Pencopet Ponsel

1169 Kata
Sampai waktu istirahat hampir selesai, Desi tidak datang ke ruangan Nando. Terpaksa Nando mendatangi ruangan Desi. Di sana ia tidak bertemu dengan gadis itu. "Nyari siapa, Do?" tanya Risma demi melihat wajah serius Nando yang tampak sedang mencari seseorang. Nando menatap Risma tajam. Matanya memerah menahan marah. Desi bingung sekaligus ngeri melihat tatapan Nando. "Kamu kenapa?" Alih-alih menjawab, Nando berlalu dari hadapan Risma. Risma masih bingung dengan sikap Nando. Ia tidak menyadari kalau Nando sedang menahan marah kepadanya. Dua hari ini Risma mengalami situasi buruk. Setelah kemarin ponselnya hilang, hari ini ia mendapat ancaman dari Desi dan mendapatkan sikap aneh dari Nando. Pikirannya semakin tidak karuan antara panik ponselnya belum ketemu dan cemas dengan apa yang akan terjadi. "Ris!" panggil Hendi. Risma menoleh malas. Hendi mendekati Desi. "Tadi Desi bilang apa sama kamu?" Risma menggeleng. Ia malas membahasnya. "Aku lihat dari jauh, ia tampak mengatakan sesuatu sama kamu. Aku juga lihat ia menangis." Risma mengusap wajahnya. "Hen, tolong biarkan aku sendiri." Hendi cemas. "Ada sebenarnya, Ris?" Risma memberi isyarat tangan agar dirinya tidak diganggu. Hendi yakin Risma menyembunyikan sesuatu, sayangnya ia tidak berhak memaksa gadis itu untuk cerita. "Aku mau ke toilet!" Risma bangkit. "Kalau ada sesuatu cerita aja sama aku!" ujar Hendi. Risma mengabaikan Hendi dan terus berjalan menuju toilet. Di toilet, Risma membasuh muka. Seandainya tidak sedang haid, ia pasti akan berdoa di mushola agar hatinya menjadi tenang. Selepas mengelap wajah dengan tisu, Risma bermaksud kembali ke mejanya, namun di sebuah kamar mandi. Ia mendengar sayup-sayup orang bicara. Suaranya mirip punya Desi. Penasaran, Risma mendekat ke pintu tersebut. "Pokoknya kamu cari tahu. Aku akan bayar sesuai permintaanmu!" Meski terdengar lirih tapi Risma bisa menangkap kalimat itu dengan jelas. Itu memang suara Desi. Risma yakin Desi sedang bicara dengan seseorang melalui telepon. Perlahan Risma menempelkan telinga pada pintu kamar mandi. Sayang setelah itu terdengar suara air memancar dari keran, membuat suara Desi menjadi kurang jelas di telinganya. Risma curiga, Desi sedang merencanakan sesuatu kepadanya. Hatinya menjadi semakin gelisah. Bunyi air keran berhenti. Buru-buru Risma menjauh dari pintu. Sebelum Desi mendapatinya sedang menguping, ia segera meninggalkan toilet. *** Nando bersembunyi di balik sebuah mobil. Ketika Desi menghampiri mobilnya, Nando segera mencegat. "Kita harus bicara!" tegas Nando. Desi tidak bisa mengelak, menghindar pun percuma karena Nando pasti akan mengejarnya. Terpaksa ia membuka pintu mobil. Nando masuk ke mobil Desi melalui pintu depan kiri. Desi masuk ke mobil, lalu duduk di balik kemudi. "Kita akan bicara sepanjang perjalanan!" Nando memaksa. "Kalau kamu bungkam, aku akan tetap mendesakmu." Desi menyeringai. "Kalau kamu berbuat yang enggak-enggak sama aku, aku pastikan kamu akan berurusan dengan kakekmu." "Terserah!" balas Nando. "Bagus malahan, kita bisa bahas ini di hadapan keluarga besar kita." Desi tertawa sumbang. "Saranku, kamu jadilah penurut seperti papimu yang tidak mau menjadi gelandangan jika diusir kakekmu!" Nando mengepal tangan, marah. "Jangan ejek papiku!" Tawa Desi semakin menjadi. "Jalan!" paksa Nando. Desi tersenyum mengejek. "Aku akan menjalankan mobil ini karena aku ingin segera pulang dan melaporkan kepada papiku, perlakuan burukmu padaku." Desi menyalakan mesin. Mobil melaju perlahan meninggalkan parkiran. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, dari mana kamu dapatkan file-file itu!" Nando mengingatkan. Desi berusaha tenang. Ia mengulas senyum meledek. "Kenapa aku harus menjawabnya?" Nando menatap Desi tajam. "Menyebarkan privasi orang lain tanpa izin itu pelanggaran hukum, Des!" "Lalu apa yang akan kamu lakukan jika sekarang aku dianggap melakukan pelanggaran, hah? Kamu akan melaporkanku ke polisi?" Desi terkekeh. "Yang kamu lakukan itu berkaitan dengan Reyncar, jadi aku harus tahu asal-usulnya." Nando berdalih. "Memangnya apa urusannya ini denganmu?" Desi balas melirik tajam kepada Nando. "ini wewenang Pak Faizin!" "Wewenangku juga?" Nando tidak mau kalah. "Meskipun secara struktural posisiku hanya instruktur servis, tapi aku adalah kepanjangan tangan dari owner." Desi terkekeh mengejek. "Oh iya? Hahaha, aku lupa kalau bengkel ini memang asli usaha papimu, bukan warisan kakekmu. Tapi papimu bisa apa jika kakekmu bertindak?" Kemarahan Nando semakin memuncak. Ia berusaha meredamnya sekuat tenaga. "Kamu selalu memanfaatkan posisimu. Cobalah bersikap profesional, Des!" "Oke!" Desi menghentikan laju mobil seketika, sampai ban-banya berdecit karena pengereman secara mendadak. Nando terjerembab ke dasbor. Muka Desi sedikit membentur setang stir. Beruntung di belakang mereka tidak ada pengguna jalan lain. "Nando, jika aku jadi kamu, aku akan melakukan sesuatu terhadap Risma. Apa kamu tidak merasa kecolongan, hah? Niat Risma itu jelek, menyusup dan menyamar ke Reyncar. Itu sangat berbahaya!" ujar Desi serius. "Atau jangan-jangan kamu sudah dibutakan cinta." "Hati-hati kalau bicara!" hardik Nando. "Justru itu, aku bersikap tegas, dimulai dari meminta klarifikasi darimu, dari mana data-data tersebut!" Desi diam. Ia memikirkan sesuatu. "Apa aku salah?" Nando melunak. Desi kembali melajukan mobilnya perlahan. "Tapi enggak dengan cara melampiaskan marah kepadaku." "Iya, maaf, aku sedang kacau tadi pagi." Nando melembutkan suara. "Jadi sekarang aku meminta kerjasamamu." Desi tersenyum kemenangan. "Nah, begini kan enak!" "Oke, kita bicara secara baik-baik." Nando menarik napas panjang. Desi melambatkan laju mobil. Traffic light menunjukkan lampu merah. Mobil pun berhenti, menunggu lampu hijau menyala. "Jadi begini, Do." Desi melirik Nando. "Sejak awal aku sudah curiga kepada Risma. Diam-diam aku mengawasi anak itu. Aku memang membayar beberapa orang untuk membantu penyelidikanku. Hasilnya, aku menemukan fakta kalau beberapa pelanggan baru yang Risma dapatkan secara gemilang adalah dulunya pelanggan SAS cabang Tegal." Nando menatap mata Desi, mencari kejujuran di sana. Desi melanjutkan. "Fakta itu belum cukup untuk menghubungkan Risma dengan niat jeleknya bergabung dengan Reyncar. Aku terus menyelidikinya, sampai aku yakin, Risma bukan orang sembarangan. Lalu, aku mencoba melakukan ide brilian." "Ide brilian?" Nando mulai curiga, Desi terkait atas hilangnya ponsel Risma. "Aku mencari waktu yang pas untuk mengambil paksa barang bukti!" "Nggak usah bertele-tele!" tegur Nando. "Ide brilian apa yang kamu maksud?" Desi terkekeh, alih-alih menjawab pertanyaan Nando. "Kamu enggak sabaran. Kamu grusa-grusu. Pantesan saja susah mengambil hatiku. Hehehe." Nando tersenyun masam. "Aku memang nggak menyukaimu dan mendekatimu hanya untuk menyenangkan kakekku saja." Desi terkekeh. "Okey, aku paham. Itu kabar baik buatku. Aku pun nggak mau dijodohkan sama lelaki kaku sepertimu!" Nando mendengus sebal. "Aku lanjutkan ya?" Desi tersenyum-senyum sendiri. "Aku akan ceritakan secara jujur semuanya, tapi kamu harus janji akan memenuhi satu syarat dariku." Nando protes. "Nggak bisa begitu. Kejujuran itu tanpa syarat." "Ya sudah!" Nando menoleh kesal. "Oke, apa syaratnya?" Desi tersenyum puas. "Nanti aku sampaikan setelah cerita semua." Nando mendengus. "Ya sudah ceritalah!" Desi terdiam sejenak. "Aku menyuruh dua orang buat mengambil ponsel Risma saat kalian berada di coffeshop." Meskipun sudah menduganya, tetapi Nando tetap terkejut. "Kamu memang bisa melakukan apa saja! Ngeri. Pantesan Hendi mati-matian menolak balikan sama kamu." Desi memukul stir karena kesal atas ucapan Nando. "Sudah hijau itu!" tegur Nando. Desi kembali melajukan mobilnya. "Jadi sekarang kamu sudah tahu kan, bagaimana aku bisa mendapatkan data-data valid itu?" Nando diam. Ia sadar sedang berhadapan dengan Desi, yang lebih mengerikan dari yang ia pikir sebelumnya. "Lalu apa sikap kamu selanjutnya?" Desi penasaran. "Kita laporkan Faizin!" Nando berkata mantap. "Kamu yakin?" "Iya!" "Okey, sekarang kamu harus penuhi syaratnya." Nando menoleh sebal. "Apa syaratnya?" Desi tersenyum puas. "Jangan beritahu siapa pun, kalau aku menyuruh orang buat mengambil ponsel Risma." Nando mendelik. "Kalau Pak Faizin tanya gimana?" "Itu urusanku. Aku sendiri yang akan menanganinya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN