Data Dua Puluh Lima Tahun Lalu

1702 Kata
Dengan isyarat, Arya menyuruh Math untuk membantunya menggerakkan badan dari posisi rebahan ke posisi duduk. Math mendesah lembut. "Opa rebahan dulu saja." Ia menyarankan begitu, tapi tetap membantu Arya mengangkat punggung sampai opanya berdiri. "Rebahan terus bikin badan kaku!" "Tapi kan opa memang butuh rebahan." "Yang punya badan ini opa apa kamu?" Math mengangguk. Ia tidak mau berdebat dengan opanya. "Ambilin ponsel opa!" Arya menunjuk ke atas meja. Math mengambil ponsel di atas meja. Ia menyerahkannya kepada opanya. Arya menolak menerima. "Tolong hubungi Zulkifli. Kontaknya sudah opa save." Math mencari kontak Zulkifli. Dahinya berkerut ketika mendapati nama kontak 'Zulkifli Pengacara'. "Tanyakan padanya, kapan punya waktu? Opa ingin menunjukkan bukti penting padanya." Alih-alih menelepon Zulkifli seperti yang diperintahkan Arya, Math mendekati opanya tersebut. "Siapa Zulkifli, Opa?" Arya mendengus kesal. "Kamu mau nggak opa mintai tolong?" Math terpaksa menuruti kemauan Arya. Ia menghubungi kontak Zulkifli. Tidak lama kemudian panggilan terjawab. "Selamat siang, Pak Arya," sapa Zulkifli. "Maaf, saya Matheus, cucu Pak Arya," beritahu Math. "Oh, Pak Matheus. Saya pikir Pak Arya." "Mmhh, begini, Pak Zulkifli, saya dimintai tolong opa buat nanya, kapan Pak Zulkifli punya waktu luang?" "Ehhmmhh, sejujurnya jadwal saya padat sampai sore nanti, tapi kalau Pak Arya ingin menyampaikan sesuatu yang urgent, saya bisa usahakan." "Iya, Pak, opa bilang ingin menunjukkan bukti penting kepada Pak Zulkifli." Zulkifli bersemangat. "Baik, kalau begitu. Saya siap kapan saja!" Math melirik Arya. Tiga jari tangan Arya terangkat ke atas dan ditunjukkan kepada Math. Math mengangguk. "Kalau jam tiga sore Pak Zulkifli berkenan tidak?" "Bisa, Pak Matheus, tolong sampaikan kepada Pak Arya saya akan datang." Zulkifli menegaskan. "Di mana saya bisa menemui Pak Arya?" "Di rumah sakit Griya Saras, ruang VVIP2." "Baik, saya akan datang jam tiga sore nanti." "Baik, hanya itu yang ingin opa saya sampaikan. Terima kasih, Pak Zulkifli." "Terima kasih juga buat Pak Matheus dan Pak Arya. Sampai jumpa." Math meletakkan ponsel ke atas meja. Selepasnya ia mendekati Arya. Ia penasaran apa sebenarnya yang sedang opanya rencanakan? Siapa Zulkifli dan apa kaitannya dengan barang bukti? Barang bukti apa? "Opa mau istirahat!" Math membantu Arya kembali pada posisi rebahan. "Apa Zulkifli ada kaitannya dengan kasus Nando?" Arya diam. Ia malas menjawabnya. Math kecewa dengan sikap diam Arya. "Apa aku nggak berhak tahu? Nando kan adikku juga, Opa." Arya masih diam. Pandangannya mendarat ke plafon. "Kali aja aku bisa bantu!" Math tidak mau menyerah untuk mengorek keterangan Arya. Arya menoleh. "Seharusnya sejak dari awal kamu bantu opa buat meyakinkan Nando agar tidak dekat-dekat dengan Faizin!" Math menelan ludah. Itu lagi yang opanya bahas. Ia merasa bosan. "Kamu berhak tahu dan kamu akan opa kasih tahu!" tegas Arya. "Tapi nanti sekalian opa menunjukkan sebuah bukti pada Zulkifli." "Bukti apa, Opa?" Arya menatap Math tajam. "Kenapa kamu penasaran?" "Karena aku yakin ini ada kaitannya dengan Nando." "Memang!" Matheus mendengus tertahan. "Lalu kenapa opa nggak sekarang aja menunjukkan buktinya padaku?" Arya menunjuk muka Math. "Karena kamu nggak pernah percaya sama opa. Jadi percuma saja opa memberitahumu karena pasti akan menganggapnya akal-akalan!" Math menggenggam telapak tangan Arya. "Aku nggak pernah menganggap opa begitu." "Tapi kamu nggak pernah percaya!" Arya melepaskan genggaman tangan Math. "Kamu, papimu, Nando, dan semuanya lebih percaya Faizin ketimbang si Arya renta ini!" Math menunduk. "Waktu opa menunjukkan data-data yang menunjukkan bukti bahwa Faizin psikopat, kalian nggak percaya." Intonasi Arya meninggi. "Padahal polisi menerimanya dan menindaklanjutinya!" Math menoleh. Bibirnya bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu. "Opa punya bukti rekaman video yang akan membuktikan bahwa Faizin psikopat dan telah menusuk empat orang termasuk adikmu." Arya menatap Math tajam. "Apa kamu juga akan menganggap itu akal-akalan saja?" "Opa...." "Sudahlah, Math!" Math merasa serba salah. Ia sadar opanya telah lama kecewa kepada menantu dan cucu-cucunya karena tidak ada satu pun yang mempercayai ucapannya. Math akui, ia memang sulit mempercayainya, tetapi bukan berarti ia tidak menghargai usaha opanya yang tidak ingin terjadi hal buruk kepada keluarganya. "Sekarang panggilkan asisten opa, suruh ia ke sini!" perintah Arya. *** Arya dan Nando berada di rumah sakit berbeda. Arya menjalani perawatan di rumah sakit terdekat dari rumah, sementara Nando berada di rumah sakit umum daerah. Jarak keduanya cukup jauh, membuat Math dan cucu-cucu Arya yang lain berbagi tugas menjaga. Math lebih cenderung untuk menunggui Nando karena ia sangat ingin melihat adiknya sadar. Lagipula sakit Arya tidak begitu mengkhawatirkan. Keputusan Math untuk menunggui Nando di ICU awalnya ia sesali karena di samping Nando sudah banyak yang menjaga, juga karena ia akan kehilangan kesempatan melihat bukti seperti yang opanya katakan. Ia sangat penasaran kiranya bukti apa sehingga opanya tampak sangat yakin. Namun ketika melihat jari tangan Nando bergerak-gerak, Math merasa sangat bahagia. Dari balik kaca ia memperhatikan adik bungsunya itu sambil menangis penuh harap agar Nando segera sadar dari koma. Tiga hari sudah Nando koma, antara hidup dan mati. Selama itu Math tidak putus harapan. Ia yakin adiknya itu akan melewati masa kritis dan kembali sadar. Beberap menit lalu Math melihat dengan mata sendiri, jari-jari tangan Nando bergerak-gerak. Itu membuat harapannya semakin besar. Setelah itu matanya terus memperhatikan kondisi Nando berharap jari-jari tangan itu bergerak lagi. Di dalam sana seorang perawat dan seorang dokter sedang memeriksa kondisi Nando. Math sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan informasi dari dokter tersebut. Ketika doker keluar dari ruangan ICU, Math langsung mencegat. "Gimana kondisi Nando, Dok?" Math berharap-harap cemas. Dokter tersenyum. "Ada kabar baik, Pak. Pasien berangsur menemukan kesadaran, meski masih lemah. Pasien sudah bisa merespon cahaya dan suara. Hanya saja butuh waktu untuk dapat membuka mata dan merespon apa yang ada di sekelilingnya." "Syukurlah!" Math merasa sangat lega. "Kira-kira kapan adik saya akan sadar sepenuhnya." "Jika grafik perkembangannya terus menaik, paling lambat besok pasien sudah bisa merespon sekitarnya dengan baik," jawab dokter. "Luka pada perut pasien juga tidak terlalu dalam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan di dalam perut pasien." Mata Math sembab. Ia terharu sekaligus bersemangat menantikan saat-saat Nando sadar. "Terima kasih atas informasinya, Dok." "Sama-sama, *** Faisal Basri tersenyum ramah kepada Yulia. Ia mengulurkan tangan kepada perempuan berusia lima puluh tujuh tahun itu. "Selamat pagi, Bu, saya Faisal Basri dari Polsek Bawang. Yulia berdiri, menjabat tangan Faisal Basri. "Selamat pagi, Pak Faisal, saya Yulia. Silakan duduk," ucapnya dengan nada sedikit bergetar. Pagi ini ia memang dijadwalkan menemui seorang penyidik kepolisian. Faisal duduk. Ia meletakkan amplop berkop kepolisian dan sebuah map biru ke atas meja. Ia menyerahkan amplop kepada kepada Yulia. "Ini adalah surat tugas saya, silakan dibaca." Dengan tangan sedikit bergetar, Yulia menerima amplop dari Faisal. Ia mengambil selembar surat dari dalam amplop tersebut, kemudian membacanya. Setelah tahu isi surat tersebut ia menarik napas lega. Tadinya Yulia kira, kedatangan petugas dari kepolisian berkaitan dengan kasus kehilangan yang menantunya laporkan. Makanya ia merasa heran kenapa Faisal menemuinya di kantor tempatnya bekerja, bukan di rumahnya. Kini ia baru tahu, kedatangan Faisal berkaitan dengan kantornya. Yulia melipat surat dan memasukkan kembali ke dalam amplop. "Jadi apa yang bisa saya bantu, Pak Faisal?" Faisal tersenyum ramah. "Seperti yang tertera di dalam surat yang ibu baca, kami dari kepolisian ingin meminta klarifikasi perihal data-data yang kami terima. Apakah benar data-data ini bersumber dari klinik ini." Faisal menyerahkan map biru kepada Yulia. Yulia menerima map biru dari Faisal. Ia membuka lembar demi lembar isinya. Ia memeriksanya secara teliti sampai lembar terakhir. Yulia menutup kembali map di tangannya. "Kop dalam dokumen ini mengatasnamakan klinik kami. Berdasarkan tanggalnya, ini data lama, sekitar dua puluh lima tahun lalu." Faisal mengangguk. "Saya meminta ibu untuk memastikan apakah data-data tersebut benar-benar dikeluarkan klinik ini atau tidak?" Yulia tersenyum. "Data-data yang ada dalam map ini semuanya hasil fotokopian. Itu semua tidak resmi karena tidak ada cap legalisir. Namun kami akan memastikan data-data aslinya ada atau tidak pada arsip kami. Jika tidak ada, maka kami bisa tegaskan data-data itu tidak bisa diatasnamakan klinik kami." "Saya mengerti, Bu!" timpal Faisal. "Itulah kenapa kami meminta konfirmasi ibu sebagai direktur pada klinik ini." "Baik, Pak, saya membutuhkan waktu untuk memeriksanya satu per satu karena data ini sudah berusia dua puluh lima tahun lalu," ucap Yulia. "Kira-kira sampai kapan, Bu Yulia?" Yulia berpikir sambil menimang map di tangannya. "Saya tidak janji waktunya, hanya saja paling tidak kami membutuhkan waktu dua sampai tiga hari." Faisal mengangguk. "Baik, saya akan ke sini lagi paling lambat tiga hari dari sekarang. Jika sebelum itu, ibu sudah mendapatkan hasilnya, tolong kabari kami." Yulia mengangguk. "Iya, Pak. Kami akan usahakan secepatnya." Faisal menganguk. "Terima kasih sebelumnya. Ini demi penyelidikan sebuah kasus besar." Yulia ingin bertanya kasus besar apakah yang dimaksud Faisal, tetapi ia tidak berani karena menganggap itu bukan urusannya. "Sekadar informasi, saya mulai bekerja di klinik ini sekitar enam belas tahun lalu," ujar Yulia. "Dan menjadi direktur baru tiga tahun ini." Faisal teringat nama istri Faizin. "Berarti ibu tidak mengenal Ibu Rumania?" Yulia mengerjap, berusaha mengingat nama itu, namun pada akhirnya ia menggeleng. "Seingat saya, saya belum pernah mendengar nama itu." "Dari informasi yang saya dapat, Ibu Rumania adalah salah satu psikiater di klinik ini," beritahu Faisal. "Dari beliau juga dokumen itu berasal. Kalau bisa tolong sekalian ibu cek kebenarannya, apakah di sini ada psikiater bernama Rumania atau tidak." "Baik, Pak, nanti sekalian kami periksa datanya." "Menurut keterangan saksi, dulu Ibu Rumania adalah seorang psikiater yang menangani pasien bernama Pak Faizin. Keduanya kemudian menikah." Faisal menambahkan. Mendengar nama Faizin, Yulia seketika berpikir. Rasanya ia pernah mendengar nama itu. "Faizin?" "Benar, Bu. Nama pasiennya Faizin. Apakah ibu mengingat sesuatu?" "Sebentar, Pak!" Yulia terus mencoba mengingat-ingat nama itu karena merasa pernah mendengarnya. "Coba ibu ingat-ingat!" saran Faisal. Setelah hampir dua menit berpikir, Yulia ingat sesuatu. "Iya, sekarang saya ingat." Faisal merasa gembira. "Bisa ibu ceritakan apa yang bisa ibu ingat?" Yulia mengangguk. "Sekitar tujuh tahun lalu pernah ada petugas dari kepolisian meminta data pada klinik ini. Waktu itu saya belum menjadi direktur, sehingga maaf saya tidak bisa memberi keterangan perihal itu." Faisal mengerjap. "Lalu dari mana ibu bisa tahu kalau ada penyidik yang meminta data kepada klinik ini?" "Saya dan teman-teman di sini membicarakan itu. Saya nggak ingat siapa yang pertama kali memberikan informasi tersebut kepada kami," dalih Yulia. "Waktu itu ibu menjabat sebagai apa?" "Waktu itu saya salah satu psikiater di sini," jawab Yulia. Faisal mengangguk paham. "Kalau begitu, sekarang dengan kewenangan yang ibu miliki, ibu bisa membantu kami memberi informasi yang berkaitan dengan itu semua." "Baik, Pak." "Oke, kalau begitu saya permisi. Terima kasih atas bantuannya. Kami tunggu kabar dari ibu secepatnya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN