Pengakuan

1494 Kata
Begitu Nando dan Desi keluar dari rumah Faizin. Risma menyuruh Andrew untuk menghambat keduanya. Andrew pun menyuruh Roby dan rekannya untuk menggunakan berbagai cara agar Nando dan Desi tidak segera sampai rumah. "Lakukan secara natural. Jangan sampai mereka menyadari sedang dihambat!" pesan Andrew kepada kedua anak buahnya. "Tampaknya Desi yang nyetir!" Risma melihat Desi masuk mobil dari pintu kanan depan. "Kenapa bukan Nando?" tanya Andrew Risma menoleh usil. "Kenapa enggak tanya langsung aja sama mereka?" Andrew garuk-garuk kepala, sambil cengar-cengir. "Sekarang anterin aku ke calon mertua!' suruh Risma. Andrew mengerjap bingung. "Calon mertua?" Risma tertawa. "Becanda tahu!" Andrew terkekeh. Risma meletakkan ponsel ke atas dasbor. "Kita ke rumah Pak Reynaldi pakai map ini." "Pak Reynaldi?" Andrew berpikir, merasa tidak asing dengan nama itu. "Beliau pemilik Reyncar!" beritahu Risma. "Oh!" Andrew menahan tawa. Risma menoleh. "Kenapa?" "Jadi beliau calon mertua?" canda Andrew. Risma mendelik sebal. "Lama-lama kamu ngelunjak ya sama bos kamu sendiri?" "Maaf, Mbak!" Andrew merasa bersalah. "Hanya karena aku minta kamu terlibat dalam masalahku dan berjam-berjam berada dalam mobil yang sama, bukan berarti kamu bisa seenaknya kurang ajar sama aku!" Andrew semakin merasa bersalah. "Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud..." "Aku nggak seangkuh itu kali jadi bos!" Risma tertawa ngakak, membuat Andrew menjadi bingung. Mereka bergerak cepat menuju rumah Reynaldi. Sementara di tempat lain, mobil yang ditumpangi Nando dan Desi terpaksa menepi karena ban depan kanan bocor. Mereka turun dari mobil. Nando mendongkrak bagian depan kanan mobil agar bisa melepas rodanya. "Pakunya gede juga!" Nando memeriksa ban. "Mobil ini pakai ban dalam ya, bukan tubeless?" "Nggak tahu. Aku asal ambil mobil aja!" jawab Desi. Ia berjalan-jalan di sekitar lokasi. Nando melepas roda kanan depan dan menggantinya dengan roda serep. Sebagai seorang instruktur servis, pekerjaan seperti itu amatlah mudah baginya, "Ada yang menebar paku kayaknya!" Desi menunduk, memungut dua buah paku yang tampak masih baru. Nando baru saja menurunkan dongkrak. Penggantian roda mobil selesai. "Kamu denger nggak sih aku ngomong " Desi kesal, merasa diabaikan. "Denger!" jawab Nando. "Kamu nggak ingat tata tertib Reyncar? Dilarang mengajak bicara mekanik saat sedang bekerja." "Tapi di sini bukan Reyncar!" Nando mencibir sebal. "Ayo lanjut!" Desi mengangguk. Mereka masuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Baru berjalan kurang dari dua kilometer, sebuah sepeda motor menyerempet mereka dan jatuh. Grusak! Brrrttt! Gubrak! Mobil direm mendadak. Desi dan Nando keluar dari mobil. Mereka mendekati pengendara motor yang tergeletak di aspal, sementara sepeda motornya terlempar jauh. Hati Desi berdebar ketika melihat korban tampak tidak bergerak. Ia takut orang itu mati. Nando memeriksa denyut nadi. Ia bernapas lega karena korban masih hidup. "Ayo kita bawa ke rumah sakit." "Aku nggak kuat ngangkatnya!" Desi bingung. "Kamu minta tolong sama warga buat gotong orang ini masuk mobil." Desi berdiri. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Mereka berada di tengah sawah dengan kondisi gelap. Permukiman penduduk tampak masih dua kilometeran. "Aku hubungi ambulans rumah sakit saja!" Nando mengambil ponsel. "Uhhuk!" Si korban kecelakaan terbatuk. Ia mencoba melepas helm. Nando menunda untuk menghubungi ambulans, kemudian membantu korban melepaskan helm. "Nggak usah nelpon ambulans," ucap korban lirih dan merintih. Ia adalah salah satu tim Roby yang ditugaskan untuk menghambat Nando dan Risma. Ia berpura-pura menjadi korban kecelakaan dengan sengaja meyerempetkan motornya. Nando mengangkat punggung korban. "Saya bantu bapak ke tepi." Susah payah Nando membawa korban ke tepi jalan. Tanpa mereka sadari, mobil yang ditumpangi Risma dan Andrew baru saja melintas. *** Risma dan Andrew berdiri, menyalami Reynaldi. "Silakan duduk kembali." Reynaldi menoleh ke Andrew. Andrew peka, ia mengangguk hormat kepada Reynaldi. "Saya Andrew, Pak, dari SAS cabang Tegal." Reynaldi mengangguk senang. "Selamat datang di kediaman saya. Senang rasanya berkenalan dengan Anda." "Iya, Pak, sama-sama," balas Andrew. "Saya ke sini mendampingi Mbak Risma." Risma menimpali. "Ada yang ingin kami bicarakan dengan bapak, jika bapak berkenan dan sudi meluangkan waktu." Reynaldi tersenyum. "Saya senang membicarakan hal-hal bermanfaat dengan siapa pun, jadi jangan sungkan. Silakan, Risma." Risma menata posisi duduk, sekadar mengumpulkan kekuatan mental. Ia sedikit gugup, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga menetralisirnya. "Inti dari kedatangan saya adalah untuk meminta maaf kepada Pak Reynaldi sekeluarga." Risma menelan ludah. Tiba-tiba saja pikirannya blank. Andrew melirik Risma, memberi dukungan. Risma berdeham lirih. Ia akan bicara secara mengalir saja karena kalimat yang telah ia susun sebelumnya menguap dari otaknya. "Saya sadar telah melakukan kesalahan besar. Karena itulah saya memohon kebesaran hati bapak untuk memaafkan." Reynaldi menjadi bingung sekaligus penasaran. Risma menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Agar semuanya jelas dan tidak bertele-tele, saya ingin mengakui kalau sebenarnya saya adalah CEO SAS Group." Reynaldi terbelakak. Dahinya berkerut. Ia sangat terkejut, membuat emosinya naik, namun berusaha mengendalikannya. "Kamu tidak bercanda kan?" Risma menggeleng. "Saya baru menjabat posisi tersebut sebulan lalu. Sebelumnya saya adalah kepala admin di SAS pusat." Reynaldi bisa meraba ke arah mana pembicaran ini. Ia terus berusaha tenang dan berwibawa. "Apa pun alasan yang saya pegang, saya tetap mengaku salah karena motif memasuki Reyncar tidaklah seperti yang pernah saya sampaikan kepada Pak Faizin." Risma menunduk. "Saya siap bertanggung jawab atas kebodohan saya." Reynaldi menatap Risma tajam dengan tetap berusaha menahan emosi. Dalam hati, ia sangat marah karena ada seorang CEO bengkel lain menyusup ke bengkel miliknya. "Jadi apa sebenarnya motivasi Anda masuk Reyncar?" Perubahan sebutan dari 'kamu' menjadi 'Anda" membuat Risma semakin merasa bersalah. "Saya akan beri kesempatan Anda menjelaskan semua tanpa memotong ucapan Anda." Nada suara Reynaldi sedang-sedang saja, namun terasa penekanan di setiap intonasinya. "Terima kasih, Pak." Risma membetulkan posisi duduk untuk mengurangi kegugupan. "Ketika tahu SAS cabang Tegal mengalami kemuduran dan mengetahui fakta bahwa Reyncar menjadi bengkel nomor satu di kota ini, saya menjadi penasaran. Maka itu saya membuat studi banding." Reynaldi menghunus tatapan tajam kepada Risma. Ia masih menahan diri untuk tidak menyela. "Saya mengambil kesimpulan, bukan karena SAS cabang Tegal yang salah manajemen, tetapi memang karena Reyncar lebih hebat dalam membangun bisnis dan sangat signifikan kemajuannya." Risma mengangkat dagu, memberanikan diri menatap wajah Reynaldi. "Saya penasaran bagaimana Reyncar bisa sehebat itu." Andrew menatap Risma iba. Ia yakin bosnya itu sedang menanggung beban berat. Risma melanjutkan. "Sekali lagi saya minta maaf karena memiliki ide gila untuk menyusup ke Reyncar." Reynaldi ingin meluapkan emosi mendengar pengakuan Risma, tetapi ia terus berusaha mengendalikam diri. "Akhirnya saya merealisasikan ide tersebut." Risma kembali menunduk. "Saya tidak punya niat menggembosi atau bahkan menghancurkan Reyncar. Saya hanya ingin tahu saja." Reynaldi menegakkan badan. "Sikakan, teruskan!" Risma mengangguk. "Pak Faizin belum tahu perihal ini. Saya akan mengakuinya dan meminta maaf kepada beliau." "Masih ada yang ingin Anda sampaikan? Kalau tidak, giliran saya merespon pengakuan Anda dan menyikapinya." "Sudah, Pak," jawab Risma sedikit lega meskipun belum tenang karena merasa yakin, pasti setelah ini Reynaldi akan meluapkan emosinya. Reynaldi menarik napas panjang, membuang muka ke samping, lantas menggebah napas kasar. "Lalu kenapa Anda mengakuinya?" Risma tidak mungkin menjawab bahwa dirinya mengakui itu semua langsung kepada Reynaldi agar lebih elegan, ketimbang kalah secara tidak terhormat di hadapan Faizin. "Kenapa?" desak Reynaldi. "Saya sadar, Reyncar adalah sebuah keluarga yang tidak patut saya nodai, apalagi setelah bapak mengundang makan malam beberapa hari lalu. Itu membuat saya semakin merasa berdosa." Reynaldi menatap lekat-lekat Risma. "Anda yakin, Pak Faizin belum tahu perihal ini?" "Saya tidak bisa memastikan itu, tetapi sebelum saya semakin jauh salah langkah, dengan kesadaran diri, saya mengakuinya kepada bapak." Reynaldi mendengus. "Saya bisa saja meluapkan marah kepada Anda. Sayangnya saya merasa tidak ada gunanya melakukan itu. Ada banyak cara terhormat untuk menyikapi kekurangajaran Anda kepada keluarga kami!" Risma menunduk. Ia menata hati atas apa yang akan dilakukan Reynaldi kepadanya. "Saya akan mempertanggungjawabkan dosa saya ini." "Saya bisa membawa kasus ini ke ranah hukum!" Reynaldi menaikan nada. "Saya juga bisa mengusir Anda secara tidak terhormat. Tapi..." Risma berdebar-debar, tidak berharap Reynaldi melakukan itu. "Tapi karena Anda mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka saya memaafkan Anda dan akan menyerahkan kasus ini kepada Pak Faizin." Risma menarik napas lega. "Terima kasih atas kebijaksanaan bapak. Saya siap mendapatkan hukuman." "Hukuman?" Reynaldi tertawa sumbang. "Anda adalah seorang CEO. Saya akan memperlakukan Anda secara terhormat. Saya tidak akan membuang tenaga untuk menghukum atas cara kekanak-kanakan Anda!" tegas Reynaldi. Risma menunduk malu, merasa kagum dengan sikap elegan Reynaldi. "Saya sangat respek kepada bapak." Matanya sembab. Andrew yang sejak tadi mematung, merasa serba salah. "Kembalilah ke perusahaan Anda. Pergilah dari Reyncar secara terhormat dan jangan mengulangi kesalahan yang sama!" kata Reynaldi. "Saya memang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan ini. Saya marah kepada Anda. Jadi silakan tinggalkan tempat ini dan selesaikan kasus ini dengan Faizin secara baik-baik. Tentu saja Anda harus menerima semua konsekuensinya." "Saya siap bertanggung jawab, Pak," ucap Risma. Ia bangkit, lantas mengulurkan tangan kepada lelaki di hadapannya. Reynaldi menjabat tangan Risma malas. Risma mencium punggung telapak tangan Reynaldi. "Sekali lagi saya minta maaf, Pak." Ia sesenggukan. Emosi Reynaldi berangsur redam karena merasakan ketulusan Risma dalam meminta maaf. "Saya memaafkan Anda. Pulanglah sebelum setan menghasut hati saya." Risma melepaskan tangan Reynaldi. "Terima kasih, Pak." Andrew angkat bicara. "Saya juga meminta maaf, Pak." Reynaldi tersenyum masam. "Anda antarlah pulang gadis cerdas yang pernah membuat saya kagum ini." Andrew menjabat tangan Reynaldi. "Baik, kalau begitu kami permisi, Pak!" Risma menyeka air matanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN