Siang ini Risma mulai merasakan ketenangan. Ia mulai bisa menikmati menu makan yang sebenarnya membosankan. Rasa tenang di hatinya disebabkan karena ia sudah terbiasa tidur di atas tikar lusuh. Para tahan lain juga bersikap baik padanya. Itu membuat semangatnya bertambah setiap hari.
Jika ada yang menggelisahkan hati Risma, itu karena ia belum mendapatkan kabar nasib Nando. Tidak mungkin ia bertanya kepada kedua kakaknya karena mereka tidak kenal. Lebih tidak mungkin jika ia bertanya kepada Zulkifli. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai tolong hanyalah Ersa, kakak iparnya.
Kemarin sore Ersa mengunjunginya. Sayang Risma tidak bisa menanyakan kabar Nando pada kakak iparnya tersebut, di samping karena ada Zulkifli, juga karena Rania membuatnya sibuk menjawab rasa penasaran keponakannya itu.
"Mbak Risma kok melamun?"
Risma terkesiap. Satu pertanyaan dari Nian membuatnya sadar dari lamunan.
"Cuman ngantuk aja habis makan," dalih Risma. "Kamu sekarang suka kepo ya?"
Nian tertawa lebar, sampai gigi-giginya yang putih kecil-kecil terlihat.
"Malah ketawa!" Risma pura-pura sebal.
"Padahal kemarin-kemarin banyak nangis!" sahut Yanti, meledek.
Nian meringis.
"Kamu nangis kenapa?" tanya Risma.
"Gimana nggak nangis, Mbak, aku difitnah ngambil ponsel terus dimasukin ke sini." Bibir Nian menggunung.
"Jahat banget emang majikan kamu!" sahut Yanti. "Kalau kamu mau, aku bisa ngucir bibirnya pakai kabel listrik."
Risma tertawa, mendengar kegeraman Yanti. Ia maklum dengan karakter Yanti yang terbentuk di jalanan dan terminal.
"Lagian cuman gara-gara cemburu sampai fitnah-fitnah segala!" Yanti kesal sendiri. "Itu kalau di terminal, habis majikan kamu."
"Untungnya majikan Nian bukan orang terminal, tapi orang giila!" kelakar Risma.
Yanti dan Nian ketawa. Sementara Siti senyum-senyum tipis saja.
"Awal-awal di sini aku stres banget." Wajah Nian muram. "Orang sekampung pada gempar, katanya aku maling ponsel majikan."
"Kok mereka pada tahu? Memangnya kampung kamu deket sama rumah majikan kamu yang gila itu?" tanya Risma.
"Jauh sih, Mbak. Mereka tahu dari ibuku," jawab Nian. "Terus orang kampung pada bikin hoaks."
"Yang penting pacar kamu percaya kamu nggak bersalah," goda Risma.
Wajah Nian memerah. "Ih, apaan sih, Mbak? Aku belum punya pacar."
"Lho bukannya pacat kamu itu suaminya si Nora itu ya?" ledek Yanti.
"Ih, enggak, aku nggak mau sama om-om!"
Yanti dan Risma tertawa. Tawa mereka seketika berhenti ketika petugas datang mendekati pintu tahanan.
"Saudari Risma, ada kunjungan dari pengacara Anda!" beritahu petugas. Ia membuka kunci pintu tahanan.
Risma mengangguk malas. Ia bangkit dari duduknya.
"Saudari Nian, mulai hari ini kamu bebas. Silakan persiapkan segala sesuatunya!"
Semua yang ada di sel tahanan terkejut sekaligus merasa genbira.
Lebih terkejut lagi Nian. Ia seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. "Beneran, Bu?"
"Iya, pelapor telah mencabut laporannya," jawab petugas.
Spontan Nian memeluk Risma erat-erat. Akhirnya ia bebas juga. Ia yakin semua berkat bantuan Risma.
"Selamat ya, Nian?" ucap Risma.
Nian mengangguk saja, tidak bisa berkata-kata saking bahagianya. Air matanya menetes, membasahi bahu Risma.
"Saranku, jangan mau kembali lagi ke Nora lagi." Risma melepas pelukan. Ditatapnya Nian. "Jangan khawatir, aku bisa mencarikanmu pekerjaan."
Risma mengangguk bahagia. "Mbak baik banget sama aku. Aku belum bisa membalasnya."
Risma menyeka air mata Nian. Ia menyayangi anak itu dan telah menganggapnya seperti adik. "Tolong catetin nomo ponsel kamu ya?"
Nian mengangguk. Ia kembali memeluk Risma erat-erat.
"Saudari Risma, Anda ditunggu pengunjung!" Petugas mengingatkan.
Pelukan Risma dan Nian terlepas.
Risma keluar tahanan, menuju ruang kunjungan. Hatinya ikut bahagia karena Nian bebas, meskipun ia merasa akan kehilangan selepas Nian pergi.
Risma sampai di ruang tunggu. Zulkifli berdiri menyambutnya dengan senyum.
"Gimana kabar kamu, baik?" tanya Zullkifli.
Risma mengangguk, lantas duduk di kursi.
"Aku ada dua berita gembira buat kamu," ujar Zulkifli bersemangat.
Risma tersenyum gembira, tidak sabar untuk mendengarnya.
"Pertama soal perkembangan kasus kamu," ucap Zulkifli. "Kami punya bukti-bukti baru yang bisa membuatmu bebas."
Risma mengerjap, gembira. "Bukti apa?"
Zulkifli tersenyum. "Aku belum bisa menjelaskannya secara detail. Yang pasti aku sama tim terus bekerja agar kamu bisa bebas sebelum kasus ini dilimpahkan ke kejaksaan."
Risma tersenyum penuh harap. "Semoga saja begitu."
Zulkifkifli sengaja belum akan memberitahukan bukti yang ia maksudkan. Bahkan kalau nanti Risma tidak menanyakannya, ia tidak akan memberitahukannya. Bukti yang sebenarnya adalah rekaman spy camera. Ia ingin jika nanti Risma bebas, gadis itu kagum padanya. Padahal bukti penting itu bukan hasil kerjanya, melainkan dari Arya.
Spy camera itu telah dikembalikan Arya kepada penyidik. Selanjutnya penyidik menjadikannya sebagai alat bukti.
"Kabar baik yang kedua adalah soal kasus Nian," beritahu Zulkifli.
Risma mengangguk, padahal ia sudah tahu.
"Kami telah melakukan penyelidikan. Ditemukan bukti dari rekaman CCTV yang berasal dari rumah seberang TKP, kalau Dida pada hari itu enggak pernah masuk rumah. Jadi sangat tidak logis kalau ia bersaksi bahwa ia melihat Nian mengambil ponsel milik majikannya." Zulkifli menjelaskan.
Risma puas mendengar penjelasan Zulkifli. "Baguslah, sejak awal aku yakin Nian memang nggak salah. Ia anak yang polos."
"Rekaman CCTV itu kami jadikan bukti buat mendesak Dida agar mau mencabut kesaksiannya," lanjut Zulkifli. "Mungkin Dida melaporkannya kepada Nora, sehingga mereka panik, akhirnya mencabut laporan.
Risma mengangguk. "Syukurlah!"
"Tapi sebelumnya kami juga menunjukkan video itu pada Yulia. Kami berharap ia tahu ulah keji menantunya yang sudah memfitnah Nian."
"Aku apresiasi kerja kalian!" ucap Risma. "Terima kasih ya?"
Zulkifli mengangguk. "Aku senang bisa menyelesaikan kasus Nian. Aku akan lebih senang kalau kamu bebas tanpa syarat."
"Aamiin!" ucap Risma berharap. "Oh iya, ngomong-ngomong Faisal Abdau mana ya? Kok nggak ikut ke sini?"
"Faisal ada pekerjaan lain yang nggak bisa ditunda. Ia kirim salam padamu."
Risma mengatupkan bibir, kecewa karena ia sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih pada Faisal.
"Nanti aku minta Faisal ke sini kalau ia punya waktu," ujar Zulkifli.
"Aku belum bayar Faisal," ucap Risma.
"Sudah nggak usah dipikirin. Faisal urusanku."
"Maksudnya?"
"Aku sudah membayar jasanya."
Risma mengernyit. "Kok kamu yang bayar?"
Zulkifli tersenyum. "Santai saja. Lagipula Faisal juga menolaknya."
Risma mendengus. "Ya pastilah ia menolak karena aku yang menggunakan jasanya."
Zulkifli mengangguk. "Tapi diam-diam, aku sudah mentransfer ke rekeningnya."
Risma mengernyit, agak kesal kepada Zulkifli.
Niat Zulkifli membayar jasa Faisal adalah agar ia mendapatkan nilai plus dari Risma, namun ternyata Risma malah kesal padanya.
Zulkifli memang menggunakan kesempatan kasus Risma untuk meraih hati gadis itu. Maka itu ia sengaja tidak menyebut soal rekaman Spy Camera. Pada kasus Nian, ia juga nyaris tidak melakukan apa-apa. Faisal yang menyelidiki dan merancang strategi agar pihak pelapor mencabut laporannya. Namun kini saat menjelaskannya kepada Risma, Zulkifli menggunakan kata ganti 'kami' agar terkesan ia memiliki andil besar atas kebebasan Nian.
"Tadi
"Mungkin paling lambat sore nanti Nian sudah bisa keluar." Zulkifli berujar.
Risma mengangguk saja. Ia masih kesal pada Zulkifli.
***
Kondiai Nando mengalami perkembangan positif secara signifikan. Ia sudah bisa membuka mata tanpa merasakan sakit di kepala. Badannya juga sudah bisa digerakkan, meski masih cukup lemah.
Arya menatap Nando penuh haru. Air matanya menetes karena bahagia, melihat cucunya sudah sadar.
"Opa sangat bahagia, Do." Arya mengusap rambut Nando. "Semoga kamu bisa pulih secepatnya."
Sepasang mata Nando sembab. "Maafin Nando ya, Opa?"
"Kenapa minta maaf?"
"Seharusnya aku percaya sama Opa sejak dulu."
Arya mengacak rambut Nando. "Sudah, sudah, jangan pikirkan soal itu. Yang penting sekarang kamu fokus pada kesembuhanmu."
"Faizin jahat!" Tangis Nando pecah.
Arya mengangguk. Ia senang karena Nando mempercayainya, tetapi saat ini bukan itu yang membuatnya bahagia. Sekarang ia bisa merasa tenang karena bisa menghabiskan sisa usia dengan tenang setelah perjuangannya meyakinkan keluarganya berhasil. Sayangnya keberhasilan itu harus dibayar mahal dengan jatuhnya banyak korban nyawa dan luka tusuk yang dialami Nando.
"Opa sudah melihat rekaman dari spy camera," beritahu Arya. "Alat itu sudah opa serahkan ke penyidik."
Nando tersenyum lega. "Syukurlah. Itu sebenarnya punya Pak Jenggot. Kalau aku nggak menyimpannya, polisi tetap akan menemukannya."
"Siapa Pak Jenggot?" Arya memastikan. Ia menduga Pak Jenggot adalah orang yang dibunuh Faizin dalam rekaman itu.
"Beliau penjaga kebun teh Risma." Hati Nando langsung membuncah nama itu. Ia berharap-harap cemas atas nasib gadis itu. "Gimana keadaan Risma? Apa opa tahu?"
Arya terdiam. Tidak mungkin ia menjelaskan kepada Nando bahwa Risma menjadi tersangka.
"Opa nggak tahu?" desak Nando.
Arya tersenyum. "Risma nggak papa. Ia sempat berada di rumah sakit ini selama dua hari."
Nando merasa sangat lega. Air matanya kembali mengalir. "Jadi Risma masih hidup?"
Arya mengangguk. "Iya, Risma sudah pulih."
"Opa tahu dari mana?"
Arya bingung harus menjawab apa. Ia juga belum pernah bertemu dengan Risma.
"Kok opa diem?"
"Eh, anu, ada yang cerita, terus opa denger." Arya berbohong. "Kamu sangat mencemaskan Risma, ada apa hubungan apa di antara kalian?"
Wajah Nando seketika memerah. "Nggak ada, Opa. Aku cemas karena tinggal kami bertiga yang masih hidup saat aku masih sadar."
Arya tidak sepenuhnya percaya kalau hanya itu alasan Nando. Ia yakin cucunya menyukai Risma karena tampak salah tingkah.
"Opa minta maaf ya, Do, kalau selalu keras padamu." Arya menggenggam telapak tangan Nando.
"Nggak papa, Opa. Justru setelah kejadian ini aku sadar, opa melakukan itu karena ingin menjauhkan keluarga dari bahaya."
Opa menunduk sedih. "Seandainya saja papi kamu masih hidup...."
Nando mengelus-elus telapak tangan Arya. "Beruntung papi tidak mengetahui sisi jahat Faizin. Kalau mengalami pasti papi akan larut dalam penyesalan."
Arya tercenung. "Atau barangkali papimu sebenernya sudah tahu, tapi ia percaya bahwa Faizin bisa menjadi orang baik, seperti yang dipercayai Rumania?"
"Bisa jadi, Opa."
"Opa akan menginap malam ini."
Nando tersenyum. "Nggak boleh sama dokter, Opa. Ini ruangan ICU."
Arya terkekeh. "Kalau opa maksa, dokter bisa apa?"
"Mereka nggak akan memaksa opa. Paling mereka menyuruh asisten opa buat mendorong kursi roda opa keluar."
Arya tertawa. Ini adalah momen paling membahagiakan dalam hidupnya selain ketika menikahi istrinya.