Interogasi

1398 Kata
"Dari mana kamu mendapatkan data itu?" tanya Faizin setelah Desi menceritakan semua tentang jati diri Risma dengan menunjukkan semua data-datanya. "Saya menyewa hacker, Pak!" jawab Desi bohong, tanpa ragu. "Saya minta maaf, terpaksa saya lakukan itu karena nggak sabar buat menyelidikinya." Faizin menatap Desi lekat-lekat. Ia selalu tahu seseorang sedang berbohong berdasarkan gerak bola matanya. Desi menunduk, memasang tampang menyesal. Faizin mendengus kesal. "Itu pelanggaran hukum serius!" Desi menunduk semakin dalam. "Maafkan saya, Pak." "Bukan bapak yang kamu rugikan, tapi Risma. Terlepas dari dugaan ia menyusup ke Reyncar, Risma tetap berhak dilindungi privasinya." Intonasi Faizin naik. Ia menatap Desi tajam. "Pelanggaran ini tetap akan bapak proses, nanti setelah persoalan Risma ini selesai!" Desi mengeluh dalam hati. Namun ia tidak gentar karena merasa memiliki pelindung. "Kenapa sejak awal kamu tidak melaporkan pada saya?" gugat Faizin. "Untuk melapor ke bapak, saya harus memiliki bukti yang kuat. Kalau enggak, saya takut dianggap memfitnah," dalih Desi. "Tapi paling tidak kalian bisa berkoordinasi dengan bapak!" Desi mendengus tertahan. Faizin beralih ke Nando. "Kamu terlibat juga dengan Desi?' Nando menggeleng. "Enggak, Pak, saya baru tahu kemarin. Setelah Desi menunjukkan bukti-bukti itu, saya dan Desi melapor ke bapak." "Kamu tanya enggak sama Desi, dari mana ia mendapatkan bukti itu?" "Tanya, Pak." Nando menjawab tegas. "Saya harus pastikan sumbernya dari mana." "Apa jawaban Desi?' Nando tercekat. Ia bimbang. Jika menjawab jujur, maka akan membuat Faizin bingung karena berbeda dengan pengakuan Desi tadi. Jika menjawab seperti yang dikatakan Desi, maka ia berbohong. "Apa jawaban Desi?" desak Faizin. "Desi bilang dari hacker, Pak!" jawab Nando, terpaksa berbohong, karena keterangannya harus sama dengan Desi, jika tidak urusan ini bisa runyam. "Dan kamu percaya?" Faizin menatap Nando tajam. "Saya percaya, Pak!" "Alasannya?" "Karena saya tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya." "Kamu tidak merasakan kejanggalan atas pengakuan Desi?" Faizin terus menghujani Nando dengan pertanyaan-pertanyaan. Ia sedang mengembleng anak bungsu pemilik perusahaan. "Sejauh ini belum, Pak." Faizin menegakkan badan. Ia menatap Desi dan Nando bergantian. "Saya tidak langsung percaya seratus persen pengakuan Desi dari mana ia mendapatian file-file itu. Saya akan selidiki. Saya harus pastikan penegakkan hukum tidak boleh dengan cara melanggar hukum itu sendiri." Desi sadar, Faizin memang tidak mudah percaya begitu saja. Namun ia bersyukur sejauh ini masih bisa menjawab dengan meyakinkan. "Laporan kalian akan bapak proses. Kalian boleh keluar." Faizin memandang Desi dan Nando bergantian. Nando dan Desi keluar. Faizin menghempaskan punggung pada sandaran kursi. Matanya memandang layar komputer dengan perasaan kecewa mendalam dan marah yang tertahan. Faizin berpikir keras untuk menyikapi laporan Nando dan Desi. Persoalan ini tidak semudah ketika menangani masalah karyawan biasa. Status Risma memang karyawan, tetapi gadis itu juga seorang CEO bengkel kompetitor. Faizin tidak bisa memperlakukannya sama dengan karyawan lain. Kasus ini melibatkan dua perusahaan, bukan internal lagi. Faizin masih harus menunggu hingga siang nanti untuk meminta keterangan Risma karena gadis itu sedang tugas luar. *** Tugas Risma di luar sudah selesai. Namun ia malas kembali ke bengkel. Perasaannya semakin tidak enak. Risma ingin menenangkan pikiran sejenak. Ia menelepon Nando, ingin mengonfirmasi keterlambatannya sampai bengkel karena ia terjadwal meeting dengan Nando siang ini. Panggilan Risma tidak terjawab. Ia mengulanginya sampai tiga kali. Hasilnya sama saja. Perasaan Risma semakin gelisah. Ia heran kenapa Nando tidak menjawab panggilannya? Sikap Nando juga sangat aneh kemarin. Ia curiga lelaki itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba Risma ingat Andrew. Sebelum ponselnya hilang keduanya selalu berkomunikasi secara intens. Masalahnya, Andrew tidak mengetahui nomor Risma yang lain. Risma segera menelepon Andrew. "Selamat siang, dengan siapa ini?" tanya Andrew karena nomor kedua Risma belum tersimpan. "Ini aku, Risma!" "Oh, ya Allah, Mbak Risma, saya khawatir karena susah dihubungi dua hari belakangan." "Kamu meneleponku?" Risma cemas. "Iya, kemarin malam menelepon tetapi tidak dijawab. Saya pikir Mbak Risma sibuk, maka saya chat, tetapi dibaca aja. Saya sangat cemas, Mbak!" "Ponselku hilang!" "Astaghfirullah!" Andrew kaget. "Di mana dan kapan, Mbak?" "Kemarin sore," jawab Risma. "Aku nggak tahu hilangnya di mana, tetapi terakhir kali megang ponsel pas mau meninggalkan coffeshop. Setelah itu baru sadar ponselku hilang waktu udah sampai bengkel." "Waduh!" seru Andrew. "Kenapa?" "Ponsel Mbak Risma masih aktif. Itu artinya orang yang megang ponsel mbak bisa membaca semua chat dari saya." Risma mengeluh. "Ya pastilah. Ini yang membuat aku gelisah sejak kemarin. Takutnya ponsel itu jatuh ke orang yang salah." "Kenapa ponselnya masih aktif menggunakan nomor Mbak Risma ya?" Andrew merasakan kejanggalan. "Pencopet atau bukan, jika orang itu menguasai ponselnya dengan motif ingin mendapatkan keuntungan, biasanya mengganti nomor baru dan reset factory. Itu cara paling aman. Yang ini sepertinya bukan itu motitnya!" "Aku juga berpikir sepertimu, Drew!" Risma memijit-mijit dahinya menggunakan tangan kanan. Tangan kiri tetap memegang ponsel yang didekatkan ke telinga. "Orang itu nggak merasa takut sepertinya." "Atau barangkali orang itu g****k?" "Enggak kayaknya." Risma mendengus. "Maka itu, tolong kamu selidiki. Pancing orang itu agar mau merespon chat dan telepon kamu. Jika perlu jebak!" "Siap, Mbak. Itu yang memang sedang saya lakukan sejak kemarin, karena saya sudah curiga ponsel Mbak jatuh ke orang lain." "Bagus!" puji Risma. "Kalau ponsel itu ketemu dan penyamaranku aman, aku akan memberimu dua pilihan!" "Pilihan apa, Mbak?" Andrew cemas. Ia takut satu di antara dua pilihan tersebut adalah pemecatan. "Kalau kamu sukses mengembalikan ponselku dan penyamaranku masih aman, kamu akan aku suruh milih: naik gaji atau pindah ke cabang lain yang kamu inginkan?' Andrew bersemangat. "Terima kasih, Mbak, atas motivasinya." "Aku berharap sama kamu, tolong jangan kecewakan aku. Biaya berapa pun akan aku kasih. Terserah mau sewa ahli apa pun, dengan cara apa pun, yang penting bawa kembali ponsel itu ke tanganku dan seret orang itu ke hadapanku!" "Siap, Mbak!" *** "Gila kamu Des!" umpat Nando. "Kenapa nggak bilang dulu sama aku kalau kamu akan menjawab begitu sama Pak Faizin!" "Kalau aku bilang, kamu pasti ngelarang dan kamu pasti nggak mau diajak bohong," dalih Desi. "Pengakuan palsu kamu itu nggak logis buat Faizin!" ujar Nando. "Beliau curiga, kita melakukan persekongkolan kebohongan." "Nggak logisnya di mana?" Desi menyanggah. "Hacker pasti bisa kok membajak ponsel orang lain. Yang bikin Pak Faizin curiga itu karena beliau merasakan kamu grogi waktu menjawab pertanyaannya." "Ya pastilah aku grogi. Aku nggak biasa berbohong!" Nando melotot kesal. "Faizin pasti akan menginterogasi Risma. Aku yakin saat itu, mereka akan tahu ponsel Risma kamu yang ambil." Desi menyeringai. "Aku nggak peduli!" Nando melotot. "Aku akan kena karena dianggap bersekongkol denganmu!" "Santai, nggak usah panik!" Nando cemas. "Kakekku bisa nendang aku jauh-jauh dari Reyncar!' Desi menenangkan Nando. "Tenang, ada aku. Kakekmu pasti akan memaafkanmu kalau papiku membujuknya." Nando melotot. "Justru itu, kakekku akan marah sama papimu!" Desi terkekeh mengejek. "Mana berani?" Nando melirik kesal. Ia kesal pada sikap arogan Desi, juga kesal pada situasi di mana keluarga besar kakeknya berada di bawah bayang-bayang keluarga besar papinya Desi hanya karena hutang budi di masa lalu. Kakeknya Nando dulu seorang tentara yang juga memiliki banyak perusahaan. Suatu ketika kakeknya Nando bangkrut dan terlilit hutang. Beruntung papi Desi menyelamatkannya dengan memberikan pinjaman besar tanpa jaminan. Desi terkekeh. "Aku punya ide brilian!" Nando melirik Desi malas. Ia menduga pasti ide itu jahat. Desi menunjukkan layar ponsel milik Risma. "Coba baca chat dari Andrew ini. Ia kepala bengkel SAS cabang Tegal." Nando melirik sekilas. "Lalu apa idemu?" "Kemarin, Andrew tampak cemas karena panggilannya kepada Risma nggak pernah terjawab dan chat-nya dibaca doang," kata Desi. "Beberapa menit lalu, ia kembali mengirim chat yang isinya minta ketemuan di sebuah kafe. Aku yakin ini sebuah jebakan!" "Maksudnya?" "Andrew yang sebelumnya tampak cemas, tiba-tiba mengirim chat minta ketemuan. Dari kalimatnya sama sekali nggak menunjukkan kecemasan. Itu aneh, kenapa ia sudah nggak cemas lagi, padahal jelas-jelas ponsel ini belum balik ke bosnya? Lagi pula nggak mungkin Risma nggak ngasih tahu si Andrew ini kalau ponselnya hilang." "Iya juga sih!" Nando sepakat dengan argumen Desi. "Jadi, apa rencana kamu?" Desi mendekatkan bibir ke dekat lobang telinga Nando. "Aku akan jebak Andrew. Aku mau ia ajak ketemuan tapi lokasinya di rumah Pak Faizin." "Hah?" Nando kaget. "Kamu mau melibatkan Pak Faizin?" Desi mengangguk. "Jadi kita giring si Andrew ini biar ke rumah Pak Faizin. Setelah itu si Andrew ini biar kita suruh mengakui persekongkolan jahatnya dengan Risma." Nando menggeleng. "Enggak, enggak. Kalau pakai cara itu, nanti Pak Faizin tahu kalau kamu mengambil ponsel Risma." "Memang sejak awal Pak Faizin nggak percaya dengan pengakuanku soal hacker itu. Cepat atau lambat, beliau akan mendapatkan buktinya. Maka itu, kita harus bikin sesuatu yang heroik biar beliau terkesan dan mau memaafkan kita." Nando menatap Desi ragu. "Ayo, Do, kita harus bekerja sama!" Desi menepuk bahu Nando. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN