Salah Paham

1750 Kata
Zulkifli merasa lega setelah menonton rekaman video yang berasal dari spy camera. Meskipun demikian, ia menahan diri untuk menujukkan kegembiaraannya, demi menjaga perasaan Arya. "Saya turut prihatin dengan apa yang dialami Nando, cucu Pak Arya," ucap Zulkifli kepada Arya. Arya memaksakan diri untuk tersenyum. "Terima kasih. Saya sampai pingsan setelah menonton pertama kali video itu. Untung asisten saya sigap, segera membawa saya ke sini." "Dari mana bapak mendapatkan video ini?" Zulkifli penasaran, kenapa barang bukti itu bisa sampai ke tangan Arya. "Petugas rumah sakit memberikan pakaian Nando yang berlumuran darah kepada Math, cucu saya. Math membawanya pulang," cerita Arya. "Saya penasaran sama benda keras yang berada satu wadah dengan pakaian itu. Ternyata barang itu adalah sebuah spy camera." "Sepertinya ada miss komunikasi antara petugas rumah sakit dan pihak kepolisian, sehingga pakaian Nando diberikan kepada keluarganya, alih-alih menunggu diambil petugas kepolisian," duga Zulkifli. "Bisa jadi seperti itu," timpal Arya. "Sebab tidak lama setelah baju itu diberikan pada Math, pihak kepolisian menanyakannya." "Oh berarti pakaian Nando belum bapak serahkan ke kepolisian?" Arya mendesah. "Sejujurnya sebelum Math membawa pakaian itu, saya terlebih dulu menyimpan spy camera. Jadi yang diserahkan Math kepada kepolisian hanya pakaian Nando saja." Zulkifli mengernyit. "Saya tahu itu salah!" ujar Arya. "Tapi saya terlanjur penasaran, jadi saya memutuskan untuk memeriksa isinya dulu." Zulkifli mengangguk, memahami alasan Arya. "Sejak awal saya berniat akan menyerahkannya kepada kepolisian, tapi sebelum itu saya merasa perlu menunjukkannya kepada Anda." Zulkifli tersenyum, merasa tersanjung. "Terima kasih atas kepercayaan Pak Arya. Ini bukti penting bagi klien saya." "Sebelum menonton video itu, sejak awal saya sudah yakin semua perbuatan Faizin," beritahu Arya. "Kenapa bapak merasa begitu yakin?" Arya menarik napas panjang. "Ceritanya panjang. Bisa dikatakan ini bermula dari kejadian dua puluh lima tahun lalu." Zulkifli mengangguk. "Klien saya sudah menceritakannya." "Soal Faizin psikopat?" tebak Arya. Zulkifli mengangguk. "Iya dan saya sangat berterima kasih Pak Arya sudah memberikan keterangan yang sangat penting pada penyidik." "Sudah seharusnya saya lakukan itu," timpal Faizin. "Saya tidak mau orang yang tidak bersalah menerima hukuman atas apa yang tidak penah ia lakukan." Zulkifli merasa terharu. "Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Pak Arya." Arya tersenyum pedih. "Jika nanti terbukti klien Anda tidak bersalah dan terbukti semua karena perbuatan Faizin, saya berharap keluarga besar saya terbuka mata hatinya. Selama ini mereka tidak mempercayai saya dan justru lebih percaya kepada Faizin." Zulkifli mengangguk, memahami kegelisahan Arya. *** Faisal Abdau mengangguk ramah ketika Lilis membukakan pintu gerbang. "Terima kasih, Mbak...." "Lilis!" tukas Lilis sedikit genit. Sikapnya bertolak belakang dengan sikapnya tadi siang yang cenderung curiga. Sekarang asisten rumah tangga itu mulai berani caper. Dengan lenggak-lenggok kemayu, Lilis memberi isyarat agar Faisal mengekornya. Sampai di teras ia berhenti. "Silakan duduk, Pak." "Terima kasih, Mbak Lilis!" Faisal menempatkan p****t pada sofa di teras. "Jangan panggil 'mbak'. Saya masih delapan belas tahun." Faisal terkekeh. "Kalau begitu jangan panggil 'pak'. Saya masih dua puluh enam tahun." Keduanya terkekeh bersamaan. "Mau minum apa, Pak, eh, Mas?" Lilis salah tingkah. "Dingin atau panas?" "Antara dingin dan panas," sahut Faisal asal-asalan. Lilis mengerjap genit. "Hangat dong?" Faisal terkekeh. "Apa saja asal air." "Baik, tunggu ya, Mas?" Faisal mengangguk. Lilis pun berlalu sambil melangkah kemayu. Baru sebentar berada di taman, Faisal langsung merasakan suasana syahdu. Lampu teras yang redup, ditambah gemericik air mancur di depannya membuat nafsu makannya bertambah. Ia memang belum sempat makan sejak siang. Faisal memuji pemilik rumah yang berhasil menyulap halaman sempit menjadi terkesan luas karena penataannya yang tepat. Faisal perkirakan halaman depan rumah ini berukuran empat kali delapan, tetapi banyak ditumbuhi beraneka macam bunga, air mancur, dan satu set meja kursi. Luar biasa, puji Faisal dalam hati. "Mas...." Faisal menoleh kaget, ketika tahu-tahu Lilis sudah ada di dekatnya. "Mas, dipersilakan masuk," beritahu Lilis. "Oh, baiklah!" Faisal bangkit. Ia mengekor Lilis menuju ke dalam. Lagi-lagi, Faisal dibuat kagum dengan penataan ruang tamu. Ruangan yang tidak begitu luas tapi mampu memuat satu set meja kursi, aquarium, lima vas bunga, dan sebuah matras, di mana seorang perempuan seumurannya sedang asyik dengan laptopnya. "Silakan duduk, Mas Faisal!" ucap Lilis. "Iya, makasih, Lis." Faisal duduk di kursi. Perempuan yang sedang asyik dengan laptopnya, menoleh ke arah Faisal yang juga sedang memperhatikannya. Mata mereka saling bersirobok selama tiga detik, sebelum akhirnya keduanya saling menunduk. Faisal menebak, perempuan itu anak nyonya rumah. Gaya berpakaian, model rambut, dan bajunya ala-ala artis Korea. Faisal mendapatkan informasi dari warga sekitar kalau pemilik rumah ini seorang janda. Ia yakin wajahnya tidak kalah cantik dengan anaknya yang sedang duduk di atas matras itu. Faisal buru-buru mengalihkan pandangan ketika perempuan itu menuju ke arahnya sambil membawa laptop. Faisal menjadi sedikit gugup ketika perempuan itu duduk di hadapannya sambil mengulas senyum manis. "Anda pasti Pak Faisal Abdau, ya kan?" tebak si perempuan. "Benar." Faisal mengangguk sopan. Bersamaan dengan itu, Lilis datang membawa baki berisi dua es teh lemon. Ia menyajikannya ke atas meja. "Terima kasih," ucap Faisal kepada Lilis. "Iya sama-sama." "Silakan diminum!" ucap si perempuan kepada Faisal. Faisal mengangguk. Ia meneguk minumannya sedikit, lantas meletakkan gelas ke tempat semula. "Saya Irma," ucap perempuan di depan Faisal. "Iya, salam kenal." Irma tersenyum. "Jadi Anda seorang detektif ya?" Faisal mengerjap heran, dari mana Irma tahu identitas dirimya? Tapi buru-buru ia menduga kalau Irma diberitahu sama ibunya perihal itu. "Iya, saya detektif swasta." "Lalu apa yang bisa saya bantu?" Faisal tercenung sejenak. "Sebenarnya saya ingin bertemu dengan ibu Anda." Sepasang alis Irma terangkat bersamaan. "Maaf, tapi ibu saya sudah meninggal." "Inna lillahi!" ucap Faisal spontan. "Jadi yang tadi telfonan sama saya itu siapa?" Irma semakin bingung. "Telfonan?" Faisal mengangguk bingung. "Minta dikirimin foto identitas saya juga." Irma kaget, mematung sejenak, kemudian tertawa sambil menutup mulut. Faisal semakin bingung. Tawa Irma reda, menyisakan sedikit kekehan. "Itu saya!" Giliran Faisal yang kaget. "Anda serius?" Irma mengangguk sambil tersenyum geli. Seketika Faisal merasa wibawanya runtuh. Ia juga merasa kredibilitas sebagai detektif hancur dalam hitungan detik. Kini ia baru sadar telah salah paham. Ia mengira Irma adalah anak pemilik rumah yang katanya janda. "Biar saya tebak." Irma memajukan badannya. "Anda mengira pemilik rumah ini sudah tua?" Faisal mengangguk malu. "Maaf, kalau saya salah." Irma menggeleng. "Nggak papa. Itu hal yang wajar bukan?" Faisal menunduk, meski tahu rasa malunya tidak bisa disembunyikan. "Sekali lagi maaf." Faisal masih merasa tidak enak hati, sekaligus malu. "Santai saja!" Irma menggerai rambutnya ke belakang. "Biar nggak terlalu formal, saya usulin kita saling panggil nama aja. Aku yakin usia kita nggak jauh selisihnya." "Saya dua puluh enam tahun," aku Faisal. "Sama dong!" Irma terkekeh. "Boleh aku menyebut Anda dengan kamu?" Faisal mengangguk. "Boleh." Irma tersenyum. "Kamu juga nggak usah pakai kata ganti 'saya', pakai 'kamu' aja." Faisal tergelak, setuju. Dalam hati ia mengagumi kecantikan Irma. Hanya saja ia masih penasaran, apakah benar Irma seorang janda? "Aku sudah siapin data kamera pengawas yang ada di rumah ini." Irma mendekatkan laptop ke arah Faisal. "Aku bahkan sudah menonton rekaman pada hari minggu lalu." Faisal memajukan badan agar lebih dekat dengan laptop. Ia menatap layar, memeriksa folder. Di-klik-nya file rekaman pada hari minggu. Faisal menyeting waktu pemutaran mulai pukul 06:47 dan memfokuskan pandangan pada kamera pengawas depan. Matanya nyaris tidak berkedip menunggu momen Nian keluar dari dalam rumah. Tanpa ia sadari Irma menatap kepada wajahnya. Sampai pada jam 07:49, pada rekaman itu tampak Nian keluar dari dalam rumah majikannya. Gadis itu berdiri seperti menunggu sesuatu. Tidak berselang lama, sebuah angkot menghampiri. Nian pun masuk ke dalam mobil angkutan kota itu menuju pasar. Faisal terus mengamati rekaman video sampai pukul sembilan. Ia mempercepat pemutarannya dan tidak menemukan Dida masuk ke rumah itu. Sampai pemutaran pada jam 10:00, Faisal mem-pause rekaman video. Ia menatap Irma. "Boleh saya minta file-nya?" "Silakan, kirim saja ke gadet kamu!" Faisal mengangguk. Ia mengirim file tersebut melalui email. "Kasus Nian sempat heboh di daerah ini," beritahu Irma. "Kalau aku sih nggak yakin Nian akan berani mengambil ponsel majikannya." "Kenapa kamu yakin?" Irma mengerjap. "Yakin aja." "Kamu kenal Nora?" "Bukan cuman kenal. Dulu aku sama Nora sering jalan bareng," ujar Irma. "Dulu, waktu kami sama-sama belum menikah." Faisal mengangguk. "Boleh tahu seperti apa sosok Nora di mata kamu?" Irma berpikir sejenak. "Baik, sih. Nora anaknya nggak pelit, cuman agak jutek." "Menurut pengakuan Nian, Nora menyeretnya ke kantor polisi dan mengarang cerita, bahkan menghadirkan saksi palsu di hadapan penyidik." Irma mengangguk. "Iya, aku sudah mendengar itu. Cuman soal saksi itu memang agak janggal menurutku." Faisal mengernyit. "Janggal bagaimana?" "Nama saksi itu Dida. Nah, si Dida ini jarang banget bangun pagi. Setiap malem ia nongkrong di tempat togel, kadang di jembatan gitar-gitaran sambil mabuk." "Apa pekerjaan Dida?" "Setahuku sih Dida kerja serabutan. Kadang ia sering disuruh-suruh beli sesuatu sama orang. Nora paling sering menyuruhnya. Biasanya kalau beli air galon sama tabung gas." "Jadi beneran kalau Dida kadang masuk ke rumah Nora?" "Kalau nganterin tabung gas atau air galon Dida pasti masuk ke dalam, sekalian masangin." Faisal mengangguk. "Tapi hari minggu lalu, saat terjadinya kasus itu, Dida tidak masuk ke rumah itu." Irma tercenung. "Jadi kesaksian Dida palsu?" Faisal mengangguk. "Berdasarkan rekaman video kamera pengawas kamu, Dida nggak tampak masuk ke rumah itu." "Wah, kasihan Nian!" ujar Irma. "Ia gadis yang baik." "Rumah Nora memiliki pintu belakang?" tanya Faisal. Irma mengangguk. "Ada pintu belakang, tapi tetep saja yang keluar masuk harus melewati pintu gerbang depan." Irma menunjuk sebuah titik pada layar laptop. "Jadi pintu belakangnya ada di sini, melalui samping kanan rumah." Faisal memperhatikan titik yang ditunjuk Irma. "Berarti kalau seandainya Dida masuk melalui samping rumah melewati pintu belakang, ia tetep akan tertangkap kamera?" Irma mengangguk. "Iya." Faisal mengangguk-angguk. Ia merasa puas telah menemukan fakta dari bukti yang sangat kuat bahwa pada hari minggu lalu Dida tidak pernah masuk ke rumah Nian. Juga fakta bahwa Nian tidak berada di rumah ketika ponsel Zaki hilang dari ruang tengah. Sehingga ia memastikan bahwa diketemukannya ponsel Zaki dari dalam tas Nian adalah sebuah rekayasa. Faisal melirik arloji. Sebentar lagi masuk waktu isya. Perutnya mulai keroncongan. "Satu pertanyaan lagi, di mana aku bisa menemukan Dida?" "Kalau jam segini, ia biasanya berada di tempat togel. Atau kalau enggak di jembatan yang ada di ujung jalan ini. Faisal mengangguk. "Baik, terima kasih atas bantuan kamu. Mohon maaf mengganggu istirahatmu." Irma tersenyum manis. "Iya, santai saja." "Kalau begitu saya pamit." Faisal berdiri. "Mmhh, sebentar, aku mau nanya boleh?" "Boleh, silakan." Irma tersenyum dikulum. Ia tampak salh tingkah. "Mmhh, anu, kamu menangani kasus perselingkuhan juga nggak?" Faisal mengangguk. "Iya, justru itu kasus yang sering aku tangani." Irma tersenyum senang. "Oh begitu?" "Iya." Irma menggerai rambutnya ke belakang. "Kalau begitu, nanti aku mau menggunakan jasamu." Faisal merasa gembira. "Boleh, kapan pun kamu mau, aku siap." Irma tersenyum penuh arti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN