"Kena kamu, Ris!" Desi menyeringai. Tangannya menimang-nimang ponsel milik Risma yang kini telah berpindah ke tangannya. "Nggak nyangka ternyata niatmu busuk di Reyncar!"
Desi meletakkan ponsel ke atas meja. Jari tangan kanannya cekatan menggerakkan mouse. Ia memeriksa kembali file-file berupa video, gambar, bahkan tangkapan layar beberapa percakapan w******p Risma.
Desi tidak menyangka ia akan mendapatkan fakta lebih dari yang dibayangkan. Tadinya ia hanya ingin mencari-cari aib Risma saja. Maka itu ia membayar dua orang pencopet buat mengambil ponsel Risma. Setelah mendapatkannya, ia membayar seorang hacker untuk membuka isi ponsel yang dilindungi kata sandi.
Dari hanya ingin sekadar mencari aib Risma, Desi mendapatkan fakta-fakta mengejutkan mengenai latar belakang keluarga Risma.
Awalnya Desi sempat tidak percaya ketika tahu bahwa Risma adalah CEO bengkel SAS. Yang lebih mengejutkannya adalah dari beberapa percakapan Risma dengan beberapa orang, terdapat fakta bahwa motif Risma menyamar ke Reyncar adalah karena ingin mengetahui rahasia dan strategi Reyncar.
"Cara bersaingmu enggak sehat, Ris!" umpat Desi, bicara sendiri sambil memelototi foto Risma.
Desi melirik waktu pada latopnya. Sekarang masih jam setengah enam pagi. Ia sudah tidak sabar untuk segera memberitahukan temuannya kepada Nando.
Sebenarnya Desi ingin melaporkan temuannya kepada Faizin, tetapi ia berpikir itu terlalu ringan buat menghukum dan membalas sakit hatinya. Paling Faizin akan mengeluarkan Risma dari Reyncar dan masalah dianggap selesai.
Desi butuh lebih dari itu. Ia ingin Nando saja yang memberi pelajaran kepada Risma. Ia ingin Risma dipermalukan di hadapan seluruh keluarga besar Reyncar, khususnya di depan Hendi.
Desi menelepon Nando, tetapi kontak lelaki itu sedang sibuk.
Pada saat yang bersamaan, berjarak tujuh kilometer dari rumah Desi, Nando sedang menerima panggilan dari Risma.
Risma masih memiliki satu ponsel lagi. Nomor itu sengaja ia rahasiakan dan hanya khusus untuk keluarga dan orang terdekat. Menggunakan nomor itu ia menelepon Nando.
"Maaf, ya, Ris, menurut rekaman CCTV, tidak ada hal aneh yang berhubungan dengan hilangnya ponsel kamu," ucap Nando.
"Tapi jelas-jelas aku ditabrak seseorang dan setelah itu ponselku hilang," ujar Risma.
"Iya, tetapi dari sudut pandang kamera CCTV, kejadian itu tampak wajar. Perempuan yang menabrakmu itu kehilangan keseimbangan setelah kakinya tersandung meja, kemudian jatuh menimpamu dan kamu ikut terjatuh. Memang saat kamu jatuh, persis di belakangmu ada seorang lelaki yang tampak menahan tubuhmu, tetapi gerakan tangannya tampak wajar."
Risma mengeluh panjang. Harapannya akan menemukan sesuatu dari rekaman CCTV itu kandas.
"Aku sudah bantu yang aku bisa, Ris. Maaf, hingga saat ini belum ada petunjuk yang berarti."
"Kalau rekaman CCTV itu dianalisa polisi gimana kira-kira?"
"Maksudmu kita lapor polisi dengan membawa bukti rekaman CCTV, begitu?"
"Iya, polisi kan punya alat yang canggih buat memeriksa rekaman CCTV."
"Polisi akan mengedapankan asas praduga tidak bersalah," ujar Nando. "Oke, semisal identitas kedua orang yang ada di dekatmu saat kamu jatuh, sudah diketahui polisi dan mereka berhasil menemukan orang-orangnya, tetap saja rekaman itu tidak cukup bukti buat memproses laporanmu lebih lanjut."
"Itu kan dugaanmu saja. Kita belum mencobanya!"
"Ris!" Nando berusaha meyakinkan Risma. "Aku sudah konsultasikan ini kepada seorang pengacara dan beliau menyimpulkan bukti rekaman CCTV itu belum cukup kuat buat memproses laporanmu lebih jauh. Laporanmu hanya akan mengendap di antara tumpukan laporan lain."
Risma kecewa.
"Sekarang kamu siap-siaplah ke kantor. Nanti kita bahas di ruanganku atau di kantin." Nando memberi nasehat.
"Okey!" sahut Risma seperti tidak bertenaga.
***
Nando datang lebih awal dari biasanya. Saat tiba di depan ruangannya, ia melihat Desi tampak senang melihat kehadirannya.
"Kamu sibuk?" tanya Desi.
"Iya!"
"Ada sesuatu hal yang sangat penting. Kamu harus tahu itu!" Desi meyakinkan Nando.
"Soal apa?"
"Risma!"
"Maaf, Des, aku sedang banyak tugas. Kalau yang kamu bicarakan enggak ada kaitannya dengan pekerjaan, silakan kembali ke ruanganmu." Nando membuka pintu.
Desi segera mendekati Nando. "Ini soal bengkel. Kamu akan menyesal kalau menolak membahas ini!"
Nando melirik Desi. "Oke, kita bicarakan ini nanti siang, gimana?"
"Ini sangat mendesak. Kamu harus tahu secepatnya!" Desi membujuk.
"Tapi aku sangat sibuk, Des!"
"Lima menit saja!"
Nando berpikir sebelum akhirnya menyanggupi. "Oke, lima menit saja ya?"
Desi tersenyum puas. Mereka memasuki ruangan Nando.
Desi langsung meletakkan laptopnya ke atas meja Nando. Ia membuka folder khusus berisi file-file yang ia ambil dari ponsel Risma.
Desi membuka salah satu foto Risma yang berpose sedang duduk di kursi yang di atas mejanya terdapat sebuah tulisan: CEO, dengan latar belakang logo SAS. Desi menyodorkannya kepada Nando.
Nando yang tengah sibuk dengan urusannya hanya melirik sejenak tanpa fokus sama sekali. "Jadi hal penting apa yang ingin kamu bahas?"
Desi menunjuk layar laptopnya. "Lihatlah, ini adalah Risma ketika berada di SAS."
"Terus?" Nando sibuk memeriksa sebuah berkas, alih-alih melihat layar laptop Desi.
Desi sebal dengan sikap Nando yang tidak menghargai lawannya saat bicara. "Kamu tahu nggak, Risma adalah CEO bengkel SAS?"
Nando tersentak. Ia mendekat ke layar laptop. Ditatapnya foto Risma lekat-lekat. Napasnya memburu.
"Mungkin kamu bisa saja mengatakan kalau itu seseorang yang mirip dengan Risma. Tapi gambar berikut akan membuatmu percaya!" Desi menggulir ke foto berikutnya, yaitu sebuah foto berlatar belakang panggung yang bertuliskan: Selamat Datang Risma Devita, CEO SAS yang baru. Di atas panggung itu tampak Risma sedang berpidato di podium.
Nando berkeringat, apalagi pendingin ruangan belum diaktifkan. Ia duduk di kursi. Dengan perasaan campur aduk ia membuka-buka sendiri isi folder dalam laptop Desi.
Desi menyeringai puas. Ia sangat menikmati saat-saat melihat ekspresi marah dan terkejut Nando yang sedang membuka-buka file dalam laptopnya.
"Aku juga terkejut, marah, dan nggak habis pikir melihat itu semua," ujar Desi sengaja memanas-manasi hati Nando. "Tapi itulah kenyataannya!"
Nando melirik Desi dengan tatapan mengerikan. "Kamu dapat dari mana file-file ini?"
"Kupikir enggak penting dari mana aku dapetin itu semua. Yang penting adalah kita harus berbuat sesuatu." Desi berdalih.
Nando mendekatkan wajah ke arah Desi. "Dari mana?"
Desi merasa takut dengan wajah marah Nando.
"Aku tanya sekali lagi." Kemarahan Nando memuncak. Ia menggebrak meja. "Dari mana kamu dapetin file-file ini?"
Dengan ketakutan Desi menutup layar laptopnya. Ia bersiap meninggalkan ruangan Nando. "Jangan tekan aku!"
Nando menatap Desi dengan perasaan emosi yang meluap-luap. Ia ingin melampiaskannya, tetapi masih bisa mengendalikan diri. Akhirnya ia mengepal tinju di udara, kemudian terkulai lemas di kursinya.
"Aku kembali ke ruanganku!" Desi mengambil laptop.
Nando menahan gerakan tangan Desi. "Kirimkan semua file itu ke emailku, sekarang!"
Desi mengangguk. Sambil sesekali melirik takut kepada Nando, ia mengirimkan semua file tersebut ke alamat email Nando.
"Sudah!" beritahu Desi. Pelan-pelan ia menarik laptopnya dari atas meja. "Aku keluar."
"Jam istirahat nanti, kamu temui aku di sini!" suruh Nando.
Desi mengangguk. Ia keluar ruangan Nando.
Setengah berlari Desi menuju ruangannya. Ia merasa ngeri dengan kemarahan Nando tadi.
Di ruangannya Risma sedang duduk di kursinya. Desi mendekat hati-hati.
"Ris, kamu sibuk?" tanya Desi sambil menahan perasaan kesal.
Risma menggeleng. "Enggak, aku lagi cek dan ricek pekerjaan kemarin aja."
"Boleh duduk di dekatmu?" tanya Desi.
Risma mengangguk malas.
Desi mengambil kursi, lantas duduk di dekat Risma. "Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu."
"Iya," ujar Risma pelan.
"Ris, beberapa hari lalu aku ingin curhat sama kamu, tetapi kamu selalu sibuk, bahkan terkesan menghindar."
Risma menoleh kaget. "Aku nggak menghindari siapa pun."
"Oke, aku mengerti." Desi memperbaiki posisi duduknya. "Mungkin itu hanya perasaanku saja."
Risma tidak bereaksi. Pikirannya sedang kalut karena ponselnya belum ketemu.
"Waktu itu aku mau curhat sekaligus meminta saran darimu soal hubunganku dengan Hendi." Desi menelan ludah. "Tapi itu sekarang sudah nggak penting lagi karena aku sudah nggak mungkin lagi balikan sama Hendi."
Risma menoleh, memasang wajah simpati.
"Aku percaya sama kamu waktu kamu meyakinkanku bahwa kamu mendukungku balikan sama Hendi. Tapi ternyata kamu dan Hendi secara sembunyi-sembunyi ketemuan di belakangku."
"Des!" Risma ingin menjelaskan permasalahannya agar tidak ada kesalahpahaman.
"Tolong, biarkan aku bicara dulu!"
Risma mengangguk. "Okey!"
"Itu hak kamu dan Hendi. Aku kecewa dan sakit hati pada kalian itu masalahku sendiri. Aku nggak akan menyalahkan siapa pun." Sepasang mata Desi sembab. "Tapi seperti yang pernah kubilang, aku nggak akan lagi menganggap kamu dan Hendi teman!"
Risma meraih jemari Desi. "Des, biar kujelaskan!"
Desi menarik jemarinya. "Kamu akan mendapatkan balasan setimpal, bahkan lebih pedih dari itu!" Ia bangkit sambil menyeka air mata.
"Des, kamu salah paham." Risma mencoba menahan Desi.
Desi menjauh dari Risma.
Perasaan Risma semakin tidak karuan, menatap Desi yang baru saja mengancamnya.