Begitu keluar dari mobil, Risma disambut Nando yang tampak lebih ganteng dari biasanya dengan mengenakan setelan kemeja biru langit dan celana panjang hitam.
"Selamat datang, Risma." Nando mengulas senyum manis kepada Risma.
Risma cukup terkejut mendapatkan senyuman manis dari Nando. Saat bekerja, ia nyaris tidak pernah melihat lelaki itu tersenyum semanis itu.
"Mari!" Nando mempersilakan Risma untuk masuk ke rumah.
Risma berjalan beriringan, menapaki undak-undakan teras rumah Nando. Sebagai orang kaya, ia tidak begitu heran dengan mewahnya rumah Nando. Bahkan bisa dibilang, rumahnya jauh lebih bagus dari apa yang dilihatnya malam ini.
Begitu memasuki ruang tamu, Risma bisa melihat Reynaldi, papinya Nando sedang duduk di sofa.
Risma mengangguk hormat kepada Reynaldi. "Assalamu alaikum, Pak!"
Reynaldi tersenyum. "Wa alaikum salam." Ia berdiri menyambut Risma.
Hendi memperkenalkan Risma kepada papinya. "Pap, ini Risma Devita."
Risma segera bersalaman dengan Reynaldi. "Saya Risma, kepala admin baru."
"Saya papinya Nando," ucap Reynaldi. "Kita di dalam rumah, bukan di bengkel, jadi kamu tamu saya."
Risma tersenyum haru. Kesan pertamanya, rupanya Reynaldi lebih hangat dari Nando.
Risma menebak usia Reynaldi tidak jauh terpaut dari papinya. Wajahnya sangat cerah, berbanding terbalik dengan raut Nando yang jarang senyum.
"Kamu lebih cantik dari yang Nando ceritakan." Reynaldi tertawa renyah.
"Apaan sih, Pap?" Nando tampak gugup.
Risma tersipu.
"Dan gadis secantik kamu tidak boleh terlalu lama berdiri," canda Reynaldi. "Mari kita ke ruang eksekusi."
"Eksekusi?" Risma bingung.
"Hahaha, kamu pasti bingung, nggak papa," ujar Reynaldi. "Biar nggak penasaran, mari ikut saya."
Risma mengekor Reynaldi, berjalan beriringan dengan Nando yang lebih banyak diam.
Mereka sampai di ruang makan yang cukup luas. Dua orang wanita muda berdiri di ujung sambil menyambut mereka dengan senyum. Dari baju yang dikenakan, Risma menebak keduanya adalah asisten rumah tangga.
Nando menarik kursi agar bisa diduduki papinya. Perlakuan yang sama ia berikan kepada Risma.
"Terima kasih, Nando!" ucap Risma tersanjung.
Nando mengambil posisi duduk berhadapan dengan ayahnya. Sementara masih tersisa tiga kursi yang semuanya mengitari meja bundar.
Menu yang terhidang bervariasi, namun Risma lebih tertarik dengan sate kambing muda khas Tegal. Dulu waktu kecil itu adalah menu favoritnya. Sekarang ia jarang menikmatinya, disamping karena di Jakarta jarang sekali ditemukan, juga ia mengurangi banyak mengonsumsi daging kambing.
Reynaldi menyendok nasi kemudian menuangkannya ke atas piringnya. "Silakan, Risma, ambil sendiri."
Risma mengangguk. Ia mengambil nasi hampir berbarengan dengan Nando.
"Silakan!" Nando mengalah.
Risma mengangguk. Ia mengambil nasi dengan lauk sate kambing muda khas Tegal.
"Rumah ini sepi, hanya saya dan Nando. Kakak-kakak Nando tinggal di luar kota. Meskipun begitu, Nando selalu menemani makan malam saya. Dia anak yang sangat berbakti," cerita Reynaldi.
Risma melirik Nando kagum. Dalam hati ia ingin menanyakan di mana maminya Nando tapi ia tidak berani mengucapkannya.
"Maminya Nando sudah meninggal lima tahun lalu," beritahu Reynaldi.
Risma mengangguk sebagai bentuk empati.
"Orang tua kamu masih lengkap?" tanya Reynaldi.
Risma tersenyum. "Tinggal bapak, kalau ibu sudah lama meninggal." Ia sengaja menggunakan panggilan 'bapak-ibu' ketimbang 'papi-mami' biar tidak ketahuan strata sosialnya.
"Sama dengan Nando dong kalau begitu!" Reynaldi melirik Nando. Yang dilirik mengalihkan pandangan. "Saudara kamu ada berapa?"
"Saudara saya dua. Saya anak ketiga," jawab Risma.
"Sama dong dengan, Nando!" timpal Reynaldi.
Nando menunduk, malu dipandang Risma.
"Kamu sudah berkeluarga?" tanya Reynaldi.
Risma menggeleng. "Belum, Pak."
"Sama lagi dengan Nando!" Reynaldi terkekeh ringan. "Kalian memiliki banyak kesamaan. Jangan-jangan usia kalian juga sama. Kalau bapak boleh tahu usia kamu berapa?"
"Dua puluh enam, Pak." Risma tersipu. Seumuran itu ia belum pernah berpacaran, boro-boro berumah tangga.
"Bener kan dugaan Papi, usia kalian sama." Reynaldi tersenyum puas. "Sepertinya kalian jodoh!"
"Uhhukk!" Nando tersedak. Buru-buru ia mengambil air minum dan meneguknya sedikit.
Risma menunduk, dadanya mulai berdebar. Meskipun ia paham, Reynaldi sedang bercanda tetapi paling tidak itu indikasi papinya Nando tidak keberatan jika ia dan Nando berpacaran.
Pacaran? Risma tersenyum dalam hati. Itu memang targetnya, meskipun hanya pura-pura saja. Ia tidak tahu apakah itu tergolong jahat atau tidak. Yang jelas, ia semakin bersemangat.
"Maaf, kalau bapak banyak bertanya. Kalian makanlah yang enak. Biar kita bisa ngobrol lagi nanti setelahnya." Reynaldi memandang Nando dan Risma secara bergantian.
Sampai acara makan malam selesai Nando tidak bicara sama sekali. Hanya Reynaldi yang sesekali mempersilakan Risma untuk mencicipi semua menu yang terhidang. Risma merespon dengan memuji bahwa hidangan yang ia nikmati sangat lezat.
Selepas itu mereka duduk santai di ruang keluarga. Ruangan itu terdapat meja kursi yang ditata setengah lingkaran. Mereka duduk menghadap sebuah taman dengan lampu-lampu mewah dan air mancur yang terdengar syahdu di malam cerah ini.
"Saya senang kamu menjadi bagian keluarga Reyncar," ucap Reynaldi kepada Risma. "Bukan hanya bengkel menjadi lebih maju dan penuh harapan, tetapi juga anak bapak tampak lebih ceria."
"Papi!" Nando merasa malu menjadi objek pembahasan papinya.
Reynaldi menghardik. "Lelaki kok pemalu!"
Risma menunduk untuk menyembunyikan senyum geli. Ia sempat melirik Nando dan mendapati ronah merah pada pipi lelaki itu.
"Terima kasih ya, Ris?" ucap Reynaldi.
Risma mengangguk hormat. "Iya, Pak, sama-sama. Saya yang harus berterima kasih telah diberi kesempatan untuk memberikan yang terbaik pada Reyncar."
"Selain mengedapankan asas kekeluargaan, Reyncar juga menganut paham kemitraan. Karyawan adalah mitra pimpinan dan perusahaan adalah mitra pelanggan. Semua saling menguntungkan."
Risma mengangguk paham.
"Perusahaan ini dibesarkan oleh semua pimpinan dan karyawan. Semua berperan menurut bidangnya. Kita tidak mengenal atasan dan bawahan, yang ada adalah hak dan tanggung jawab," tegas Reynaldi. "Dan semua itu bukan hanya sekadar slogan."
"Luar biasa ya, Pak!" timpal Risma. "Jujur saya sangat bangga menjadi bagian keluarga Reyncar.
"Kamu tidak ingin menjadi bagian keluarga Reynaldi?" canda Reynaldi.
"Apaan, sih, Pap?" Nando semakin salah tingkah.
Risma tersipu. Entah kenapa dadanya berdebar-debar halus saat Reynaldi mengucapkan kalimat itu.
Debaran dalam d**a Risma semakin terasa saat ia menatap Nando dan dibalas lelaki itu. Mata keduanya saling bersirobok selama dua detik, sebelum akhirnya saling menunduk.
"Kalian boleh menganggap itu sebuah candaan, boleh juga mengamini karena bagi bapak itu adalah sebuah harapan.
Deg! Jantung Risma berdetak tidak teratur. Ia menjadi salah tingkah.
Tidak jauh dari Risma, Nando menambatkan pandangan ke taman dengan wajah tersipu.
"Sudah-sudah, sepertinya kalian merasa malu membahas soal itu, hehehe," ujar Reynaldi. "Kita ganti topik saja."
Nando menghela napas lega, begitupun dengan Risma.
"Risma!" Reynaldi menatap Risma. "Reyncar telah menjadi bengkel nomor satu di kota ini. Saya percayakan administrasi kepadamu. Saya yakin kamu mampu karena faktanya belum sebulan saja, saya sudah mendapatkan laporan bahwa bengkel kita baru saja mendapat empat pelanggan baru berkat kamu. Mereka adalah perusahaan-perusahaan dengan armada yang cukup banyak. Semua berkat andil kamu. Sebagai pemilik saya mengucapkan terima kasih."
"Saya hanya menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya, Pak!" Risma merendah.
Reynaldi tersenyum. "Bapak semakin respek sama kamu, selain cerdas dan berdedikasi tinggi, juga rendah hati."
Risma menunduk, menyembunyikan rona merah di pipi.
"Dunia bengkel sudah tidak asing buatmu bukan?"
Risma mengagguk. "Iya, Pak. Saya sebelumnya bekerja di SAS pusat."
"SAS?" Reynaldi mengangguk-angguk. "Itu bengkel ternama di pulau Jawa. "Beruntung Reyncar bisa menjadi kompetitor SAS. "
Risma berdebar, khawatir kalau-kalau Reynaldi banyak bertanya soal SAS.
"SAS di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya, pasti cocok, tapi menurut saya untuk kota Tegal masih dianggap bengkel untuk segmen menengah ke atas. Dari beberapa customer yang pernah saya tanya secara random, mereka menganggap bengkel SAS mahal karena menggunakan standar bengkel resmi. Padahal tarif jasa dan harga suku cadang mereka tidak begitu jauh selilisihnya dengan Reyncar."
Risma tercenung. Ia mencoba mencerna analisa perbandingan SAS dengan Reyncar. Setelah ditelaah, ia menganggap analisa tersebut logis dan sangat berharga buatnya.
Reynaldi melanjutkan. "Kadang ada beberapa customer yang fanatik dengan merk tertentu. Sementara tidak selalu kita memiliki stok tersebut, tapi juga tidak bisa membiarkan mereka menunggu lama. Reyncar memiliki jaringan penyedia suku cadang yang siap antar kurang dari 24 jam."
Soal itu Risma sudah tahu dan mencatatnya. Ia akui ini kelemahan SAS.
"Masih soal suku cadang," Reynaldi menambahkan. "Sejak awal kita memperbolehkan customer membawa suku cadang sendiri atau membelinya dari luar."
Kalau ini, Risma baru tahu. "Mohon maaf, Pak, boleh tanya?"
Reynaldi mengangguk. "Tanya aja!"
"Pada kasus yang sering terjadi, mutu suku cadang yang kurang bagus mengakibatkan hasil yang kurang maksimal. Bagaimana cara mengedukasi mereka?"
"Pertanyaan bagus!" Reynaldi membetulkan posisi duduk. Ia menoleh kepada Nando. "Silakan jawab, Nando!"
Nando kaget.
Reynaldi menepuk paha Nando. "Udah jawab aja!"
Nando berdeham. Ia menatap Risma. "Kita harus memiliki service advisor yang tidak hanya cerdas dan berpengalaman tapi juga komunikatif, sehingga customer bisa mendapatkan pencerahan tanpa merasa digurui. Itu kunci agar mereka percaya kepada kita."
"Iya, aku paham," ujar Risma. "Makasih jawabannya."
"Satu hal yang tampaknya sepele tapi sangat berarti buat customer," timpal Reynaldi. "Di bengkel kita, konsultasi dan pengecekan gratis. Bahkan meskipun harus mengecek di luar bengkel, di rumah atau di kantor misalnya."
Konsultasi dan pengecekan juga gratis di SAS, tapi jika customer datang ke bengkel saja. Kalau didatangi dikenakan biaya transport. Risma mengerti, itu salah satu daya tarik yang cukup efektif.
Risma mengangguk-anguk puas. Tanpa harus bersusah payah, akhirnya Risma mengetahui strategi Reyncar langsung dari pemiliknya.
Reynaldi mengacungkan jari telunjuk. "Satu lagi!"
Risma mengerjap, menunggu kelanjutan kalimat Reynaldi. "Kita harus memiliki staf marketing yang luar biasa sepertimu."
"Tapi, Risma kan kepala admin, Pap!" Nando mengingatkan.
"Iya justru itu!" timpal Reynaldi. "Risma juga handal dalam bidang marketing. Jika nanti kita menambah staf marketing, Reyncar akan semakin maju!"
Risma tersenyum, mereka-reka rencana untuk bengkel SAS ke depannya, setelah berhasil mengetahui strategi Reyncar.