Dua Faisal

1622 Kata
Wajah Nora pucat pasi setelah mendapatkan pesan dari Dida, yaitu sebuah video rekaman kamera pengawas dan sebuah gambar tangkapan layar percakapan Dida dengan sebuah nomor tidak dikenal. Antara rasa penasaran dan panik, Nora memutar rekaman video tersebut. Baru beberapa detik saja, ia bisa memastikan kalau rekaman itu berasal dari kamera pengawas rumah di seberang jalan milik Irma. Nora menonton video tersebut sampai habis sambil dalam hati mengumpat Irma. Sebagai seorang tetangga sekaligus teman nongkrong, ia menganggap janda muda itu tega memberikan rekaman kamera pengawas kepada orang lain. Nora meninggalkan kamar menuju ruang depan. Ia segera menelepon Irma. Emosinya meluap-luap. "Hallo!" sapa Irma. "Kamu jahat banget ya? Aku nggak nyangka kamu tega banget sama aku, ngasih rekaman CCTV ke orang lain. Maksud kamu apa sih, hah?" "Oh itu?" "Kamu seneng ya bikin aku susah?" "Ini maksudnya apa ya? Apa hubungannya rekaman CCTV sama bikin kamu susah?" "Halah, berlagak bodoh!" "Serius aku nanya!" Emosi Nora semakin tidak terkendali. "Kamu memang gitu dari dulu, susah liat orang senang, senang liat orang susah." "Kok gitu omongannya? Nggak usah nuduh yang enggak-enggak!" "Nyatanya memang begitu kan? Kamu masih dendam sama aku karena Mas Zaki lebih memilih aku ketimbang kamu." "Plis deh, Nora!" Irma menahan sabar. "Jangan asal ngomong. Kenapa soal CCTV jadi melebar ke mana-mana sih?" "Lalu apa maksud kamu nyebarin CCTV ke orang lain?" Irma mendesah pelan. "Makanya dengerin dulu penjelasanku, jangan asal nyablak kalau nggak tahu asal-usulnya!" "Oke, kamu mau jelasin apa, hah?" "Kemarin itu ada detektif meminta aku nunjukin rekaman CCTV. Karena detektif itu resmi ya aku kasih dong. Aku nggak mau dianggap menghalangi penyelidikan. Aku cuman ngasih file itu ke detektif itu, nggak pernah sebarin ke orang-orang kok." Irma menjelaskan. "Lagi pula itu fakta. Aku nggak mengada-ada. Jadi jangan asal nuduh yang enggak-enggak, apalagi bawa-bawa masa lalu segala." "Nyatanya Dida dikirimin rekaman itu dari seseorang yang nggak dikenal!" sergah Irma. "Itu tanda kalau rekaman ini menyebar!" "Dida dapet kiriman video itu?" Irma terdiam sejenak. "Jangan-jangan itu yang ngirim si detektif itu." Nora panik, rupanya ada detektif dalam terungkapnya file rekaman kamera pengawas. Ia menduga detektif itu yang mengancam Dida. Namun jika benar, lalu siapa yang membayarnya? "Nian nggak mungkin mampu membayar detektif!" sergah Nora. "Kalau mau ngarang yang logis dikit napa!" "Terserah kamu, mau percaya atau enggak!" Irma mulai terprovokasi. "Kalau merasa benar kenapa harus takut?" "Ini bukan soal takut atau enggak!" dalih Nora. "Ini tentang rasa dengki yang mau kamu bawa sampai mati!" "Astaga, Nora!" "Kenyataannya memang begitu kan?" Irma memilih diam ketimbang terbawa emosi. "Inget ya, Ir, karma pasti berlaku!" Nora mengakhiri panggilan teleponnya. Emosi Nora masih meluap-luap, ditambah lagi rasa panik telah memenuhi hatinya. Jika benar ada campur tangan detektif dalam kasus ini, ia bisa terseret masalah hukum. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu, Nora menyesal telah melaporkan Nian ke polisi, bukan karena ia kasihan kepada asisten pembantunya itu, tapi karena ia tidak menyiapkan segala kemungkinannya dengan baik. Sekarang jika polisi menemukan bukti Dida telah memberikan keterangan bohong, Nora pasti akan kena dampaknya. Kemungkinan buruknya ia bukan hanya harus berurusan dengan penyidik, tetapi juga ibu mertua dan suaminya bisa tahu kalau ia telah memfitnah Nian. Dalam keadaan panik begini, Dida menelepon. "Mbak, aku harus bagaimana ini?" Dida panik. "Pokoknya kamu jangan sebut namaku!" "Mbak jangan lepas tangan begitu dong!" Dida kesal. "Kalau nanti polisi tanya, aku nggak bisa ngelak lagi. Di rekaman CCTV itu jelas banget aku nggak pernah ada masuk rumah." "Gini aja, kamu aku kasih uang satu juta, pergi jauh untuk sementara." Nora memberi solusi tanpa pikir panjang. "Hah, satu juta? Yang benar saja, Mbak!" "Dua juta, no debat!" "Enggak! Tiga juta, aku akan pergi jauh!" Dida menawar. Nora mendengus. Ia berpikir keras mencari solusi lain. Lagipula ia tidak yakin Dida tidak akan ditemukan polisi. "Gimana, Mbak?" "Lima menit lagi aku telepon!" ujar Nora. "Yang penting kamu sekarang jangan keluar rumah dulu." "Oke!" Nora menyandarkan punggung ke dinding. Otaknya bekerja keras, mencari solusi bagaimana agar rekayasa kasusnya tidak menjadi bumerang. Nora berpikir, jika ia menyuruh Dida pergi jauh, maka justru ia yang akan kesulitan sendiri, karena ada kemungkinan rekaman kamera pengawas itu akan sampai kepada penyidik. Jika itu terjadi maka Nian punya alibi dan pihak Nian bisa menuntut balik. Maka, Nora merasa ia harus membuang ambisinya untuk mengkriminalisasi Nian. Ia harus mencari aman. Toh, ia berpikir, Nian sudah merasakan tahanan polisi. Itu sudah cukup untuk memberi pelajaran kepada Nian agar jangan sok kegenitan di hadapan suaminya. Nora mantap, akan mencabut laporannya. Alasannya bisa ia pikirkan nanti, yang penting ia tidak mendapatkan masalah. Nora segera menelepon Dida. "Iya, Mbak, gimana?" tanya Dida. "Tenang aja kamu aman. Mbak akan mengurusnya." Nora meyakinkan Dida. "Sampai besok malam, kamu jangan ke mana-mana dulu, okey?" "Lalu soal tiga juta itu gimana?" Nora menggeram. "Kamu kan nggak jadi pergi jauh!" Ia mengakhiri panggilan telepon, kesal. *** Yulia menata satu bendel berkas dokumen ke atas meja. Dokumen itu akan diambil pihak kepolisian paling lambat setengah jam lagi. Ponsel Yulia berdering. Sebuah nomor tidak dikenal meneleponnya. Meski malas, ia menjawab panggilan telepon tersebut, siapa tahu saja penting. "Selamat siang!" sapa Yulia. "Selamat siang, apa benar saya sedang terhubung dengan Ibu Yulia?" Itu adalah suara Faisal Abdau, detektif swasta yang menyelidiki kasus Nian. Faisal Abdau mendapatkan nomor telepon Yulia dari Irma. Irma melakukan itu karena kesal pada Nora yang telah menuduhnya bukan-bukan. Sudah terlanjur dituduh menyusahkan Nora, ia sekalian saja memberikan nomor telepon Yulia kepada Faisal. Ia ingin memberi pelajaran kepada tetangganya itu. Mendapatkan nomor telepon Yulia, membuat Faisal berencana membongkar kejahatan Nora. Ia berharap, setelah Yulia tahu, perempuan itu akan meminta menantunya agar berhenti mengkriminalisasi Nian. "Iya benar, saya Yulia," jawab Yulia merasa heran dari mana si penelepon mendapatkan nomor teleponnya. "Saya sedang bicara dengan siapa ya?" "Saya Faisal Abdau, Bu," jawab Faisal. "Saya detektif yang menyelidiki kasus Nian, asisten rumah tangga di rumah ibu." Dada Yulia berdebar-debar, membuatnya salah paham, mengira Faisal Abdau adalah Faisal yang beberapa dua hari lalu datang ke ruang kerjanya. "Mohon maaf mengganggu waktu ibu," ujar Faisal. "Saya hanya ingin memberi informasi penting kepada ibu." "Informasi apa ya?" Irama detak jantung Yulia menjadi tidak beraturan. Perasaannya tidak enak. "Jadi begini, Bu, saya telah menemukan bukti kuat bahwa saksi bernama Dida tidak pernah memasuki rumah ibu pada saat kejadian kasus pindahnya telepon Pak Zaki ke dalam tas klien saya yang bernama irma. Sehingga kuat dugaan saya kalau Dida memberikan keterangan bohong kepada penyidik kepolisian." Deg! Jantung Yulia serasa mau copot. Kini ia baru sadar kalau Faisal yang sedang berbicara dengannya adalah bukan Faisal yang pernah datang ke ruang kerjanya dua hari lalu. "Anda bukan Faisal dari penyidik polisi kan?" Ia memastikan. "Bukan, Bu. Saya Faisal Abdau, detektif swasta." Keringat dingin membasahi dahi Yulia. "Jadi menurut Anda Dida berbohong?" "Benar, Bu," jawab Faisal. "Saya merasa ibu berhak mendapatkan fakta yang sesungguhnya karena jika nanti terbukti Dida memberikan kesaksian palsu, itu bisa menjadi indikasi tidak baik untuk menantu ibu." Yulia menarik napas panjang. Serasa rongga dadanya sesak. "Perlu saya luruskan, saya tidak tahu menahu soal pelaporan menantu saya. Mohon maaf, Anda salah alamat memberitahukan ini kepada saya." "Justru karena ibu tidak tahu permasalahannya, sehingga saya merasa ibu berhak mengetahuinya." Faisal berdalih. "Baik, Anda bilang memiliki bukti, bisa menunjukkannya kepada saya?" "Siap, Bu!" jawab Faisal. Saya akan kirmkan sebuah video kepada ibu." Yulia mendesah pelan. Badannya terasa lemas. "Iya, kirimkan saja." "Baik, terima kasih atas waktu luangnya, mohon maaf kalau saya telah mengganggu ibu." "Iya, nggak papa." Yulia menyandarkan punggung ke sofa. Pikirannya menjadi kacau. Sejak awal, Yulia sudah meminta Nora agar menyelesaikan masalah ponsel itu secara baik-baik. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya Nora melaporkannya kepada polisi. Kini, seorang detektif baru saja memberikan informasi yang membuat jantungnya serasa mau copot. Yulia sebenarnya tidak menyukai tabiat Nora yang cenderung reaktif. Atitud menantunya itu juga kadang kurang baik. Yang membuatnya sedih adalah, rumah tangga anak dan menantunya itu kerap kali bermasalah. Semua berawal dari kecurigaan Nora kepada Zaki yang menuduh suaminya suka menggoda Nian, asistennya. Padahal sejauh apa yang Yulia ketahui, Zaki tidak pernah menggoda Nian. Nora saja yang selalu curiga, seiingga kerap kali memarahi dan mencari-cari kesalahan Nian. Yulia terkesiap ketika ponselnya bergetar. Ia melirik layar, sebuah notifikasi kiriman video baru saja masuk dari Faisal Abdau. Yulia membuka file tersebut. Baru berjalan beberapa detik saja ia sudah mengenali kalau itu sebuah rekaman dari kamera pengawas yang berada di seberang rumahnya. Dengan perasaan berdebar, ia menontonnya. Setelah selesai, badannya langsung lemas. Kepala Yulia seketika pusing. Berdasarkan rekaman itu, Dida tidak pernah masuk ke dalam rumahnya saat kejadian itu. Dalam hati ia menyalahkan diri sendiri yang tidak tegas kepada menantunya untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Namun di balik itu, Yulia mengambil hikmah dari masalah ini. Paling tidak ini bisa membuat Nora kapok telah bertindak gegabah. Tok! Tok! "Masuk!" Yulia merespon. Daun pintu terbuka. Faisal Basri melempar senyum ramah kepada Yulia. "Silakan duduk, Pak Faisal!" "Terima kasih, Bu Yulia." Faisal duduk. Yulia menyerahkan berkas dokumen yang telah ia siapkan kepada Faisal. "Ini berkas dokumen seperti yang bapak minta." Faisal menerima berkas. Ia membuka lembar demi lembar, memeriksanya secara teliti. "Kami telah memeriksanya dan memang fotokopian dokumen yang ada pada bapak isinya sama persis dengan dokumen aslinya." Yulia menjelaskan. "Silakan bapak pelajari dokumen tersebut." Faisal merapikan dokumen yang berada di tangannya. "Ini akan kami pergunakan sebagai bahan penyelidikan. Jika diperlukan, kami akan menjadikannya sebagai barang bukti. Apa ibu mengizinkannya?" "Silakan, Pak!" "Terima kasih, atas kerjasama dan bantuan Ibu Yulia," ucap Faisal. "Sama-sama, Pak. Kami juga senang bisa membantu kepolisian." "Baik, kalau begitu saya pamit." "Silakan, Pak!" Faisal meninggalkan ruangan. Yulia menunduk dalam-dalam. Ada perasaan lega telah memberikan bantuan kepada kepolisian, namun pada sisi hatinya yang lain, ia merasa gelisah, memikirkan kasus Nian. Yulia melirik jam pada dinding. Betapa dalam waktu kurang dari satu jam ini, ia baru saja berurusan dengan dua orang bernama Faisal untuk dua hal yang berbeda. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN