Risma sengaja datang lebih pagi. Ia ingin segera bertemu Faizin untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Selepas itu ia akan pergi dari Reyncar, mengakhiri misinya.
Risma duduk di kursi panjang, depan ruangan Faizin. Ia harus mengakhiri ini secara terhormat, bukan keduluan dipanggil untuk diinterogasi.
"Hai, Ris!" sapa Hendi.
Risma mendengus sebal. Bukan sebal kepada Hendi, tetapi sebal kepada situasi yang mengharuskannya bertemu orang lain sebelum Faizin.
Hendi duduk di sebelah Risma. "Pasti akan menjadi hari yang sibuk ya, kelihatan dari kedatanganmu yang lebih pagi dari biasanya."
Risma tersenyum malas.
"Sudah sarapan?" Hendi bertanya.
Risma mengangguk saja.
"Sayang sekali, kalau belum aku mau mengajakmu sarapan bareng di kantin."
Lagi-lagi Risma haya tersenyum malas.
"Cuaca sepertinya mendung ya?" Hendi meledek. Pandangannya seolah sedang mengarah ke langit.
Risma mulai tidak nyaman. "Terima kasih atas perhatiannya. Cuman aku saat ini lagi pengen sendiri di sini."
Bibir Hendi mengerucut.
Risma menoleh. "Aku minta maaf ya, Hen, jika pernah membuatmu kesal."
Hendi mengernyit. "Kamu ngomong begitu seperti mau resign saja, hahaha!"
Risma tersenyum pedih. Ia merasa belum saatnya berterus terang kepada Hendi perihal akan pergi dari Reyncar.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Hendi merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan Risma.
"I'm fine," ujar Risma bohong. "Jadi gimana?'
Hendi bingung. "Gimana apanya?"
"Apa kamu enggak keberatan kalau aku ingin sendiri saja di sini?"
Hendi paham maksud Risma. "Baiklah, jika itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu lagi." Hendi mengucapkannya sambil bernyanyi. Ia pun berdiri.
Risma merasa bersalah. "Maaf ya, Hen. Aku nggak mengusir kamu."
Hendi tersenyum. "It's ok!" Ia pun berlalu dari hadapan Risma.
Karyawan Reyncar mulai berdatangan. Risma tetap berada di depan ruangan Faizin sampai Desi datang bersama Nando.
Risma sempat melihat Nando dan Desi saling berbisik saat mereka berjalan mendekatinya. Meskipun tidak bisa mendengarnya, tapi ia sangat yakin keduanya sedang membicarakan tentang dirinya.
Nando dan Desi melewati Risma begitu saja seolah tidak saling mengenal.
Risma menarik napas panjang, bersyukur Nando dan Desi tidak mengusiknya. Sekarang ia semakin yakin kalau keduanya terlibat atas hilangnya ponselnya.
Lima menit lagi pukul 07:00. Saat Risma sedang menunduk dalam-dalam, Faizin datang. Lelaki itu memandang Risma dengan perasaan campiur aduk.
"Risma?" Faizin menegur Risma.
Hati Risma terlonjak kaget mendengar suara Faizin. Wajahnya pucat ketika menatap Faizin.
Risma berdiri. "Ada yang ingin saya sampaikan sama bapak." Ia tidak mau keduluan Faizin.
Faizin menatap Risma tajam. "Masuklah!" Ia membuka pintu.
Risma mengekor, masuk ke ruangan Faizin.
Faizin duduk di kursinya. "Duduk!"
"Terima kasih," ucap Risma parau.
Faizin menatap Risma lekat-lekat. "Bapak juga ingin membicarakan sesuatu."
Risma mengangguk paham. "Mohon izin untuk menyampaikan sesuatu kepada bapak lebih dahulu."
Faizin mengatupkan bibir. "Karena kamu yang mengutarakan lebih dulu, jadi silakan sampaikan saja. Itu akan membuat bapak menghemat kalimat."
"Terima kasih, Pak!" Risma menarik napas dalam-dalam. "Pertama, saya mau minta maaf atas semua kesalahan saya selama berada di sini, terutama untuk satu kesalahan besar yang akan saya akui."
Faizin mengatupkan kedua telapak tangan, siap mendengarkan.
"Kedua, dengan penuh kesadaran, saya mengaku telah salah motivasi masuk Reyncar." Tiba-tiba Risma gugup. Kalimat yang telah ia siapkan seolah menyangkut di tenggorokannya yang tercekat. Lidahnya pun ikutan kelu, membuat emosinya menjadi tidak stabil. Mentalnya jatuh. Harus ia akui, Faizin sangat berwibawa.
"Teruskanlah!"
Risma menunduk. "Sebelum saya bicara lebih jauh, saya ingin meyakinkan bapak bahwa saya tidak pernah berniat jahat kepada Reyncar. Saya hanya ingin tahu sesuatu tentang bengkel ini, meskipun saya akui cara yang saya lakukan tidak etis."
Faizin tidak sabar. "Langsung ke substansinya saja. Saya tidak banyak waktu untuk ngobrol."
"Motivasi saya masuk Reyncar bukan karena ingin pindah ke kota ini, tapi karena saya ingin mengetahui rahasia dan strategi apa yang dilakukan Reyncar sehingga bisa mengalahkan SAS cabang Tegal." Risma mengakui.
Faizin mendengus. Sekarang ia percaya dengan apa yang dikatakan Nando dan Desi.
"Saya minta maaf, Pak!" Mata Risma sembab.
Faizin menyodorkan boks tisu kepada Risma.
Risma mengambil selembar tisu, lantas menyeka air mata yang belum sempat jatuh.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Faizin dengan nada menekan. "Siapa sebenarmya kamu?"
Air mata Risma mengalir. "Saya adalah CEO SAS Group."
Meskipun sudah mengetahuinya, namun Faizin tetap terkejut atas pengakuan Risma. Ia menatap Risma tajam. "Saya tidak habis pikir, seorang CEO bengkel besar bertindak seperti yang kamu lakukan?"
Risma menunduk.
Faizin menjatuhkan punggung ke sandaran kursi. "Dengan latar pendidikanmu yang tinggi dan dengan latar belakang keluarga terhormat, seharusnya kamu tahu tindakanmu sangat menjijikan!"
Dalam hati Risma tidak terima dianggap menjijikan. Sayangnya saat ini ia dalam posisi tidak ingin membantah. Ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini.
"Bagaimana mungkin sebuah perusahaan akan maju jika CEO-nya seperti kamu?" Faizin menyeringai. "Tapi itu bukan urusan bapak. Yang penting sekarang adalah segera membuka pintu lebar-lebar buatmu. Sebijaksana itulah Reyncar memperlakukan orang yang telah menyakitinya."
"Saya akan terima semua keputusan bapak." Risma pasrah.
"Karena status kamu masih karyawan Reyncar, maka kamu saya beri kesempatan sampai sore nanti untuk menyelesaikan pekerjaan dan berpamitan. Sebelum pulang, datanglah ke sini untuk menerima surat pemecatan."
Risma mengerjap. "Baik, pak. Saya akan tetap profesional, menyelesaikan pekerjaan sampai sore nanti. Terima kasih atas kebijaksanaannya. Saya permisi."
Faizin mengangguk antara sedih dan pedih.
"Oh iya, Pak." Risma baru ingat. "Saya yakin bapak sudah tahu perihal ini sebelum saya mengakuinya. Bagi saya tidak penting siapa yang melaporkannya. Hanya saja saya tidak suka caranya."
Faizin bingung. "Maksudnya gimana?"
"Ponsel saya hilang dua hari lalu," jawab Risma.
Faizin terkejut. "Hilang?"
"Iya, Pak," jawab Risma. "Waktu itu saya sedang berada di coffeshop bersama Nando, sepulang meninjau posko mudik. Waktu itu saya ditabrak seseorang perempuan dan jatuh menimpa seorang lelaki. Sejak itu ponsel saya hilang."
Faizin geram. Ia sudah menduga kalau keterangan Desi perihal menyuruh hacker tidak sesuai fakta.
"Saya meminta tolong seseorang bernama Andrew buat menjebak orang yang mengambil ponsel saya. Andrew mengajak ketemuan di sebuah kafe, tetapi orangnya malah mengarahkan untuk ketemuan di sebuah rumah di Gang Gelatik nomor 37. Karena sesuatu hal, Andrew tidak jadi datang."
Faizin mempercayai keterangan Risma. Kini ia semakin yakin kalau Desi terlibat atas hilangnya ponsel Risma.
"Apakah masih ada yang masih ingin bapak sampaikan atau tanyakan?" tanya Risma.
Faizin menggeleng. "Nanti kalau ketemu Nando atau Desi, suruh mereka ke ruangan bapak segera.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit." Risma bangkit.
Faizin memandang kepergian Risma dengan perasaan campur aduk. Baru saja ia merasa beruntung memiliki karyawan sehebat itu, sekarang ia harus kecewa. Yang lebih menyakitkan adalah kepergiaan Risma nanti sore karena sebuah kebohongan. Ia lebih bisa memaafkan seribu kesalahan pekerjaan ketimbang satu kebohongan.
Faizin menelepon Nando. "Nando, ke ruangan saya sekarang. Ajak Desi sekalian!"