Kasus Nian

1688 Kata
"Aku nggak nyangka akan bertemu kamu di sini." Faisal memperhatikan seragam tahanan Risma. "Kalau nggak melihat sendiri, mungkin aku nggak akan percaya kamu menjadi tersangka." "Penyidiknya juga bernama Faisal," beritahu Risma. "Sama seperti nama kamu." "Faisal Basri!" cetus Faisal. "Aku mengenalnya. Beberapa kali aku pernah bertemu dengan beliau." Zulkifli yang duduk di sebelah Faisal menimpali. "Tentu saja kamu mengenalnya. Pekerjaan kalian agak mirip." "Bedanya kalau Faisal Basri aparatur negara, kalau aku kuli swasta. Hehehe!" sahut Faisal pada Zulkifli. Ia beralih kepada Risma. "Oh iya, memangnya kamu tersangkut kasus apa?" Risma mendesah berat. "Kamu masih ingat sama Pak Faizin nggak? Itu loh, kepala bengkel Reyncar." Faisal mengangguk. "Iya aku masih ingat." Risma menunduk. "Gara-gara orang itulah aku masuk tahanan." Faisal mengernyit. "Kok bisa?" Risma menarik napas berat. "Faizin menusuk empat orang di vilaku. Tiga orang di antaranya mati. Satu orang kritis. Setelah itu ia menusuk perutnya sendiri." Faisal mengatupkan bibir. Ia tidak menyangka, sosok Faizin yang tampaknya baik dan bijak ternyata memiliki sisi lain yang mengerikan. Zulkifli ingin menegur Faisal agar jangan menanyakan lebih jauh tentang kasus Risma. Namun ia memilih untuk melihat situasi. Jika kondisi psikologi Risma stabil, ia akan membiarkannya. "Lalu kenapa kamu yang ditahan?" Faisal bingung. "Cuman aku satu-satunya yang nggak ketusuk," jawab Risma. "Celakanya, pas Pak Faizin bunuh diri, posisiku sedang berada di atas badannya." Zulkifli tidak tega melihat Risma tampak shock mengingat peristiwa itu lagi. "Sebaiknya kita langsung ke tujuan kita saja. Kasus Risma sedang saya tangani. Doakan saja!" Faisal mengangguk paham. "Maaf!" "Nggak papa," ujar Risma. "Nanti aku akan ceritakan jika ada waktu." "Baiklah, kita bahas soal kasus Nian." Zulkifli mengalihkan topik. Ia menatap Risma. "Jadi, kamu punya rencana apa?" Risma menatap Zulkifli. "Seperti yang sudah kukatakan kemarin, aku menyerahkan kasus ini sama kamu. Kamu carikan penasehat hukum buat Nian. Lalu kamu koordinasikan penyelidikan kasus itu dengan Faisal. Targetku adalah, Nian dibebaskan sebelum kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan. Terserah kamu, Zul, aku percayakan ini sama kamu." "Aku paham," timpal Zulkifli. "Aku salut sama kamu. Dalam keadaan begini saja, kamu masih sempet nolongin orang, baru kenal lagi." Faisal mengangguk. "Ya, apalagi kasus kamu itu sangat berat." Risma menunduk. Ia tidak butuh pujian saat ini. Ia juga ikhlas melakukannya. "Kita bisa ketemu Nian?" Zulkifli mengembalikan ke topik semula. Ia tidak mau Risma kepikiran terus sama kasusnya. "Nian belum bisa ditemui sekarang," ujar Risma. "Ia sedang dimintai keterangan sama penyidik. Tapi ia sudah menceritakan semuanya sama aku." Faisal mengangguk. Ia mengaktifkan tombol rekam pada recordernya. "Jadi bagaimana kronologinya?" Zulkifli mengangguk, sepakat dengan Faisal agar Risma segera menceritakannya, mengingat waktu kunjungan yang terbatas. "Jadi Nian itu asisten rumah tangga pada keluarga Ibu Yulia. Beliau tinggal dengan anak lelakinya yang bernama Zaki dan menantunya yang bernama Nora." Risma menjelaskan. Zulkifli mencatat pada bukunya. "Hari minggu, jam tujuh pagi, Zaki ngecas ponselnya di ruang tengah, padahal biasanya di kamarnya. Sekitar jam sembilan ia bermaksud mencabut ponselnya dari cas-casan, tetapi nggak ada. Karena ia ada keperluan penting, ia pergi dari rumah tanpa menunggu ponselnya ketemu. Yulia dan Nora berusaha mencari ponsel tersebut ke seluruh rumah. Nian yang sedang memasak di dapur, tiba-tiba diseret Nora ke kamarnya. Yulia yang mengetahui keributan itu ikut masuk ke kamar. Di hadapan Yulia, Nora menggeledah tas Nian dan menemukan ponsel milik Zaki." Risma menceritakan kronologinya sesuai penuturan Nian. "Nian berada di mana saja waktu Zaki mulai ngecas ponsel sampai Nora menyeretnya ke kamar?" tanya Zulkifli. "Menurut pengakuan Nian. Ia keluar rumah sekitar jam tujuh kurang sebelas menit buat belanja Ia baru kembali ke rumah sekitar pukul sembilanan. Zaki sudah tidak berada di rumah. Kemudian ia langsung ke dapur untuk memasak," jawab Risma menjelaskan. "Atas dasar apa Nian tahu kalau ia keluar rumah pada jam tujuh kurang sebelas menit?" selidik Faisal, memastikan. "Si Nora kan nuduh tuh? Nah, Nian beralibi kalau ia ke pasar sebelum Zaki ngecas ponsel. Ia inget sebelum keluar rumah, ia sempet baca pesan WA dari temennya, waktunya pukul 06:49." Risma menjelaskan. "Sikap Nora gimana pas ia mengemukakan alibinya?" tanya Zulkifli. "Nora nggak percaya, katanya Nian nggak ada bukti dan nggak punya saksi." Risma menelan ludah, menahan kesal. "Padahal kata Nian, sejak pagi-pagi banget Nora udah cerewet nyuruh Nian cepet ke pasar." "Tunggu!" Faisal menyela. "Yulia tahu nggak kalau Nian keluar rumah?" Risma menggeleng. "Yulia belum keluar kamar ketika Nian keluar sampai ia pulang ke rumah." "Terus setelah tidak menerima alibi Nian, Nora ngapain?" tanya Zulkifli. "Nora maki-maki Nian. Ia ngotot mau menyeret Nian ke kantor polisi," jawab Risma. "Yulia membujuk Nora agar menyelesaikannya secara baik-baik. Awalnya Nora menurut dan Nian kembali ke dapur, tapi ketika Yulia keluar rumah, Nian menyeret Nian ke kantor polisi." Zulkifli mengernyit. "Polisi nggak bakal sembarangan menahan orang. Aku pikir bukti ponsel ada di dalam tas Nian belum cukup." Faisal mengangguk, sepakat dengan Zulkifli. Lama-lama Risma kesal juga pada dua lelaki di depannya yang selalu menyela ceritanya. "Aku lanjutin dulu boleh?" Ia menatap Zulkifli dan Faisal bergantian. Zulkifli mengangguk. "Iya, lanjutin aja!" Faisal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terima kasih!" Risma mendesah, masih sedikit kesal. "Menurut Nian, di hadapan polisi, Nora mengarang cerita dan mengajak saksi palsu yang mengaku melihat Nian mencabut ponsel Zaki dari charger, lalu mengantonginya." Zulkifli ingin bertanya, tapi diurungkan. Ia nggak mau Risma kesal lagi. Begitupun Faisal yang segera membekap mulutnya ketika akan melontarkan pertanyaan. Risma menatap Zulkifli dan Faisal secara bergantian. "Kalian nggak tanya, kenapa tiba-tiba ada saksi palsu?" Zulkifli dan Faisal saling pandang. "Oke, aku jelasin aja biar kalian nggak bingung." Risma menarik napas panjang. Bercerita ternyata melelahkan juga, ujarnya dalam hati. "Si saksi palsu ini bernama Dida. Ia adalah anak pengangguran yang kerap kali bikin ulah di kampungnya. Nian nggak paham kenapa si Dida bisa bersaksi begitu." "Lalu?" Risma melanjutkan. "Di kantor polisi si Dida bersaksi, ia disuruh Nora beli gas, makanya ia mengambil tabung gas kosong di dapur. Saat melewati ruang tengah, ia bersaksi kalau ia melihat Nian mencabut ponsel yang sedang dicas di ruang tengah lalu mengantonginya." "Padahal kenyataannya nggak begitu?" tebak Zulkifli. "Ya enggaklah, orang pas mau ke kantor polisi, si Dida tampak baru bangun tidur," sergah Risma. "Celakanya sampai di kantor polisi, Nian cuman bisa menangis sambil bersumpah nggak ngambil ponsel itu. Ia kelabakan pas didesak pertanyaan, apa benar tas itu punya dia?" "Jadi Nian nggak bisa beralibi?" tanya Faisal. "Alibinya nggak diterima karena nggak ada bukti dan saksi." Risma menjelaskan. Faisal merenung, merangkai kembali kronologi cerita Risma dari awal sampai akhir. "Kita harus mencari bukti atau saksi yang menguatkan alibi Nian." "Iyap," timpal Zulkifli. "Sama kita desak si Dida ini untuk mengakui kalau kesaksiannya palsu." Risma tersenyum lega karena kedua lelaki di hadapannya langsung memiliki rencana. "Kalian aturlah gimana baiknya. Aku harap Nian segera bebas." "Percayakan sama aku dan Faisal!" pinta Zulkifli. "Kamu fokus saja untuk menjaga kesehatan dan jangan terlalu kepikiran sama peristiwa di vila." Risma mengangguk. "Ada kabar baik buat kasus kita," beritahu Zulkifli. Wajah Risma langsung cerah. "Kabar apa?" "Pak Arya, kakeknya Nando, tadi menelepon minta aku menemui beliau. Katanya beliau akan menunjukkan sebuah bukti penting." Risma terlonjak gembira. Jantungnya berpacu cepat. "Bukti apa?" Zulkifli tersenyum. "Beliau belum menyebutkannya, tapi semoga bukti itu sangat penting dan meringankanmu." Faisal menimpali. "Kamu biasa membantu orang lain, jadi sangat wajar jika pada akhirnya ada orang lain yang siap membantumu." Zulkifli mengangguk sepakat. *** Faisal Abdau, detektif swasta yang memiliki reputasi brilian, sudah dua kali bolak-balik mempelajari keadaan antara rumah kediaman Yulia--majikan Nian-- sampai pasar. Ia mendapati setidaknya ada lima titik kamera pengawas. Di antara lima kamera pengawas tersebut, satu berada di rumah seberang yang berhadapan langsung dengan rumah Yulia. Ia pun mencari informasi siapakah pemilik rumah tersebut. Dari informasi yang Faisal terima, pemilik rumah itu adalah seorang janda yang sedang berada di luar kota, hanya seorang asisten rumah tangga yang berada di dalam. Maka Faisal Abdau segera memencet bel rumah tersebut yang dikelilingi pagar tinggi. Tidak lama kemudian Lilis, asisten rumah tangga muncul, tanpa membuka pintu gerbang. "Ada keperluan apa, Pak?" tanya Lilis waspada. Ia sering mendengar sekarang banyak orang yang berbuat jahat dengan berpura-pura sebagai pekerja dengan profesi tertentu. "Saya Faisal Abdau, ini kartu identitas saya sebagai detektif." Faisal menunjukkan kartu identitas kepada Lilis. "Saya sedang ditugaskan melakukan penyelidikan. Lilis memeriksa kartu identitas Faisal. "Tapi maaf, majikan saya sedang keluar kota. Saya tidak berani menerima tamu tanpa izin beliau." Faisal tersenyum ramah. "Kalau begitu silakan hubungi majikan Anda, jelaskan maksud kedatangan saya." Lilis mengerjap ragu. Pandangannya menyisir penampilan Faisal. "Mbak kenal asisten rumah tangga di depan rumah ini?" pancing Faisal. Lilis mengangguk. "Namanya Nian bukan?" Lilis kembali mengangguk. "Nian sedang tersangkut kasus dengan tuduhan pencurian ponsel. Sebagai tetangga saya yakin Anda mendengar kasus tersebut." Lilis terdiam. Ia memang mengenal Nian dengan baik. Ia juga sudah mendengar kasus seperti yang dituturkan Faisal. "Nian adalah korban fitnah. Ia enggak pernah mengambil ponsel itu," jelas Faisal. "Sebagai detektif sudah menjadi kewajiban saya untuk mengetahui kebenarannya. Apakah Anda tidak iba pada Nian yang harus mendekam di tahanan polisi atas kesalahan yang enggak pernah ia lakukan?" Lilis menggigit bibirnya. Ia juga percaya Nian korban fitnah. Ia ingin sekali membantunya, namun ia hanya seorang asisten rumah tangga yang tidak bisa sembarangan memasukkan orang tidak dikenal ke dalam rumah majikannya. "Jadi saya harap Anda mau membantu kami dalam menyelidiki kasus ini." Faisal berkata tegas tapi tetap terdengar ramah. "Anda hanya cukup memintakan izin kepada pemilik rumah ini agar kami bisa mengakses rekaman kamera pengawas. Itu saja." Lilis menatap Faisal gelisah. "Baiklah, tunggu sebentar." Ia bergegas menjauh dari Faisal. Faisal mengawasi Lilis yang tampak sedang menelepon. Ia berharap perempuan itu berhasil meyakinkan majikannya. Selang beberapa menit kemudian, Lilis mendekat kepada Faisal sambil tetap melakukan percakapan dengan majikannya. "Nyonya ingin bicara dengan bapak!" Ia menyerahkan ponsel kepada Faisal. Faisal mendekatkan ponsel ke telinga. "Hallo, saya Faisal dari kantor detektif." "Maaf, Pak Faisal, saya sedang berada di luar kota." Terdengar suara seorang perempuan. "Saya bisa membantu Anda nanti setelah pulang, nanti malam." "Baik, Bu, terima kasih atas kesediaan ibu." "Iya, cuman boleh saya minta dikirimkan foto kartu identitas bapak?" "Baik, Bu, nanti saya kirimkan." "Kalau begitu beritahu nomor WA bapak, biar nanti saya chat." "Baik, Bu!" Faisal memberitahukan nomor teleponnya. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya harap bapak maklum." "Iya nggak papa, Bu, saya juga meminta maaf telah mengganggu ibu," ujar Faisal. "Sampai jumpa nanti malam." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN