Kangen Teras Rumah Hendi

1111 Kata
Hendi turun dari mobil. Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana nanti ketika Risma akan membayar taksi online. Ia yakin gadis itu akan terkejut ketika tahu kalau jasa taksi online sudah ia bayar di muka. "See you soon, Ris!" Hendi melambai kepada Risma. Mobil kembali melaju, mengantarkan Risma ke tujuan. Hendi memandangnya sampai mobil itu tidak terlihat. Hendi menapaki jalan gang sempit. Rumahnya berada di belakang kedua bangunan yang sedang ia lewati. Begitu sampai di depan rumah, Hendi kaget ketika melihat Desi sudah duduk di teras. Meskipun heran bagaimana bisa Desi sampai ke rumahnya lebih dahulu, tapi ia tetap berusaha tenang. Desi tampak tegang, melihat kedatangan Hendi. "Kamu kok sudah sampai di rumahku?" Hendi tidak kuasa menahan rasa penasarannya. Desi tersenyum masam. "Aku naik ojek online. Mobil kutinggal di bengkel." Hendi duduk di sebelah Desi. "Ya iyalah, mobil mewah kamu kan terlalu besar buat masuk gang." Desi menatap Hendi tajam. "Sudah banyak duit ya, sampai pulang naik taksi online?" Hendi membuang muka. Ia tidak suka dengan pertanyaan Desi tadi. "Jangan bilang motor kamu mogok, sampai harus naik taksi online." Desi terkekeh sumbang. "Apa harus sekaya dirimu untuk bisa merasakan naik mobil?" Hendi membalas. Giliran Desi yang membuang muka. "Ada apa kemari?" tegur Hendi. "Aku kangen suasana rumah ini," jawab Desi melankolis. "Aku nggak bisa berhenti mengenang saat-saat membahagiakan di teras rumah ini bersama kamu." Hendi tertawa mengejek. "Kenapa tidak kamu beli saja rumah ini?" Desi menunjukkan sikap kesal. "Please deh, Hen!" "Aku capek!" Hendi bangkit dari tempat duduknya. Buru-buru Desi mencekal lengan Hendi. "Hen, tolong sekali ini saja kamu luangkan waktu. Kita perlu bicara dari hati ke hati." Sebenarnya mudah saja buat Hendi melepaskan cekalan tangan Desi, tapi ia tidak bisa sekasar itu. Terpaksa ia kembali duduk. "Terima kasih, Hen." Mata Desi berkaca-kaca. Hendi bungkam, membuang muka ke samping. "Tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semua sudah selesai." Desi menunduk. Air matanya mengalir. "Aku akan berhenti mengejarmu, jika itu yang kamu inginkan. Tapi aku juga ingin kamu memberiku satu kesempatan." Hendi menoleh kesal. Ia paling tidak bisa melihat cewek menangis. "Aku harus bagaimana agar kamu mau kembali padaku, Hen?" Desi sesenggukan. "Aku akan menuruti semua kata-katamu. Aku bisa kok menjadi seperti yang kamu inginkan, asal kita tetap bersama." Hendi mendesah tertahan. "Katakan apa maumu, Hen?" Desi meraih jemari Hendi. Hendi melepaskan jari-jemarinya secara perlahan. "Kamu tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk meyakinkanku, Des." "Aku tetap menjadi diriku sendiri, tapi jika ada sesuatu dariku yang tidak baik, aku akan perbaiki." Hendi menatap Desi lekat-lekat. "Aku nggak pernah menuntut banyak darimu. Aku hanya ingin kamu memahami privasiku, duniaku, dan kebebasanku. Tapi sayangnya itu menjadi kendala hubungan kita. Kita tidak mungkin menjalani hubungan dan menghabiskan waktu untuk perdebatan semacam itu!" Desi menyeka air matanya. Ia beranikan menatap Hendi. "Aku nggak akan posesif lagi. Aku akan berubah." Hendi menggeleng. "Masalahnya adalah aku sudah tidak nyaman karena kamu mata-matai." Desi terbelalak. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku memata-mataimu?" "Kamu nggak mengakui?" Hendi balik bertanya. "Apa buktinya?" Hendi tertawa sumbang. "Aku merasakannya." "Itu hanya perasaanmu saja, Hen!" Hendi membuang muka. Ia sudah lelah berdebat dengan Desi. Desi kembali menangis. "Kamu tega sekali menuduhku begitu tanpa bukti." "Buktinya kamu selalu tahu apa yang aku lakukan! Dulu setiap kali kita berdebat, kamu selalu punya bukti buat memojokkanku. Dari mana bukti itu kalau bukan dari memata-matai? Padahal apa yang kulakukan di belakangmu adalah hal lumrah yang biasa dilakukan cowok. Kalaupun aku jalan sama cewek lain, itu juga bareng banyak orang. Aku nggak pernah terbersit buat berpaling darimu!" Tangis Desi semakin menjadi. Ia menutupi wajah menggunakan telapak tangannya. "Sungguh mengerikan ketika aku sadar semua yang kulakukan bisa kamu ketahui. Bukan berarti aku ingin menyembunyikan sesuatu, hanya saja kamu harus memahami aku punya dunia lain dan aku juga punya privasi." Air mata Desi terus mengalir. "Jadi, aku harus bagaimana?" Hendi diam. Desi kembali meraih jari-jemari Hendi. "Katakan, Hen!" Hendi menoleh. "Kamu lupakan saja aku." Bibir Desi bergetar. Wajahnya merah, menahan kecewa dan marah. "Kamu nggak mau memberiku kesempatan lagi?" Hendi menggeleng tegas. "Ini yang terakhir kali kukatakan: Aku sudah tidak mau melanjutkan hubungan kita." Desi mematung. Sejurus kemudian ia menyeringai. "Apa karena Risma?" Hendi terbelalak. "Jangan bawa-bawa orang lain!" "Tapi orang lain itu adalah penyebab kamu tidak mau memberiku kesempatan!" "Jangan asal nuduh!" "Aku tahu kamu sering berduaan sama Risma." Nada Desi meninggi. "Aku mencoba berprasangka baik. Aku mencoba menahan cemburu. Tapi, semakin kubiarkan, kalian semakin dekat!" "Iya, aku dekat dengan Risma!" Hendi mengakui. "Tapi bagaimana kamu bisa tahu?" Desi menatap Hendi dengan sorot tajam. "Bagaimana kamu bisa tahu?" Hendi menaikkan nada suaranya. Desi mematung. "Itulah kenapa aku sulit merasa nyaman sama kamu!" Hendi menunjuk muka Desi. "Kamu serba tahu. Jadi wajar saja kalau aku curiga kamu selalu mengawasiku." Desi menunduk. Tangis yang sempat reda kini pecah lagi. "Mobil Avanza di depan kosan Risma itu siapa?" Intonasi Hendi menurun namun ucapannya penuh tekanan. Desi menyeka air matanya. "Iya, aku memang mengawasimu. Aku memang salah. Kedatanganku ke sini untuk mengakui itu sebenarnya. Aku sadar itu salah. Tapi aku mohon kamu mau memaafkanku dan memberi kesempatan buat aku memperbaikinya." Hendi mendengus kesal sekaligus lega. "Apa kamu juga tahu aku pulang semobil bareng Risma, kemudian membuntutiku?" Desi mengangguk. "Kamu punya banyak informan, sampai tahu apa yang kurencanakan?" Desi kembali mengangguk. "Astaga!" Hendi menjambak rambutnya sendiri. "Itu mengerikan!" "Maafkan aku, Hen," ucap Desi lirih. Ia menunduk dalam-dalam. "Seandainya kamu sejak dulu mengakui itu dan mau berubah, mungkin aku akan memberimu kesempatan," sesal Hendi. Desi mengangkat dagu. Ditatapnya Hendi penuh harap. "Kamu bisa memberiku kesempatan sekarang." Hendi menggeleng. "Sudah terlambat." Desi marah. Wajahnya merah padam. "Karena sudah ada Risma kan?" Hendi mengangguk. Ia berbohong. Ia tidak memiliki perasaan suka terhadap Risma. Ia mendekati Risma hanya agar Desi berhenti mengajaknya balikan. "Tapi Risma enggak mau sama kamu, Hen. Bahkan ia mendukungku buat balikan sama kamu! Jadi please, berhentilah mengejar orang yang nggak menyukaimu dan cobalah beri aku kesempatan," bujuk Desi. Hendi menggeleng. "Ini bukan soal Risma, tapi soal aku berhak memilih siapa pun." Desi meremas jari-jarinya sendiri. Luka dalam hatinya semakin menyakitkan. Emosi dalam dadanya semakin sulit dikendalikan. "Kamu sadar nggak sih, Hen, kalau Faizin membatalkan pemecatanmu itu karena papiku yang minta?" Mata Desi berapi-api. Hendi terkekeh. "Kamu melakukan itu buat kepentinganmu sendiri bukan karena ingin menolongku!" "Kalau papiku bisa mengembalikanmu ke Reyncar, beliau juga bisa melakukan sebaliknya!" ancam Desi. Hendi tersenyum masam. Ia sama sekali tidak gentar dengan ancaman Desi. Sejak dulu ia sudah siap seandainya itu terjadi. Toh, ia sudah pernah dipecat. Justru dengan begitu ia bisa bebas dari kejaran Desi. "Aku percaya itu!" ucap Hendi tegas. Selepasnya ia bangkit. Sebelum meninggalkan Desi, ia sempat berkata. "Maaf, aku mau istirahat." Luapan emosi Desi semakin tidak terkendali. Ia menendang meja berkali-kali sebelum akhirnya terkulai lemas sambil menangis sesenggukan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN