Bisa dibilang target misi Risma sudah tercapai. Ia sudah mengetahui rahasia dan strategi Reyncar. Ia hanya tinggal menunggu waktu sampai akhir bulan. Setelah itu ia akan kembali ke SAS.
Kini Risma berpikir, sudah tidak perlu lagi menaklukkan hati Nando. Ia sudah berhasil membuat pemilik Reyncar membuka rahasia dan strategi perusahaan tanpa Risma bersusah payah.
Namun, justru setelah Risma siap untuk kembali ke Jakarta dan melupakan Nando, ia merasa gelisah.
Beberapa hari belakangan Nando mulai hangat kepada Risma. Pada saat yang bersamaan lelaki itu juga tidak tampak lagi mengejar Desi.
Bahkan sekarang saat meninjau pendirian titik-titik posko arus mudik, Nando mengajaknya minum di sebuah coffeshop.
"Kamu lihat tanah kosong di sebelah coffeshop ini?" tanya Nando kepada Risma.
"Iya, lihat."
"Di tanah itu akan dibangun sebuah bengkel," beritahu Nando.
Desi mengerjap. "Milik Reyncar?"
Nando menggeleng. "Bukan, itu cabang bengkel lain!"
Risma menyesap kopinya malas. Perasaan hatinya menjadi tidak enak. Bersaing dengan Reyncar saja sudah membuat SAS kewalahan, apalagi jika bertambah lagi saingannya.
"Industri mobil makin marak di Indonesia, dengan sendirinya bengkel pun tumbuh subur," ucap Nando. "Bagi saya pribadi, tidak masalah seberapa banyak pesaing, yang penting adalah kita siap menjadi yang terbaik."
Risma mengangguk sepakat.
"Maka itu saya lebih fokus meningkatkan kualitas diri, ketimbang memikirkan kehebatan orang lain." Nando tersenyum selepasnya.
Sepasang alis Risma terangkat bersamaan. Ia merasa tertampar kalimat Nando tadi.
"Pesaing akan membuat kita semakin kuat atau semakin lemah tergantung bagaimana kita menyikapinya."
"Aku sependapat," timpal Risma. Ia merasa senang sekaligus kaget melihat Nando menjadi lebih banyak bicara. Sikapnya pun tidak sekaku biasanya. Sesekali lelaki itu tersenyum.
Risma bertanya-tanya dalam hati, apakah Nando mulai tertarik padanya?
"Posko arus mudik sudah berdiri semuanya. Besok mulai difungsikan," Nando menatap Risma. "Aku nggak menyangka akan selancar ini, cuman butuh persiapan tiga hari."
"Memangnya dulu berapa lama?" tanya Risma.
"Tiga hari."
"Berarti sama dong kayak tahun kemarin?"
"Tahun kemarin kan cuman satu posko!" sanggah Nando.
Risma mengangguk-angguk. "Apa karena sebagian besar perlengkapannya adalah yang pernah dipakai buat posko mudik lebaran?"
"Aku rasa bukan karena itu." Nando menyesap kopinya perlahan sambil melirik Risma.
"Lalu menurut kamu apa?"
"Karena kamu bekerja dengan cepat dan efektif."
Risma terkekeh. Pipinya memerah. "Perasaan aku bekerja biasa saja."
Nando diam memiringkan cangkir. Baru ia sadari kalau kopinya sudah habis.
Risma peka. "Mau aku pesenin lagi?"
Nando menggeleng. "Nggak usah."
"Oh ya sudah!"
Nando memandang Risma sepuasnya ketika gadis di hadapannya itu tengah menikmati sesapan terakhir kopinya.
"Kamu tinggal di mana, Ris?" tanya Nando.
Risma meletakkan cangkir ke atas meja. Ia mengelap bibirnya menggunakan tisu. "Aku kos."
"Di mana?"
"Karanganyar."
"Lumayan jauh itu," komentar Nando. "Kenapa nggak nyari kosan di area dekat bengkel saja. Atau paling enggak masih di dalam kota Tegal."
"Memangnya Karanganyar bukan wilayah kota Tegal?" Risma balik bertanya. Sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Ia bertanya begitu hanya sekadar mengalihkan topik.
Risma sengaja kos agak jauh dari bengkel karena kalau ia kos di dalam kota, ia khawatir bertemu dengan beberapa karyawan SAS. Mereka tidak tahu dirinya sedang menyamar di Reyncar, kecuali Andrew.
"Katanya dulu pernah tinggal di Tegal, masa kamu nggak tahu kalau Karanganyar itu masuk wilayah kabupaten?"
Risma terkekeh. "Ya kan sudah lama. Aku sudah lupa."
"Ya wajar sih!" timpal Nando. "Memangnya dulu kamu tinggal di mana?"
"Ibuku asli orang Penusupan, kecamatan Pangkah," jawab Risma.
"Dekat Slawi itu" ujar Nando. "Ayah kamu juga asli Tegal?"
Risma menggeleng. "Ayahku kelahiran Jakarta."
"Mereka bertemu di Jakarta?" tebak Nando.
"Ih, kepo, hehehe!" Risma bercanda. "Orang akan mengira begitu. Ibuku merantau ke Jakarta, kemudian bertemu ayahku."
"Jadi bukan ya?" Nando terkekeh.
"Bukan!" jawab Risma. "Ayah ke Tegal untuk menjadi petani, kemudian bertemu ibu."
"Wah, keren!" puji Nando.
"Keren apanya?"
"Ayahmu orang Jakarta yang tidak ada sawah, kemudian ke kampung menjadi petani. Itu luar biasa. Tidak semua orang mudah belajar dan beradaptasi seperti ayahmu."
Risma tersenyum. Papinya memang berinvestasi pada bidang pertanian, tetapi tidak menjadi petani seperti yang dibayangkan Nando. Tidak mungkin ia menjelaskan kalau papinya memiliki perkebunan teh yang sangat luas di kaki gunung Slamet. Penyamarannya bisa terbongkar.
"Kamu pernah tinggal di Tegal pas umur berapa?"
"Aku lahir di Tegal," jawab Risma. "Begitupun kedua kakakku."
"Tapi kok logat kamu enggak ngapak?"
Risma tertawa. "Ya iyalah, kami pindah ke Jakarta pas aku masih bayi, bicara aja belum jelas, apalagi ngapak. Hehebehe!"
Nando terkekeh. "Berarti ayah kamu nggak jadi petani lagi dong?"
Risma menggeleng. Papinya memang enggak pernah menjadi petani, tetapi pengusaha bidang pertanian.
"Terus, gimana rasanya kembali ke Tegal?" tanya Nando.
"Seneng banget!" jawab Risma asal. Ia menatap Nando sedikit berlagak manja. "Aku bahkan ingin punya suami orang sini."
Nando mengerjap. "Jangan!"
"Kenapa?"
"Nanti kamu ikutan ngalak. Hahaha!"
Risma ikut tertawa demi menjaga perasaan Nando, padahal candaan itu baginya tidak lucu.
"Memangnya kamu sudah punya calon?"
Risma terbelala, kaget. Nando langsung to the point. Lelaki itu memang lugas, jadi ketika kepo pun tanpa basa-basi.
"Maaf kalau aku kepo!" ujar Nando.
Risma buru-buru menggeleng. "Nggak papa. Kupikir itu pertanyaan wajar."
"Enggak wajarlah," sergah Nando. "Itu udah termasuk kepo!"
"Tumben kamu kepo!"
Nando terkekeh sendiri. "Entahlah, spontan aja!"
"Jadi gimana nih, pertanyaan itu perlu dijawab atau enggak?" tanya Risma.
"Terserah." Nando kembali terkekeh sendiri.
Risma tersenyum. Ia menatap Nando lekat-lekat. Wajah lelaki itu yang tadi dipenuhi ekspresi tawa, seketika menjadi merah padam. "Aku belum punya calon, pacaran pun belum pernah."
"Masa?" Nando tidak percaya.
"Serius, aku belum pernah pacaran!" Risma menegaskan.
"Oh!" Ada gurat senang pada pipi Nando. "Apa karena kamu enggak mau pacaran sebelum menikah?"
"Karena nggak laku aja. Hehehe!"
Nando mengerjap. "Atau karena kamu selektif?"
"Selektif itu maksudnya pilh-pilih?" tanya Risma.
Nando mengangguk.
Risma tertawa.
"Kenapa ketawa?" Nando bingung.
"Boro-boro mau selektif, pilihannya aja nggak ada." Risma berbohong. Dulu sewaktu masih SMP saja ia sudah menjadi idola. Bahkan ketika kuliah, ia menjadi mahasiswi populer. Selain cantik, ia juga berprestasi.
"Nggak mungkin!" Nando tidak percaya.
"Kenapa?"
"Cewek sepertimu pasti banyak yang suka!"
Risma terkekeh. "Apa iya seperti itu? Perasaan setiap cowok yang ada di sekitarku sikapnya biasa aja."
"Kamu merasa seperti itu?" Nando merasa heran.
"Iya," jawab Risma mantap.
"Berarti kamu nggak peka," ujar Nando.
"Aku nggak peka?" Risma mengerjap.
"Iya," jawab Nando. "Lihat aja mekanik-mekanik cowok pada caper kalau ada kamu."
"Hah?" Risma pura-pura terkejut. "Begitu ya?"
"Hendi juga suka sama kamu!" Raut Nando seketika berubah kusut.
"Dari mana kamu tahu?"
"Hendi bilang sendiri sama aku!" jawab Nando.
Risma kaget. "Apa urusannya Hendi bilang begitu sama kamu."
"Aku tanya duluan!"
"Maksudnya?"
Hendi menjelaskan. "Aku tanya sama Hendi apakah ia menyukaimu atau enggak. Terus ia jawab iya."
Risma kaget. "Kalian akrab ya, sampai kamu bertanya hal pribadi?"
Nando menggeleng. "Aku cuma pengen mastiin aja."
Risma mengernyit. "Maaf bukannya kepo ya, tapi ini karena ada kaitannya sama aku. Kenapa kamu tanya seperti itu sama Hendi?"
Nando diam. Ia menunduk.
Risma menebak, Nando bertanya begitu pada Hendi karena ada kaitannya dengan Desi.
Risma melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Sebentar lagi asar!"
Nando terkesiap. Reflek ia melihat waktu pada ponselnya. "Nggak terasa kita cukup lama di sini!"
"Ayo pulang!" ajak Risma.
"Ayo!" Nando berdiri. "Aku ke kasir dulu."
Risma mengangguk. Ia memasukkan ponsel ke saku baju seragam bengkel, kemudian mengekor Nando.
Brugg! Risma tertabrak seorang perempuan muda yang berjalan terburu-buru. Mereka sama-sama terjatuh di lantai.
"Maaf, nggak sengaja!" ucap si perempuan yang menabrak Risma. "Kamu nggak papa kan?"
"Nggak papa." Risma meraih meja di dekatnya agar bisa bangkit.
Tahu-tahu Nando mengulurkan tangan dan membantu Risma berdiri. Perempuan yang menabrak Risma pun sedang dibantu berdiri seorang lelaki.
"Kamu nggak papa?" tanya Nando khawatir.
"Nggak papa kok. Terima kasih ya?" Risma menoleh perempuan yang menabraknya. Ia melihat perempuan itu dan lelaki yang menolongnya berjalan terburu-buru.
"Perempuan yang menabrak kamu itu kenapa ya?" tanya Nando. "Tadi kulihat kakinya seperti menendang kursi kemudian hilang keseimbangan, tetapi masih bisa memilih tempat untuk mendaratkan tubuhnya, yaitu kamu."
"Kamu lihat kronologinya?"
Nando mengangguk. "Terus setelah ditolong seorang lelaki, sikapnya cuek saja sama si lelaki yang menolongnya itu."
"Mereka pulang bareng!" ujar Risma. "Sepertinya mereka pasangan kekasih."
Nando menggeleng. "Aku rasa bukan. Sikap mereka nggak menunjukkan itu!"