Mata Rantai Cinta

1107 Kata
"Jadi kapan nih kamu punya waktu?" tagih Desi pada Risma. Pandangan Risma fokus pada layar komputer. Ia sedang merevisi surat Perjanjian Kerja Sama yang sebentar lagi harus segera diserahkan kepada Faizin. "Ris!" panggil Desi. Risma merasa terganggu oleh Desi, tetapi ia tetap berusaha fokus dan sabar. Desi mendekati Risma. "Istirahat siang nanti gimana?" Risma menoleh kesal. Ia berusaha sabar dan tidak terpancing emosi lagi seperti dua hari lalu. "Sebentar ya, Des. Aku mau fokus bikin surat dulu." Desi mengangguk terpaksa. Risma memasang senyum dibuat-buat. "Terima kasih atas pengertiannya!" Desi mendengus. Ia tetap bersabar menunggu sampai Risma selesai dengan pekerjaannya. Empat menit kemudian Risma menarik napas lega setelah mencetak semua halaman yang diperlukan. Ia memasukannya ke dalam beberapa map terpisah. Selepasnya ia tersenyum puas. "Sudah selesai?" tanya Desi. "Sudah!" jawab Risma lega. "Tadi kamu tanya apa ya?" Desi memandang Risma malas. "Oh iya!" Risma ingat. "Soal curhat ya?" Desi mengangguk sebal. "Kalau hari ini, maaf belum bisa. Siang nanti aku harus mendampingi Pak Faizin buat penandatanganan surat Perjanjian Kerja Sama." "Nanti malem?" tanya Desi berharap. "Mmhh, belum tahu." Risma teringat kata-kata Nando kemarin sore yang bilang akan mengundangnya makan malam kalau minimal satu calon customer menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama. "Kalau jadi, nanti malem aku mau makan malam bareng seseorang." "Hendi?" tanya Desi asal. "Ih, bukan!" Risma terkekeh senang. "Ada deh!" Desi mengangguk kecewa. Ia kembali ke mejanya dengan wajah ditekuk. *** Tiga calon customer yang sudah menyatakan siap menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama, hanya dua yang mengirimkan utusan. Satu lagi mengkonfirmasi untuk penjadwalan ulang. Mirisnya, keduanya adalah mantan customer SAS cabang Tegal. Risma tidak tahu harus berbahagia atau berduka. Namun setelah menghibur diri bahwa dari pada mereka diambil bengkel lain, Risma sedikit tenang. Acara perjanjian kerja sama berlangsung lancar. Selepasnya Faizin mengungkapkan rasa puasnya atas pencapaian Risma. Sayangnya sampai sore, Nando tidak kunjung mengundang Risma makan malam seperti yang sudah dijanjikan. Itu membuatnya kecewa. Sampai jam kerja selesai, Risma tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia berharap Nando datang ke ruangannya untuk mengundang makan malam, atau paling enggak mengatakannya lewat telepon. Drrtt drrtt! Ponsel Risma yang tergeletak di atas meja, bergetar. Ia lupa mengembalikan pengaturan audio ke posisi semula. Tadi saat acara kerja sama dengan calon customer, ia sengaja mengatur ponsel dalam mode getar. Desi melirik layar ponsel Risma. Ia bisa dengan jelas membaca kontak Hendi sedang melakukan panggilan. Risma menjawab panggilan tersebut. "Ada apa, Hen?" tanyanya malas. "Ini Nando," sahut Nando. "Ponselku lowbat. Maaf, tadi aku sibuk banget sampai lupa mau menyampaikan undangan makan malam." Risma membekap mulutnya karena senang. "Selepas maghrib kamu harus siap. Nanti ada yang jemput," jelas Nando. "Kalau belum siap, undangan itu batal!" "Si-siap, insya Allah siap." Risma meyakinkan Nando. "Ini akan menjadi acara makan malam yang mendebarkan." "Saranku, kamu segera pulang dan mandi. Sampai ketemu nanti malam." Nando mengembalikan ponsel kepada Hendi. "Ini aku Ris, Hendi," beritahu Hendi selepas menerima ponsel dari Nando. "Selamat ya, Ris! Semoga menyenangkan." "Makasih, Hen!" "Iya." Hendi mengakhiri panggilan. Wajah Risma diliputi kebahagiaan. Ia terus tersenyum, sampai tidak sadar, Desi memandangnya penuh kekesalan dan kekecewaan. Desi mendengar Risma menyebut makan malam. Ia mengira Hendi yang mengajak karena ia sempat melirik kontak pemanggilnya dan juga Risma mengucapkan 'makasih, Hen'. ' Tapi kenapa tadi Risma tidak mengakui kalau yang mengajak makan adalah Hendi?' tanya Desi dalam hati. Ia yakin, Risma sudah tidak jujur padanya. 'Munafik!" maki Desi kepada Risma dalam hati. 'Pura-pura mendukung aku balikan sama Hendi, tapi di belakang nusuk!' *** "Nggak biasanya Nando mengundang makan malam karyawan Reyncar!" gerutu Hendi ketika bertemu Risma di depan mushola. Risma menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Bahkan setahu aku, Nando belum pernah ngajakin makan malam siapa pun!" lanjut Hendi. Risma tersenyum geli. "Kamu jealous?" Hendi terdiam. Ia tidak cemburu karena tidak memiliki perasaan suka terhadap Risma. Hanya saja, jika Nando dan Risma dekat, itu akan menyulitkannya dalam berpura-pura mendekati Risma. "Kalau iya kenapa?" Hendi balik bertanya. Risma mengernyit. "Kamu mendekatiku cuman buat manas-manasin Desi saja kan?" Hendi menggeleng. "Aku suka kamu, Ris!" ucapnya meyakinkan. Risma diam. Ia tidak tahu harus mempercayai pengakuan Hendi atau tidak. Sejak ia bekerja di Reyncar, anak itu memang selalu mendekatinya tapi ia curiga itu hanya cara untuk memanas-manasi Desi. "Aku akan perjuangkan kamu, Ris!" ucap Hendi. "Aku nggak peduli, meskipun harus bersaing dengan anak bos!" Risma mendesah tertahan. Posisinya menjadi serba salah. "Aku mungkin nggak pantas sama kamu, tapi aku akan..." Risma mengangkat kedua tangan ke udara. "Please, Hen! Kita lagi bekerja." Hendi mengangguk. "Oke, maaf! Aku balik ke depan dulu." Ia melenggang pergi meninggalkan Risma. Risma terpaku di tempatnya selama beberapa detik. Pikirannya tiba-tiba pusing. Maka ia pun duduk di serambi mushola. Risma tidak menyangka masalahnya akan serumit ini. Ia berusaha menaklukkan Nando untuk memudahkan misi, sedangkan lelaki itu malah mengejar Desi yang ingin balikan dengan Hendi. Dan kini, Hendi mengaku menyukainya. Bagi Risma ini seperti mata rantai cinta tak berujung. "Risma!" Risma terkesiap mendengar suara berat yang memanggilnya. "Iya, Pak!" Ia berdiri menyambut Faizin. Faizin memberi isyarat agar Risma tetap di tempatnya. "Kamu mau sholat?" Risma mengangguk. "Iya, Pak." "Sudah makan siang?" Risma menggeleng. "Belum, Pak." "Ponsel kamu tidak aktif?" Risma meraba saku baju. "Sepertinya tertinggal di laci meja, Pak." "Pantes!" Faizin lebih mendekat kepada Risma. "Tadi ada calon customer yang katanya menghubungi ponselmu, tapi tidak ada respon. Lalu beliau menelepon bapak." Risma terlonjak. Dadanya berdebar-debar. "Ada kabar apa ya, Pak?" "Sejatinya beliau akan membicarakan penjadwalan ulang penandatanganan surat Perjanjian Kerja Sama. Tapi setelah kami mengobrol panjang lebar, beliau memutuskan untuk datang jam satu ini." Hati Risma seperti melompat. Ia berharap-harap cemas. "Apakah beliau akan menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama?" "Iya." Faizin tersenyum. "Alhamdulillah!" ucap Risma senang. "Kalau begitu biar saya cetak suratnya sekarang." Faizin memberi isyarat agar Risma tetap di tempatnya. "Kamu sholat dan makan sianglah dulu." Risma mengangguk bahagia. "Baik, Pak. Saya sholat dulu, lanjut makan siang, setelah itu sebelum jam satu saya akan antar berkasnya ke ruangan bapak." "Boleh, asal jangan terburu-buru," nasehat Faizin. "Ya sudah, selamat istirahahat." "Iya, Pak, terima kasih!" Risma wudhu dan sholat zuhur dengan perasaan gembira. Ia tidak henti-henti mengucap syukur karena pekerjaannya di Reyncar diberi kemudahan. Tidak lupa ia berdoa agar terhindar dari masalah. Selepas sholat, Risma ke kantin. Ia hanya menikmati sepotong roti dan kopi. Siang ini ia tidak bisa santai. Maka ia hanya menghabiskan waktu selama lima belas menit saja di kantin dan segera kembali ke meja kerjanya. Tidak banyak yang Risma revisi pada surat Perjanjian Kerja Sama. Ia sudah membuat draft-nya, hanya perlu mengisi tanggal saja. Selesai mencetaknya, Risma memasukkannya ke dalam map. Risma mengambil ponsel dari dalam laci. Ia memeriksa waktu yang menunjukkan pukul 12:52 wib. Dengan langkah tergesa ia menuju ke ruangan Faizin. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN