Misi Andrew

1689 Kata
"Nah ini gang Gelatik!" Andrew menyalakan lampu sein kiri. Mobilnya memasuki sebuah gang. "Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Risma cemas. Andrew mengangguk mantap. "Paling tidak kita akan tahu siapa yang sedang menguasai ponsel anda, Mbak." Risma menoleh, tidak yakin. "Semudah itu? Aku nggak yakin orangnya segoblok itu." Andrew menjelaskan. "Kalau menurut dugaan saya begini, Mbak, dia ingin menjebak saya. Entah apa motifnya, bisa pemerasan, bisa juga hal lain." Mendengar kata 'pemerasan' membuat Risma merinding. "Apa pun yang akan mereka lakukan, saya sudah siap. Yang pasti mereka menginginkan sesuatu dari kedatangan saya," lanjut Andrew. "Maka itu demi keamanan, sebaiknya Mbak nunggu di mobil saja." Risma menggeleng. "Aku bisa membela diri, jika itu yang mengkhawatirkanmu!" Andrew mengangguk percaya. "Bukan soal keselamatan diri saja, Mbak, tapi ini soal keamananan identitas Mbak Risma." "Iya, aku tahu!" timpal Risma. "Ada kemungkinan mereka mengincarku karena banyak data-data penting di sana. Jika motifnya pemerasan, itu nggak masalah. Yang aku cemaskan adalah ponsel itu jatuh ke tangan Desi." "Saya juga curiga kalau ponsel itu ada di tangan Desi." Risma memejamkan mata kuat-kuat. "Jika benar ponsel itu di tangan Desi, aku yakin ia akan menjebak dan mempermalukanku." "Saran saya, Mbak Risma jangan keluar mobil." Andrew cemas. Risma membuka mata. "Aku ingin konfrontasi dengan Desi jika benar ponselku ada di tangannya. Aku ingin menunjukkan kalau aku bisa membalasnya dengan lebih pedih." Andrew menoleh. "Tapi dalam rencana saya ini, Mbak Risma tidak akan bertemu dengan Desi." Risma mendelik. "Yang bos itu aku apa kamu?" Andrew menunduk malu. "Mbak bosnya!" "Ya sudah, kalau begitu pakai rencanaku!" Andrew menghela napas. Baginya tidak masalah rencananya dipakai atau tidak. Ia hanya sedang mengkhawatirkan bosnya. "Alamatnya Gang Gelatik nomor berapa?" tanya Risma. Andrew menghentikan laju mobil. Mereka berhenti sejenak di pinggir tanah lapang. Andrew menunjuk ke sebuah rumah yang terbuat dari papan pohon jati di seberang lapangan. "Astaga! Ternyata itu rumah Faizin, kepala bengkel di Reyncar. Kami saling kenal. Nah, kami janji ketemuan di rumah itu." "What?" Andrew menarik napas panjang. "Tapi nggak masalah!" Risma menatap Andrew. "Dan di depan rumah Faizin ada sebuah mobil milik keluarganya Desi. Aku yakin itu yang bawa Desi." "Mbak yakin itu mobil Desi?" Andrew tidak yakin. Risma menoleh kesal. "Kamu meragukan kemampuanku dalam membaca strategi lawan?" Andrew gugup, merasa bersalah. "Bu-bukan begitu, Mbak. Tapi...." "Aku tahu kamu nggak yakin Desi menggunakan mobil Xenia berusia belasan tahun bukan?" potong Risma. Andrew mengangguk. Risma menggeleng. "Desi nggak mau kita tahu kalau ia ada di dalam. Maka itu menurutku ia datang diantar sopir menggunakan mobil perusahaan." Andrew mengangguk paham. "Sejak awal kamu sadar sedang diarahkan ke rumah Faizin?" tanya Risma kesal. Andrew merasa bersalah. "Enggak, Mbak. Saya baru ingat kalau alamat yang ditentukan itu rumah Faizin setelah sampai sini." Risma mendengus kesal. "Rencana kamu mentah!" Wajah Andrew merah padam. "Maaf, Mbak." "Punya rencana cadangan?" Andrew menggeleng. Risma menatap Andrew semakin kesal. "Kamu mau bunuh diri?" Andrew menggeleng. "Enggak, Mbak, maaf!" Risma menggebah napas kasar. "Maka itu, aku bikin rencana sendiri." "Siap, Mbak!" ujar Andrew. "Jadi saya harus bagaimana?" Risma mengerjap. "Kamu jalankan saja rencanamu!" Andrew bingung. "Rencanaku?" "Iya!" Andrew menggeser p****t agar bisa menghadap ke Risma. "Mbak Risma sudah tahu kalau dalam rerancaku Mbak tidak terlibat. Jadi bagaimana bisa rencana kita sinkron?" Risma mendengus. "Jalankan saja rencanamu!" "Siap, Mbak!" Andrew segera menelepon seseorang. "Kamu menelepon siapa?" Risma penasaran. "Pasukan!" Andrew mengerjap. Tidak lama kemudian panggilan terjawab. "Bergerak sekarang!" Risma tersenyum. "Sesuai perkiraanku, meskipun kamu enggak menjelaskannya secara detail." "Kita kendalikan dari sini!" kata Andrew. Ia menunjuk ke dua orang lelaki berbadan kekar yang sedang berjalan menuju rumah Faizin. "Mereka itu pasukan saya, Mbak. Mereka memang cuma berdua, Mbak, tetapi mereka bisa diandalkan." "Semoga saja!" Risma mengaminkan dalam hati. Hatinya mulai berdebar ketika melihat dua orang pasukan Andrew semakin mendekati rumah Faizin. Sementara itu, di dalam rumah Faizin, sang pemilik rumah sedang berbincang dengan Desi dan Nando. "Jadi sebenarnya siapa yang sedang kalian tunggu?" tanya Faizin kepada Desi dan Nando. "Seperti yang sudah saya sampaikan kepada bapak, orang yang benama Andrew ini mengajak ketemuan dengan Risma. Saya yakin ia cuman ingin menjebak saya. Maka itu saya minta ia menemui saya di sini." Faizin menarik napas panjang. "Bapak dan Andrew saling kenal. Beliau kepala bengkel SAS cabang Tegal. Ini akan menjadi pertemuan paling krusial antara kedua pengelola bengkel." "Iya, Pak!" timpal Nando. "Sesuai rencana, kami akan meminta maaf kepada Andrew atas cara kami menyelidiki Risma. Selanjutnya kami meminta arahan dari bapak apa yang harus kami lakukan." Desi memberi kode kedipan mata kepada Nando agar tidak memberitahukan dulu kepada Faizin perihal ponsel Risma. Nando mengerjap kepada Desi sebagai tanda sepakat. Ting tong! Nando dan Desi terkesiap. Faizin melirik jam dinding. "Andrew datang lebih cepat lima belas menit." Nando dan Desi saling pandang, maklum dengan kebiasaan Faizin yang selalu disiplin dengan waktu. Faizin bangkit, menuju pintu. Ia membuka daun pintu. Wajahnya mengernyit ketika mendapati dua orang tamu yang salah satunya bukan Andrew seperti yang diharapkannya. "Selamat siang, Pak!" sapa orangnya Andrew yang bernama Roby. "Mohon maaf, apa benar Pak Andrew ada di rumah ini?" Dahi Faizin berkerut, memandang dua lelaki muda kekar di hadapannya. "Andrew siapa? Sejak pagi saya tidak kedatangan orang bernama Andrew. Kalau boleh tahu ada apa ya?" "Kami dari Elka Finance ada urusan dengan Pak Andrew. Kami janjian ketemu di sebuah kafe, tetapi beliau membatalkan lokasi ketemuan, katanya sedang ada urusan penting di Gang Gelatik nomor tiga puluh tujuh, ciri-ciri rumahnya terbuat dari papan jati, sama persis dengan rumah bapak." Faizin menatap curiga Roby dan temannya secara bergantian. "Saya belum bertemu Pak Andrew mana pun atau siapa pun dan saya tidak ada urusan dengan bapak-bapak." Roby tersenyum ramah. "Mohon maaf telah membuat bapak menjadi tidak nyaman. Urusan kami hanya dengan Pak Andrew, jadi kalau bapak mengizinkan, kami akan menunggu beliau di dalam mobil saja." "Silakan!" Faizin berkata tegas. "Kalau begitu kami pamit. Sekali lagi, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini." Roby dan temannya undur diri. Mereka kembali ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah Faizin. Faizin menutup pintu. Ia kembali ke ruang tamu. "Bukan Andrew, Pak?" tanya Nando. Faizin menggeleng. "Sikap mereka aneh dan mencurigakan." "Tampang mereka seperti debt collector, Pak!" sahut Desi. "Mereka memang mengaku dari Elka Finance," ujar Faizin. "Debt collector memang begitu cara kerjanya," timpal Nando. "Bagi mereka yang penting mendapatkan hasil, nggak peduli bagaimana caranya, bahkan meski si target sedang berada di mana pun dan dalam situasi apa pun." Faizin berpikir. "Tampang mereka memang debt collector, tapi saya merasakan kejanggalan, kenapa mereka datang ke sini?" Nando terdiam, memikirkan ucapan Faizin. "Apa mungkin itu strategi Andrew?" Desi tersadar. "Astaga! Bisa jadi mereka cuma mau memastikan siapa saja di rumah ini. Apalagi lelaki yang pendiam tadi matanya mengawasi ke dalam." "Memastikan untuk apa?" Faizin menjadi curiga kepada Desi. "Apa mereka tahu kalau kamu yang sudah menyewa hacker?" Desi kelabakan. Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa dirinya yang mengambil ponsel Risma. "Mmhh, saya hanya menduga-duga saja." Faizin menatap Desi tajam. "Baik, kita berandai-andai Pak Andrew disuruh Risma untuk menyelidiki kalian. Pertanyaannya, untuk apa? Kemungkinannya sangat kecil kan kalau mereka tahu ponsel Risma kena hack?" Desi mengangguk, mencari aman setidaknya untuk saat ini. Ia baru akan mengakui bahwa dirinya mengambil ponsel Risma, nanti setelah Andrew datang ke sini. Faizin melirik jam dinding. "Sebentar lagi masuk waktu isya. Kalau sampai pukul 19:00 Pak Andrew nggak datang, kalian pulanglah, istirahat!" Desi melirik arloji di tangannya, cemas. Jika Andrew datang saat ia dan Nando sudah pulang, ia cemas Andrew akan mengatakan pada Faizin bahwa ponsel Risma hilang. Desi tidak mau itu terjadi. Petang berlalu, menjelang malam. Jam menunjukkan pukul 19:00 wib. Faizin, Nando, dan Desi saling diam di dalam rumah, menunggu seseorang yang katanya akan datang. Sedangkan di dalam mobil, Andrew dan Risma sedang menonton video kiriman dari Roby dan temannya. Kedatangan Roby dan temannya ke rumah Faizin tadi adalah untuk mencari tahu siapa saja yang berada di dalam rumah tersebut. Mereka dibekali kamera tersembunyi. Saat Roby mengalihkan perhatian Faizin, lelaki satunya mengarahkan kamera ke dalam ruang tamu. "Resolusimya kurang jelas, tetapi dari video kedua, aku bisa memastikan dua orang di dalam ruang tamu Faizin adalah Nando dan Desi," kata Risma. "Mbak yakin?" Risma mengangguk. "Sekarang rencana kamu selanjutnya apa?" "Saya akan masuk ke rumah Faizin untuk memastikannya. Saya juga sudah siapkan kamera tersembunyi," jawab Andrew. "Setelah memastikannya, dua pasukan saya itu akan pura-pura minta saya menyelesaikan tunggakkan angsuran kredit. Dengan begitu saya bisa pergi dari sana secepatnya." "Nggak perlu!" cegah Risma. "Misi kamu sudah berhasil. Aku sudah yakin kalau yang mengambil ponsel itu salah satu di antara Nando dan Desi, atau bahkan keduanya berkomplot!" Andrew ngeri melihat mata Risma yang menyorotkan kemarahan. "Sekarang giliranku!" Risma mengusap layar ponsel, mencari kontak Nando. Risma melakukan panggilan telepon kepada Nando. Cukup lama ia menunggu, sampai akhirnya terjawab. "Hallo, Do!" sapa Risma berusaha sewajar mungkin. "Iya, Ris, ada apa?" Nada suara Nando sedikit bergetar, menahan kegugupan sekaligus menahan marah atas niat jelek Risma masuk Reyncar. Namun posisi sekarang, ia masih pura-pura tidak tahu. "Sudah ada petunjuk belum soal ponselku yang hilang?" "Mmhh, belum, Ris!" "Kira-kira bisa ketemu nggak ya?" "Bisa, aku yakin!" Ada penekanan pada kata 'bisa' saat Nando mengucapkannya. Ia dan Desi sepakat akan mengembalikan ponsel Risma nanti setelah gadis itu mengakui penyamarannya di depan Faizin. "Kita bisa ketemuan nggak?" pancing Risma. "Maaf, Ris, aku nggak ada di rumah." Nando berdalih. "Ketemuan di mana kek?" bujuk Risma. "Maaf, nggak bisa, Ris." Nando berusaha menahan marahnya. "Kalau ada yang penting, besok aja di bengkel!" "Kamu lagi sibuk ya?" "Iya," jawab Nando bohong. "Oh ya sudah nggak papa. See you soon." Risma mengakhiri panggilan. Andrew memperhatikan ekspresi marah Risma yang tertahan. "b*****t! Nando bohong!" maki Risma. "Aku yakin ia terlibat." "Kita pulang?" Andrew bertanya dengan nada hati-hati. "Batalkan ketemuan kalian dulu!" suruh Risma. Andrew mengangguk. Ia segera mengirim pesan ke kontak Risma pada ponsel yang sedang dipegang Desi: Mbak Ris, maaf saya terpaksa batalkan meeting. Desi membalas, seolah-olah dirinya adalah Risma : Kenapa? Andrew: Ada mobil debt collector di depan rumah itu. Desi : Nggak papa, biar nanti aku yang atasi. Andrew : Maaf, Mbak, gimana kalau kita jadwal ulang meeting kita? Desi menggeram tertahan. Ia tidak membalas lagi chat dari Andrew. "Kalian pulanglah. Bapak juga mau istirahat!" suruh Faizin. "Baik, Pak!" jawab Desi. "Ayo pulang, Do!" Nando mengangguk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN