Sadar

1422 Kata
Math berdiri sambil menahan kantuk. Sesekali kepalanya terbentur kaca, lantas terkesiap. Ia sangat lelah, tetapi bersikeras untuk tetap terjaga. Sekarang pukul 19:48 wib. Math sudah kesulitan menahan kantuk. Ia merogoh saku celana, mengambil satu saset tisu basah. Disobeknya tepi saset menggunakan gigi. Kemasan pun terkoyak sedikit. Math mengambil tisu, lantas membuang kemasannya ke tempat sampah di dekatnya. Ia menyapukan tisu ke seluruh wajah. Rasa segar menjalari tubuhnya. Perlahan rasa kantuk teralihkan. Baru saja Math akan melempar tisu bekas mengusap wajahnya, namun ia mengurungkannya demi melihat pelupuk mata Nando tampak bergerak-gerak. Tanpa Math sadari, tisu dalam genggaman tangannya terlepas. Hatinya terlonjak gembira melihat Nando membuka mata. Perasaan bahagia seketika menjalari hatinya. Ingin rasanya Math masuk ke dalam ruang ICU, lalu menghampiri Nando, namun ia terhalang kaca. Yang bisa ia lakukan hanyalah berlari ke pos jaga perawat. Math berlari sekuat tenaga, layaknya sprinter olimpiade. Jejak sepatunya menimbulkan bunyi. Ia tidak peduli. Ia harus segera menemui perawat. Sampai di pos, Math ngos-ngosan. Tangannya menunjuk ke arah ICU, tapi mulutnya tercekat, susah untuk mengucapkan kata. Seorang perawat tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Math mengatur napasnya. Tangannya menunjuk ke arah ruang ICU. "Coba tarik napas dalam-dalam." Perawat memberi saran. Math menarik napas dalam-dalam seperti yang disarankan perawat. "Lepaskan perlahan melalui mulut." Math melepaskan napas perlahan-lahan. "Coba ulangi lagi, Pak." Math mengulangi lagi, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Ia mulai tenang. "Sudan merasa lega sekarang, Pak?" tanya perawat. Math mengangguk. "Iya, Mbak. Mmhh, anu, a-adik saya matanya bergerak-gerak. Tolong dicek!" "Baik, Pak." Perawat mengambil stetoskop dari atas meja, kemudian bergegas menuju ruang ICU. Math menjajari langkah perawat. Ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di ruang ICU. Sampai di depan kaca di ruang ICU, Math terbelakak. Wajahnya semringah. Hatinya membuncah, seolah baru saja menemukan segepok berlian. Melalui kaca, Math menyaksikan sepasang mata Nando terbuka. Adiknya itu tampak sedang menggerakkan bola mata ke kanan dan ke kiri. Perawat segera memeriksa kondisi Nando. Ia menyorotkan lampu senter kecil ke kedua bola mata Nando secara bergantian. Selanjutnya ia memeriksa tensi sang pasien. Math melirik arloji. Ia yakin sekarang opanya masih terjaga karena baru pukul 19:53 wib. Ia segera menelepon opanya itu. Panggilan telepon Math terjawab. "Hallo, Pak Math." Math mengernyit. Itu bukan suara opanya, tetapi suara asisten pribadi opanya. "Opa masih di rumah sakit atau sudah pulang ke rumah?" "Sudah berada di rumah, Pak. Beliau sedang istirahat." "Apa opa sudah tidur?" "Sebentar, Pak, saya lihat dulu." Jari-jari kaki Math bergerak-gerak. Dadanya masih berdebar-debar akibat menahan perasaan bahagia luar biasa. "Pak Arya sudah tidur, Pak. Apa ada sesuatu yang ingin dikabarkan?" "Mmhh, anu, kabari orang rumah, kalau Nando sudah sadar." "Alhamdulillah!" "Kabari opa juga ya, nanti kalau sudah bangun." "Baik, Pak Math." "Makasih!" "Sama-sama, Pak." Math menarik napas lega. Ia segera mendekat ke kaca di ruang ICU. Matanya berkaca-kaca, melihat Nando sudah sadar. Begitu besar rasa bahagia yang menguasai hati Math, sampai tanpa sadar ponsel di tangannya jatuh ke lantai. Perlahan sepasang lutut Math tertekuk hingga membuatnya dalam posisi bersimpuh. Selanjutnya ia bersujud di lantai. Air matanya tumpah. Ketika bangkit, Math mendapati senyum perawat yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Math berdiri sambil menepuk-nepuk celana bagian bawah. "Gimana kondisi adik saya, Sus?" Math berharap-harap cemas. "Pasien sudah mendapatkan kesadaran penuh, sudah bisa menggerakan bola mata dan jari-jari tangannya. Ini kemajuan yang bagus, Pak." Perawat menjelaskan. "Pasien sedang diperiksa dokter dan perawat lain. Nanti lebih jelasnya bapak bisa menanyakannya kepada beliau-beliau." Math menghela napas lega. "Terima kasih, Sus." "Sama-sama, Pak." Perawat mengangguk. "Saya permisi, mau kembali ke pos." Math segera ke jendela kaca. Di dalam sana ia melihat dokter dan perawat sedang memeriksa kondisi Nando. Tadi saat kedua tenaga kesehatan itu masuk ke ICU, ia sedang bersujud, sehingga tidak menyadari mereka melewatinya. Math sangat bersyukur atas sadarnya Nando. Ia juga memuji kesigapan tenaga medis yang bergerak cepat. *** Pengecer togel di kampung Dida melakukan aktivitasnya secara terselubung. Mereka tidak berkerumun seperti zaman dahulu yang lapaknya mirip agen loket tiket bus, di mana tersedia kursi panjang dan orang berjubel. Sekarang mereka memanfaatkan teknologi digital. Komunikasi melalui ponsel. Pembayaran melalui transfer online. Sehingga lapak pengecer togel tampak sepi, bahkan nyaris tidak tampak ada kegiatan yang menonjol. Jika bukan karena mendapatkan informasi dari Irma, Faisal mungkin tidak tahu pemilik rumah yang sedang ia awasi adalah pengecer togel. Bukan soal aktivitas togel yang sedang Faisal awasi. Ia hanya sedang menunggu saat yang tepat untuk menemui Dida. Faisal menyamar sebagai penjaja wedhang ronde keliling. Ia mangkal persis di depan rumah pengecer togel. Sudah seperempat jam ia berada di sini tapi belum ada yang beli. Demi penyamarannya itu, Faisal sampai harus bekerjasama dengan penjaja wedhang ronde betulan. Sebenarnya ia bisa saja langsung menemui Dida, tetapi ia tidak mau ambil resiko. Di rumah itu banyak anak-anak tongrongan yang bisa saja merepotkannya. Beruntung sebelum memulai penyamaran, Faisal sudah mendapatkan foto Dida, sehingga ia bisa mengidentifikasinya dari jarak lima meter. Ia juga berhasil mendapatkan nomor telepon Dida dari Lilis. Dalam menjalankan penyamaran, Faisal membuat dua plan. Plan A, ia akan menunggu sampai Dida keluar dari tongkrongan lalu mencegatnya. Jika dalam waktu setengah jam plan itu tidak berhasil, ia akan beralih ke Plan B. Setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit, Dida masih saja nongkrong bersama teman-temannya. Belum ada tanda-tanda anak itu akan bergeser tempat. Maka sekarang saatnya Faisal menggunakan Plan B. Melalui pesan WA, ia mengirimkan video rekaman kamera pengawas ke nomor itu. Kemudian ia mengirimkan pesan: Hai, Dida. Aku tahu kesaksian kamu palsu. Hari minggu lalu kamu enggak ke rumah Bu Yulia. Video itu buktinya. Kamu dalam masalah besar jika tidak mencabut kesaksianmu. Sel tahanan menantimu. Selepas mengirim pesan Faisal segera pindah tempat, lebih menjauh. Kini Faisal berada di depan mushola, berjarak seratusan meter dari tongkrongan Dida. Dari sini ia masih bisa mengawasi pergerakan anak itu. Pesan video Faisal baru saja dilihat Dida. Seperti dugaannya anak itu tidak membalasnya. Ia melihat Dida tampak celingukan dengan wajah panik. Faisal segera mengirimkan satu pesan lagi kepada Dida: Aku kasih waktu 24 jam. Jika tidak mencabut kesaksianmu, maka video ini akan aku laporkan ke polisi. Pesan terbaca, namun Dida tidak membalasnya. Faisal terus mengawasi aktivitas Dida dan teman-temannya. Mereka yang sejak tadi terdengar berisik tiba-tiba pada diam. *** Nando merasakan kepalanya kesakitan, terutama setiap kali membuka mata. Maka itu ia memilih untuk memejamkan mata. Namun Nando penasaran, ia sedang berada di mana dan kenapa dirinya terbaring di sini? Tadi ia sempat membuka mata tapi semuanya serba putih. Pandangannya sedikit kabur dan kepalanya sangat sakit. Sehingga ia belum bisa mendeteksi di mana sekarang ia berada. Hanya saja Nando yakin dirinya berada di rumah sakit. Tadi ia melihat dokter dan perawat sedang memeriksanya. Pertama kali yang Nando pikirkan saat kesadarannya pulih adalah, ia mencemaskan Risma. Perlahan kejadian-kejadian di vila melintas di benaknya. Itu membuat kepalanya semakin sakit. Dalam keadaan memejamkan mata, bayangan-bayangan tragedi di vila semakin berdesak di kepalanya. "Ris...." ucapnya lirih. Ia ingin tahu nasib gadis itu, apakah masih hidup atau sudah mati dibunuh Faizin? Air mata Nando mengalir, membasahi pipi. "Nando...." Nando mendengar namanya disebut. Ia mengenali pemiliknya. Itu adalah suara Math, kakak sulungnya. Ia juga merasakan telapak tangannya digenggam dengan lembut. "Kamu dengar suara kakak?" tanya Math. Nando ingin membuka mata, tapi takut kepalanya kesakitan. Sebuah kecupan mendarat di dahi, Nando merasakannya. Air matanya semakin deras mengalir. "Kak Math...." panggil Nando lirih. "Iya, ini aku, Dek!" Math memeluk bahu Nando. Hidung Nando menangkap aroma parfum khas Math. Ya, hanya kakak sulungnya itu yang memiliki parfum dengan aroma itu. "Alhamdulillah kamu sudah sadar, Do." Math terisak. "Opa...." ucap Nando. Ia mengkhawatirkan opanya itu. "Opa sehat. Beliau ingin kamu pulih seperti semula. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati ujian ini." Tangis Math pecah. Badannya berguncang akkbat sesenggukan. "Aku di mana?" "Kamu di rumah sakit," jawab Math. Air mata Nando kembali mengalir. "Risma gimana?" Math terdiam. "Risma...." "Risma siapa?" "Auww!" Nando memekik tertahan, merasakan kesakitan yang luar biasa karena berusaha membuka mata. Math panik. "Apanya yang sakit?" Nando mengatur napas untuk meredam rasa sakit. Setelah satu menit, rasa sakit itu berangsur mereda. "Risma masih hidup?" tanya Nando. "Yang punya vila itu?" "Iya." "Masih!" jawab Math. Spontan Nando sesenggukan menahan perasaan bahagia. Hatinya mengharu biru mendengar Risma masih hidup. "Di mana Risma?" Math tertegun, Nando tampak mencemaskan Risma. Ia menjadi penasaran ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka? Padahal menurut informasi yang ia dapatkan dari kepolisian gadis itu telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, Math tidak mungkin menyampaikan kepada Nando bahwa Risma ditahan polisi. Ia khawatir itu akan berpengaruh pada kondisi adiknya itu. "Di mana?" desak Nando lirih. "Kakak nggak tahu, tapi yang pasti ia masih hidup." Nando kembali menangis. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN