus Risma. "Jadi kamu ke sini cuman mau ngasih ini aja?"
Zulkifli menelan ludah melihat sikap ketus Risma. "Nggaklah, aku menemui kamu cuman kalau ada hal penting yang menyangkut kasus saja."
Risma mengangguk lega. "Ada perkembangan apa?"
Zulkifli senang Risma kembali antusias. "Peluang kamu untuk bebas tanpa syarat mulai besar."
Hati Risma membuncah. "Alhamdulilalh."
"Aku mendapatkan bocoran informasi dari tim, katanya penyidik belum menemukan bukti kuat kalau kamu terlibat atas jatuhnya lima korban penusukan." Zulkifli memberitahu. "Di samping itu berdasarkan keterangan para saksi dan bukti-bukti baru, semua meringankanmu."
"Kalau begitu kenapa mereka masih menahan aku?" gugat Risma heran.
"Sebab tim penyidik masih mendalami apakah kamu layak dianggap tertangkap tangan atau tidak," jawab Zulkifli. "Tapi aku yakin mereka akan menemukan fakta kalau kamu bersih."
"Semoga saja!"
Seorang petugas tahanan mendekati Risma. "Saudari Risma, ada telepon untuk Anda."
Risma sangat gembira. Ia bangkit lalu meninggalkan Zulkifli begitu saja.
Zulkifli mendengus kecewa atas sikap Risma. Ia tidak tahu sampai kapan akan sanggup menghadapinya. Bertahun-tahun, ia telah berusaha dengan berbagai cara untuk menaklukkan hati gadis itu tapi belum membuahkan hasil.
Sementara itu, Risma dengan semangat melangkah menuju meja petugas. Ia segera mengangkat gagang telepon.
"Hallo!" sapa Risma.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Nyess! Pertanyaan itu membuat hati Risma adem. Ia tidak menyangka Nando akan kembali meneleponnya.
"Kok diem?"
"Eh, anu, aku baik-baik saja." Risma menjadi salah tingkah, padahal Nando tidak melihatnya.
"Aku ingin menjengukmu tapi saat ini saja aku masih di rumah sakit!" keluh Nando.
"Dokternya suka sama kamu kali," canda Risma. "Jadi nahan kamu biar bisa terus ketemuan."
"Dih, dokternya cowok!"
Risma tertawa. "Kirain cewek."
"Tapi katanya besok bisa pulang ke rumah," beritahu Nando. "Cuman pasti opa belum membolehkan aku keluar rumah dalam waktu dekat ini."
"Kamu fokus saja dulu sama pemulihan kesehatan kamu!" saran Risma. "Gimana perut kamu, apa masih sakit?"
"Luka tusuknya udah mengering tapi kalau buat bersin atau batuk masih sakit."
"Sabar, yang penting kamu banyak-banyak istirahat."
"Pikiranku nggak bisa diajak istirahat."
"Jangan mikir yang enggak-enggak. Kamu harus selalu berpikiran positif."
"Kalau memikirkan kamu, itu positif enggak?"
Deg! Hati Risma berbunga-bunga mendengar pertanyaan itu. Ia menjadi heran dengan sikap Nando dua hari belakangan ini.
Selama ini Nando selalu bersikap kaku. Maka itu terasa aneh kalau sekarang ia mendengar lelaki itu mengucapkan kata yang berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.
"Maaf, Ris, kalau pertanyaanku ngaco."
Risma diam. Ia ingin mengatakan pada Nando, 'enggak ngaco kok, aku suka pertanyaanmu', tapi ia tidak berani.
"Tuh kan malah diem?"
"Mmhh, nggak papa kok," ujar Risma. "Kamu semangat ya!"
"Kamu juga harus terus semangat!"
"Iya!"
"Kapan-kapan aku boleh menelepon lagi nggak?"
"Kok tanya sama aku?" Risma balik bertanya.
"Tanya sama petugasnya dong, boleh apa enggak."
"Hehehe, iya ding!"
Risma senyum-senyum sendiri. Ia lupa kalau Zulkifli masih menunggunya di ruang kunjungan.