Saran Dari Siti

1599 Kata
Nando lebih bugar ketimbang tadi siang. Ia juga memiliki semangat lebih untuk memberikan keterangan kepada penyidik ketimbang sebelumnya. "Selamat siang, Saudara Nando." Faisal menyapa Nando. "Tampaknya kebugaran Anda semakin meningkat." "Selamat siang, Pak." Nando tersenyum meskipun sedikit berdebar. Ia takut salah ucap nanti. "Anda sudah siap memberikan keterangan?" Faisal memastikan. "Siap, Pak." Nando menarik badannya agar enak dalam posisi duduk. Ia mengganjal kepalamya dengan bantal. "Baik, saya akan langsung bertanya pada saat Anda mengalami penusukan." Kepala Nando sedikit pusing, mengingat kejadian itu. "Anda sedang apa dan berada di mana ketika mengalami penusukan?" tanya Faisal. "Saya sedang rebahan di jok belakang. Waktu itu saya lelah sekali." "Ceritakan lebih lanjut!" "Waktu itu tinggal kami bertiga, yaitu saya, Risma, dan Pak Faizin," kenang Nando. "Di mana saja posisi Faizin dan Risma?" Nando mencoba mengingat-ingat karena kondisinya saat itu sedang terluka cukup parah akibat kecelakaan sepeda motor. "Pak Faizin ada di jok depan, sementara Risma sedang berada di luar mobil, sepertinya mau menelepon polisi." "Sebentar!" Faisal memotong cerita Nando. Ia ingin menguji kebenaran keterangan Risma. "Jadi ponsel-ponsel itu kalian ketemukan dalam kondisi masih berfungsi dengan baik, sehingga Risma bisa menelepon polisi?" Nando buru-buru meluruskan. "Bukan dari ponsel yang hilang itu, Pak. Saya juga kurang tahu persis dari mana Risma bisa mendapatkan ponsel sehingga bisa menelepon polisi. Kondisi saya sedang kepayahan waktu itu, jadi nggak bisa memperhatikan dan mengingat dengan baik apa yang sedang terjadi saat itu." "Oke, jadi pernyataan Anda bahwa Risma berada di luar mobil untuk menelepon polisi adalah baru dugaan saja?" Nando mengangguk ragu. "Tapi saya masih bisa melihat saat Risma keluar dari mobil, Pak." Faisal mengernyit. "Bukannya Anda sedang kepayahan?" "Benar, tapi saya masih bisa melihat Risma keluar mobil. Saya masih mengingatnya dengan baik sampai sekarang." "Baik, apa yang terjadi selanjutnya?" Nando membetulkan posisi bantal yang sedikit miring. "Setelah Risma keluar mobil, Faizin ikut keluar. Saya pikir ia akan menyusul Risma. Rupanya ia mendekat ke pintu tengah. Saya yang sudah tahu kalau Pak Faizin adalah pelaku pembunuhan Pak Jenggot, segera bangun dari rebahan dan segera mengunci pintu mobil." Nando menelan ludah. Ia merasa ngeri mengingat kejadian itu Faisal mendengarkan dengan saksama dan memperhatikan ekspresi Nando dengan baik. Sebenarnya ia ingin menanyakan apa alasan Nando menuduh Faizin yang telah membunuh Pak Jenggot, tetapi ia akan menundanya nanti. "Faizin tidak bisa masuk melalui pintu tengah. Ia kembali ke pintu depan. Yang jendelanya sedikit terbuka. Dari sana ia membuka kunci pintu tengah." Nando memegangi kepalanya yang mulai pusing. "Anda baik-bak saja?" Faisal memastikan. Nando mengangguk. Ditariknya napas dalam-dalam. "Saya bangkit dan berusaha keluar dari mobil, tapi Faizin berhasil mencegah. Lalu ia mengacungkan benda tajam seperti paku ke arah saya, tapi meleset." Faisal tidak berkedip, menatap Nando lekat-lekat dan menunggu kelanjutan cerita Nando. "Benda tajam itu menancap pada jok. Saya beringsut menghindar, tapi Faizin yang tampaknya sangat geram, segera memukul-mukulkan kepala saya pada kaca mobil. Saya merasa sangat pusing dan perut terasa mual." Faisal memberi kesempatan Nando untuk menarik napas panjang. Ia harus memastikan saksinya itu memberi keterangan dalam keadaan kondisi nyaman. "Saya terkulai, tapi masih sadar. Dalam keadaan tidak berdaya itu, saya masih bisa melihat Pak Faizin mencabut benda tajam yang menancap jok, lalu menusukkannya ke perut saya." Faisal tercengang. "Anda yakin masih sadar dan melihat kejadian itu?" Mata Nando sembab. Ia tidak tahan untuk mengingat kejadian tragis itu. "Anda berhak meminta saya untuk menunda kelanjutan cerita itu." Nando menunduk dalam-dalam. Reflek tangannya meraba perutnya yang terkena tusukan. Faisal peka atas situasi ini. "Baiklah, kita bisa lanjutkan ini nanti." Nando menggeleng. Ia harus menceritakan kejadian itu sampai selesai. "Saya masih sanggup, Pak." "Anda yakin?" Nando mengangguk. "Iya." Faizin diam untuk beberapa saat, memberi kesempatan kepada Nando sampai siap melanjutkan ceritanya. "Saya mengerang, merasakan sakit yang luar biasa. Sebelum kesadaran saya hilang, saya masih sempat mendengar suara Risma mencoba menghentikan Faizin. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa." Faisal menepuk bahu Nando pelan. "Anda hebat, kuat bertahan setelah kejadian itu." Ia memberi pujian agar Nando semakin kuat. "Terima kasih, Pak." "Masih ada yang ingin saya tanyakan," ujar Faisal. "Anda masih sanggup menjawabnya?" Nando mengangguk. Faisal mengangguk. "Baik, tadi Anda memberi keterangan yaitu sebuah pernyataan bahwa Faizin telah membunuh Pak Jenggot. Atas dasar apa Anda mengatakan itu?" Air mata Nando tumpah. Ia memejamkan mata kuat-kuat. Faisal menyodorkan boks tisu. Namun Nando menolaknya dan lebih memilih menyeka air matanya menggunakan lengan baju. "Saya harus menceritakan soal mobil itu," ujar Nando. "Silakan!" "Sebelum terbunuh, Pak Jenggot mengatakan kalau di gudang vila ada pompa sepeda. Ia dan Pak Faizin mengambilnya, lalu mereka bergantian memompa semua ban mobil." Nando mulai bercerita. "Saya tidak ikut membantu karena kondisi saya sangat lemah. Setelah terpompa semua, mobil dijalankan, namun sayangnya ban depan kiri kempes." Faisal sudah mendapatkan keterangan itu dari Risma, tetapi ia ingin mendengar keterangan dari sudut pandang Nando. "Lalu, Pak Jenggot dan Pak Faizin menggantinya dengan ban serep. Namun, ban serep kekurangan angin, jadi Pak Jenggot memompanya." Nando menekuk lututnya. "Kemudian Risma bilang mau ke kamar mandi. Pak Faizin juga bilang mau ke toilet di pos penjaga kebun buat buang air kecil." Faisal mencatat sesuatu pada kertas sambil telinganya tetap fokus pada ucapan Nando. "Sekitar beberapa menit kemudian, saya merasakan badan mobil bergoyang dan saya mendengar suara mirip orang bergumam. Saya pun penasaran, lalu keluar dari mobil." Nando berhenti sejenak. Kepalanya mulai pusing. Mengingat kembali kejadian itu serasa ia kembali mengalaminya. Namun ia harus segera menyelesaikan ceritanya. "Saya melihat kepala Pak Jenggot menyandar pada badan mobil tapi badan berada di atas tanah. Saya juga sempat melihat sesosok bayangan menjauh dengan tergesa. Dari caranya berjalan, saya menduga itu Pak Faizin." Faisal mengatupkan bibir, lantas mendengus. "Jadi itu hanya dugaan?" "Maaf, saya belum selesai cerita," ujar Nando. "Oke, teruskan!" "Saya melihat Pak Jenggot mengeluarkan banyak darah. Saya coba untuk memeriksa denyut nadinya, ia masih hidup. Kemudian saya melihat tangannya bergerak, seolah ingin menunjukkan sesuatu. Bibirnya juga bergerak-gerak. Maka saya dekatkan telinga karena yakin ia ingin membisikkan sesuatu. Ternyata benar, ia menyebut nama Faizin secara terbata." Faisal tercenung, menatap Nando lekat-lekat. "Apa yang Anda pikirkan saat itu?" "Saya langsung yakin kalau Pak Jenggot ingin mengatakan bahwa Pak Faizinlah orang yang telah menusuknya." "Itu hanya keyakinan Anda saja?" Nando terdiam. "Anda harus punya bukti atau saksi jika ingin menuduh Faizin, karena jika tidak itu akan memberatkan Anda sendiri nanti!" Faisal mengingatkan. "Iya saya paham." Nando menelan ludah. "Tapi izinkan saya menyelesaikan cerita itu." "Silakan!" Faisal menyandarkan punggung pada kursi. "Saya melirik baju Pak Jenggot. Ada sebuah benda di kancingnya yang membuat saya tertarik. Saya pun mengambilnya. Rupanya itu spy camera. Maka saya mengantonginya." Faisal sudah menonton video rekaman spy camera itu berulang-ulang. Kini ia semakin menemukan titik terang siapa sebenarnya yang telah membuat kekacauan di vila. "Saat sadar, saya menanyakan spy camera itu pada kakak saya," ujar Nando. "Kakak saya bilang spy camera itu sudah diserahkan kepada polisi sebagai barang bukti." Faisal mengerjap. "Jadi spy camera itu berasal dari korban bernama Pak Jenggot?" "Iya." "Anda sudah menontonnya?" Nando menggeleng. "Belum." "Lalu bagaimana Anda bisa yakin kalau Faizin yang membunuh Pak Jenggot?" selidik Faisal. Nando terdiam. Faisal mendengus. "Sekali lagi saya ingatkan, jangan memberi keterangan berdasarkan keyakinan, dugaan, atau yang semacamnya. Kami butuh fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Paham?" "Paham, Pak." *** Risma memeluk Siti erat-erat. Satu sisi ia sangat bahagia perempuan itu akan bebas dari penahanan, namun di sisi lain ia merasa kehilangan. Setelah ini ia akan kesepian di tahanan ini. Risma melepas pelukannya. "Selamat ya, Bu. Saya ikut bahagia atas kebebasan ibu." "Statusku masih tersangka." Siti tersenyum antara senang dan sedih. "Paling enggak, ibu punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum proses hukum selanjutnya," hibur Risma. Siti mengangguk. "Yang pasti saya bisa kumpul kembali dengan anak-anak." "Kapan ibu akan pulang?" "Sebentar lagi, menunggu petugas memberitahu." "Salam buat anak sulung ibu," ucap Risma. "Ia anak yang luar biasa." Siti mengangguk bahagia. "Iya. Sekarang ia menggantikan peran ayahnya." Risma terharu. "Kamu kapan menikah?" tanya Siti. Risma tercenung. Ia tidak menyangka Siti akan menanyakan itu. Melihat perubahan mimik Risma, Siti menjadi merasa tidak enak hati. "Maaf kalau aku kepo." Risma tergelak. "Ibu tahu kepo juga?" Siti terkekeh. "Anak-anakku sering menyebut kata itu." Risma mengangguk-angguk. Suasana pun kembali hening. Siti masih merasa tidak enak hati pada Risma. "Sebenarnya aku mau dijodohkan sama seseorang," ujar Risma akhirnya mengaku. "Tapi aku nggak mau karena lelaki calonku itu seorang playboy, pernah menghamili orang tapi nggak mau bertanggung jawab." Siti terdiam. Ia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu, takut menyinggung perasaan Risma. Sebenarnya ia ingin bertanya, apakah orang tua Risma tahu tentang itu. "Orang tuaku tahunya ia lelaki yang baik, karirnya cemerlang, dan kehidupannya mapan." Pertanyaan yang urung Siti lontarkan itu baru saja terjawab Risma. "Aku ingin mengatakan kebobrokan lelaki itu pada papi dan keluargaku tapi takut dianggap mengada-ada," ujar Risma sedih. "Padahal saksi dan korbannya ada." "Kenapa nggak kamu tunjukkan saja korban dan saksi itu pada keluargamu?" Siti memberi saran. "Itulah masalahnya." Risma menunduk galau. "Lelaki itu mengancam akan melaporkan si korban ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik." Sepasang alis Siti terangkat. "Sepertinya lelaki itu punya kedudukan tinggi." Risma mengangguk. Ia tidak mungkin cerita kalau lelaki itu adalah pengacaranya. "Kalau begitu kamu harus buktikan dulu kepada keluargamu kebobrokan lelaki itu. Itu kuncinya." Siti memberi solusi. Risma mempertimbangkan saran dari Siti. Ia memang harus menunjukkan kepada keluarganya siapa sebenarnya Zulkifli. Jika begitu, ia harus menggunakan jasa Faisal untuk mencari bukti dan saksinya. "Itu hanya saran saja sih!" ujar Siti. "Terima kasih atas sarannya. Saya akan mempertimbangkannya." Siti senang karena sarannya dipertimbangkan Risma. "Ibu Siti!" Petugas tahanan membuka pintu sel. Siti menoleh gembira. "Ibu Siti boleh pulang sekarang," beritahu penjaga. "Ikut saya?" Sepasang mata Siti sembab. Ia sangat bahagia. Sementara di sebelahnya, Risma ikut bahagia, sekaligus sedih karena sebentar lagi akan merasa kesepian. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN