Setelah berpikir panjang, Risma memutuskan untuk memberitahukan soal kebusukan Zulkifli kepada Yanuar. Ia ingin mendapatkan saran dari kakak sulungnya tersebut.
Kebetulan Yanuar datang sendirian, sepulang dari Jakarta mampir dulu menjenguk Risma.
"Wajah kamu kok kuyu banget?" tegur Yanuar begitu melihat Risma.
Risma hanya tersenyum saja. Sejak kemarin ia memang merasa kesepian di rumah tahanan. Itu membuat pikirannya terbang ke mana-mana, mulai dari memikirkan nasibnya yang belum kunjung ada kepastian hukum, sampai memikirkan bagaimana caranya agar papinya berhenti memintanya untuk menerima perjodohannya dengan Zulkifli.
"Kamu sehat kan?" Yanuar merasa cemas.
Risma mengangguk ragu. Ia sedang sedikit mengalami gejala flu. Badannya terasa meriang. Itu karena dua malam terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak.
"Abang langsung ke sini jadi nggak sempat bawain makanan kesukaanmu, padahal Ersa sudah wanti-wanti minta abang pulang ke rumah dulu. Ia sudah bikin gado-gado katanya."
"Kak Ersa mah cuman pengen bikin aku gemuk saja. Hehehe!"
"Mungkin biar Ersa nggak keliatan gemuk pas jalan sama kamu," canda Yanuar.
"Dih nyari temen!" Risma tertawa. "Tapi Kak Ersa itu kakak terbaik sedunia."
Yanuar mengernyit. "Emang abang enggak?"
"Dikit!"
Yanuar tergelak. "Padahal yang kakak kandung itu abang lho!"
"Meskipun ipar tapi Kak Ersa itu udah seperti kakak kandung. Apalagi kan aku nggak punya kakak perempuan."
"Siapa dulu dong, istri Yanur gitu lho!"
Risma mencibir, lantas tertawa. "Eh, Bang Yan, aku mau sampein sesuatu."
Yanuar mengerjap. "Apa itu?"
Risma menatap Yanuar ragu.
"Bilang saja nggak usah ragu!" desak Yanuar.
Risma mengatupkan bibir. Tadi padahal ia semangat sekali, kini saat tinggal mengucapkannya, ia malah ragu. Ia tidak mau membuat Yanuar menganggapnya cuman mau mencari alasan saja biar tidak dijodohkan dengan Zulkifli.
"Aku takut...." Risma menunduk.
"Takut kenapa?"
Risma bungkam. Ia semakin ragu untuk mengatakannya. Meskipun ia tahu kalau Yanuar selalu berpihak padanya tapi apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang mengejutkan.
Dari segi apa pun, selama ini Zulkifli dikenal baik. Siapa pun yang baru mengenalnya orang akan terkesan dengan keramahannya. Ia sangat supel dan menyenangkan ketika diajak bicara. Tidak ada yang akan menyangka jika ia memiliki sisi lain sebagai seorang playboy kelas kakap.
Yanuar menjadi cemas. "Ris, kamu kenapa?"
Risma mendongak, tanpa berani menatap Yanuar. Ditariknya napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sedikit demi sedikit ia mendapatkan rasa tenang. Otaknya pun tidak sekusut tadi.
"Ada abang, apa yang kamu takutkan, bilang saja ada apa?" desak Yanuar.
Setelah dipikir-pikir, Risma merasa harus mengatakannya kepada Yanuar. Memang ia yakin kakaknya itu pasti awalnya akan sulit mempercayainya, tetapi ia juga yakin Yanuar tidak akan menganggap dirinya berbohong, apalagi melukan fitnah.
"Apa itu ada kaitannya sama kasus kamu?" tebak Yanuar, memancing.
Pancingan Yanuar berhasil. Risma menggeleng.
"Lalu apa?" Yanuar semakin penasaran.
Risma menarik napas panjang. Ditatapnya Yanuar. "Ini soal Zul!"
"Ada apa dengan Zul? Apa ia membuatmu merasa nggak nyaman?"
"Enggak, bukan itu!"
Yanuar semakin sulit menahan rasa penasarannya. "Cerita saja sama abang!"
"Tapi abang nggak akan marah kan?" Risma menatap Yanuar penuh harap.
"Enggak!" jawab Yanuar tegas.
Risma pindah tempat duduk ke sebelah Yanuar. Ia tidak ingin ada orang lain yang akan mendengarkan ucapanya.
"Abang pernah nggak merasa penasaran kenapa aku ngotot nggak mau dijodohkan sama Zul?"
"Iya, sangat penasaran. Tapi abang merasa itu hak kamu untuk menolak, jadi nggak pernah menanyakannya sama kamu."
"Abang percaya nggak kalau aku bilang Zul itu playboy?"
Yanuar mengernyit. "Kamu nggak bercanda kan?"
"Jawab saja dulu pertanyaanku!"
Yanuar menatap Risma. "Kalau kamu bisa memberikan buktinya, sudah pasti abang akan percaya."
"Saat ini aku belum bisa menunjukkan buktinya, tetapi yang jelas aku pernah bertemu dengan salah satu korban Zul," dalih Risma. "Abang percaya?"
Yanuar terdiam.
"Tuh kan, abang pasti nggak percaya!" Risma melengos.
Yanuar mencolek lengan Risma. "Kapan kamu pernah bertemu korbannya?"
"Sudah agak lama. Bisa dibilang sejak awal-awal aku ketemu Zul!"
Sepasang alis Yanuar terangkat bersamaan. "Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang?"
Risma mendesah pelan. "Aku nggak berani mengatakannya."
Yanuar mendengus tertahan. "Kalau kamu nggak berani bilang sama papi, paling enggak kamu bisa bilang sama abang!"
Risma membenarkan ucapan Yanuar. Ia menyesal kenapa tidak dari dulu mengatakan itu kepada kakak sulungnya itu.
"Abang selalu ada di pihakmu, Ris!" Yanuar membelai rambut Risma. "Ya meskipun kamu tahulah, pada akhirnya kita nggak pernah bisa membantah papi."
"Itulah alasan kenapa aku menyimpan ini sendiri!"
Yanuar mengangguk paham. "Oke, sejauh apa kamu tahu kalau Zul seorang playboy?"
Risma menatap Yanuar. Ia kembali ragu karena apa yang akan ia ceritakan akan terdengar tidak masuk akal.
Melihat Risma diam, Yanuar yang sudah terlanjur penasaran, menjadi tidak sabar. "Ayo ceritakan apa yang kamu tahu?"
"Oke!" Risma menguatkan diri untuk menceritakannya. "Aku pernah bertemu dengan perempuan bernama Lusy. Ia mengaku mau dijadikan kekasih Zul meskipun tahu lelaki itu seorang playboy. Motif Lusy adalah uang. Tapi suatu hari ia sadar kalau dirinya hamil."
"Hamil?" Yanuar terperanjat.
Risma mengangguk. "Iya, Lusy mengaku hamil anaknya Zulkifli."
Yanuar mematung. Ia sulit mempercayai ucapan Risma, meskipun ia sangat yakin adiknya itu tidak mengada-ada.
Risma melanjutkan cerita. "Lusy menunjukkan semua foto kemesraannya sama Zul padaku. Aku sudah memeriksanya dan yakin kalau foto itu asli, bukan rekayasa."
Yanuar sangat shock. Ia mengusap wajahnya, masih sulit mempercayainya.
"Lalu Lusy menyampaikan kabar kehamilannya kepada Zul, tetapi bukannya bertanggung jawab, Zul malah ngasih uang lima puluh juta pada Lusy dan menyuruh buat menggugurkan kandungannya."
"Astaga!" ratap Yanuar.
"Bukan itu saja, Zul juga mengancam akan melaporkannya ke polisi jika Lusy menyebarkan berita itu kepada orang lain."
Yanuar menyandarkan punggung ke kursi. Semua cerita Risma seperti dongeng saja, namun ia percaya kepada adik bungsunya itu.
"Itulah kenapa aku ngotot nggak mau dijodohkan dengan Zul!" ujar Risma.
Yanuar masih shock. Ia bingung harus bagaimana jika cerita Risma benar. Ia membutuhkan bukti dan saksi jika ingin menyampaikan itu kepada papinya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Risma, meminta saran.
Yanuar menggeleng lemah. "Abang belum tahu. Mendengar itu saja sudah membuat abang shock."
"Tapi abang percaya sama aku kan?" Risma menatap Yanuar.
Yanuar menoleh. "Iya, abang percaya."
Risma tersenyum senang. "Yang penting abang percaya. Soal mencari bukti dan saksi kita sewa saja detektif swasta."
"Hah?" Yanuar melongo. Ia memang belum tahu kalau Risma biasa menggunakan jasa detektif.
Risma tersenyum geli melihat ekspresi aneh Yanuar.
"Detektif swasta?" Yanuar masih bingung.
"Iya, Kak. Kita sewa detektif swasta buat menyelidiki apakah benar Zul playboy atau bukan."
"Memang kamu tahu harus menghubungi ke mana kalau mau sewa detektif?"
"Tahu!" jawab Risma mantap. "Aku punya temen seorang detektif."
"Serius?" Yanuar merasa heran adiknya punya teman detektif. Selama ini Risma dikenal sebagai anak rumahan.
"Ho-oh!" Risma tersenyum penuh arti. Tangannya menadah kepada Yanuar. "Coba pinjam ponselnya!'
Yanuar menyerahkan ponsel. "Mau nelfon siapa?"
"Detektif!" jawab Risma sambil menekan beberapa digit angka. Ia sedang menghubungi Faisal Abdau.
Yanuar bingung dengan tingkah Risma. Apalagi ketika wajah adiknya itu cemberut karena panggilannya tidak terjawab Faisal.
Risma tahu Faisal Abdau tidak akan langsung menjawab panggilan telepon dari nomor tidak dikenal. Maka itu ia sabar, memberi kesempatan pada detektif itu untuk memeriksa nomor telepon Yanuar.
Kemarin Risma harus memanggil nomor telepon Faisal selama tiga kali baru terjawab. Kali ini, ia sudah mencoba sampai lima kali tapi belum terjawab juga.
"Ngeselin!" umpat Risma kesal. Panggilannya belum juga dijawab Faisal.
"Kalau bener ia temen kamu, harusnya ia langsung menjawabnya dong!" ujar Yanuar heran.
Risma melirik Yanuar sebal. "Nomor abang kan belum tersimpan di kontaknya. Ia harus ngecek dulu siapa pemiliknya."
"Memang bisa?"
"Bisalah!" timpal Risma semakin sebal. "Namanya juga detektif!"
"Oh...." Yanuar mengangguk saja agar Risma tidak semakin sebal.
Usaha Risma sudah yang ketujuh, tapi Faisal belum juga menjawab panggilannya. Dengan kesal ia mengembalikan ponsel kepada Yanuar.
"Nggak jadi?" Yanuar melirik log panggilan. Ia mencoba memanggil ulang nomor tersebut.
"Tauk!" Risma merajuk. Hanya sama Yanuar saja, ia tidak malu bermanja-manja.
"Nah dijawab!" Yanuar menunjukkan layar ponsel kepada Risma.
Buru-buru Risma mengambil ponsel dari genggaman Yanuar. "Hallo! Lama amat sih jawabnya!"
"Maaf, ini siapa, ya?" ledek Faisal. Ia sudah mengenali suara Risma tapi pura-pura tidak tahu.
"Dari teroris manis!" jawab Risma asal-asalan.
"Hehehe! Yanuar itu siapa?"
"Kepo!" semprot Risma. "Lama amat sih cuman buat ngecek kontak doang!"
"Aku lagi melakukan penyamaran, jadi ponselnya aku bungkam." Faisal menjelaskan. "Ada kabar apa nih?"
"Aku mau marah!" ujar Risma serius. "Kamu kok ngilang gitu aja sih? Emang gak butuh duit?"
"Duit apa nih?"
"Pura-pura nanya lagi!"
"Kalau yang kemarin udah dikasih sama calon tunanganmu itu!"
"Hey!" Risma kaget. "Bagaimana kamu bisa bilang ia tunanganku?"
"Zul cerita."
"Astaga!" Risma menepuk jidat. "Bohong itu!"
"Beneran juga nggak papa kok. Santai aja."
Risma menjadi sebal. "Udah gak usah bahas itu! Aku ada kerjaan buat kamu."
"Siap, Bos!"
Risma semakin sebal. "Jangan panggil aku bos!"
"Oke, Juragan!"
"Berisik!" semprot Risma. "Kamu bisa nggak besok ke sini?"
"Sore, bisa."
"Oke, aku tunggu!"
"Siap, Teroris Manis!"
"Sak karepmulah!"
Faisal tertawa ngakak.
Risma mengakhiri panggilan. Ia mengembalikan ponsel kepada Yanuar.
"Siapa nama detektifnya?" tanya Yanuar penasaran.
"Faisal Abdau."
"Lalu apa rencana kamu?"
Risma berpikir sejenak. "Intinya menyelidiki Zul. Aku mau serahin ke Faisal. Ia selalu punya cara unik buat mencari fakta."
Yanuar sedikit ragu. "Kamu yakin ini akan berhasil?"
"Faisal selalu berhasil memecahkan kasus tepat waktu." Risma meyakinkan Yanuar.
Yanuar mendesah pelan. "Maksud abang, apa mungkin semudah itu mencari bukti dan saksinya?"
Risma menoleh heran. "Kan saksi sudah ada! Faisal tinggal mencari bukti yang cukup."
Yanuar mengangguk. "Iya, abang paham. Masalahnya adalah saksi belum tentu bisa diajak kerjasama. Kamu kan tadi bilang kalau Zul mengancam korbannya."
Risma terdiam, membenarkan kata-kata Yanuar.
"Yang kita hadapi itu Zulkifli. Ia dari keluarga terpandang. Kerabatnya banyak yang menjadi pejabat strategis. Ia juga sangat piawai dalam mencari celah hukum!"
Risma menatap Yanuar. "Kebenaran tidak akan pernah kalah, Bang!"
"Iya memang," ujar Yanuar masih ragu apakah cara Risma akan berhasil.
"Abang mendukung aku kan?" Risma bergelayut manja pada bahu Yanuar.
Yanuar mengelus-elus rambut Risma. "Pasti."
"Mendukung itu salah satunya adalah dengan membiayai penyelidikan ini."
Yanuar terkekeh. "Yaiyalah. Memangnya kemungkinan berapa total biayanya?"
"Nggak banyak kok, Bang?"
"Berapa?"
Risma melepaskan gelayutannya sambil cengar-cengir. "Cuman satu juta rupiah kok."
Yanuar mengerjap. "Kok murah?"
Risma mengangguk. "Satu juta per hari!"
Yanuar kaget. "Astaga, serius?"
Risma tertawa geli, sudah berhasil membuat Yanuar percaya dengan candaannya.