Risma panik. Ponselnya hilang. Ia baru menyadarinya ketika akan memesan taksi online. Seluruh saku sudah ia periksa, namun ponsenya tetap belum diketemukan.
Terakhir kali ia memegang ponsel adalah ketika akan keluar dari coffeshop. Ia memasukkannya ke dalam saku baju seragam bengkel. Setelah itu ia tidak mengecek lagi sampai ke bengkel.
Satu-satunya kejadian mencurigakan adalah momen ketika seorang perempuan muda menabraknya. Jangan-jangan orang itu terlibat atas hilangnya ponselnya. Ia sering melihat dalam film-film, korban kecopetan selalu dialihkan konsentrasinya. Adegan yang paling sering adalah dengan pura-pura menabrak.
Risma segera berlari menuju ke ruang kerja Nando. Ia harus mengabarkan berita buruk ini kepada lelaki itu. Beruntung Nando belum pulang.
Melihat Risma datang dengan wajah panik dan napas terengah-engah, Nando menjadi cemas. "Ada apa, Ris?"
Risma mengatur napas. "Pon-ponselku ilang!"
Nando kaget. "Hah?"
"Aku baru sadar ponselku nggak ada pas mau pesan taksi online," beritahu Risma.
"Apa mungkin ketinggalan di mobilku? Ayo ke parkiran!" ajak Nando.
Risma dan Nando berjalan tergesa menuju parkiran. Nando mencoba memanggil nomor Risma sambil membuka pintu mobilnya, terdengar nada sambung, tetapi tidak terdengar deringan.
"Gimana?" tanya Risma, sangat berharap ponselnya berada di mobil Nando.
"Ponsel kamu nggak mode silent kan?" tanya Nando sambil memeriksa seluruh ruang dalam mobilnya.
"Nggak!"
Nando memeriksa ulang sekitar jok yang diduduki Risma tadi sore, tetapi tidak menemukan ponsel. "Nggak ada tanda-tanda ada ponselmu di mobil ini."
Risma kembali panik. Bukan karena harga ponselnya setara gajinya sebulan di Reyncar, tetapi karena jika ditemukan orang yang tidak tepat bisa gawat. Di dalamnya terdapat beberapa foto dan video yang menunjukkan kalau dirinya adalah CEO bengkel SAS.
Satu-satunya yang membuat Risma bisa meredam kepanikannya adalah ponselnya yang hilang tersebut adalah dilindungi kata sandi. Namun ketika ia sadar sandi itu masih bisa ditembus oleh hacker, itu membuatnya kembali panik.
"Apa jangan-jangan ponsel kamu di...." ingatan Nando kembali ke momen tabrakan antara Risma dan seorang perempuan muda di coffeshop tadi.
"Dicopet?" sambar Risma memotong kalimat Nando. Nando mengangguk. "Semoga sih enggak, tapi sejak tadi aku merasa momen tabrakan itu memang aneh."
Risma tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. "Terus aku harus gimana?"
Nando memandang Risma iba. "Kamu pulang dulu, istirahat aja dulu, biar aku ke coffeshop itu buat meminta tolong agar mereka mau memutar rekaman CCTV momen tabrakan tadi."
Risma masih panik. "Aku ikut!"
Nando meyakinkan Risma. "Kamu pulang aja, biar aku bantu cariin ponsel kamu."
Tadinya hati Risma tidak bisa tenang, ingin ikut mencari ponselnya berama Namdo, tapi setelah berpikir, ia butuh istirahat dan menenangkan diri.
"Aku pesenin taksi online ya?" Nando menawarkan bantuan.
"Nggak usah, biar aku aja yang anterin!" sahut Desi yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
"Nggak usah, Des, makasih. Aku naik becak aja." Risma berlalu dari hadapan Nando dan Desi.
Desi mengejar Risma. "Ris, tunggu!"
Risma terus melangkah, menjaga jarak dengan Desi. Kata hatinya tidak mau dekat-dekat dengan gadis itu.
"Ris!" Desi kewalahan, tidak bisa mengejar Risma.
Begitu sampai pinggir jalan raya, Risma menyetop angkot. Ia tidak peduli jurusan yang ia pilih sesuai atau tidak, yang pasti ia ingin segera menjauh dari Desi dan menenangkan diri.
***
"Papi lihat pintu kamarmu terbuka. Papi ucapin salam juga nggak dijawab. Ternyata kamu lagi lembur," ucap Reynaldi kepada Nando yang sedang fokus pada layar laptopnya.
Reynaldi duduk di sebelah Nando. Ia penasaran, apa yang sedang dikerjakan anak bungsunya hingga begadang sampai tengah malam.
Reynaldi memicingkan mata. Ia memperhatikan dengan saksama layar laptop Nando yang sedang memutar rekaman CCTV. Ia menjadi cemas, takut sedang terjadi masalah di Reyncar, tetapi setelah yakin bahwa lokasi rekaman itu bukan di bengkelnya, ia sedikit lega.
"Ada apa, Nando?" tanya Reynaldi. "Itu rekaman CCTV di mana?"
Nando melirik Reyndi. "Mana dulu yang harus dijawab, Pap? Pertanyaan pertama atau kedua?"
Reynaldi mengacak rambut Nando gemas. Ia tahu anak bungsunya itu sedang mengalihkan penat dengan cara bercanda.
"Ini rekaman CCTV di coffeshop. Tadi aku sama Risma ngopi di sana sehabis meninjau posko mudik, Pap." Nando mulai bercerita.
Reynaldi mengangguk, menunggu kelanjutan cerita Nando.
"Tadi pas mau pulang, Risma ditabrak seseorang yang tidak dikenal. Setelah kejadian itu, di bengkel Risma baru sadar kalau ponselnya hilang."
"Sudah kalian cari ke mana saja?" tanya Reynaldi.
"Di dalam mobil nggak ada. Di coffeshop pun nggak ada," jawab Nando. "Maka itu aku meminta kopian file rekaman CCTV, berharap ada petunjuk."
Reynaldi melirik jam di dinding kamar Nando. "Sepuluh menit lagi jam satu. Kamu harus istirahat."
Nando menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskan perlahan. "Aku sudah tidur tadi, Pap!"
"Di sofa ruang tamu?"
"Iya!"
"Itu tertidur namanya. Kamu merem nggak lebih dari satu jam."
Nando meringis. "Tapi lumayan bikin badan seger. Sekarag malah belum mengantuk lagi."
"Papi juga kebangun dan belum bisa tidur lagi."
"Ya sudah kalau begitu Papi bantuin aku menganalisa rekaman ini." Nando memutar kembali rekaman CCTV. Pada momen sebelum tabrakan ia memperlambat video.
"Stop!" suruh Reynaldi. Spontan Nando mem-pause video.
Reynaldi mengamati dengan seksama. "Majukan perlahan!"
Nando menuruti perintah Reyndi.
"Stop! Sekarang kamu screenshoot, terus zoom!"
Nando memperbesar tampilan gambar hasil screenshoot. "Paling besar segini, Pap. Kalau di-zoom lagi gambarnya udah pecah-pecah."
Reynaldi mengamati dengan serius. Jarinya menunjuk pada gambar. "Pada saat Risma tabrakan memang ada lelaki yang tampaknya sengaja mendekat dan saat Risma oleng, badan si lelaki itu menempel Risma. Sayangnya tidak begitu jelas apa yang dilakukan si lelaki itu."
"Itulah masalahnya!" gerutu Nando. "Gerakan si cewek dan si cowok yang berada dekat Risma, semuanya terlihat wajar. Cuman aku memiliki keyakinan, kalau mereka yang mencopet ponsel Risma."
"Tunggu!" Reynaldi memutar kembali rekaman CCTV. "Setelah bangkit, Risma tampak mengambil sesuatu dari lantai."
"Itu dompet, Pap!" beritahu Nando. "Dompet memang ia pegang saat mau keluar."
"Kalau ponsel ia simpan di mana?"
"Saku baju seragam, Pap."
Reynaldi berpikir keras. "Aneh!"
"Aneh kenapa, Pap?"
Reynaldi menganalisa. "Kalau benar mereka itu copet, seharusnya dompet di tangan Risma lebih mudah diambil ketimbang ponsel di saku!"
Nando mengernyit. "Iya juga ya, Pap? Ah, pusing aku jadinya."
"Kalau begitu istirahatlah!" saran Reynaldi.
Nando menutup laptop. "Aku belum mengantuk, Pap!"
"Kalau begitu kita rebahan sambil mengobrol." Reynaldi tiduran di atas kasur.
Nando ikut tiduran di sebelah papinya.
Mereka memandang langit-langit.
"Sepertinya Risma tampak istimewa di hatimu." Reynaldi menoleh kepada Nando.
"Biasa aja." Nando berujar cuek.
"Kamu mengakui atau tidak, tapi memang seperti itulah yang papi rasakan."
"Itu hanya perasaan papi aja."
"Bisa jadi." Reynaldi mengalah.
Nando menoleh. "Bisa nggak, Pap, kita ganti topik selain Risma."
"Kalau begitu topiknya Desi aja, gimana?" Reynaldi terkekeh.
Nando menggeleng. "Jangan, jangan!"
Reynaldi memiringkan tubuh agar bisa leluasa memandang Nando. "Kalau kamu keberatan dijodohkan sama Desi, biar nanti papi yang bilang sama kakekmu."
"Nggak usah, Pap! Aku nggak mau papi dimarahi kakek lagi."
"Kamu anak papi dan papi nggak mau kamu tertekan!"
"Tapi, kakek nggak mau dibantah kan, Pap?" Nando menaikan intonasi. "Hubungan papi sama kakek kan baru membaik. Aku nggak mau kalian dingin lagi."
"Papi ikhlas seluruh hidup papi dikendalikan mertua, yaitu kakekmu, tapi papi nggak rela kemerdekaan kamu hilang."
"Nggak papa, Pap, sejauh ini aku terus berusaha mendekati Desi demi kakek. Kalau nanti kami harus menikah pun nggak papa. Aku akan belajar mencintainya."
Reynaldi diam. Ia menjadi teringat istrinya, maminya Nando.
"Toh, dulu papi awalnya juga terpaksa kan menikahi mami?" Nando tersenyum. "Lama-lama tumbug cinta juga kan? Bahkan aku masih ingat, dulu ketika mami meninggal, papi selalu murung."
"Situasinya beda, Do!" sanggah Reynaldi. "Papi tidak menyukai gadis lain saat perjodohan itu, sehingga mudah saja buat belajar mencintai."
Nando bungkam, membenarkan kata-kata papinya.
"Papi melihat gairah di matamu saat menatap Risma kemarin malam!" ujar Reynaldi. "Kamu rela melupakan Risma dan akan pura-pura mencintai Desi demi kakekmu?"
Nando memejamkan mata kuat-kuat.