Sekarang Tersenyumlah

1887 Kata
Kondisi kesehatan Nando semakin membaik. Selera makannya juga mulai bagus. Saat ini ia ingin menyantap rujak buah yang segar dan pedas. "Kak Math, aku pengen turun, mau beli rujak buah yang segar dan pedas," canda Nando Math yang sedang mengantuk di kursinya seketika terkesiap. Buru-buru ia menghampiri Nando. "Kenapa harus rujak sih, seblak yang pedasnya level 9 kan lebih enak." "Apa saja yang penting bisa jalan dulu." Nando beringsut ke tepi tempat tidur. Ia menurunkan kedua kaki sehingga menggantung di udara. Math sebenarnya ragu apakah Nando sudah bisa memijakkan kaki di lantai atau belum. "Kamu yakin mau turun?" Tanpa menjawab pertanyaan Math, Nando menurunkan kedua kakinya sedikit demi sedikit. "Pelan-pelan!" Math menyangga lengan kanan Nando dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri memegangi selang infus. Dengan menggerakkan pinggul ke kanan dan ke kiri, pelan-pelan kaki Nando turun hingga menyentuh lantai. "Tahan dulu!" Math membetulkan posisi selang infus. "Ayo sekarang pijakkan kaki kanan dulu, pelan-pelan." Nando menuruti saran Math. Kaki kanannya memijak lantai. Pantatnya masih menumpu separuh pada tempat tidur. Ia tidak merasakan sakit, hanya sedikit pusing. Itu tidak menyurutkan tekadnya untuk bisa berdiri dengan dua kaki. "Sekarang pijakkan kaki kiri. Badan tetep menyandar di ranjang!" Math memberi instruksi layaknya ahli. Perlahan kaki kiri Nando memijak lantai. Sekarang sebagian besar berat badannya tertumpu pada kedua kakinya. Ia hanya tinggal meluruskan badan. Kedua tangan Math memegangi sepasang telapak tangan Nando. "Kamu siap?" Nando mengangguk. Hatinya berdebar-debar, antara semangat dan khawatir akan jatuh. "Okey, kakak tarik tanganmu sedikit demi sedikit ya?" Nando mengangguk. Ditariknya napas dalam-dalam. "Kamu pasti bisa!" Math memompa semangat Nando. "Jangan takut, kakak memegangimu." Nando memajukan d**a. Pantatnya tertarik ke depan, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari sandaran tempat tidur. Ia tersenyum puas saat badannya sudah lurus. Sekarang semua beban tubuhnya tertumpu pada kedua telapak kakinya. Math masih memegangi sepasang tangan Nando. "Gimana rasanya?" Nando hanya menjawab dengan senyum. Ia sangat senang bisa berdiri lagi. "Lepaskan tangan kakak!" Math menatap Nando ragu. "Kamu yakin?" "Iya," jawab Nando semangat. "Aku cuman pusing tapi nggak sakit sama sekali." Perlahan Math melepaskan sepasang telapak tangan Nando. "Jangan bergerak dulu. Biarkan kedua telapak kakimu merasakan beban tubuhmu." Nando menarik napas dalam-dalam. Badannya sedikit bergoyang, menjaga keseimbangan. "Aku mau jalan, Kak!" Math kembali meraih sepasang telapak tangan Nando, memeganginya kuat-kuat. "Coba langkahkan kaki kanan dulu." Nando mengangkat kaki kanan, lalu memijakkannya pada lantai. Tubuhnya sedikit limbung. Math sigap dengan segera menyeimbangkan badan Nando. "Sekarang kaki kiri." Dengan hati-hati, Nando melangkahkan kaki kiri. Tubuhnya masih limbung, tetapi Math telah mengantisipasimya sehingga badan Nando terjaga keseimbangannya. "Sebentar!" Math melepaskan tangan kiri dari tangan Nando. Ia menggunakannya untuk menggeser tiang infus. "Aku mau coba lagi, Kak!" ucap Nando merasa yakin akan bisa melakukannya. "Okey, ini sangat mudah buatmu. Cobalah!" Math memompa semangat Nando lagi. "Gimana kalau kita balapan lari?" canda Nando. Math terkekeh. "Siapa takut?" Nando melangkahkan kaki kanan dan kaki kiri secara bergantian sambil tetap berpegangan pada tangan Math. Meskipun kepalanya sedikit pusing tapi ia senang sekali bisa melangkahkan kedua kaki. "Aku bisa, Kak!" ucapnya girang. "Hebat! puji Math. "Mau coba tanpa berpegangan?" Spontan Nando mengangguk. "Iya!" Ia sangat bersemangat dan optimis. "Baik, sekarang kakak lepasin tangan kamu." Math melepaskan pegangan tangannya pelan-pelan. Tentu saja ia tetap siaga, mengantisipasi jika Nando limbung. Kedua tangan Nando sekarang bebas. Ia merentangkannya seperti akan meniti jembatan bambu. Secara perlahan kedua kakinya melangkah bergantian sebanyak dua kali. "Luar biasa!" Math memuji Nando. Ia sangat senang melihat Nando bisa berjalan sebanyak tiga langkah tanpa berpegangan. "Tiang infusnya, Kak!" Math menggerakan tiang infus, sambil tetap siaga. Tanpa memberitahu Math, Nando melangkahkan kedua kakinya bergantian sebanyak tiga kali, hingga mendekati pintu. Meskipun berdebar-debar, Math senang sekali Nando berjalan tanpa bantuan. "Gimana rasanya?" "Luar biasa, Kak!" Nando sangat bahagia. "Sekarang aku mau coba balik ke tempat tidur." "Oke!" Math membantu Nando memutar badan. Ia menyangga lengan Nando mengggukan tangan kanan dan memegangi tiang infus menggunakan tangan kiri. "Ayo sekarang cobalah kembali ke tempat tidur!" Nando menarik napas dalam-dalam. "Kakak lepasin kamu ya?" Nando mengangguk. Math melepaskan pegangan tangannya. Nando melangkah menuju tempat tidur secara perlahan tanpa pegangan. Math memegangi tiang infus sambil tetap siaga. Nando akhirnya bisa mencapai tempat tidur dengan lancar. "Keren!" Math senang sekali. "Kita coba lagi nanti. Sekarang istirahat dulu." Nando tersenyum bahagia. "Aku mau naik sendiri." "Cobalah!" Nando memutar badan, membelakangi tempat tidur. Ia melakukannya tanpa bantuan Math. p****t ia sandarkan pada tepi tempat tidur. Sambil berjinjit, Nando meletakkan p****t pada kasur, lantas beringsut. "Aku bisa, Kak!" ucapnya terharu. Math memeluk Nando erat. Tanpa sadar air matanya menetes. "Jangan cengeng ah!" ledek Nando. Math tertawa sambil menangis bahagia. Ini adalah momen yang sangat ia tunggu-tunggu. Berhari-hari ia menjaga Nando dengan meninggalkan keluarga dan perusahaannya. Ia hanya ingin melihat adiknya bisa kembali seperti dulu. "Kak...." Math menoleh. Ia mengusap air mata pada pipinya. "Iya, ada apa?" "Aku mau tanya." Nando menatap Math serius. "Tanya aja." "Kakak beneran nggak tahu status Risma dalam kasus di vila?" Math tercenung. Ia tidak pandai menyembunyikan sesuatu dari Nando. "Risma itu korban, sama sepertiku," ujar Nando. "Iya, kakak juga tahu." Math tadinya percaya kalau Risma adalah pelaku yang menusuk lima korban, di mana empat di antaranya tewas. Ia mempercayai itu karena mendapatkan informasi bahwa Risma telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun setelah menonton video rekaman spy camera dari ponsel opanya, kini ia merasa yakin, pelaku sebenarnya adalah Faizin. "Kenapa harus ditutup-tutupi sih, Kak?" gugat Nando. "Kakak memang nggak tahu di mana Risma sekarang," jawab Math diplomatis. "Bukan keberadaan Risma yang aku tanyakan tapi statusnya." Nando menegaskan. "Nanti kakak cari tahu!" Math merasa Nando berhak tahu status Risma, tapi ia akan mengatakannya nanti setelah kondisi kesehatan Nando pulih seutuhnya. "Kenapa nggak sekarang saja?" "Kakak kan harus menjaga kamu." Math berdalih. Nando mendengus kecewa. Ia merasa yakin Math menutupi sesuatu darinya. Math bangkit dari tempat duduknya. Ia meletakkan ponsel ke atas meja, dekat tempat tidur Nando. Ia sengaja menghindar agar adiknya tidak terus menanyakan soal status Risma. "Kakak mau ke mana?" "Ke toilet," jawab Math. Ia melenggang menuju toilet yang masih berada di dalam ruangan ini. Nando melirik ponsel yang ditinggalkan Math. Ia memiliki ide. Diambilnya ponsel tersebut lalu mencari kontak bernama Ersa. Ada dua nama Ersa: Ersa P dan Ersa Vila. Nando yakin nama yang terakhir itulah kontak kakaknya Risma. Sambil memperhatikan pintu toilet, Nando menghubungi kontak Ersa. Tidak butuh waktu lama, panggilannya terjawab. "Hallo, Pak Math," sapa Ersa. "Ini Nando, Kak." "Oh, Nando, bagaimana keadaan kamu?" "Baik, Kak." "Syukurlah." Nando berharap Math cukup lama di dalam toilet dan baru keluar setelah ia selesai menelepon Ersa. "Kak, aku mau tanya sesuatu," beritahu Nando. "Tanya apa?" "Risma sekarang ada di mana?" Ersa terdiam beberapa detik. "Mmhh, Risma nggak ada di sini." "Boleh tahu sekarang Risma ada di mana?" Nando berharap-harap cemas. Ersa kembali terdiam. "Tolong, Kak!" "Memangnya kakak kamu nggak ngasih tahu?" Ersa balik bertanya. "Enggak," jawab Nando. "Kakak pasti tahu kan?" Setelah lama diam, akhirnya Ersa menjawab. "Risma ada di ... sel tahanan polsek." Ponsel di tangan Nando hampir saja terlepas. Untung ia bisa menguasainya. Meskipun ia sudah menduga kemungkinan itu, tapi tetap saja Nando terkejut. "Doakan ya agar Risma segera bebas," pinta Ersa. "Kamu tahu kan kalau Risma nggak bersalah?" "Iya, Risma nggak bersalah," timpal Nando. "Semua ulah Faizin!" "Kamu sudah dimintai keterangan sama penyidik?" "Sudah, Kak. Semoga itu akan menjelaskan fakta yang sebenarnya." "Aamiin. Terima kasih ya, Nando." "Iya, Kak, sama-sama." Nando terkesiap ketika pintu toilet terbuka. "Sudah dulu ya, Kak. Terima kasih atas informasinya." "Iya, Do. Semoga kamu segera pulih." Nando buru-buru mengakhiri panggilan dan mengembalikan ponsel ke tempatnya. Tapi itu sudah terlambat karena Math terlanjur mengetahuinya. "Telepon dari siapa?" Math belum curiga. Ia mengira itu hanya telepon dari kerabatnya. Nando diam. Ia merasa kesal pada Math yang telah menutupi status Risma darinya. "Kok cemberut?" Math duduk di atas tempat tidur, bersebelahan dengan Nando. "Kenapa kakak bohong?" gugat Nando. Math mulai curiga. "Bohong apa?" "Soal Risma!" Math terdiam. Ia yakin Nando baru saja mencari tahu soal status Risma. Nando menatap Math kesal. "Apa untungnya sih buat kakak menyembunyikan status Risma?" Math mengacak rambut Nando. "Kakak sengaja menyembunyikannya karena nggak mau itu akan mengganggu kondisi kesehatanmu." "Aku sudah tahu dan kakak bisa lihat kan kalau aku baik-baik saja?" Math mengangguk. "Maafin kakak ya?" Nando melengos. Meskipun ia tahu Math melakukan itu demi kebaikannya, tapi ia tetap kesal. "Kakak akan mengajakmu buat menjenguk Risma, nanti setelah kamu diperbolehkan pulang." Math menghibur Nando. Nando diam, masih kesal. Math merengkuh bahu Nando. "Sudah-sudah, kamu jelek kalau ngambek." Nando menoleh. "Kak Math tahu nggak nomor telepon buat menghubungi tahanan?" Math mengeleng. "Nanti kakak carikan." "Sekarang kan bisa!" Math mendengus. Ia heran dengan sikap Nando yang tidak seperti biasanya. "Nyarinya ke mana?" "Googling!" Math mengangguk terpaksa. "Okey, kakak tanyakan sama Om Gugel." Ia meraih ponsel dari atas meja. "Aku saja yang nyari!" Nando menadahkan tangan, meminta ponsel. Math terpaksa memberikan ponsel kepada Nando. "Memang kamu tahu Risma ditahan di polsek mana?" Nando tercenung. "Kakak tahu?" Math menggeleng. "Kamu tanya saja langsung sama Ersa, kali aja ia simpan nomormya." Wajah Nando seketika semringah. Ia mengembalikan ponsel kepada Math. "Kakak saja yang nanya. Tolong ya?" Math mendengus. Ia memeriksa log panggilan terakhir. Sekarang ia tahu kalau tadi Nando menghubungi Ersa. "Kenapa tadi kamu nggak sekalian saja nanya?" Nando cengar-cengir. "Tadi buru-buru takut ketahuan kakak sih. Hehehe!" Math membuka aplikasi w******p. Ia mengetik pesan: Hai, Ersa, Risma bisa ditelepon nggak? Pesan Math centang dua, belum terbaca. "Tunggu, belum dibaca?" ujar Math. Nando sudah tidak sabar. Math memeriksa layar, menunggu pesannya terbalas. Setelah menunggu sampai lima menit, pesan itu belum terbaca juga. "Gimana, Kak?" Nando gelisah. "Belum dibaca. Mungkin lagi sibuk." Wajah ceria Nando seketika meredup. *** "Saudari Risma, ada panggilan telepon buat Anda!" beritahu petugas jaga. Ia membuka kunci pintu. Risma yang sedang rebahan, spontan bangkit. Ia mendekati pintu dengan perasaan senang. "Dari siapa, Bu?" "Namanya Ero." "Ero?" Risma keluar tahanan sambil mencoba mengingat-ingat nama itu. Perasaan, ia tidak pernah punya kenalan yang bernama Ero. Atau jangan-jangan itu salah satu anggota dari tim pengacara, duganya dalam hati. Risma mengangkat gagang telepon dari atas meja. "Hallo!" "Selamat siang, Saudari Risma." "Siang!" Risma berusaha mengingat-ingat suara berat itu. "Maaf, ini siapa ya?" "Ero, pengacara Anda." "Iya, ada apa ya, Pak?" "Ada yang kangen dengan suara Anda!" Risma ingin tertawa tapi ditahan. Ia merasa curiga jangan-jangan si penelepon sedang mengerjainya. "Siapa?" "Fernando Hierro!" Nando kembali ke suara asalnya. Deg! Serasa kaki Risma tidak memijak bumi. Angannya terbang tinggi. Hatinya membuncah, ingin menangis mendengar suara itu. "Apa kabar, Ris?" tanya Nando lembut. Risma tercekat. Tanpa disadari air matanya mengalir. "Ris...." Bibir Risma bergerak-gerak, ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya terasa terkunci. "Kamu baik-baik saja kan?" "Iya." Risma berusaha agar suaranya tidak parau, tapi gagal. "Kamu menangis?" Tangis Risma pecah. Perasaannya campur aduk antara bahagia, kangen, dan merasa bersalah. Ia pun hanya bisa diam sambil menahan sesenggukan. "Yang sabar ya, Ris. Aku sudah memberikan keterangan pada polisi. Semoga itu akan menjadi pertimbangan bagi penyidik untuk membebaskanmu." "I-iya, ma-makasih, Do!" Risma menyeka air mata. "Kamu harus kuat, Ris, seperti aku yang sudah berjuang antara hidup dan mati. Kamu pasti bisa!" Tangis Risma pecah kembali. "Boleh aku mengunjungimu?" "Bo-boleh!" jawab Risma terbata. "Terima kasih, Ris." Nando merasa senang. Risma menarik napas dalam-dalam. Sekarang ia sedikit bisa mengendalikan perasaannya. "Aku minta maaf ya, Do. Seharusnya aku percaya sama kamu." "Sudah jangan pikirkan itu. Sekarang kamu harus janji akan kuat di sana. Okey?" "Oke." "Janji?" "Janji!" "Sekarang tersenyumlah!" Reflek Risma tersenyum sambil menangis. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN