Faisal mengaktifkan alat perekamnya. Ia meletakkannya pada meja di dekat tempat Nando berbaring. Ia juga telah siap dengan catatannya.
"Mohon maaf, saya tidak bisa memberitahukan status saudari Risma kepada Anda." Faisal tersenyum bijak.
Nando merasa kecewa, meskipun ia berhasil menyembunyikannya di balik senyum.
"Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama." Faisal menatap Nando. "Ada acara apa di TKP sehingga Anda datang ke sana?"
Nando menarik napas panjang. "Saya dan keempat orang lainnya ada acara reuni terbatas di vila. Saya datang bersama Desi."
"Sebutkan siapa saja keempat orang yang Anda maksudkan?"
"Desi, Hendi, Risma, dan Pak Faizin."
"Reuni terbatas seperti apa yang Anda dan lainnya lakukan di sana?"
"Dulu kami satu perusahaan bengkel mobil. Pak Faizin kepala bengkelnya. Saya dan lainnya bawahannya."
"Baik, kita langsung saja ke pertanyaan kedua." Faisal memeriksa kertas di tangannya. "Menurut keterangan saudari Risma, Anda sempat menghilang waktu kalian sedang bersama-sama mencari ponsel yang hilang. Sebenarnya Anda ke mana?"
"Saya bingung harus pergi ke mana. Yang pasti saya merasa tidak aman berada di sana." Nando mengusap dahinya yang masih sedikit pusing. "Situasinya saat itu Desi meninggal di kamar. Sementara kami tidak bisa menghubungi siapa pun karena ponsel yang kami kumpulkan hilang. Mobil Desi juga disabotase. Semua bannya kempes. Itu membuat saya merasa tidak aman."
Faisal mengangguk-angguk. "Anda sedang berada di mana ketika Desi ditemukan tidak bernyawa?"
"Saya ke kamar mandi belakang, Pak, buat buang air kecil. Memang saya agak lama karena di sana saya berpikir bagaimana caranya agar bisa pulang sebelum acara selesai."
"Kenapa Anda tidak ingin mengikuti acara sampai selesai?"
Nando menarik napas panjang. "Saya tidak mau membuka masalah lama yang saya anggap sudah selesai."
"Masalah lama?" Faisal mengerjap. "Ceritakan pada saya masalah lama seperti apa yang Anda maksud?"
Nando diam sejenak. Ia malas mengingat-ingat masalah itu. "Kasus hilangnya mobil pelanggan, Pak. Sebenarnya mobil itu tidak hilang, tetapi dibuat seolah hilang oleh Desi dan pemiliknya. Mereka berkomplot buat menjatuhkan Risma, saya, dan Pak Faizin."
"Memangnya apa motif Desi melakukan itu? Anda tahu?"
"Dendam, Pak!"
Faisal memeriksa kertas di tangannya. Keterangan Nando sama dengan keterangan Risma. "Dendam karena apa?"
Terpaksa Nando bercerita dari sudut pandangnya perihal kedatangan Risma di Reyncar yang membuat Desi secara tidak langsung berseteru dengan Risma. Ia menceritakannya secara garis besar sampai kepada momen Faizin dipecat dan dirinya dibuang keluarga.
Faisal membandingkan cerita Nando dengan cerita Risma. Ia menemukan kesamaan alur dan konfliknya dari dua sudut pandang berbeda.
Nando merasa lega telah menceritakan masa-masa pahit itu. Jika bukan karena demi penyelidikan kasus, ia malas mengingat-ingat kembali.
"Baik, terima kasih, Anda sudah menceritakannya, meski saya tahu tidak mudah bagi Anda untuk melakukannya karena kondisi Anda yang sedang tidak dalam kondisi prima." Faisal mengapresiasi cerita Nando.
"Saya masih memiliki beberapa pertanyaan." Faisal mengambil air mineral dari atas meja. "Apa Anda membutuhkan minum?"
Nando menggeleng. "Tidak, Pak, terima kasih."
Faisal meletakkan kembali air mineral ke atas meja. "Anda masih sanggup buat saya mintai keterangan?'
"Masih, Pak."
Faisal mencatat sesuatu pada kertas di tangannya. "Kita kembali ke posisi Anda yang sedang berada di kamar mandi belakang. Kapan Anda tahu kalau Desi tidak bernyawa di dalam kamarnya?"
Nando menelan ludah. "Saya mendengar Risma berteriak. Segera saja saya keluar dari kamar mandi. Di ambang pintu kamar, saya melihat wajah Risma pucat, memandang ke dalam kamar. Badannya mengejan, ngeri. Lalu saya masuk kamar. Saya melihat Desi tergeletak di dekat lemari. Dadanya tertusuk benda tajam. Saya mencoba memeriksa denyut nadinya dan saya tidak mendapati tanda-tanda kehidupan di sana."
Faisal menatap Nando. "Setahu Anda, Faizin dan Hendi berada di mana saat kejadian itu?"
"Saat saya berlari ke kamar itu, saya melihat Hendi dan Pak Faizin juga berlari ke arah yang sama. Sepertinya mereka dari luar vila."
Sejauh ini, Faisal menyimpulkan keterangan Nando tidak ada satu pun yang bertentangan dengan keterangan Risma. Di antara enam orang yang berada di TKP, hanya keduanya yang masih hidup, praktis ia hanya bisa mendapatkan dan membandingkan keterangan kedua orang tersebut.
Faisal melanjutkan pertanyaannya. "Lalu apa yang kalian lakukan setelah mendapati salah satu di antara kalian ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa?"
"Faizin meminta Risma buat mengambil ponsel yang dikumpulkan. Kami bermaksud menelepon polisi." Nando menjelaskan. "Tapi ternyata ponsel-ponsel yang dikumpulkan Risma di dalam lemari itu lenyap."
Faisal mengerjap. "Anda dan yang lainnya apa tidak merasakan keanehan? Misalnya, apakah kalian tidak curiga satu sama lain, apakah benar Risma menyimpan ponsel-ponsel di dalam lemari tersebut?"
"Kami sempat gaduh dan berspekulasi. Pak Faizin berusaha menengahi dan akhirnya kami sepakat untuk melaporkannya kepada polisi bersama-sama menggunakan mobil Desi."
"Lalu?"
Nando mendengus. Ia kesal jika mengingat kejadian itu. "Kami menuju mobil tapi ternyata semua bannya kempes."
Faisal mengernyit. "Aneh! Apakah Anda merasakan itu suatu kejadian yang aneh untuk disebut sebagai sebuah kebetulan?"
Nando menggeleng. "Saya tidak yakin kalau itu kebetulan. Saya merasa ketiga kejadian itu ada yang merencanakan."
"Lalu apa sikap kalian selanjutnya?"
"Kami memutuskan untuk mencari ponsel-ponsel itu," jawab Nando. Dalam hati ia berdoa agar Faisal tidak menanyakan kelanjutan pencarian ponsel-ponsel itu. Sebab jika penyidik itu mendesaknta untuk memberitahukan alasan kenapa ia menghilang saat yang lainnya sedang bersama-sama mencari ponsel, ia bisa berada dalam posisi sulit.
"Lalu apa ponsel-ponsel itu ketemu?"
Nando kelabakan menjawabnya. "Iya," jawabnya lemah.
Faisal merapikan kertas-kertas di tangannya. Ia melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Masih ada beberapa pertanyaan yang harus saya ajukan pada Anda, tapi saya ingin memberikan waktu untuk beristirahat."
Nando tersenyum lega. "Iya, Pak, terima kasih."
"Sekitar jam tiga sore nanti, saya akan kembali," ujar Faisal. "Terima kasih atas semua keterangannya. Selamat beristirahat."
Nando mengangguk.
***
Ini adalah suasana paling sunyi yang Risma rasakan sejak mendekam di tahanan sel polisi. Siti, satu-satunya teman yang tersisa sedang mendapatkan kunjungan pengacara.
Risma duduk di pojokan favoritnya sambil menekuk kedua lutut dengan dagu menumpu di atasnya, membuat rambut panjangnya tergerai, menyentuh lantai.
Entah akan sampai kapan berada di tahanan ini, Risma tidak tahu. Penangguhan penahanannya telah ditolak penyidik. Proses hukumnya juga belum kunjung selesai. Meskipun Zulkifli mengatakan telah memiliki bukti baru, tetapi nyatanya sampai saat ini Risma masih mendekam di tahanan.
Proses hukum ini pasti akan sangat melelahkan, begitu pikir Risma. Jika berkas kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan, kemungkinan besar dirinya akan dipindahkan ke rumah tahanan seperti Yanti. Namun ia selalu berdoa agar ia dibebaskan tanpa syarat seperti yang dialami Nian.
Risma memang tidak meragukan kemampuan Zulkifli dalam upaya membebaskannya dari sangkaan, tetapi lelaki itu selalu membuat dirinya tidak nyaman.
Di mata Risma, Zulkifli memang lelaki yang cukup tampan. Karirnya cemerlang. Kehidupannya mapan. Risma juga tahu pengacara muda itu banyak diidolakan perempuan.
"Apa sih yang kurang dari Zul?" gugat Garin beberapa tahun lalu ketika Risma menolak untuk menerima cinta Zulkifli.
"Zul tampan, mapan, karir bagus, mau nyari cowok yang model gimana lagi?" Garin terus membujuk.
Waktu itu Risma hanya menjawab sederhana. "Aku nggak memiliki perasaan lebih sama Zul!"
"Makanya cobalah jalani dulu. Terima ajakannya buat jalan. Kasih Zul kesempatan dan kamu juga biarkan semua berjalan apa adanya. Aku yakin lama-lama kamu akan nyaman bersamanya."
Risma mengeleng. Ada satu alasan kuat kenapa ia enggan memberi Zulkifli kesempatan. Namun ia tidak mau mengatakannya kepada Garin. Risma yakin Garin tidak akan percaya dan menganggapnya mengada-ada.
"Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar?" tebak Garin.
Risma menggeleng tegas.
"Terus kenapa sih sulit banget buat kamu ngasih kesempatan Zul?"
Risma merasa kesal karena Garin terus-menerus mendesaknya agar memberi Zulkifli kesempatan. "Kenapa sih kakak ngotot banget?"
"Karena Zul memiliki semua kriteria sebagai seorang lelaki idaman!" dalih Garin. "Ia begitu sempurna, Ris!"
"Kalau begitu, buat kakak saja!" ujar Risma kesal.
Kalimat itu membuat hubungan Garin dan Risma sempat memburuk. Garin kesal karena menganggap Risma keras kepala. Sedangkan Risma kesal karena Garin lebih cenderung berada di pihak Zulkifli, alih-alih menghargai keputusannya yang menolak Zulkifli.
Sebenarnya Risma bisa saja mengatakan alasan sebenarnya kenapa ia bersikeras menolak Zulkifli. Namun jika ia melakukannya, ia yakin akan dianggap mengada-ada. Papinya pasti lebih percaya Garin ketimbang dirinya.
Sesungguhnya Risma bukan gadis kaku. Ia bisa menerima Zulkifli jika benar pengacara muda itu sebaik seperti yang dipromosikan Garin. Masalahnya adalah ia sudah tahu borok Zulkifli.
Waktu itu Risma sedang jalan bareng Zulkifli. Mereka makan malam di sebuah restauran ternama di Jakarta. Risma sempat terkesan dengan sikap ramah Zulkifli. Ia bahkan terkesan dengan semua cerita pengacara muda itu.
Pada acara makan malam itu, tanpa diduga ia bertemu dengan Katherin, teman kuliahnya yang juga sedang makan malam bersama suaminya. Mereka sempat berbincang berempat dalam suasana hangat, kecuali suaminya Katherin.
Beberapa hari setelahnya Katherin dan suaminya mengundang Risma makan malam di rumah pasutri itu.
"Ris, kamu sudah lama mengenal Zulkifli?" tanya Katherin hati-hati.
"Belum ada sebulan sih," jawab Risma. "Kenapa memangnya?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Risma, Katherin menatap suaminya. Sikap sepasang suami istri itu membuat Risma memiliki firasat bahwa mereka ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Ris, maaf ya, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu jangan marah." Katherin tampak gelisah.
"Katakan saja," ujar Risma. "Buat apa aku marah?"
"Aku dan suamiku nggak punya masalah personal dengan Zul. Aku harus mengatakannya karena nggak ingin kamu menyesal nanti."
Risma menjadi penasaran. "Memangnya kamu mau mengatakan apa tentang Zul?"
Katherin terdiam. Ia ragu untuk mengatakannya.
"Santai aja, Kath, aku nggak akan marah kok," desak Risma semakin penasaran.
"Begini saja, Ris." Suami Katherin mengambil alih. "Kalau kami ceritakan sama kamu, takutnya dianggap fitnah. Kalau kamu benar ingin tahu, aku akan ajak kamu menemui sepupuku."
Risma semakin bingung. "Kenapa dengan sepupu mas?"
"Maaf sudah terlanjur bikin kamu penasaran," timpal Katherin. "Tapi memang kami merasa kamu harus tahu sendiri ketimbang kami ceritakan."
Di hari yang telah ditentukan, Katherin dan suaminya mengajak Risma menemui Lusy. Di sana Lusy menunjukkan foto-foto kebersamaannya dengan Zulkifli.
Kepada Risma, Lusy bercerita bahwa Zulkifli seorang playboy. Meskipun begitu, ia mau saja menjadi pacar Zulkifli karena menginginkan uangnya saja. Suatu saat Lusy hamil dan menyampaikannya kepada pengacara muda itu.
Alih-alih bertanggung jawab, Zulkifli menolak mengakui anak dalam kandungan Lusy adalah hasil hubungan intim mereka. Zulkifli memberi uang lima puluh juta dan menyuruh Lusy menggugurkan kandungan itu.
Awalnya Lusy menolak, tetapi karena Zulkifli mengancam akan melaporkan Lusy ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik, maka Lusy terpaksa menurutinya.
Sejak itu Risma berusaha menjauhi Zulkifli. Ia selalu menolak ajakan jalan pengacara muda itu. Sampai akhirnya Zulkifli dan keluarganya datang dan membahas pertunangan. Sebenarnya bisa saja Risma menjadikan kasus Lusy sebagai alasan, tetapi ia yakin Zulkifli dan keluarganya akan menyanggah habis-habisan. Ia juga tidak mau hubungan kedua keluarga menjadi renggang gara-gara itu.
Cara terbaik yang bisa Risma lakukan adalah dengan mengenalkan Nando pada keluarganya. Namun ia harus meyakinkan Nando lebih dahulu agar mau memperjuangkannya bersama.
Ceklek!
Risma tersadar dari lamunan ketika penjaga tahanan membukakan pintu untuk Siti. Ia melihat wajah semringah perempuan itu.
Begitu masuk sel tahanan, Siti langsung memeluk Risma. Tiba-tiba perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Risma bingung harus bagaimana. Yang bisa ia lakukan adalah memeluk perempuan itu.
"Penahananku ditangguhkan!" beritahu Siti sambil sesenggukan.
"Alhamdulillah!" Risma ikut bahagia mendengarnya. "Selamat ya, Bu?"
Siti melepaskan pelukannya. Ia menyeka air matanya. "Anak sulungku mengirimkan pengacara. Mereka mengajukan penangguhan penahanku dan diterima."
"Ibu memang tidak bersalah, jadi sudah seharusnya ibu bebas." Risma terseyum senang.
"Kamu juga nggak bersalah. Ibu doakan segera bebas ya?"
"Aamiin!"
"Saudari Risma, ada telepon buat Anda!" Penjaga memberitahu Risma.
Hati Risma bersorak gembira. Ia yakin itu telepon dari Ersa. "Bu Siti, ada telepon buatku."
Siti memberi jalan pada Risma. "Iya, semoga itu berita baik."
Risma bangkit. Dikawal penjaga ia segera menuju pesawat telepon.
"Hallo!" sapa Risma.
"Hallo, Ris, kamu sehat?" tanya Ersa.
"Sehat, Kak. Ada kabar apa?"
"Tadi kakak ke rumah sakit dan ketemu Nando," beritahu Ersa.
"Nando sudah sadar?" Risma berharap-harap cemas.
"Sudah, kalau belum masa iya bisa kakak temui, hehehe!"
Risma terkekeh bahagia. "Kalian ngobrol apa saja?"
"Mmhh, nggak banyak sih, cuman tadi Nando titip salam buatmu."
Pipi Risma merona merah. "Serius, Kak?"
"Masa kakak bohong sih?"
"Iya, iya aku percaya, cuman kaget aja." Risma berdalih.
"Kakak nggak bisa berlama-lama di sana, soalnya ada penyidik yang mau meminta keterangan Nando."
Risma merasa bahagia. "Syukurlah, Kak. Nando itu saksi penting."
"Iya, Ris. Semoga keterangan Nando membuat penyidik segera mendapatkan alasan untuk membebaskanmu."
"Aamiin!"