Di sebuah koridor menuju ruang ICU, Ersa berpapasan dengan Math. Ia bermaksud menyapa, tetapi lelaki itu berjalan sangat cepat dengan wajah kuyu.
Ersa meneruskan langkahnya. Pikirannya masih tertuju pada momen papasan dengan Math tadi. Itu membuatnya tidak fokus, sehingga di sebuah belokan ia nyaris menabrak sebuah kereta dorong.
"Ups, maaf!" ucap Ersa kepada para petugas rumah sakit. Ia melihat di atas kereta itu pasiennya tertutup kain rapat, yang berarti sudah meninggal. Ia yakin pasien itu berasal dari ruangan ICU, karena akses koridor ini hanya mengarah ke sana, tidak ada akses ke ruangan lain.
Ersa melanjutkan langkah. Ruang ICU hanya tinggal lima meter. Ia merasa bingung karena tidak tampak keluarga Nando. Meskipun begitu ia meneruskan langkah, sampai ke depan ruang ICU. Dari kaca jendela ia tidak melihat Nando yang biasanya terbaring di bed itu.
"Maaf, Ibu nyari siapa?" Seorang bapak-bapak menghampiri Ersa.
Ersa menoleh. Ia tidak mengenal laki-laki itu.
"Barusan pasien itu dibawa ke kamar jenazah!" beritahu lelaki itu sambil melenggang pergi.
Ersa ingat kereta dorong yang tadi hampir ia tabrak. Ia penasaran, apa jangan-jangan pasien itu yang dimaksud bapak-bapak tadi? Apakah itu Nando?
Ersa berusaha membuang bayangan buruk. Meskipun kali terakhir ia melihat Nando masih koma, tapi ia berharap nyawa anak itu selamat.
Ersa berpikir, Nando sangat berharga buat Risma. Terlepas dari apa pun hubungan yang terjadi di antara keduanya, Nando pastilah saksi kunci. Anak itu satu-satunya korban penusukan yang selamat. Sehingga Ersa sangat berharap Nando akan kembali sadar.
"Mbak Ersa?"
Ersa menoleh. Spontan ia mengulas senyum ketika mendapati Math tampak sedang menatapnya heran. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Math ada di sampingnya.
"Mbak Ersa sedang apa?" tanya Math penasaran.
"Saya pengen tahu kabar Nando," jawab Ersa tanpa basa-basi.
Math tersenyum. "Nando sudah pindah ke kamar perawatan tadi pagi."
Ersa merasa lega mendengar jawaban Math. "Apa Nando sudah sadar?"
"Alhamdulillah sudah, bahkan kondisinya membaik secara signifikan."
"Alhamdulillah." Ersa senang, bukan hanya karena keadaan Nando semakin membaik, tetapi juga karena Math tidak seketus seperti ketika pertama kali mereka bertemu di tempat ini.
"Apakah Anda mau menjenguk Nando?" tanya Math.
Ersa mengangguk. "Iya, saya ingin menjenguknya jika Anda mengizinkan."
"Tentu saja saya mengizinkan." Math salah tingkah karena sadar dulu pernah berprasangka buruk pada Risma dan bersikap kurang baik pada Ersa. "Mari saya antar."
Ersa dan Math jalan berdampingan menyusuri koridor menuju ruang perawatan VVIP 3.
"Tadi Anda pasti mengira kalau Nando masih di ICU ya?" tebak Math.
"Tadinya saya akan tanya-tanya dulu ke ruang informasi, tapi saat melihat Anda jalan yang sepertinya dari ruang ICU, saya akhirnya ke ruang ICU." Ersa menjelaskan.
"Oh itu, tadi saya ada urusan sedikit sama dokternya."
Selanjutnya Ersa dan Math saling diam sampai di ruang VVIP 3. ruangan itu berjejeran dengan ruang di mana dulu Risma pernah dirawat.
Begitu Math membuka pintu, pandangan Nando langsung tertuju pada Ersa. Ia penasaran siapakah perempuan yang bersama kakaknya.
"Silakan masuk!" ujar Math.
"Terima kasih." Ersa memasuki kamar. Ia melihat Nando sedang memandang ke arahnya.
"Nando, perkenalkan, beliau ini Ersa, kakaknya Risma." Math memperkenalkan diri.
Perasaan Nando seketika membuncah. Ia senang sekali ada keluarga Risma yang mengunjunginya.
"Halo, saya Ersa, kakak iparnya Risma." Ersa mengulas senyum ramah. "Saya senang kondisi kamu tampaknya semakin membaik. Risma pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini."
Pipi Nando bersemu merah mendengar nama Risma disebut. "Salam kenal, silakan duduk." ucapnya.
Ersa duduk di kursi dekat ranjang Nando. "Saya pemilik vila itu. Mohon maaf atas apa yang menimpa kamu."
Nando mengangguk lemah. "Saya yang minta maaf, sudah bikin vila berantakan."
"Risma sangat mengkhawatirkanmu," beritahu Ersa. "Tapi sayangnya ia terlalu malu untuk menitipkan pesan padamu."
Nando senang luar biasa. "Bagaimana keadaan Risma, Kak?"
"Baik." Hanya itu yang bisa Ersa katakan. Ia mulai gelisah jika Nando menanyakan keberadaan Risma.
"Syukurlah! Saya juga mengkhawatirkan Risma."
"Maaf, saya ke sini nggak bawa apa-apa." Ersa terkekeh, menyalahkan dirinya sendiri karena tidak sempat membawa oleh-oleh.
"Nggak papa, Mbak Ersa. Jangan pikirkan." Math menyahut.
Nando mengangguk. "Saya senang Mbak datang. Sejak sadar, saya nggak tahu harus bagaimana mencari tahu kabar Risma."
Ersa menoleh kepada Math. "Anda menyimpan nomor telepon saya bukan?"
Math mengangguk. "Iya masih. Cuman Nando nggak pernah bilang atau minta tolong buat mencari tahu kabar Risma."
Ersa tersenyum geli. "Nggak papa, kan sekarang saya membawa kabar Risma."
"Boleh saya minta tolong sama Mbak?" tanya Nando penuh harap.
"Boleh. Kamu mau minta tolong apa?"
Nando diam sejenak. "Tolong sampaikan ucapan terima kasihku sama Risma."
Ersa mengangguk. "Baik, nanti saya sampaikan."
"Jika Risma nggak datang, mungkin saya sudah tewas," ujar Nando.
"Seperti itu ya?" Ersa mengangguk-angguk. "Jadi sebenarnya siapa yang telah mengacaukan vila saya?"
Nando menatap Ersa merasa berasalah. "Faizin yang membunuh teman-teman saya dan Pak Jenggot."
Ersa mendesah pelan. Meskipun tidak kenal dan orangnya sudah mati, ia sangat geram kepada Faizin. Apalagi adik iparnya yang harus mendekam di tahanan polisi. "Kamu mau bersaksi kepada polisi kan?"
"Maaf, Mbak Ersa!" Math menimpali. "Sebentar lagi penyidik polisi akan datang ke sini untuk dimintai keterangan."
Ersa mengerjap heran. "Polisi ke sini?"
"Iya," jawab Math.
"Tapi kan Nando masih sakit." Ersa merasa heran.
"Iya memang, tetapi sudah bisa untuk dimintai keterangan," ujar Math.
"Begitu ya?" Ersa merasa gembira karena kesaksian Nando sangat penting.
Math mengangguk. "Iya, Mbak."
"Apa Risma sudah dimintai keterangan sama polisi?" tanya Nando.
"Iya," jawab Ersa lirih.
Tok! Tok!
Math menuju pintu. Ia menduga yang mengetuk pintu adalah petugas polisi.
Dugaan Math benar. Seorang polisi berjaket hitam mengangguk ramah kepada Math. "Selamat sore, Pak. Saya Faisal Basri dari kepolisian."
"Oh, silakan masuk, Pak." Math membuka daun pintu lebar-lebar.
Faisal masuk. Ia mengulas senyum pada Nando. "Selamat sore, Saudara Nando."
Nando mengangguk. "Sore, Pak."
Math mendekatkan kursi kepada Faisal. "Silakan duduk, Pak!"
"Terima kasih, Pak," ucap Faisal kepada Math.
Melihat kedatangan penyidik polisi, membuat Ersa tidak enak hati untuk berlama-lama. Ia mendekati Nando. "Nando, saya pamit dulu ya?"
"Iya, Kak, terima kasih."
"Ada pesan buat Risma?"
Nando tersenyum. "Salam saja buat dia."
"Oke, nanti saya sampaikan." Selepasnya, Ersa menoleh kepada Math. "Saya permisi, terima kasih."
"Sama-sama, Mbak Ersa."
Ersa mengangguk ramah pada Faisal Basri. "Mari, Pak!"
Faisal balas mengangguk. "Mari, Bu!"
Ersa meninggalkan kamar. Suasana menjadi hening sejenak.
"Saya Faisal Basri dari penyidik polisi." Faisal memperkenalkan diri. Ia menata perlengkapannya ke atas meja. "Bagaimana kondisi kesehatan Anda?"
"Semakin baik, Pak!"
Faisal mengangguk-angguk. "Anda siap untuk dimintai keterangan?"
"Iya, Pak."
"Baik." Faisal melirik Math. "Saya hanya ingin berdua saja dengan saudara Nando."
Math mengangguk paham. "Iya, Pak." Ia meninggalkan kamar.
"Pak!" panggil Nando kepada Faisal. "Sebelum mulai, saya mau tanya sesuatu, boleh?"
Faisal menatap Nando. "Nanti selama dimintai keterangan, bertanya adalah kewenangan saya sebagai penyidik. Kalau sekarang silakan saja kalau mau bertanya."
"Boleh tahu apa status Risma dalam kasus ini?" tanya Nando.