Ditraktir kopi

1225 Kata
Lewat WA, Hendi sudah menceriitakan perihal kejadian sore bareng Desi kepada Risma. Maka itu Risma merasa aneh jika sejak pagi hingga tengah hari sikap Desi normal-normal saja, tidak ada indikasi sedang menanggung kecewa yang sangat dalam. Pagi tadi Desi menyapa Risma lebih dahulu, bahkan beberapa menit lalu menawarkan makan siang bersama. Risma menolak halus dengan alasan mau tugas luar. "Sayang sekali ya, padahal aku pengen ngajakin kamu makan nasi Padang di dekat alun-alun," ujar Desi berusaha tetap tersenyum. "Andai saja aku tidak ada janji," ujar Risma. "Mungkin lain kali, Des." "Ya, semoga saja rumah makan Padang itu masih jualan ketika kita punya waktu makan siang bersama," canda Desi. Risma tersenyum getir. Hanya itu respon yang bisa ia berikan. Satu sisi ia bersimpati dengan apa yang tengah dialami Desi, namun sisi lain ia menangkap pesan 'mengerikan' dari candaan tersebut. Mengerikan dalam pandangan Risma adalah, Desi menyembunyikan kekecewaannya dalam sebuah kalimat canda, padahal bisa saja ia tengah merencanakan sesuatu. Risma bukan bermaksud ingin berprasangka buruk, hanya saja ia merasa harus waspada dengan fakta mengerikan bahwa gadis itu bisa melakukan apa yang diinginkannya. "Ris, usiamu kan tiga tahun di atasku, seharusnya aku memanggilmu 'kakak', cuman karena kamu maunya dipanggil nama ya aku iku saja," ujar Desi. "Biar akrab," seloroh Risma. "Maksudku, boleh nggak aku curhat sama kamu?" Desi menatap penuh harap. Risma agak gelagapan. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Desi. "Kalau kamu boleh, nanti malam aku mau main ke rumahmu!" "Kosan!" Risma mengklarifikasi, sekadar menyembunyikan kegugupannya. "Tapi kalau nanti malam, aku ada acara." "Lain kali juga nggak papa!" desak Desi. Risma mengangkat sepasang bahu. "Ya nggak papa." Desi tersenyum meski Risma bisa menangkap keterpekasaan di dalamnya. "Makasih, Des!" "Sama-sama." Risma mencangklong tas. "Aku jalan dulu ya?" "Iya, hati-hati!" *** Tadinya Risma hanya akan follow up terhadap ketiga calon customer. Tetapi karena ia merasa tidak nyaman berada dekat Desi, ia akhirnya menambah jadwal dengan follow up kepada tiga calon customer lain. Rasa lelah yang Risma rasakan terbayar dengan empat kesepakatan kerja sama. Sisanya, satu menolak dengan alasan sudah menjalin kerja sama dengan bengkel resmi dan satunya lagi masih akan mengkajinya. Risma sampai di bengkel jam setengah lima sore. Desi sudah pulang, tinggal para mekanik dan kasir yang bertugas pada shift dua. Euforia atas keberhasilannya menggaet empat customer baru, membuat Risma tetap bersemangat untuk sekalian membuat draft surat Perjanjian Kerja Sama. Risma bisa saja membuatnya besok pagi, tetapi ia ingin menyelesaikannya lebih cepat agar surat Perjanjian Kerja Sama itu bisa segera ditandatangani. Tanpa Risma sadari, Nando memperhatikannya melalui layar CCTV. Lelaki itu penasaran kenapa dirinya masih bekerja di luar jam kerja. Maka ia pun menyambangi Risma. Risma sedang mencetak berkas surat-surat yang ia bikin, ketika Nando datang. "Masih sibuk?" tegur Nando. Risma menoleh sambil memasang senyum manis di antara rasa lelahnya. "Tapi jabatanmu tidak ada tunjangan lembur," ujar Nando. "Aku yakin kamu tahu itu." Risma tersenyum, lebih manis dari sebelumnya. "Saya tidak sedang lembur. Saya hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai agar bisa fokus sama projek arus mudik." "Kuharap itu sebuah semangat, bukan ketergesa-gesaan." Nando melirik kertas yang baru saja dicetak. "Boleh saya melihatnya?" "Silakan!" Risma merasa senang. Ia berharap Nando akan terkesan. Nando mengambil dua lembar kertas dan memeriksanya dengan teliti. "Ini pengalaman baru saya pada bidang marketing," ujar Risma. "Dulu di Jakarta, tugas itu dilakukan staf marketing sendiri. Jadi, mohon dibantu untuk memeriksanya." Nando mengerjap, memeriksa satu semua berkas secara sekilas. "Kamu menggunakan template yang sudah baku kan?" "Iya, aku cuman mengisi yang diperlukan saja." "Empat calon customer ini kamu semua yang mendapatkan?" Nando penasaran. Risma menggeleng. "Yang tiga, aku cuman melanjutkan peninggalan kepala admin lama. Yang dua memang saya sendiri yang nyari." Nando mengerjap kagum. "Saya nggak suka memuji orang, tapi yang kamu lakukan itu luar biasa!" Risma menunduk, menyembunyikan raut tersipu. Selama empat tahun ia bekerja sebagai kepala admin, belum pernah ia mendapatkan pujian, bahkan dari papinya sendiri. Sehingga pujian yang Nando berikan sangat berarti baginya. "Ini baru sekadar kepastian." Nando mengingatkan. "Prestasi yang sebenarnya adalah ketika mereka sudah menandatangani surat-surat ini." Risma mengangguk. "Iya, benar!" "Kamu pasti capek!" Risma mengerjap. "Ya begitulah." "Kalau kamu tidak buru-buru, aku mau nraktir kamu kopi di kantin." Nando mengucapkan itu dengan ekspresi datar dan intonasi kaku seperti biasanya. "Wah, aku akan menyesal kalau menolak ajakan itu!" Risma mengulas senyum paling manisnya. Ia segera merapikan berkas-berkasnya. "Aku tunggu di kantin!" ucap Nando sambil berlalu. Selepas Nando pergi dari hadapannya, Risma mengepal tangan di udara. "Yess!" *** Secangkir kopi hitam seharga lima ribu di sebuah kantin bengkel memang bukan sesuatu yang mewah, tetapi ditraktir orang yang sedang Risma taklukkan itu sangat istimewa buatnya. Tadinya Risma berpikir ia harus paham dunia otomotif dan sedikit mengenal tentang Chelsea FC agar bisa nyambung ngobrol dengan Nando. Senja ini, ia hanya perlu menimpali ucapan Nando karena lelaki itu menjadi banyak omong saat membahas pekerjaan. "Jadi beneran kamu enggak punya basic ilmu marketing?" Nando heran mengingat pencapaian Risma hari ini. "Secara autodidak aku memang mempelajarinya. Kebetulan aku suka baca. Juga aku banyak mengamati pekerjaan para staf marketing. Kelihatannya itu sangat menantang dan suasananya selalu baru, ketimbang menjadi kepala admin yang menghabiskan harinya di balik komputer." Risma berterus terang. "Aku pun berpikir demikian!" timpal Nando. Selepasnya ia menyesap kopinya. "Kalau kamu basic-nya mekanik otomotif?" tanya Risma berusaha mengorek sosok Nando lebih dalam. Nando mengangguk. "Lulus SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan, aku melanjutkan kuliah di jurusan yang sama. Bahkan S2-ku di Jepang pun masih otomotif." Risma berdecak kagum. "Wah, luar biasa!" Nando mengernyit. "Aku nggak suka dipuji." "Tapi kamu mau memuji orang lain!" timpal Risma sambil terkekeh. "Kalau yang tadi padamu itu bukan pujian. Jadi kamu jangan menganggapnya begitu." Risma mengangguk paham. "Baiklah." Ia menyesap kopinya perlahan. Suasana kantin sudah sepi karena belum ada jam istirahat. Shift dua baru akan istirahat nanti setengah jam sebelum masuk waktu maghrib. "Boleh aku tanya sesuatu yang bersifat pribadi?" tanya Risma hati-hati. Nando berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Kamu kan putra pemilik bengkel. Pengalamanmu dibidang otomotif juga nggak perlu diragukan lagi. Tapi kenapa kamu mau bekerja layaknya karyawan lain?" tanya Risma dengan hati-hati dalam menyusun kalimat. Nando tersenyum tipis. "Aku belum sehebat Pak Faizin. Beliau adalah partner papiku dalam merintis bengkel ini dari nol. Jadi, tidak ada alasan bagiku buat menjabat sebagai kepala bengkel." Risma mengangguk paham. Nando melanjutkan. "Papiku menyiapkan aku menjadi sehebat Faizin. Maka itu beliau menggodok aku di sini dimulai dari menjadi service advisor. Setahun aku pada posisi itu, baru kemudian papiku menaikkan jabatan. Kelak jika sudah dianggap layak, aku akan diproyeksikan menjadi kepala bengkel." "Menggantikan Pak Faizin?" tanya Risma, memotong ucapan Nando. Nando menggeleng. "Nanti jika membuka cabang." Risma terkejut meskipun itu sesuatu yang lumrah. Ia hanya khawatir jika terwujud Reyncar memiliki cabang akan mengalahkan salah satu cabang SAS. Nando melirik arloji di pergelangan tangan. "Sudah hampir jam setengah enam." "Iya, sudah hampir maghrib ternyata." Risma membetulkan posisi tali tasnya. "Terima kasih traktiran kopinya." "Cuma kopi." Nando menatap Risma dengan eksresi lebih rileks dari biasanya. "Aku ingin mengundangmu makan malam di rumah kami." Sontak Risma terkejut. Binar matanya menyiratkan ketidakpercayaan atas apa yang baru saja di dengarnya. "Jika minimal satu dari empat calon customer kita sudah menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama." Senyum Risma mengembang. Ia semakin tertantang. "Beneran?" Nando mematung sambil tetap menatap Risma. Bagi Risma itu adalah ungkapan dari jawaban 'iya' versi Nando. Angan Risma melayang. Tidak sabar menunggu sampai besok pagi, karena tiga calon customer sudah menyatakan akan menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama besok. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN