Nian dibebaskan tanpa syarat karena pelapor dan saksi pelapor mencabut laporannya. Pada hari yang sama Yanti alias Yanto dipindahkan ke rutan karena perkaranya sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Di dalam sel tahanan polsek tinggal Siti dan Risma.
Risma yang baru kemarin perasaannya membaik, kini murung kembali. Ia kehilangan kepolosan Nian dan kekonyolan Yanti yang kerap kali mampu mengalihkan perasaan sedihnya.
Kini perasaan sepi merayapi hati Risma. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melamun. Sesekali ia rebahan, kadang juga ia duduk sambil menekuk sepasang lutut di pojokan. Tanpa ia sadari, sejak tadi Siti memperhatikannya.
"Sepi ya?" tanya Siti ditujukan pada Risma. Mereka duduk di pojok yang berbeda.
Risma menoleh, memaksakan senyum.
"Kata ibuku beliau pernah mengalami semua kesepian, tetapi kesepian di hari tua adalah yang paling menyedihkannya." Siti berujar.
Risma tertarik dengan kata-kata yang tadi diucapkan Siti. Ia beringsut, mendekat kepada perempuan yang usianya sudah berkepala empat itu.
"Ibu punya keluarga?" tanya Risma.
Siti mengangguk. "Anakku tujuh, dua lelaki, lima perempuan."
Risma mengerjap. "Wah, pasti ramai dong?"
Seulas senyum terkembang pada wajah Siti. "Bukan hanya ramai, tapi juga sangat berisik. Apalagi jika beberapa dari mereka ada yang berantem."
Risma tersenyum, membayangkan seperti apa rasanya berada di dalam keluarga dengan jumlah anak sebanyak itu.
"Jarak kelahiran setiap anak rata-rata dua tahun," ucap Siti. "Kebayang nggak repotnya?"
Risma menggeleng. "Nggak bisa bayangin."
Pandangan Siti mendarat pada dinding. Ingatannya melayang ke masa lalu. "Dulu saat anak-anakku masih kecil, aku ingin mereka segera tumbuh dewasa. Saat itu aku berpikir, pasti repotnya akan berkurang karena mereka tidak selalu tergantung orang tua."
Risma mulai antusias mendengarkan.
"Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain menyaksikan satu per satu anak tumbuh dewasa," kenang Siti. "Saat mereka dewasa, aku baru sadar usiaku sudah tua."
Risma tersenyum. "Ibu masih tampak muda kok. Nggak keliatan kalau ibu sudah punya anak tujuh."
Siti menoleh. "Aku menikah setahun setelah lulus SMA."
"Masih muda banget!" Risma berdecak kagum. "Usia suami ibu selisih berapa?"
"Enam tahun!" jawab Siti. "Beliau baru saja wisuda kala itu."
Risma mengangguk-angguk.
"Beliau suami yang baik dan ayah yang teladan." Siti tersenyum tapi matanya sembab.
"Luar biasa!" puji Risma.
"Beliau sangat menyayangi kami." Buliran bening pada mata Siti pecah, mengalir ke pipi. "Barangkali itu yang membuat Tuhan menyayanginya, sehingga memanggilnya begitu cepat."
Risma tercekat. Ia meraih pergelangan tangan Siti.
"Aku masih sangat muda, belum ada empat puluh tahun waktu itu. Aku harus memikul beban berat sendirian, yang dulu kami tanggung berdua." Siti menyeka air mata menggunakan lengan tangan. "Anak sulung kami waktu itu sedang kuliah di Jakarta. Sementara anak bungsu kami masih berusia satu tahun."
Risma meremas jari tangan Siti, sebagai bentuk empati.
"Tuhan maha adil!" Siti tersenyum, masih dengan air mata mengalir. "Anak sulungku sangat mandiri. Kuliah mendapat beasiswa dan untuk bertahan hidup di ibukota, ia nyambi kerja paruh waktu. Ia bilang agar aku fokus saja pada adik-adiknya. Ia menolak mendapatkan transfer dariku."
"Luar biasa!" puji Risma kepada anak sulung Siti.
"Bukan hanya itu saja. Sesekali ia masih sempat transfer uang untuk membayar buku sekolah adik-adiknya." Siti menyeka air mata. Senyumnya terkembang. "Bahkan selepas lulus, ia langsung mendapat perjaan di sebuah perusahaan asing. Gajinya sangat banyak, dua kali lipat gaji almarhum ayahnya."
"Alhamdulillah," ucap Risma.
"Ia sangat mirip dengan wajah ayahnya."
"Cowok?"
"Cewek!"
Bibir Risma membulat.
"Demi membantuku ia rela belum menikah hingga saat ini."
"Berapa usianya sekarang?"
"Dua puluh enam tahun!"
Risma mengerjap. "Seumuranku dong Bu!"
"Posturnya juga mirip denganmu, langsing dan enerjik."
Risma tersenyum. "Sekarang anak sulung ibu itu tinggal di mana?"
"Papua," jawab Siti. "Katanya besok atau lusa akan menjengukku."
"Wah, aku jadi penasaran, ingin kenal sama anak ibu itu."
"Adiknya juga di Papua. Ia bisa diterima kerja di sana berkat bantuan kakaknya. Jadi keduanya besok atau lusa akan datang bersamaan."
"Kalau anak ibu yang lain di mana?" tanya Risma penasaran.
"Dua anak terakhir ada di pesantren, dua lainnya ikut neneknya, dan satu sudah meninggal sejak kecil."
"Ibu hebat!" puji Risma.
Siti menggeleng, lantas menunduk. "Aku bukan ibu yang baik buat mereka."
"Kenapa ibu berkata begitu?"
Siti menoleh. "Mereka pasti malu ibunya ditangkap polisi."
Risma tercenung. Ia memahami kegelisahaan Siti.
"Benar, bahwa mereka tahu ibunya dipenjara karena berada di tempat yang salah, tapi mereka merasakan dampaknya."
"Berada di tempat yang salah?" Risma bingung sekaligus penasaran.
Siti mendengus panjang. Pandangannya nanar. "Temenku ngajakin aku bikin arisan online. Karena ia seorang pebisnis sukses, aku tertarik untuk terlibat. Sayangnya aku buta soal internet. Gobloknya lagi aku percaya saja kalau temenku itu akan menjalankan sistem arisannya dengan baik. Sehingga ketika aku berhasil mengajak ratusan orang untuk gabung, saat itu aku sadar, temenku itu menggelapkan uangnya. Ia kabur ke luar negeri."
"Astaga!" Risma kaget. "Lalu kenapa ibu yang ditangkap?"
Siti menarik napas berat. "Aku dianggap terlibat."
"Padahal ibu tidak tahu menahu soal penggelepan uang itu?"
Wajah Siti tampak geram. "Selain harus mendekam di tahanan, secara finansial aku juga rugi belasan juta."
Risma merasa simpati.
"Tapi anakku yang di Papua itu sudah menyiapkan pengacara."
"Syukurlah!" Tadinya Risma berniat menawarkan bantuan pengacara.
"Sudahlah, aku menganggap ini sebagai ujian." Siti tersenyum pedih.
Risma mengangguk sepakat.
"Hanya saja aku kepikiran sama ibuku. Di masa tuanya, beliau masih direpotkan cucu, yaitu kedua anakku."
"Tapi barangkali beliau malah senang bisa merawat cucunya." Risma bermaksud menghibur.
"Memang!" timpal Siti. "Dulu beliau pernah berkata padaku bahwa kesepian paling menyedihkan adalah kesepian di hari tua, di mana anak-anaknya satu per satu meninggalkannya."
Risma terdiam. Ia menjadi teringat kepada papinya.
"Hikmah dari kasus ini adalah, setidaknya ada dua cucu yang menemani beliau."
Risma dan Siti tersenyum bersamaan.
***
"Raniaaa!" Risma berlari ke arah Rania yang duduk di apit kedua orang tuanya.
Rania tersenyum gembira. Sudah beberapa hari ia merindukan tantenya. "Tante Ris kok bajunya jelek?"
Risma memandangi baju seragam tahanannya. "Bagus kok, warnanya cerah. Ayo coba tebak baju tante warna apa?"
"Oranye!"
"Betull!" Risma mencubit pelan pipi Rania.
"Kamu sehat?" tanya Yanuar.
"Sehat, Bang?" jawab Risma. "Abang sehat juga kan?"
"Sehat, alhamdulillah."
Ersa menyodorkan sebuah kotak makanan. "Ini kakak bikinin nasi pecel, kesukaan kamu!"
Wajah Risma semringah. "Makasih, Kak. Ini akan jadi menu makan malam paling lezat di sini."
Ersa tersenyum pedih. Ia tidak tega melihat adik iparnya terkurung di tahanan polisi. Ia yakin masakan di sini tidak membuat Risma berselera.
"Papi sehat?" tanya Risma kepada Yanuar. Ia mencemaskan papinya.
"Alhamdulillah lebih baik dari terakhir kali berkunjung ke sini," jawab Yanuar.
"Apalagi setelah mendengar kabar dari Zul bahwa kemungkinan kamu bebas tanpa syarat semakin besar." Ersa menimpali.
"Iya, Zul bilang memiliki bukti baru yang bisa membuatku lepas dari sangkaan." Risma membenarkan.
"Zul enggak macam-macam kan?" Yanuar bertanya memastikan.
Risma menggeleng. "Sejauh ini ia profesional. Bahkan beberapa kali, ia menugaskan anggota timnya ketika memintaku untuk menceritakan kronologinya. Katanya ia nggak mau kehadirannya membuatku nggak nyaman."
"Baguslah!" Yanuar merasa lega. "Sudah seharusnya begitu."
"Tante, aku udah bisa nyamain warna putih, nih!" Rania menunjukkan rubiknya.
"Coba lihat!" Risma memeriksa sisi rubik yang berwarna putih. "Wah hebat!"
Rania terkikik senang.
"Itu papanya yang nyamain!" ujar Ersa sambil melirik Rania.
Rania tertawa malu. Ia ketahuan bohong.
"Hmmhh, gak boleh bohong!" Risma mencolek hidung Rania.
Ketawa Rania makin menjadi.
Selepas ketawa Rania berhenti, suasana menjadi hening selama beberapa detik.
"Kak Er, Bang Yan, boleh nggak aku minta tolong sama kalian?" Risma menatap Yanuar dan Ersa bergantian, penuh harap.
"Pasti dong," jawab Yanuar. "Apa yang bisa abang tolong?"
Ersa mengangguk, tersenyum penuh arti. Ia bisa menebak minta tolong apa yang dimaksudkan Risma.
Risma diam sejenak. Ada rasa malu untuk mengatakannya. "Hhmmhh, ini soal salah satu korban."
Yanuar mengerjap. "Iya, ada apa dengan korban?"
Risma tersipu. Ia melirik Ersa malu.
Ersa tanggap. "Soal kabar Nando?"
Risma mengangguk. Akhirnya kakak iparnya peka.
Yanuar membulatkan bibir. Ersa pernah cerita padanya soal Nando.
"Aku pengen tahu kabar Nando," ucap Risma gelisah. "Kalian bisa tolongin aku buat nyari tahu kabarnya?"
"Tentu saja," jawab Yanuar. "Tapi tidak hari ini, karena abang mau nganterin papi ke Jakarta buat cek kesehatan."
"Memangnya Bang Garin ke mana?" gugat Risma.
"Garin sudah lebih dulu ke Jakarta kemarin," jawab Yanuar.
Risma mengangguk sedikit kecewa. Ia ingin hari ini juga tahu kabar Nando.
Melihat wajah kecewa Risma membuat Ersa tidak tega. "Kakak bisa kok." Ia melirik Yanuar, meminta persetujuan.
Yanuar melirik Ersa. "Sore nanti kan kamu ada meeting."
"Bisa aku re-schedule kok." Ersa meyakinkan Yanuar. "Bagaimana?"
Yanuar berpikir sejenak. "Ya, nggak papa sih. Kabari klien dari sekarang kalau begitu."
Risma tersenyum senang.
Ersa menelepon sekretarisnya. "Kabari klien meeting kita, ada perubahan jadwal ya. Besok pagi jam sembilan, tempatnya masih sama. Ok, makasih."
Yanuar melirik Ersa. "Jadi rencana kamu apa?"
Ersa memasukkan ponsel ke dalam tas. "Dari sini, abang anterin aku ke rumah sakit. Aku pulangnya nanti pakai taksi online."
Yanuar melirik Rania. "Rania gimana?"
"Ikut pulang sama abang. Aku nggak lama kok."
Yanuar mengangguk. "Oke."
Ersa menoleh kepada Risma. "Seandainya Nando sudah sadar, apa ada pesan buatnya?"
Perasaan Risma membuncah. "Apa mungkin Nando bisa sadar?"
"Selalu ada kemungkinan. Doakan saja." Ersa menenangkan hati Risma.
Yanuar menatap Risma lembut. "Sejujurnya abang penasaran ada hubungan apa di antara kalian?"
Pipi Risma bersemu merah. Ia menggeleng lemah. "Nggak ada."
Yanuar tidak percaya begitu saja. "Kamu boleh berterus terang, kali aja abang bisa bantu memperjuangkannya."
Risma menjadi salah tingkah. Wajahnya semakin merah padam. "Abang apaan sih?"
"Kamu suka sama Nando?" Yanuar mengerjap.
Risma terdiam.
"Ris!" Ersa menyentuh jari-jari tangan Risma. "Kami selalu mendukungmu sejak dulu. Memang kita nggak berani membantah papi, tapi paling enggak kamu butuh tempat berbagi."
Risma terkekeh malu. "Iya, aku tahu itu. Cuman aku memang nggak ada hubungan apa-apa sama Nando."
"Begitu ya?" Yanuar mengangguk sambil tersenyum.
"Dih, nggak percaya?" Risma merajuk.
Yanuar tertawa. "Yang nggak percaya tuh siapa?"
"Lah itu ketawa!"
"Memangnya apa yang salah dengan ketawa."
"Tauk!" Risma sebal.
Ersa menengahi. Ia menatap Risma. "Sudah-sudah, jadi mau pesan apa kalau nanti Nando sudah sadar?"
Risma diam.
"Atau kamu cuman pengen tahu keadaannya aja?" Ersa memastikan.
"Iya."